Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 22# Penguntit


__ADS_3

"Putar balik, putar balik! Ada razia."


Motor yang Delon kendarai menepi seketika mendengar salah satu pemotor memberi instruksi sesama pengendara agar jauh dari kata tilang.


"Surat kendaraanmu apa nggak lengkap?" tanya Bunga sedikit bete. Ada aja kendala kalau jalan sama Delon.


"Surat aman semua. Tapi kamunya?"


"Aku?" Saking herannya, Bunga sampai menunjuk ujung hidungnya. "Aku kenapa?"


"Nggak pakai helm."


Bunga tercengir. "Iya, juga. Trus, gimana dong? Kita pulang aja nih?" Sedikit kecewa sih kalau jalan jalan sama Delon gagal lagi. Waktu itu Dibi, sekarang razia. Semua yang bersangkutan dengan kepolisian itu, memusingkan.


"Sayang kalau pulang, uda di tengah jalan juga. Ayo, naik lagi."


Tanpa banyak tanya, Bunga naik kembali ke boncengan. Berkendara sebentar lalu motor Delon berhenti di depan toko penjual helm. Tepat saat itu, ada motor Dibi yang lewat tanpa melihat targetnya.


"Tunggu sebentar ya, aku beli helm buatmu. Kan, mulai hari ini kita akan sering boncengan."


Kode kah itu? Bunga yang peka terhadap kata kata ambigu itu, dibuat senyum senyum sembari menatap punggung Delon yang masuk ke toko. Kalau rasa suka menyapa, lihat bayangannya aja jadi girang sekali, bikin hati berbunga - bunga.


Sekitar lima menit, Delon sudah kembali membawa helm warna biru muda.


"Aku pakaikan."


So sweet. Eh, tapi kenapa malah ingat Dibi ya. Dube kan pria pertama yang memakaikan helm padanya. Ah, lupakan si Pak Polgak itu.


"Ayo, kita pergi dengan aman."


Bunga memang tidak banyak kata, tetapi perasaannya lah yang mewakili di dalam sana. Pokoknya senang sekaliii sampai wajahnya terasa ingin terbelah saking banyaknya tersenyum senyum.


Hingga, sampai lah motor Delon diberhentikan salah satu polisi lalu lintas. Dibi melihat itu dari beberapa langkah jarak yang memang ditunggu sedari tadi. Sial, si sableng dapat helm dari mana tuh? nyuri? Tapi kayaknya baru beli helm yang harganya cuma tujuh puluh ribuan saja, terlihat mengkilap sih tapi KW. Pantas saja, ia lebih dahulu sampai di lokasi. Mampir dulu mereka beli helm. Lagian kok mereka tau sedang ada razia. Hemm...


"Boleh saya lihat surat suratnya, Mas?"


"Silakan. Ini ... Ambillah, Pak!" Tidak merasa ada cela, Delon tentu saja santai santai saja memperlihatkan apa yang diminta oleh satu polisi di depannya. Tepat itu, Dibi mendekat dan berdiri di sebelah Bunga. Sengaja, ujung sepatu Bunga ia injak dengan iseng.


"Ish..." Bunga menoleh sembari berdesis. "Ehh..." Kaget lah. Napa sosok tampan tapi menakutkan ini ada di lokasi? Bukannya lagi sibuk ngurus kepulangan Arpina dari rumah sakit. Wajah ceria Bunga mendadak mendung.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak sengaja," kata Dibi berbohong sembari menatap kendaraan Delon untuk mencari cela. Tapi, Dibi tidak melihat apa yang harus ia perpanjangkan untuk menahan sepasang muda mudi di depannya.


"Mau kemana?" tanya Dibi mencuri kesempatan berbisik, mumpung surat kendara Delon masih diteliti oleh anak buahnya.


"Kepo!"


Uh ... Tangan Dibi sudah gatal dan siap mengetuk jidat Bunga, namun mengingat batasannya kalau ia sedang ada di lokasi umum. Jadinya, tangannya cuma terkepal kesal di bawa sana. Awas saja Bunga yang sudah berani menjawab ejek padanya. Sekarang, bukan soal Arpina lagi, tetapi perseturuan antara mereka. Bunga ini berani melawan dan menantangnya, sementara ia tidak suka ditantang.


"Lengkap semua."


Hah... Dibi hanya menghela nafas kasar. Targetnya lolos tanpa mendapat ultimatum darinya. Siall...


"Ayo, Bunga. Kita jalan," kata Delon sembari mendelik ejek ke Dibi.


Bunga tersenyum jumawa. Tengok ke kanan. Melet sedikit ke Dibi sebagai balasannya karena si Dube tadi menginjak ujung sepatunya. Bodo amat dengan plototan Dibi. Emang Bunga pikirin, hari ini adalah kebahagiaan untuknya karena bisa jalan tanpa kendala lagi sama calon ayang.


Aaarggh, cewek kurang ajar. Dibi mengerang kesal dalam hati. Bunga sudah mengibarkan bendera peperangan. Baiklah, lihat saja apa yang akan diperbuatnya. Berani sekali cewek itu memeletkan lidah.


"Selamat bekerja ya, Pak." Sopan sopan ejek suara Bunga yang Dibi dengar. "Assalamualaikum..." sambung Bunga sengaja sekali. Tapi pamitnya itu dijawab oleh anak buah Dibi yang tidak tau apa apa.


Bruum ... Mesin menyala di hadapan Dibi. Bunga sengaja melingkarkan tangannya ke pinggang Delon. Entah kenapa, Dibi kepanasan melihatnya. Tengok sebentar lagi ke Dibi, dip dip. Lalu tersenyum penuh arti setelah mengedipkan mata ejek ke Dibi. Makin tertantanglah Dibi untuk membuat kencang Delon dan Bunga berantakan.


"Saya duluan, Pak." Komandan mah bebas. Main pergi saja mengikuti laju motor Delon setelah pamit ke para bawahannya yang masih berpatroli di lalu lintas itu.


Dibi terus berjalan di belakang Bunga dan Delon yang mengikis jalan ke arah loket pembelian tiket offline, tanpa disadari oleh kedua orang itu karena terlalu sibuk berbincang yang tidak penting untuk di dengar Dibi. Sakit kuping Dibi saat Delon menggombali Bunga seperti, "Jangan jauh jauh, nanti ada yang kurang dalam hidupku."


Hoek... Bikin Dibi mual mendengar gomabalan receh anak muda itu. Eh, pakai gandeng tangan segala lagi.


"Ehem ... Kayak orang buta aja jalannya pakai tuntun tuntunan." Labas tangan Delon dan Bunga yang baru digandeng oleh Delon. Alhasil, terpisah. Bunga mangap mangap shock mendapati Dibi yang selalu mengejutkan dan tak terkira kemunculannya seperti jin. Delon pun demikian.


" Bapak ngikutin kami ya? Ish, penguntit!" sungut Bunga tidak mau lagi mengenal apa itu rasa sopan ke orang yang lebih tua dan berwibawa seperti Dibi.


"Penguntit?" Dibi auto tidak terima. Padahal memang kenyataannya demikian. Gengsilah kalau ngaku. Intinya, Dibi itu penganut maha benar. Orang sekelas dua anak muda di depannya itu selalu salah. Titik!


"Iya, Bapak penguntit." Delon hanya diam menyaksikan Bunga menantang Dibi sedikit tegas.


"Emangnya, ini mall punya mu? Noh, orang banyak dimari. Apa mereka juga penguntit?" Dibi menaikkan satu alisnya sembari menyeringai. "Sana gih, omelin mereka."


Tidak akan pernah menang berargumen alot dengan Dibi, Bunga sadar itu. Intinya, orang waras mah ngalah.

__ADS_1


"Ayo, Bunga. Kita nanti telat." Delon yang mengalah duluan menarik Bunga padahal cewek itu sebenarnya pun akan berkata demikian.


Dibi ikut ngantri di belakang Delon di loket pembelian tiket. Bunga hanya bisa mendengus kesal dari kejauhan. "Dasar penguntit! Apa coba maksudnya?" Rasanya, Bunga mengalami stres kalau lama lama bertetangga dengan pria itu. Bisa nggak sih, Dibi itu rumahnya di antariksa berteman dengan pinguin atau kalau tidak rumahnya di dalam hutan bertetangga dengan gorila. Dongkol sekali Bunga dibuatnya.


"Apa lihat lihat?" Dibi tersenyum santai saat Bunga kedapatan menatapnya sinis. Emang enak digangguin. Huuu... Tadi kelihatan jumawa pas mau gagal ditilang. Rasakan pembalasan nya. Siapa suruh bikin anaknya cemberut dan tadi songong seakan-akan menantangnya.


" Orang waras ngalah kan ya, Delon?"


Eh, dikata dirinya gila. Jangan sebut dia Dibi kalau di dalam bioskop, Bunga dan Delon menikmati acara nontonnya.


Masih tebal muka, Dibi berjalan santai melangkah di belakang Bunga dan Delon. Ramainya pengunjung ciwi ciwi cantik abg tak ia hiraukan saat beberapa dari mereka ketahuan menatapnya damba. Lihat kaca di sisi kanan sembari berjalan pelan, ganteng meski berumur juga. Otot? Uih, Delon kalah lah. Wong polisi yang menjaga tubuhnya kan memang seksi seksi macho. Nggak ada cela dari segi fisik. Dibi memuji diri sendiri.


"Duh, masih ngikutin aja. Tuhan, cabutlah otaknya yang mungkin kegeser sinting." Bunga berdoa dalam hati sembari melirik sinis Dibi melalui pantulan kaca. Ia merasa seperti terori* yang diikuti polisi tak berseragam.


Delon pun terasa dicekal pergerakannya, niat hati mau melancarkan sesuatu ke Bunga tapi... Hah, nyebelin amat. Apa sih yang diharapkan kakaknya itu dari duda ini? Nggak ada menarik kecuali harta mungkin. Tapi kan, Kakaknya juga punya harta dalam kerja kerasnya sendiri.


Sampai di dalam bioskop, penonton sudah sangat ramai. Hanya kursi yang berada di deretan paling belakang yang tersisa, itupun cuma beberapa jumlah doang. Nah, satu persatu para penonton di depan Delon dan Bunga masing masing menduduki kursi. Delon berangsur menarik tangan Bunga untuk mencari kursi sesuai.


"Nah, kamu di sini, aku__" Delon terjeda akan kelakuan Dibi.


Dengan santai, Dibi mendahului Delon duduk di sebelah Bunga. Ia berada di tengah tengah dengan Bunga ada di m dekat dinding paling pojok.


"Pak!" rengek Bunga prustasi. Harusnya ia bersebelahan dengan Delon tapi ini...? E e lah.


"Apa? nonton sono. Tuh, horornya dimulai. Layarnya bukan di wajah saya." Satu popcorn Bunga pun, Dibi comot tanpa dosa. Kunyah pelan dengan tampang cool. Bunga ingin sekali menaboknya, tapi pasti akan berujung panjang urusannya kalau melakukan kekerasan. Pusing oi pusing.


Bunga dan Delon cuma saling lirik, mumet. Mereka ngedate tapi seolah-olah diawasi seorang Bapak tua dan orangnya itu si raja setan yang berhasil membuat Bunga darah tinggi melebihi hari sebelumnya. Damn!


"Ini balasannya karena tadi subuh kamu uda lancang ngaku ngaku menjadi calon Mama tiri Arpina dan secara tidak langsung, kamu pun mengakui ku calon suami mu di depan mantan istri ku. Plusnya, Arpina bersedih sekarang karena melihatmu jalan bersama Delon."


Glekk...


Bunga menelan ludah susah payah mendapat bisikan tegas dari Dibi. Di layar sana, filmnya memang menayangkan film horor yang lagi tren, namun seramnya Dibi mengalahkan fiksi itu.


"Hai, Bro. Rileks dong. Horornya aja belum mulai loh. Lihat depan, jangan ke muka ku. Aku memang tampan sih, tapi nggak mau juga ditatap damba oleh sesama batang."


Delon cemberut komat kamit dongkol dalam hati mendapat kalimat provokator demikian dari Dibi.


" Dasar tak tau diri... "

__ADS_1


Dibi mendengar kok dumelan lirih Delon, tapi ia senang sudah berhasil membuat hari dua orang di sebelahnya kacau.


" Ini belum seberapa..." Seringai devil Dibi tersemat. Lagi dan lagi, ia mencomot popcorn Bunga. Si gadis itu cuma menatap nanar tangan Dibi yang kurang ajar sekali.


__ADS_2