
Bugh...
Gedubrak...
Kreek...
"Aaarggh..."
Sudah kesenggol keras, jatuh dan kakinya ditabrak pemain skating lainnya pula. Itulah yang Bunga alami. Lolongan rasa sakit luar biasa mampu mengundang mata para pemain skating di dalam area. Tentu saja Dibi pun, yang cuma bisa menyaksikan kemalangan Bunga secara spontan begitu saja tanpa bisa menolong karena posisi mereka sedikit jauh.
Denisa main cantik dan sangat halus. Cukup menabrak keras sisi bahu Bunga sembari berseluncur cepat dan berhasil membuat rivalnya itu oleng. Sesuai prediksinya, pemain skating lain yang tidak menyangka nyangka ada Bunga menghadang seluncurnya, berhasil menimpa Bunga dengan sepatu skating terbuat dari separuh baja yang bisa dibilang berbahaya melukai kaki kanan Bunga. Bukan itu saja, pria yang dijadikan kambing hitam oleh Denisa berhasil menindihi jenjang kaki Bunga. Double aww bin sakit. Sangat sangat terlihat kecelakaan alami.
Dibi beranjak cepat. Arpina pun demikian yang susah masuk ke dalam lingkaran orang orang yang mengelilingi Bunga.
Beberapa orang membantu pria muda tapi gentong bin gendut yang menindihi kuat kaki Bunga itu, dijauhkan dari Bunga.
Dibi pun sigap membenarkan posisi Bunga yang sudah meraung raung kesakitan. Lalu segera mengecek kaki Bunga.
"Sakiiit, Pak. Gajah itu pelakunya." Dalam sisa-sisa kekuatannya, Bunga mengadu pada Dibi dengan cara menunjuk pria gendut itu. Karena aksi Denisa yang spontan seperti angin, Bunga pun tidak tahu awal kejadiannya.
Arpina tertular akan tangis Bunga yang kesakitan dan sesekali meringis di depan Dibi dan orang orang berisik.
"Ini kecelakaan, Pak." Si Ndut tentu saja membela diri. Dan di dukung oleh oleh pemain skating lainnya. Kecelakaan dalam arena seperti bertabrakan, jatuh dan lainnya memang sering terjadi. Mereka berpikir demikian.
"Nanti kita cari tau asal mulanya. Lebih baik kita periksa keadaan mu," final Dibi. Selain khawatir pada kaki Bunga, Dibi juga tidak tega melihat Arpina ikut ikutan menangisi Bunga.
"Maaf!" ujar Dibi. Terus main meraup tubuh mungil Bunga. Tanpa diintruksi Arpina mengekori Papanya.
"Sakit, Pak," rengek Bunga mengadu dengan tangan lebih kuat melingkar di leher Dibi. Bahaya kalau terjatuh lagi.
"Sabar ya, Tan..." Arpina mendahului Dibi menghibur. Bunga merespon dengan anggukan kecil.
"Kita ke rumah sakit. Semoga tidak fatal!" Dibi kian mempercepat langkahnya.
"Saya tidak mau diamputasi, Pak."
"Jangan lebay, Bunga!" Dibi mendelik tidak suka dengan kalimat Bunga. Yang dipendeliki kembali sesunggukan. Bukannya manja, tetapi Bunga benar-benar kesakitan. Meski tidak ada rauangan lagi yang ia tahan tahan karena masih ada malu di depan orang banyak. Hanya air mata itu mampu yang berlinang.
Sampai di pintu keluar, Denisa ternyata sudah stay di sana dengan tampang pura pura bodoh dan tidak tau apa apa.
"Loh, Bunga! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Ratu drama berakting. Mungkin, Denisa bisa menjadi artis ikan terbang yang mempunyai tampang lugu tapi aslinya beracun.
__ADS_1
"Jatuh!" Dibi menjawab singkat tanpa menghentikan langkah. "Kamu sebenarnya dari mana?"
"Lagi sakit perut, Pak. Jadi saya mengurungkan niat bermain skating." Idenya luar biasa bukan. Dibi tidak akan pernah tau siapa dalang dibalik kecelakaan Bunga.
"Pak, biar kami ikut bertanggung jawab." Staf ice skating datang secara tiba-tiba.
Dan kebetulan, Dibi memang tidak membawa mobil. Tadi, ia datang bersama Bunga menggunakan motor.
"Antar kami ke rumah sakit. Saya tidak membawa mobil. Arpina, terus ikuti Papa."
"Iya, Pa!"
Bunga hanya mampu mendengar suara suara sekitar tak ada niat berkata apapun. Dalam sakitnya, ia bergulat batin dengan keadaan kakinya yang takut takut diamputasi.
"Bye bye, Bunga. Nikmati hari hari mu dengan kaki pincang pincang." Puas sekali rasanya Denisa karena ia merasa menang telak hari ini. Ia tidak ada niatan ikut naik desak desakan ke mobil staf itu, ribet dan sangat sempit. Mending nyusulnya pakai mobil sendiri. Dan di rumah sakit, Denisa ingin menjadi orang yang bersimpati di depan Dibi, tetapi akan mengejek Bunga kalau ada kesempatan.
"Pak, di arena ada kan cctv nya?" Dibi bertanya yang sudah dalam mobil. Bunga sendiri lebih memilih memejamkan mata secara paksa dengan lelehan air mata sakit yang derita. Suara suara Dibi dan dua pria di depan kabin sana serta rengekan cemas Arpina jelas terdengar.
" Ada, Pak."
"Tolong simpan baik baik, Pak. Dan saya sebenarnya polisi. Saya merasa ada keganjilan yang harus saya selidiki."
"Tentu, Pak. Sekali lagi, kami meminta maaf atas kecelakaan yang menimpa istri Bapak."
"Pin, diam lah, Nak. Dia belum mati loh, masa nangis terus."
Bunga langsung membuka matanya yang sembab. "Bapak mau saya mati?"
"Jangan ajak saya berdebat, Bunga. Nanti saja kalau keadaan mu sudah dipastikan baik baik saja!"
Auto Bunga merapatkan bibirnya mendengar intonasi lembut lembut tegas Dibi yang ditekan tepat di sisi kupingnya.
***
Sampai di rumah sakit, Bunga segera ditangani dokter khusus. Dari pemeriksaan biasa sampai pengecekan akurat dengan cara rontgen ekstremitas untuk memudahkan dokter mengetahui bilamana ada tulang retak, patah atau mengalami dislokasi.
Emak pun sudah ada di ruang tunggu bersama Arpina dan Denisa. Sementara Dibi, ia terus mendampingi Bunga layaknya suami istri. Kualahan Dibi menenangkan Bunga. Gadis itu terus menceracau tidak mau diamputasi katanya. Kadang kejer secara tiba tiba mengagetkan dokter dan dua suster lainnya.
"Dok, ada nggak suntik sapi?"
Perasaan Bunga sudah tidak enak, mendengar pertanyaan Dibi yang ambigu.
__ADS_1
"Buat apa, Pak?" Sembari menunggu hasil rontgen keluar, sang Dokter laki laki itu meladeni Dibi.
"Suntik dia, Dok!" Dagu Dibi menuding ke arah Bunga yang berbaring di brankar. "Berisik sih!" sambungnya cuma menggertak.
Tiga petugas kesehatan itu tersenyum di atas penderitaan Bunga yang langsung cemberut akut.
"Bapak nggak tau sih sakitnya seperti apa!" Cukup bicaranya, Bunga mau ngambek. Puasa ngomong ke Dibi. Orang kesakitan pasti merengek ini dan itu, tapi Dibi kerisihan suara cengengnya. Cukup tau aja. Apalagi saat Dokter menyentuh kakinya yang bermasalah, spontan saja teriakan menggeram. Dibi refleks menggenggam tangan Bunga untuk menguatkan.
"Sakittt, Dokter!" Bunga berani membentak sang Dokter. Sabar sekali petugas itu yang hanya menanggapi pasiennya dengan senyum maklum.
"Sabar ya, Bu!"
"Pokoknya, saya tidak mau diamputasi. Awas saja!!!" Bunga mengancam.
Semua orang di sekelilingnya tidak merespon lagi. Padahal, Bunga itu ingin mendengar pertanyaan Dokter seperti 'tidak akan diamputasi.'
"Nggak Dokternya, nggak Pak polisinya, semuanya raja tega," batin Bunga. Sejurus mendelik ke salah satu suster. "Sus, beri saya racun saja." Saking putus asanya, Bunga sampai mengaur.
Bodo amat dengan delikan horor Dibi. Bukannya tadi pria itu juga punya ide memberi suntikan sapi padanya.
"Baiklah, Bu. Saya beri obat ya."
"Eh, itu suntikan apa?" Mata sembab Bunga membola lebar. Mampus, dikabulkan sama susternya kah?
"Ini cuma __"
"Suntik cepat racun yang dipintanya, Sus." Dibi mensergah sang suster yang ingin menjelaskan cuma suntikan penenang karena kode Dokter yang ingin meng-gips kaki cedera itu.
"Bapak kok tega sih, saya nyesal kagum sama Bapak yang jahat. Saya juga nyesal hari ini sudah menyukai Bapak."
"Menyukai saya?" Dibi mempertanyakan pengakuan Bunga yang spontan begitu saja.
Belum juga Bunga menjawab, gadis itu sudah berkunang kunang terbius suntikan sang suster. Dan gelap...
"Ish, suster. Beri suntikan lagi agar dia bangun. Saya mau mendengar jawabannya."
Suster itu serba salah. Tadi disuruh cepat cepat menyuntik Bunga, sekarang...?
"Dok...!" Dibi beralih ke pemimpin ruangan itu. Tapi sang Dokter cuma tersenyum sembari menggeleng.
"Pasien akan di-gips. Memang cuma patah tulang ringan, tapi butuh penyembuhan ekstra. Dalam beberapa minggu, kakinya dilarang beraktivitas supaya pembentukan jaringan baru tidak terhambat."
__ADS_1
Baiklah, Dibi akan bersabar menunggu kesadaran Bunga untuk mempertanyakan kebenaran akan pernyataan Bunga yang menyukainya katanya. Tidak sabar deh. Ayo, Bunga bangun!