Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 17# Kabar Buruk


__ADS_3

Tangan Dibi sudah menenteng paper bag berisi makanan pesanan Arpina. Di eskalator menuju ke lantai dasar mall, Dibi chat Bunga, "Uda selesai?"


"Belum. Lagi bingung, Pak."


"Kamu di lantai berapa?"


"Dua."


Dibi memutuskan menghampiri Bunga. Semua wanita, kalau berbelanja bawaannya pasti lama. Dibi paling benci menunggu hanya karena soal kebingungan para kaum hawa yang mempunyai sifat palah-pilih barang atau tawar menawar harga yang akan dibelinya. Buang buang waktu.


Itu dia orangnya sudah terlihat di dalam toko khusus underwear semuanya. Dibi ragu mau masuk juga, sebab pelanggan dan pramuniaganya serba cewek.


Masuk tidak, masuk tidak? Dibi menimbang nimbang. Jawabannya, tidak! Malu dan panas dingin terlebih dahulu otaknya saat melihat barang barang berenda tergantung banyak di dalam sana. Lebih baik tunggu saja di depan toko.


Lima menit sampai sepuluh menit, Dibi menunggu. Tapi yang ditunggu seperti jadi patung di dalam sana. Bunga masih terlihat kebingungan, entah apa yang membuatnya demikian, Dibi tidak tau. Dan jalan satu satunya, Dibi harus bertindak masuk.


"Hah... Bisa nggak sih dia belanja begituan?" Dibi menggerutu kesal. Lama sekali Bunga membuang buang waktunya.


"Kalau mau menjadi patung underwear, maka ngomong sama pramuniaganya sana."


Astagfirullah, jantung Bunga hendak copot akan suara Dibi yang ketus maksimal. Elus dada, sabar.


"Mas, jangan gitu atuh sama istri. Belanja dalama* itu nggak mudah yang dipikirkan kaum laki loh."


Dibi dan Bunga saling lirik kikuk saat ada satu Ibu ibu yang menegur. Istri katanya? Oh my god, Dibi merinding dalam diamnya. Bunga pun mengatakan amit amit dalam hati. Jadi istri Dibi pasti akan berujung cepat tua karena Dibi selalu berhasil memancing emosi setiap saat.


"Dengar ya, Mas. Jangan remehkan barang beginian, meski dipakainya bagian dalam, tapi kan kalau di dalam kamar harus buka bukaan di mata suami. Jadi kita para kaum hawa harus pilih yang bagus dan hot di mata."


Tambah ngaco. Bunga garuk kepala yang tidak gatal.


Dibi gerah tiba tiba akan ucapan si Ibu yang menjurus ke otak yang berbau vulga* untuk didengarnya. Segera, ia membisikkan ke Bunga agar cepat cepat mengambil apa yang harus dibeli tanpa menjawab satu patah pun perkataan si Ibu.

__ADS_1


"Arpina suka warna apa, Pak?" itulah yang sedari tadi membuat Bunga bingung.


Jdjxjsjdjd... Dibi ingin sekali meneriaki kebodohan Bunga, tapi mengingat pasti akan mendapat omelan dari ibu ibu yang sok tau itu, Dibi hanya bisa menggertakkan giginya.


"Cepat ambil warna apa saja," bisik Dibi kesal.


Mata galak sudah terlihat. Cepat cepat Bunga menurut. Mengambil ukuran yang ia kira kira pas untuk Arpina.


"Segini cukup?"


Dibi melirik cepat ke keranjang penuh yang dipegang Bunga. Lalu mengangguk. Mengingat perkataan Bunga yang minta ditraktir BH tadi, Dibi pun mempertanyakannya karena ia tidak melihat keinginan cewek itu.


"Hehehe... Nggak jadi, Pak. Malu!"


Sok jaim, batin Dibi. Lalu main tarik tiga kain kaca mata yang ia kira pas diukuran Bunga pakai. Tangan Dibi bergetar sendiri memegang kain haram itu.


"Wah, ini buat Arpina?"


"Buat kamu. Ya kali anak kecil pakai beha..."


"Apa lihat lihat?!" Bunga juga bisa galak dan memelotot untuk Dibi saksikan. Dengan tingkah kesal, Bunga mengembalikan kain kacamata yang nggak guna karena memang kecil. Matanya tidak sengaja melihat ukuran pas untuknya. Tarik tiga sesuai jumlah Dibi berikan. Berjalan ke arah kasir. Menaruh belanjaan untuk dibayar.


"Hah? Masa segede itu?" Dibi hanya bertanya untuk diri sendiri di belakang berdirinya Bunga. Lalu sikap cuek dan datarnya kembali on yang sebenarnya juga penasaran isinya segede itu di balik baju oversize yang menjadi pemersatu modis Bunga?


Hape tiba-tiba bergetar. Ada nama Denisa di sana. Namun, Dibi yang tidak suka dengan ke-agresifan wanita itu selama satu kantor, Dibi pun hanya cuek. Senyapkan lalu kembali memasukkan hape itu ke dalam saku.


Tanpa Dibi sadari, setelah Denisa yang menghubunginya, telepon Emak pun masuk. Tapi kan, sound nya sudah disilent. Jadi, Dibi tentu saja tidak mengetahuinya.


"Duh, Gusti... Kok nggak diangkat sih?" Emak mulai kehilangan Arpina. Rumah Dibi yang tidak dikunci oleh Arpina tadi, sudah ia telusuri. Tapi bocah itu tidak ada. Ke mana ya?


"Arpina ... Jangan iseng atuh, Neng. Ini nasi sayur lodehnya uda medok loh. Ayo, keluar dari persembunyian, Neng." Emak kira, Arpina main petak umpat. Padahal, bocah itu sudah mulai berkeringat, kepanasan di dalam bagasi rumah yang celah udaranya tidak ada, gelap pula.

__ADS_1


Tidak ada tanda tanda Arpina di dalam rumah dan pelataran, Emak pun berinisiatif mencari di jalan komplek.


"Mbak...!"


Denisa menoleh ke suara Emak yang memanggil di luar pagar.


"Ada lihat anak kecil nggak? Yang rambutnya __"


"Nggak lihat."


Emak belum kelar menjelaskan ciri ciri Arpina, sudah di jawab ketus terkesan malas oleh Denisa. Wanita itu masih sibuk menghubungi Dibi.


"Owalahh, tetangga baru kok nggak ada kesan ramahnya sama penghuni lain." Emak Dahlia menggerutu. Teringat kalau Bunga bersama Dibi, segera ia pun menghubungi anaknya untuk melapor. Ia tidak mau Arpina kenapa kenapa dan berujung disalahkan oleh Dibi.


"Hah... Apa, Emak? Arpina hilang?!"


Mendengar suara kaget Bunga, Dibi jelas kalut. Jantungnya berdentum kaget hebat mendapat kabar buruk tentang anaknya.


"Kita pulang!"


Hap... Bunga hanya pasrah tangannya tiba-tiba dicekal Dibi lalu berlari bersama keluar mall menuju parkiran. Bukan hanya Dibi yang cemas, Bunga pun demikian. Meski bocah itu nakal, tetap saja ia tidak tega mendengar kabar buruk.


"Kasihan sama penculiknya juga aku tuh. Pasti akan dibasbus sama Bapaknya." Bunga bergidik ngeri membayangkan aksi Dibi yang galak ini, nanti kalau berhasil menangkap pengusik itu, dibunuh nggak ya?


Jangan ditanyakan laju motornya, mungkin sama dengan pembalap. Bunga yang takut jatuh, tanpa segan lagi memeluk erat Dibi dari belakang.


Sampai rumah, Dibi dan Bunga langsung mendapati Emak sedang nangis nangis tergugu pilu di teras rumah.


"Emak, gimana ceritanya?" Bunga langsung mencecar mendahului Dibi. Ia takut, Dibi malah membentak Emaknya. Lihatlah, mata Dibi seperti predator dengan raut wajah siap senggol bacok. Urat urat lehernya pun menjimbul akibat menahan nahan emosi di dalam sana.


Emak pun bercerita singkat akan kelalaiannya menjaga Arpina. Di selah selah cerita itu, Denisa datang.

__ADS_1


"Pak Dibi__"


"DIAM!" bentak Dibi ke Denisa yang tidak suka cerita Emak diganggu.


__ADS_2