
Arpina seperti memiliki dua rumah sekarang. Bahkan, bocah itu lebih sering menghabiskan waktu di rumah Emak Dahlia. Bi Muna terasah makan gaji buta. Ingin resign dengan alasan takut makan gaji buta, tapi Dibi mengatakannya santai saja. Biar Bunga belajar menjadi ibu sejak awal. Bibi urus kebersihan rumah dan jemput Arpina di jam pulang sekolah, katanya.
"Neng Arpina, makan dulu atuh, baru main." Bi Muna menegur lembut. Baru pulang sekolah, ganti baju, bocah itu langsung menuju pintu utama.
"Mau makan di rumah Emak aja, Bi. Minta suap nya ke Mama Bunga." Bocah itu menjawab sembari berlari kecil. Bi Muna hanya geleng geleng kepala melihat tingkah pecicilah majikan kecilnya. Aduh, pakai manjat tembok pembatas rumah segala lagi. Takut majikan muda nya itu kenapa kenapa, Bi Muna berlari tergopoh gopoh menghampiri.
"Kan bisa lewat pagar, Non." Bi Muna siap jaga jaga menangkap Arpina kalau kalau jatuh.
"Lama muter nya, Bi."
Hap ... Bocah itu sudah mendarat selamat di pelataran rumah Bunga. Bi Muna kembali geleng kepala melihat kelakuan bocah itu dengan perasaan lega, si badung itu selamat.
"Pin, astaga... kamu mau kaki mu sakit seperti ku?" Bunga menegur. Ia tidak sengaja melihat aksi Arpina dari jendela. Tanpa sadar, ia pun sering manjat dari sana.
"Hehe... nggak akan, Ma." Arpina membanting bokong nya duduk di sebelah Bunga yang sedang sibuk menyusun pengajuan skripsi nya.
"Makan belum, Pin?"
"Belum, Ma. Sengaja nggak makan di rumah karena mau minta suap." Arpina cengengesan.
Bunga pun tersenyum tipis, sikap manja Arpina adalah tanda sayangnya bocah itu padanya. Bunga mengartikan hal tersebut. Dan ia pun tidak keberatan.
"Tunggu ya, Pin. Aku- eh maksud nya Mama ambilkan makanan untukmu." Meski lidahnya masih kaku menyebut dirinya Mama, Bunga tetap berusaha mengimbangi ke-welcom-an Arpina yang sudah menganggap dirinya special.
"Nggak, biar Arpina ambil sendiri. Uda ada di tudung saji, kan? Cukup Mama suapin aja." Bocah itu kasihan juga kalau Bunga pincang pincang menggunakan tongkat.
Bunga mengangguk. Membiarkan bocah itu bebas melakukan sesuka hati, terpenting masih di dalam batas kewajaran.
Di dalam dapur, Arpina sudah sibuk menyiapkan makanannya. Piring nya sudah lengkap terisi. Tinggal air minum. Buka kulkas, ambil air eș.
"Wah, ada susu...!" Leher Arpina terasa kering seketika, kayak nya enak minum susu adem, biar lehernya terasa segar.
Tanpa pikir panjang dan tanpa bertanya dulu ke Bunga itu susu apa, Arpina main menenggak sampai menghabiskan susu itu yang berada di dalam gelas besar.
"Kok rasanya beda dari susu biasanya? Tapi enak sih rasanya." Bocah itu tidak tahu saja kalau susu yang ia minum adalah susu kacang kedelai. Karena memang dilarang keras menyentuh makanan dari olahan kacang kacangan, jadi ia tidak tahu rasa susu kedelai seperti apa sebelumnya. Arpina menaruh nyawa nya di pinggir jurang akan ulah kecerobohannya sendiri.
"Pin... kok lama? Apa perlu bantuan?" Bunga berseru dari tempatnya.
"Enggaaaak..." Arpina balas berteriak. Reaksi alergi nya memang tidak langsung secara spontan datang menyapa, tapi berangsur sesuai jumlah banyaknya makanan terlarang bagi tubuh Arpina.
"Arpina datang...!" Satu piring dan segelas air dingin di taruh Arpina di meja. Bunga segera menunda tugasnya, laptop yang tadinya berada di pangkuannya ia taruh terlebih dahulu. Lalu memulai tugas nya menyuapi anak Dibi itu yang sudah Bunga sayang seperti anaknya juga.
__ADS_1
Di sela sela menyuapi Arpina, Bunga lanjut mengorek keluarga besar Dibi yang sebenarnya Bunga sudah mencari info dari kemarin. Dicap sebagai calon istri oleh Dibi, tentu saja setidaknya ia sedikit dikit mengorek info tentang keluarga Dibi.
"Rumah keluarga besar Mama Pelangi sama rumah Papa itu, tetangga-an, Ma. Seperti Mama saat ini."
"Ohh, gitu ya, Pin. Tapi, kamu tau nggak, kenapa Mama dan Papa mu berpisah dulu?"
Bocah itu menggeleng polos tidak tahu. Meski penasaran, Bunga tidak lanjut bertanya soal perceraian Dibi dan Mama kandung Arpina yang cantik jelita seperti bocah di depannya ini. Itu adalah masa lalu Dibi, jadi Bunga menghargai Dibi dengan cara tidak bertanya langsung ke pria itu. Terpenting adalah masa depan nya, semoga Dibi adalah pria pilihannya yang terbaik. Amin.
"Sudah ah, Ma. Kenyang tau." Arpina memegang perutnya yang terasa besar. Habis minum susu, tentu saja sudah membuatnya cepat lebih kenyang padahal baru beberapa suap.
"Tapi, ini nasinya masih banyak loh. Ayam gorengnya juga masih besar. Kok uda kenyang aja?"
"Tadi, habis minum susu dulu sih."
"Ouh..." Bunga manggut manggut, paham. Ia kira, Arpina minum susu di beri oleh Bi Muna.
Dan terpaksalah, Bunga memakan sisa Arpina. Sayang kalau makanan dibuang. Toh, Arpina anaknya cantik dan bersih. Bunga tidak merasa jijik.
"Mama masih sibuk ya?" Arpina melirik kertas kertas penting milik Bunga yang di atas meja.
"Eum, lagi kejar ajuin skripsi. Biar cepat lulus dan nggak nyusahin Emak lagi." Bunga menjawab apa adanya. Sembari mengunyah, matanya itu kembali sibuk ke layar laptopnya. "Kalau Mama uda lulus nanti, Mama akan nyuruh Emak nikmati masa tuanya. Biar Mama yang kerja."
"Ish, jangan kerja, Ma. Tinggal minta duit sama Papa."
"Ma, kok Arpina tenggorokannya sakit ya?" Gejalanya mulai beraksi di tubuh Arpina. Meski masih belum parah, tetapi berangsur komplikasinya akan menyerang seperti; sulit menelan akibat pembengkakan di tenggorokan. Sesak napas akibat penyempitan saluran pernapasan. Jantung berdebar dan tekanan darah menurun drastis sehingga memicu terjadinya shock berat dalam tubuh.
"Kamu panas dalam?"
"Mungkin, Ma."
Bunga jadi merasa bersalah karena sudah memberi lauk yang digoreng.
"Nanti, Mama ambilkan obat peredah panas dalam__"
Hoeeekk...
"Pin...!" Jerit Bunga kaget berat karena Arpina tiba-tiba muntah muntah. Kertas penting yang terkena muntahan, tak dihiraukan oleh Bunga, ia lebih cemas ke anak itu yang terus mengeluarkan sesuatu dalam mulutnya.
"Pin, kamu keracunan masakan Emak?" Bunga kebingungan. Ia baru kali ini mendapati Arpina dalam keadaan seperti hal tersebut.
"Nggak tau..." Jawab Arpina di sela-sela kelemahannya. Rasa mualnya sudah berhenti, tetapi sesak sekarang menghampirinya. Membuat Bunga semakin cemas.
__ADS_1
Tidak pikir panjang lagi, Bunga pincang pincang keluar rumah. Kebetulan ada Bi Muna yang sedang ngepel lantai teras. Minta tolong sama Emak, orangnya lagi di kios jamu.
"Bi, tolong aku. Arpina sakit!"
Si Bibi langsung angkat daster. Lompat lewat pembatas tembok seperti Arpina tadi. Tak peduli ujung dasternya sobek.
"Ya Allah, Non!" Bi Muna histeris. Majikan ciliknya terlihat lemas.
"Bi, Telepon Pak Dibi. Cepat!" Bunga memangku Arpina. Ia benar-benar bingung. Mau bawa Arpina ke rumah sakit langsung, kendaraan tidak ada serta kakinya pun masih sakit.
"Nggak diangkat, Bunga. Hiks... Gimana ini!" Bi Muna terisak panik, cemas, takut dan kasihan melihat Arpina kesusahan bernafas.
"Ayo, Bi. Bantu saya bawa Arpina. Bibi ada motor kan?"
"Iya. Ini kuncinya!"
"Ambil cepat, Bi."
Terpaksa, Bunga memaksakan kakinya bergerak brutal. Tongkat pun tak dipakainya untuk pertama kali. Pincang pincang dia menggendong beban Arpina yang lumayan berat. Saat kakinya bergerak naik ke motor matic Bi Muna, Bunga meringis sakit luar biasa, tetapi ia tahan dengan cara menggigit sedikit kuat bibirnya.
"Cepat, Bi. Kita bawa ke puskesmas terdekat dulu untuk mendapatkan oksigen!"
Tancap gas, Bi Muna sedikit ngebut melajukan motornya. Ia tidak mau majikan kecilnya kenapa napa, apalagi melihat wajah Bunga yang terus meringis memangku Arpina melalui pantulan spion. Bi Muna tau, pasti Bunga berjuang keras menahan rasa sakit kakinya.
"Pin, jangan keterlaluan menjahili, Mama. Ini tidak lucu." Bunga mulai meracau. "Kamu harus janji untuk baik baik saja," bisiknya penuh harap di telinga Arpina yang kadang melek tapi lemah. Dada bocah itu, naik turun pertanda sesaknya kembali lagi. Bunga yang ketakutan, hanya bisa menciumi pipi bersih Arpina.
"Cepat, Bi. Ngebut lagi!"
Bi Muna ugal ugalan menuruti titah Bunga.
"MINGGIR! DARURAT! DARURAT!" Art Dibi itu berteriak teriak ke pengemudi lainnya yang dikiranya menghadang lajunya.
Emak yang ada di kios, kebetulan melihat motor Bi Muna lewat yang tentu saja mengenali Bunga yang memangku Arpina.
"Ada apa ya?"
Merasa ada yang tidak beres. Emak pun izin dengan sopan pada pelanggan jamunya yang masih duduk di kursi plastik. Menutup kiosnya lebih awal dan mengabaikan sari sari jamunya yang masih tersisa lumayan banyak.
Sampai di pelataran puskesmas, Bi Muna main parkir asal asalan, sampai ditegur oleh petugas. Tapi, Bunga malah menyentak petugas pria tersebut.
"Ini darurat! Antara hidup dan mati seseorang!" Suara Bunga sangat tinggi. "CEPAT BERI PERTOLONGAN PERTAMA. BERI OKSIGEN UNTUK ANAKKU...!" Tanpa sadar, seiringan suara tinggi nan panik Bunga, air mata gadis itu meleleh.
__ADS_1
Petugas yang tadinya menegur, mengambil alih tubuh Arpina dari wanita yang kakinya terlihat masih dililit oleh gips yang lumayan tebal.
Bunga berakhir meraung raung ketakutan di lantai. Bi Muna sendiri terus menghubungi Dibi.