Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 14# Dibi or Delon?


__ADS_3

Chiiit...


Motor Dibi berhenti sempurna di area gedung universitas tempat Bunga menimba ilmu. Gadis itu segera turun dari boncengan. Copot pengait helm. Sial, pakai macet segala. Nggak orangnya, barang Dube pun serba memusuhinya. Apa salah dan dosanya coba?


"Pulang jam berapa nanti?" Dibi ogah ogahan membantu Bunga melepaskan helm itu. Usaha sendiri saja.


"Ngapain nanya nanya, situ mau jemput?" Bunga menjawab tanpa melirik sang lawan bicara. Helm laknat. Susah sekali lepasnya.


"Iya."


"Eh..." Bunga kan cuma becanda nanya demikian. "Gimana, gimana?" Helm jadi terlupakan barang sesaat. Wajah tampan Dibi lebih utama untuk dilihat dengan tatapan penuh tanya.


Selain sableng, Dibi mengira Bunga juga tuli. "Sini hape mu?" Bukannya menjawab, Dibi membuka percakapan aneh buat Bunga dengar. Buat apa coba? Bunga enggan memberikan. Kembali ia meraba raba pengait helm di bawa dagunya.


Dibi yang gemas gemas dongkol dengan ketidakmampuan Bunga membuka helm, jadinya turun dari motor. Banyak pasang mata para mahasiswa menonton sikap perhatiannya Dibi yang terlihat so sweet maksimal yang membantu Bunga melepaskan helm. Diikira, Bunga dan Dibi adalah pasangan kekasih. Tidak tahu saja mereka, kalau keduanya seperti kucing dan tikus. Berantem terus.


Delon dan dua teman dekat Bunga pun melihat scane manis itu dari kejauhan. Inilah yang namanya, 'Kadang apa yang kita lihat, tak sesuai kenyataan yang sebenarnya.' Mereka baru sadar kalau cewek itu adalah Bunga setelah helm terlepas. Kecuali, Delon yang sudah tau dari awal. Tetapi tidak ada yang berani menggangu Bunga yang terlihat asyik mengobrol. Nyatanya, sedang alot alotan.


"Cepat, mana hape mu?" Dibi menagih lagi.


"Buat apa coba?"


"Cepat!"


Mulai deh terdengar suara kodoknya yang galak menekan itu. Terpaksa Bunga mengeluarkan hape. Langsung direbut oleh Dibi. Pakai password segala.


"Passwordnya apa?" tanya Dibi cepat karena masih diburu waktu.


"I Love You." Rasanya, seru juga menjahili Dibi. Kalau bersangkutan password, Bunga selalu disegarkan tempo hari lalu yang menyangkut kode Wi-Fi milik Dibi yang sampai saat ini, Bunga masih menggunakan wifi gratis tetangga yaitu milik Dibi.


Mata Dibi melotot. "Serius itu kodenya?"


Bunga cengengesan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata, "Ayang Unga. No spasi."


Dibi memutar mata malas. Narsis juga kode hape Bunga.


Setelah layar terbuka, terdengar cat cet cat cet, tekan nomer, lalu miscall ke hape sendiri. Terasa ada getaran di dalam sakunya, Dibi pun mengembalikan hape itu ke pemiliknya sembari berkata, "Chat aku kalau uda waktunya pulang. Nomor ku ada di situ. Awas lupa! Apa? jangan memasang muka protes dan tampang banyak tanya begitu. Cukup nurut manis."


Ingin rasanya, Bunga menyumpel mulut pedas Dibi menggunakan cabe rawit setan biar nambah jeletotnya. Untung nada nya pelan meski menekan. Setidaknya, para mahasiswa yang berlalu lalang di dekat gerbang itu tidak terlalu mendengar argumentasi mereka.

__ADS_1


Biar selesai urusan, Bunga hanya mengangguk sok patuh. Tapi dalam hati berkata, "Dube maunya apa sih?"


"Eh, Sab...!" Baru berbalik, suara Dibi terdengar lagi yang entah memanggil Sab, siapa itu?


Penasaran, Bunga kembali memutar badan ke arah Dibi yang sudah stay cool di atas motor. "Bapak manggil siapa?" Alis Bunga naik satu.


"Kamu lah. Sab-leng."


Belimbing kecut. Duda nggak laku. Kampret. Bunga memaki dalam hati. Sekate-kate namanya yang wangi semerbak 'Bunga' diubah Sab.


"Apa, Leng?" Satu sama. Ia, Sab. Dibi, Leng-nya. Bunga jelas ogah kalah. Senyum puas tersemat melihat mata melotot Dibi. Semoga copot satu bola matanya.


"Jangan hilangin helm aku!" Broomm ... Selesai memperingati Bunga yang rupanya gadis itu menyayangi helm yang terus diapit di pinggang kanan, Dibi pun tancap gas.


"Helm? Mana __ Oh, astaga. Bodoh sekali aku." Gadis itu mengeprak helm yang ia pegang. Maunya sih, kepala Dibi langsung. Tapi, Bunga tau batasannya juga.


"Woi...!"


Praang ...


"Yeak ... yeak, pecah dah...!" Karena kaget pundaknya ditepuk keras oleh Farah - temannya, helm warna putih bersih milik Dibi jatuh dan berujung lecet lecet.


"Oups, maaf loh, Unga. Nggak sengaja, sumpah!"


"Ah, yang benar? Penyihir cinta kali ya? Aku sih mau disihir jadi ratunya kalau cowoknya yang tadi itu." Dara, teman satunya menyikut pinggang Bunga. Mereka terus berjalan bertiga menelusuri koridor menuju kelas.


Godaan demi godaan diperoleh oleh Bunga dari kedua sahabatnya yang rada rada sableng juga. Saat Bunga mengatakan siapa sebenarnya pria tadi yang mengantarnya, keduanya semakin menjadi jadi. Kepo dengan gaya genit terhakiki mereka berlomba lomba bertanya ini dan itu semua tentang Dibi yang duda, punya anak, yang katanya lagi nyari ibu tiri.


"Aku mau jadi kandidat kedua dong. Sumpah, kalau aku itu kamu, sudah minta ke KUA deh."


"Aku ketiganya." Fahira ikut ikutan.


"Hihihi, belum tau kalian siapa yang akan dihadapi. Singanya dari singa. Anak singanya juga tak kalah gilanya. Tapi, mungkin salah satu dari mereka bisa saja meluluhkan Arpina atau Dibi langsung." Bunga bermonolog dalam hati. Kalau Dara atau Farah terpilih, maka dirinya bisa bebas dari kegilaan Arpina. Itulah yang dipikirkan Bunga di sela sela kebisingan dua temannya ini.


"Kami main ke tempat mu nanti malam, ya?"


"Aku juga dong, Unga."


Kedua merengek. Bunga sebenarnya sudah menebak kalau kedua teman genitnya ini mau modus mendekati Arpina atau Dibi. Baiklah, tidak masalah.

__ADS_1


"Datanglah. Terserah kalian."


Farah dan Dara mencak mencak kegirangan. Beberapa pasang mata mahasiswa menatap ketiganya dengan aneh. Tetapi karena trio sableng, yah mereka cuek bebek. Geol bokong kanan kiri dengan santai nya.


Sampai dalam kelas, Bunga yang duduk di kursinya. Dihampiri Delon. Senang dong Bunganya. Sampai sampai ia salting dan kehilangan kata kata. Apalagi, Delon tersenyum manis padanya. Meleot hati Bunga.


"Selesai kuliah, mau nggak pulang bareng aku?"


Mau banget. Eits, jual mahal dikit. Jangan bertingkah murahan di depan gebetan.


Diawali senyum terbaiknya, Bunga pun berkata dengan nada imut, "Aku takut ngerepotin."


"Nggak, kok. Kan, kita tetanggaan sekarang. Mau ya? Sekalian kita jalan jalan sebentar."


Huawaa... Rasanya, Bunga ingin bersalto salto ke udara saking senengnya diajak jalan sama cowok yang ia taksir.


"Mau deh."


"Gitu dong."


Dag dig dug serrrr, jantung Bunga. Wajahnya pasti merah merona sekarang. Semoga, hari ini adalah kebahagiaannya. Lepas status jomblo dan cepat dapat uang perjanjian pula dengan Dibi. Double jackpot.


***


Ting...


"Aku uda ada di parkiran!"


Baru keluar kelas terakhir, Bunga langsung membaca chat yang baru masuk.


"Galaksi, nomer siapa?" gumam Bunga yang tidak pernah kenal orang yang bernama demikian. Lantas ia membalas, "Ini siapa? Galaksi dari planet mana?"


Sialan! Dibi, nama aslinya adalah Galaksi Miller Al Malik, mendumel kesal setelah membaca balasan chat dari Bunga. Tapi, mengingat kesalahannya yang tidak sadar menulis nama aslinya di kontak Bunga tadi pagi, jadinya ia lebih memilih bersabar.


" AKU, DIBI."


"Eh, buset!" Nyaris saja hape terjatuh dari tangan, saking kagetnya membaca huruf gede dari balasan chat yang berkontak Galaksi. Jadi, pria itu benar datang menjemputnya? Kok bisa?


"Pasti ada udang di atas wajan eh balik batu." Bunga bersungut sungut kesal menuju parkiran dengan otak terus bertanya tanya, apa sebenarnya tujuan Dibi? Namun, langkahnya terhenti setelah mendengar panggilan Delon.

__ADS_1


"Jadi, kan, kita pergi bersama?"


Aduh, macam mana ini? Dibi or Delon? Bunga pusing sendiri harus pulang bersama siapa?


__ADS_2