
"Hai, Pin. Lagi apa?"
Tumben ... Arpina membatin sembari menatap aneh Bunga yang entah angin dari mana, si Tante ada di rumahnya di jam tujuh malam. Ramah pakai banget lagi.
"Lagi eek."
Eh, Bunga mendelik sejenak ke Arpina yang menjawabnya asal asalan. Asem ini bocah. Masih marah rupanya.
"Masa boker di meja makan? Pakai ngunyah segala lagi." Bunga duduk santai di kursi sebelah Arpina.
Udah tau makan malam, si Tante pakai nanya.
"Kalau nyari Papa, orangnya belum pulang!"
Biarin bocah ini masih jutek padanya. Dan ia memang sudah tau Dibi masih di kantor polisi, wong si Dube sendiri yang chat padanya untuk mulai menjalankan misi.
Tadi sore, ia dan Dibi membuat kesepakatan bersama untuk membuat Arpina tidak termakan oleh rayuan kebaikan Denisa yang penuh kepalsuan. Ia bersedia secara suka rela demi membalas Denisa yang tega mempermainkan hatinya melalui Delon. Sedangkan Dibi, jelas tidak mau menerima Denisa secara terpaksa akan permintaan Arpina.
"Tante kemari mau bertemu Arpina, lagi butuh teman curhat."
"Bi Muna, pasti uda capek. Pulang nggak apa-apa, Bi." Arpina malah berbicara kepada ART Papanya, alih alih menyahuti Bunga.
Bunga masih diam sabar, sembari mendengarkan percakapan dua kepala wanita di depannya dengan tangan menopang dagu. Jadi, dicuekin tuh rasanya begini ya? Bunga introspeksi diri dalam diamnya. Ia sering cuek ke Arpina.
"Tapi, Non kecil, Bapak kan belum pulang. Lagian, Bibi juga masih perlu beresin meja makan dan cuci piring setelah Non Arpina selesai makan."
Arpina menyeringai jahil. "Ada Tante Bunga, Bi. Iya kan, Tan?"
Hem, dikerjain pasti. Tapi, biarkan saja demi kesuksesan misinya. Hus has, Denisa tidak akan ia biarkan menang.
"Tentu saja. Bi Muna dengarkan saja kata Arpina. Tenang, anak nak__ manis ini aman bersama ku." Hampir saja keceplosan mengatai Arpina nakal. Bisa tambah ngambek Arpina nanti kalau kalau itu tercuat. Jaga lisan untuk sementara waktu demi menskakmat Denisa.
Karena memang sudah capek, Bi Muna pun hanya bisa pasrah. Kerjaannya di rumah Dibi bukan cuma sekedar bebersih tetapi tugas utamanya adalah menjaga Arpina. Oleh sebab itu, Bi Muna sedikit ragu meninggalkan Nona kecilnya sebelum Dibi datang.
Selesai makan, Bunga langsung merapikan meja tersebut sesuai harapan Arpina. Bocah itu pikir, ia akan tersinggung gitu. Beres beres rumah mah, kerjaan Bunga dari kecil.
"Pin, Tante Denisa sering kemari nggak?" selidik Bunga berbasa basi.
Arpina menjawab dengan posisi masih duduk di kursi makan, sembari memperhatikan Bunga yang sibuk mencuci piring.
"Sering. Orangnya baik dan lemah lembut serta anggun, tidak seperti tante Bunga."
Sabar... Nggak apa dibeda bedakan oleh cerita Arpina yang sudah tertipu. Bunga kasihan pada bocah ini kalau ke depannya Denisa berhasil menjadi ibu tiri. Pasti Arpina akan dicaci maki seperti nyanyian ibu tirinya penyanyi itu.
"Tante Denisa mau Arpina jadikan kandidat calon Mama tiri ku. Cocok sama Papa nggak, Tan?"
"NGGAK!" Semangat sekali menjawabnya. Hampir saja, gelas yang Bunga cuci jatuh.
__ADS_1
Alis Arpina naik satu, menatap tanya ke Bunga. "Kok enggak?"
Bunga terlebih dahulu membersihkan tangan yang sudah selesai mencuci piring. Duduk di dekat Arpina. "Tante Denisa cuma pura pura baik, Pin. Demi bisa jadi istri Papa mu. Percaya sama Tante ya?" Tampang humoris Bunga berubah serius untuk Arpina lihat.
Tapi, namanya bocah, kadang kala apa yang ia lihat sudah dianggap nyata. Begitulah yang ia nilai dari Denisa, beberapa hari ini wanita itu mendekatinya dengan sikap manis sekali.
"Bilang aja Tante iri. Iya, kan?" Arpina menyeringai. "Tante nggak boleh dekat dekat Papa ya. Kan, uda punya Om Melon. Sekarang, cuma Tante Denisa yang boleh dekat Papa."
Bunga yakini, Arpina masih menyimpan rasa jengkel padanya meski bocah ini sudah meminta maaf sore kemarin itu.
"Hiks, itulah kenapa Tante kemari. Mau curhat sama Arpina kalau Tante dan Om Melon yang jelek kata Arpina dan yang diiyakan Tante juga, sekarang sudah putus."
Arpina mendengarnya dengan baik. Tapi tidak merespon. Sedang Bunga, kok ada rasa tidak rela akan inti omongan Arpina yang saat ini Denisa menggantikan posisinya? Why?
"Om Melon jelek itu, cuma mainin Tante."
"Emang Tante boneka ya?" celetuk polos Arpina. Tentu saja dia belum tau arti 'mainin' dalam kasus pecintaan orang dewasa.
Lama lama, Bunga nangis benaran dah, yang sedari tadi ia cuma pura-pura mau mewek. Daripada bertele tele, mending straight to the poin aja lah. "Gini deh, Pin. Kalau benar Tante Denisa sayang sama Arpina, coba kamu uji abis abisan. Sabar nggak? Terus, marah nggak? Atau hal lainnya. Takutnya, kalau uda jadi Mama tiri Arpina, sikapnya jadi sebaliknya."
Arpina mengangguk. Entah, Bunga tidak paham apakah bocah itu mencerna ucapannya atau sekedar angguk angguk saja.
Ting Tong...
Bel rumah berbunyi. Arpina dan Bunga saling lirik. Mungkin Dibi yang pulang.
Jangan ditanyakan ekspresi Denisa saat wanita itu mendapati Bunga ada bersama Arpina, sinis pakai banget. Dari cerita Delon, Denisa sudah tau kalau cewek kudungan tapi bar bar itu sudah tau semuanya. Jangan sampai, Bunga mengadu pada Dibi, cemasnya dalam hati.
"Ini buat Arpina."
Dikasih mainan lucu, jelas saja bocah itu senang. "Terimakasih, Tan. Ayo masuk!" Arpina lebih dahulu beranjak sembari memeluk gemas boneka yang bulunya sangat halus.
Sekarang, Bunga bagai debu tak terlihat. Inilah rasanya dikacangin.
Saat Denisa ingin melewatinya, wanita itu berhenti dan berbisik sejenak, "Ku harap, jangan ikut campur urusan ku."
"Situ yang mulai..." Biar dikata Bunga cuma gadis biasa yang tidak punya pangkat. Tetap saja ia tidak gentar kalau ia memang berada dititik yang benar.
Denisa mendengkus sebal.
"Bu Polwan, kan tau ya, segala hukum undang-undang? Ada nggak hukumnya bagi orang yang licik dan picik?" sindir Bunga telak. Pasti, Denisa itu paham maksudnya. Lihatlah tandanya, matanya memicing sinis padanya.
Ultimatum sekali lagi ah... "Tau arti penipu ulung nggak? Kalau nggak, sini saya bisikin __ wow, wow, biasa aja Bu Polwan matanya, nanti dilihat Arpina bisa takut duluan ada cosplay-nya Mak lampir dimari." Uh, puas rasanya hati Bunga sudah memultimatum wanita berkedok di depannya. Kan, gara gara suruhan nih cewek sampai sampai rasa patah hati karena dipermainkan oleh Delon, ia rasakan.
"Gadis kampung seperti mu, cukup diam dan minum susu di rumah." Denisa mencoba menguasai emosinya agar Arpina tidak melihat betapa sangarnya dirinya. Cukup tepuk bahu Bunga, lalu tersenyum santai seolah-olah tidak ada apa apa diantara mereka.
"Tante, ini kue apa?"
__ADS_1
Suara Arpina mengalihkan ketegangan Bunga dan Denisa. Bocah itu duduk di sofa sembari sibuk membuka kotak kue yang dibawa Denisa.
"Bakpia asli macam rasa. Enak loh, Pin. Makan deh." Manis sekali sikap Denisa.
Bunga cukup jadi penonton. Duduk cuek di sofa lainnya meski tak dianggap sekarang oleh dua orang di depannya.
"Arpina coba ya?" Satu kue bulat sedikit pipih itu hampir masuk ke dalam mulut Arpina, namun segera ditepis oleh Bunga dengan kasar saat menyadari kefatalan kalau makanan itu tertelan oleh Arpina. Membuat kue berantakan ke lantai karena yang di kotak atas meja pun tidak sengaja tersenggol tangan lain Bunga.
"BUNGA!" Bentak Denisa. Saking kerasnya, Arpina sampai terperanjat masuk ke dalam pelukan Bunga tanpa sadar, yang sebenarnya Arpina memang sudah terkejut saat Bunga menepis tangannya untuk mencegah memakan kue tadi. Double kaget bocah itu.
"Kamu keterlaluan, Bunga! Kenapa kamu memukul tangan Arpina?" Denisa masih terbawa emosi yang lepas kendali juga.
Bunga tidak langsung menjawab dan terkesan cuek akan emosi Denisa. Ia menyadari dada Arpina naik turun karena kaget, dengan itu ia lebih dahulu menuntun Arpina duduk di sofa yang lebih bersih. "Kata Papa Arpina kan, kamu alergi kacang kacangan?" Arpina mengangguk membetulkan pertanyaan lembut Bunga. "Tapi, Arpina hampir memakannya. Kue tadi isinya kacang loh."
Lantas, Arpina mendelik sebal ke Denisa. "Ish, Tante Denisa mau jahatin aku ya...?!"
Hahahaha... Emang enak di plototin bocah kecil tapi punya sisi galak seperti Papanya. Bunga tersenyum setan dalam hati.
"Eng-ngak kok. Tante tidak tau, Pin. Sumpah deh. Tante minta maaf soal kesalahan yang tidak disengaja." Denisa tergagap. Untung Arpina belum memakannya atau Dibi pasti akan lebih murka lagi padanya.
"Ya ampun, Pin. Rumahmu berantakan tuh. Ah, biar Tante Bunga yang beresin. Kalau Papa mu balik, pasti Tante yang diomelin karena __"
"Jangan tante Bunga. Kan kuenya milik Tante Denisa, jadi biarin Tante Denisa yang bersihin rumah Papa."
Tepat sasaran. Bunga menyeringai. Itulah yang ia inginkan, makanya tadi mendrama shock melihat lantai yang asyiknya, tadi sendal jepit Arpina sempat menginjak satu kue dan alhasilnya lengket lengket deh.
Inilah bukti nyata, Polisi mengayomi masyarakat sampai nge-pel di depan Bunga yang jumawa bisa membalas Denisa. Foto diam diam, jepret. Send ke WA Dibi dengan caption, "Pembantu baru Bapak!" ada emoji ngakak di akhir tulisan. Belum diread Dibi, biarkan saja.
Sedang Denisa, demi pencitraannya di depan Arpina, ia tidak bisa berbuat banyak untuk membalas Bunga. Fixed, cewek kampungan ini ngajak ngadu kelicikan. Baiklah, Bunga menjual maka ia akan bayar tunai malam ini dan hari hari berikutnya.
Pessss..!
"Ihh, cantik cantik jorok! Bau lagi! Iya kan, Pin. Ada bau kentut kan? Atau Arpina yang kentut?"
Bocah itu menggeleng-gelengkan cepat kepalanya akan tuduhan Denisa. Sejurus, tengok ke Bunga. "Tante Bunga ya? Ish, Papa nggak suka loh rumahnya tercemar oleh bau apapun itu. Ayo, Tan. Cepat semprot ruangan."
Sialan Denisa. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan loh. Bunga tidak terima dituduh. Mata sipitnya memicing sebal ke Denisa yang tersenyum miring padanya.
"Ya Allah, berdoa yang tidak baik untuk seseorang memang tak Kau perbolehkan. Tapi, difitnah juga rasanya tidak adil, maka doa saya adalah semoga Mbak Denisa kentut lagi sampai cepirit di celana. Amin." Bunga berdoa dalam hati.
Sepersekian detik, Denisa masih asyik membersihkan lantai. Tapi, saat Bunga baru datang dari ruang tengah, habis mengambil semprotan pewangi, Denisa tiba tiba memegang perutnya dan terlihat gelisah sembari merapatkan paha dengan kaki berdiri tidak tenang. Kenapa perutnya sakit lagi? Memang, kemarin ia diare tapi hari ini sudah mendingan.
"Pin, Tante tiba tiba mules. Pinjam toilet ya." Prooot...
"Tanteeee, bau tau!" jeritan Arpina tidak jelas karena menjepit hidungnya.
Sementara Bunga, gadis itu tertawa so hard sampai memegangi perutnya. "Mbak, ada sari sarinya nggak keluar? Hahahah... "
__ADS_1
Denisa malu. Kenapa Bunga bisa tau.