
Kalau sakit hati karena cinta, boleh nangis nggak sih? Bunga celingak celinguk di dalam toilet, paling pojok dari kelas kelas para mahasiswa. Sepi. Aman lah nangis tanpa ketahuan orang lain.
Nangis on meski ditahan tahan juga, tetap saja matanya berderai banjir karena sensorik kereflekan kepekaan hati yang potek.
"Tragis amat sih nasib percintaan ku?" Bunga curhat sama cicak di dinding. Si hewan melata juga menyahut dengan suara khasnya. Karena direspon, Bunga lanjut cerita lagi.
"Apa karena aku kualat sama para duda duda yang sepanjang malam aku berdoa agar nggak dapat jodoh duda?"
Cicak menyahut lagi. Bunga sedikit terhibur karena setidaknya ada yang mendengar curhatannya yang mungkin terdengar konyol.
Hingga waktu pun terlupakan, sampai kapan Bunga di dalam toilet? Ia tidak tau. Semua ocehannya keluar untuk cicak dengar.
"Ini pasti ada sangkut pautnya sumpah Dube waktu itu. Tega amat sih ngutuk aku kalau jodoh ku itu duda. Ish, Dasar nggak ada hati. Aku sumpahin balik juga meski nggak di dengar oleh orangnya. Nih, untuk mu, Pak Dibi, karena Bapak membenci saya, maka saya sumpahin Bapak mendapat jodoh gadis atau janda yang sableng sikapnya melebihi aku."
Cicak menyahut kembali, Bunga menganggap suara si hewan adalah amin. Mampus tuh Dibi, ada yang menyahuti doanya.
Sadar kalau orang biadab cinta seperti Delon itu tidak pantas untuk ditangisi, Bunga pun menghentikan isakannya yang sebenarnya air matanya juga tidak mau bersahabat keluar lagi seperti awal, kering seperti sumur di musim kemarau. Matanya saja sadar ujung ujungnya, kalau Delon pantas ditangisi saat sudah mati saja.
Cuci muka. Lap lap, lalu poles tipis make up agar tidak terlihat mengenaskan.
"Cari ilmu tanpa ada drama percintaan di kampus! Sadar, Unga, uang Emak cuma pas pasan, jangan sampai acc skripsi ditolak dan berakhir ngendok satu tahun lagi."
Belajar dan belajar sekarang yang dipikirkan Bunga. Delon? No coment lagi.
Tapi, meski sudah berusaha membuang jauh jauh pernyataan Delon yang menyakiti hatinya, tetap saja rasa galau itu mengganggu otak dan aktivitasnya hari ini. Sampai waktu pulang kuliah, naik motor menuju pulang pun, sekelompok polisi yang sedang melakukan razia razia bagi pengguna jalan nakal, main dilabas oleh Bunga padahal wanita itu sudah diberi kode lambaian untuk meminggirkan si matic. The power of badass girl, razia polisi dilabas gara gara sakit hati.
Dan alhasil, Dibi yang ikut ke lapangan detik itu juga memutuskan mengejar motor nakal yang ia sangat kenali pengemudinya adalah si sableng. Nyari perkara itu cewek.
Ting ting ting...
Klakson peringatan Dibi masih tidak disadari Bunga. Gadis itu masih asyik dalam kegalauannya. Dibi tancap gas kian kenceng. Sampai pada akhirnya, posisi motor mereka bersejajar. Karena Bunga itu tetangga yang baik hati dan tidak sombong, sangat santai ia menyapa Dibi dengan berkata, "Bapak ngajak balapan? Nggak baik loh!"
"Pinggirin!"
Eh, mau begal kah si Pak Pol ini? Atau mau ngajak makan batagor yang kebetulan mangkal gerobaknya?
Nurut saja, dibegal nggak mungkin karena Dibi adalah power ranger bin pemberantasnya kejahatan. Fixed, Lebih pasti akan diajak makan batagor. Lumayan hilangin patah hati.
Tuk...
"Aduh!"
Alih alih ditraktir sesuai ekspektasinya, kepala Bunga yang masih dibungkus pakai helm, dapat ketukan kunci motor Dibi. Alhasil, bibir Bunga manyun manyun manja eh kesal.
"Sakit atau nggak?"
__ADS_1
"Nggak __eh sakitlah!" Segera Bunga meralat karena tangan Dibi kembali mau mengetuknya pakai kunci. Sebelum kepalanya sakit lagi, jurus cewek yang bisa mengambil empati laki laki terpatri. Sekonyong-konyongnya, Bunga mewek di pinggir jalan. Hayoloh, Dibi bikin anak gadis orang kejer.
"Eh, eh, kok nangis?" Dibi dibuat bingung. Apa sesakit itu yang cuma diketuk pakai kunci? ini kan helm yang kena, bukan batok kepala Bunga langsung. "Ssst... Diam, Bunga. Malu diliatin orang, issh..." Awalnya Dibi yang ingin memarahi Bunga karena main labas dari petugas polisi tadi, malah berujung menenangkan gadis itu.
Di lirik aneh oleh pejalan kaki terus, mau tidak mau, Dibi menarik tangan Bunga ke arah kursi plastik punya Mas penjual batagor. Biar tidak malu nebeng bokong, Dibi memesan dua porsi jajanan itu. Ini mah, namanya tekor. Niat hati mengintimidasi Bunga, malah keluar uang meski receh juga.
"Hiks, hiks, ternyata Bapak tidak seburuk itu. Meski galak, tapi masih ada sisi baiknya. Mau menghibur saya pakai batagor meski hatiku masih potek."
Gadis ini meracau apa sih? Malah ngomongnya sambil makan batagor lagi. Itu pipi juga masih dibanjiri air mata. Dibi kan kurang paham.
"Bapak tau nggak? Kalau hari ini, aku sudah mutusin Delon. Hiks... Padahal, kami jadian baru kemarin. Sudah putus lagi aja."
" Alhamdulillah..." ceplos Dibi.
Bunga memicing intens. Matanya sekarang memang berkaca kaca, tapi kali ini kepedesan. "Kok alhamdulillah?"
"Iya, alhamdulillah. Cowok Playboy kere buat apa dipacari. Tadi, saya tilang dia karena bonceng cewek cantik dan seksi tanpa pakai helm. Uda, makan yang banyak dari pada makan hati. Nambah juga boleh."
Ini, Dibi itu mau menghibur atau mengejeknya nggak sih? Mana tadi pas bilang 'cewek cantik dan seksi' pakai nekan kayak sengaja untuk ia dengar. Sakit hati sih, tapi pertanyaan Dibi untuk tidak menangis cowok seperti Delon itu benar juga.
" Mas, tambah dua porsi. Sambel kacangnya yang banyak deh."
Dua porsi? Gila, rakus apa doyan? Ada aja tingkah wanita kalau sedang patah hati. Dibi kira, Bunga tidak akan nafs* makan, makanya ia tawari basa basi. Lah, ini mah makin tekor.
"Bapak juga tadi pagi nyebelin jadi orang!"
"Saya? Kenapa?"
"Bubur Emak yang dibikin sepenuh hati untuk Arpina, kenapa diberikan kepada Mbak Polwan. Nggak ada harganya sekali perhatian Emak bagi Bapak. Meski Bapak benci saya, tapi setidaknya hargailah Emak __hmmpprt." Sangat cerewet, Dibi menyuapi sesendok batagor miliknya ke mulut Bunga. Mata gadis itu memelotot kesal. Dengan gemas gemas dongkol, Dibi menoyor jidat Bunga lagi.
" Bapak kok hobinya toyor toyor kepala ku sih? Dosa loh, gini gini kepala adalah mahkota yang cuma berhak disentuh oleh orang yang menunaikan fitra ku. Contohnya Emak dan kelak suami ku tau...!"
"Lagian cerewet sekali. Bukan saya tidak menghargai pemberian Emak mu yang baik hati tapi punya anak buruk hati seperti mu. Ada alasannya!"
Mas si penjual cuma mesem mesem dalam diamnya yang menjadi saksi hidup pertengkaran tapi manis menurut matanya. Masa saling sewot alot, tetapi Pak polisinya perhatian ngasih tissue. Si Mbak yang tadi mewek juga, nerima begitu saja dan langsung lap lap pipi dan sudut mata sembabnya.
"Apa alasannya?" Tissue dibuang sembarangan.
"Arpina alergi kacang kacangan. Nafasnya akan berangsur sesak dan fatal akibatnya."
"Hah...? Astagfirullah... Jadi__ haduh, maaf, Pak kalau begitu. Nanti saya beri tau Emak tentang kesalahannya yang tidak disengajai. Maaf sekali lagi ya, Pak?"
Dibi hanya mengangguk. Tanpa jaim jaim, Bunga lanjut makan jajanan di piring selanjutnya. Sakit hati berangsur berkurang mendapat asupan gratis dari Dibi. Karena Pak polisi baik hati mentraktirnya meski masih sangar sedikit, Bunga pun menceritakan niat Denisa sampai alasan Delon menembaknya kemarin.
"Ish, sebegitunya wanita itu. Dasar - -"
__ADS_1
"Emang dasar tuh Mbak Polwan. Kayak nggak ada cowok lain aja kan ya, Pak. Secara, Bapak kan galak dan menakutkan. Masih saja nekat suka sama Pak Dibi __" Oups, apa ada yang salah ucapan jujurnya ya? Dibi melotot seram sekali ke arahnya. "Hehee... Mari, Pak. Makan lagi. Itu sayang sekali diangguri batagornya. Kalau Bapak uda kenyang, biar saya yang ngabisin." Bunga meringis sembari berusaha mengalihkan pembicaraan. Dasar mulut tanpa rem, masa ceplos ceplos jelekin orang di depan sang Empunya langsung sih. Nah kan, di toyor lagi jidatnya.
"Apa lihat lihat? Masalah bayar fitrah, biar saya tanggung saat bulan puasa tiba. Supaya saya bisa sesuka hati mukul kepala mu!"
Bunga hanya meringis ringis di galakin.
"Maaf, Pak. Itu tandanya, Bapak secara tidak langsung mau bertanggung jawab atas hidupnya si Mbak ini."
Hayo loh, Dibi dan Bunga kompak menatap Mas penjual. Sejurus keduanya lirik lirik mencerna baik baik kalimat si Mas.
"Maksud, Mas. Tanggung jawab dinikahinya gitu? Tanya Bunga. Si Mas berpeji bundar putih bercorak, mengangguk mantap. "Heheh, si Mas kalau melawak bisa aja. Kayak saya lagi hamil saja yang butuh tanggung jawab--"
"Mau saya hamili?" Dibi yang kesal tidak jelas, main menceracau saja. Kali ini, Bunga yang bersungut sungut. Menggebu gebu, Bunga menjejelkan satu sendok penuh batagor yang bertoping sambel cabe rawit setan ke mulut Dibi.
Dower dower dah itu bibir.
"Air, air...!" Dibi gelapan.
Bunga tersenyum jumawa. Lalu berdiri niat hati mau pergi. Tapi, gedubrak. Keselo karena hak sepatu tahunya tidak sengaja menginjak batu sebesar kepalan tangan dewasa.
"Kualat kan, sama saya. Puas!" Dibi yang kali ini jumawa. Tapi, melihat Bunga benar-benar mengerang sakit, tidak tega juga. Keluarin dompet, bayar si Mas batagor. Lalu mengelurkan tangan ke Bunga.
"Saya butuh bantuan mu agar Denisa tidak berhasil mengambil hati anak saya. Please..."
Eh, baru kali ini. Mulut galak Dibi hilang saat berbicara padanya.
Karena kesal juga dengan adik kakak itu, Bunga yang tidak takut tantangan jelas antusias menerima permintaan Dibi.
" Saya mau, Pak. "
" Oke, sekarang berdiri cepat. Jangan bilang minta digendong ala ala film lebay yang bucin parah itu."
Fixed, menurut Bunga, Dibi sangat cocok menjadi antagonis galak yang tidak punya rasa. Dasar! Padahal, kakinya benar-benar tergilir loh. Memang tidak butuh digendong juga, tetapi setidaknya bantu berdiri kek. Tadi saja sok sokan, tangan pria itu terulur memberi bantuan, tapi saat ia sudah mengiyakan akan membantunya, malah tangan si Dube kembali cuek. Dasar raja tega.
"Saya bantu, Mbak." Ah, baik sekali si Mas penjual batagor. "Ehhhh..." Bunga kaget saat Dibi tiba tiba memapah tubuhnya menghentikan tangan si Mas penjual menyentuh tangannya.
" Mas, nanti ada polisi lain ngambil motor saya. Tolong beri dia kunci saya. Tolong amanah ya! "
" Siap, Pak. "
Meski galak, Dibi punya rasa empati kok. Ia mau mengantar Bunga pulang pakai si matic milik Emak.
"Bapak baik juga!"
"Yailah, tugas polisi memang mengayomi masyarakat. Meski orangnya sableng sekali pun."
__ADS_1
Dahlah, Bunga tidak jadi baper. Dibi itu susah ditebak seperti teka teki harta karun.