
Timezone memang ramai pengunjung. Banyak mainan kekinian yang bisa dimainkan Arpina. Tapi, Arpina bosan main sendirian. Ngajak Denisa main bersama, alasannya nanti nanti terus. Tentu saja kurang seru bagi Arpina. Hem ... Biasanya nih, di Jakarta sana, ada Sky sebagai tandingannya atau Mamanya juga yang tak kalah seru. Tante Denisa? Ck, masa sedari tadi cuma celingak celinguk seperti menunggu seseorang dan sesekali merapikan penampilan. Sedikit dikit ngaca juga lewat layar hape, benarin rambut dan lihatin make up yang terkesan berlebihan. Arpina lihatnya gimana gitu ...
"Ayo, Tan. Main Pump it up bersama ku." Arpina merengek. Sembari menarik narik ujung baju Denisa agar mau naik ke mesin game dance itu.
"Nanti, ya." Denisa menjawab setengah kesal sembari menepis pelan tangan Arpina. Ia mengajak Arpina kemari, bukan untuk bersenang senang bersama bocah itu, melainkan cuma membuat pencitraan di depan Dibi. Sedangkan orangnya belum terlihat, ngapain juga harus capek capek main.
Arpina hanya mendengus. Lalu lanjut bermain sendiri tanpa teman, tidak seperti anak kecil lainnya yang ada di sana, mereka ditemani Mama dan Papanya.
"Arpinaaaaaa...!" Kalau ada Bunga, pasti heboh. Manggil bocah itu saja berteriak girang sembari berlari kecil meninggalkan Dibi yang tadinya di gandeng paksa oleh Dibi di depan Denisa yang tiba-tiba melongo shock. Gandeng maksudnya agar Denisa cemburu. Kan, mereka sudah sepakat akan sedikit mesra di depan Denisa.
"Pak__" Kalimat protes Denisa tergantung yang sebenarnya ingin mengatakan, 'kok bawa cewek tarzan?' Ingat dirinya harus seanggun mungkin, ia pun cuma bersungut sungut kesal dalam hati dengan bibir tersenyum paksa di depan Dibi. Hah, tidak bisa dibiarkan, ia harus lebih unggul dari Bunga dari segi apapun.
"Ayo, Tan. Kita main!" Arpina seperti mendapat jackpot akan kedatangan Bunga yang langsung berdiri di atas pump it up sampingnya. Ada teman berduel maka permainan akan seru.
"Jelas dong!"
Permainan ketangkasan kaki di mulai. Arpina dan Bunga tertawa tawa sembari berjoget mengikuti intruksi di depan layar mesin pump it up tersebut dengan lagu ngebitz mengiringi.
Dibi dan Denisa hanya penonton keseruan dua wanita beda umur yang berjoget joget riang. Dalam hati, Dibi mengakui sifat alami Bunga yang mampu mengimbangi anaknya. Mungkin itulah sebabnya, Arpina kemarin ngebet menjadikan Bunga sebagai kandidat ibu tiri. Beda dengan Denisa yang sedari tadi terkesan cuek dan cuma terpaksa. Dibi dan Bunga itu mengintip dari kejauhan. Alhasil, Dibi mendapati Denisa cuma sibuk seorang diri membiarkan Arpina bermain kebosanan tanpa teman.
Dibi mengakui dalam diamnya, Bunga lebih baik dari Denisa, meski gadis itu sableng juga tapi asyik bagi anaknya.
"Ish, Bapak. Kenapa harus sembunyi sembunyi, saya mau main sama Arpina, pasti seru tuh." Tadi, Bunga sudah tidak sabaran merengek mengatakan hal tersebut. Dan saat diberi anggukan karena tidak tega melihat Arpina bosan, Bunga pun ia lepas. Seperti monyet diberi umpan pisang, Bunga langsung berlari lari dan segera berdiri di atas mesin Pump It up sekarang ini.
"Gimana caranya ya biar Bunga pergi cepat?" Denisa sibuk membatin memikirkan cara licik. Tapi belum menemukan solusi. Tiba-tiba bisikan terdengar, "Biarkan Bunga sibuk dengan Arpina, ini kesempatan untuk mu jalan bersama Dibi."
Bravo... Denisa menyeringai, benar juga kata hati liciknya. Tengok ke Dibi. Eh, duda yang jarang tersenyum malah tertawa kecil menyaksikan Bunga dan Arpina joget joget di atas lantai pemainan dance revolution itu. Iiih, apa sih bagusnya Bunga. Kayak orang gila yang tak tau malu.
"Pak, bagaimana kalau kita juga bermain?" ajak Denisa sembari menunjuk permainan cetak skor baskeball di sana.
"Nggak, mau," tolak Dibi tegas. Senyumnya luntur karena tersadar akan suara Denisa.
Denisa tentu saja belum menyerah.
__ADS_1
"Kalau permainan tembak itu, mau nggak?"
"Nggak!"
Tolakan demi tolakan Dibi lontarkan, tetapi Denisa masih tidak pantang menyerah.
"Pa. Sini, tolong Arpina. Tante Bunga hampir menang." Arpina capek. Haus juga.
Apa apaan ini? Kenapa ujung ujungnya, Dibi dan Bunga yang malah berkolaborasi bersama. Denisa jelas bete melihatnya. Sedang Arpina, sekarang lagi berlari lari ke gerai es krim. Panas mata Denisa melihatnya.
" Kalian nggak malu? Kayak bocah tau dilihatnya?" cibir Denisa. Tapi, suaranya malah dianggap angin hantu oleh Dibi dan Bunga karena ke duanya sibuk berkonsentrasi melihat layar dengan kaki bergerak lincah mengikuti tombol mana yang akan mereka injak.
"Nafas Bapak aman, kan?" Bunga ngos ngosan. Mulai capek.
"Kalau capek ngaku aja. Jangan paksakan dan malah mempertanyakan keadaan saya yang masih prima." Dibi meremehkan. Tapi, benar juga kata tuh si Dube. Daripada kakinya gempor, lebih baik lambaikan bendera kekalahan.
"Saya capek, uda ah." Bunga turun dari mesin game dance itu. Sedang Denisa, benar-benar seperti orang yang tidak dianggap ada. Memang, Dibi sengaja dan sudah sepakat dengan Bunga akan membuat Denisa kapok.
"Pak, gimana kalau kita main capit boneka. Saya yakin, Bapak pasti kalah kali ini," usul Bunga. Dibi mengangguk setuju. Tanpa sadar, Bunga menggandeng tangan Dibi di depan Denisa. Dibi saja kaget. Tapi, mengingat kesepakatan mereka, Dibi pun meyakini kalau Bunga hanya akting.
"Papa!" Arpina datang membawa satu eskrim. "Tante Denisa mau?"
Denisa menggeleng tolak. Jijik lah, bekas jilata* Arpina.
Baiklah, tawaran sama ke Bunga pun ditanyakan oleh Arpina.
"Mau dong. Sini..."
Senyum Arpina tercipta lebar. Tante Bunga memang asyik menurutnya. Lucu juga, makan eskrim malah blepotan sedikit.
"Ngapa lihatnya gitu amat? Bapak mau juga?" Eskrim itu tertuju ke mulut Dibi. Saat hendak menolak, Dibi ingat kalau ia harus mematahkan kepercayaan Denisa agar tidak lagi mendekatinya serta Arpina.
"Tentu saja!" Satu kali, Dibi menerima suapan Bunga di depan mata Arpina yang senyum senyum tidak jelas. Denisa? Wajahnya memerah karena cemburu. Bunga selalu menang darinya.
__ADS_1
"Tante, Arpina mau lagi," pinta anak itu. Lalu membuka mulutnya. Siap menerima suapan satu eskrim dinikmati Arpina. Bukan pelit, Arpina memang sengaja membeli satu untuk bersama sama, dan fixed, si Tante Denisa gagal lagi dari ujian kekompakan yang uji dengan inisiatifnya sendiri. Siapa yang terbaik buat sang Papa.
"Uda ah, kita main capit boneka. Siap siap Arpina punya boneka dari hasil kami bertiga." Bunga berjalan terlebih dahulu ke mesin capit tersebut dengan tangan bertaut dengan jemari Arpina yang tercipta alami begitu saja. Dibi dan Denisa mengekor. Dengan pura pura, Denisa modus mau jatuh. Mana tau akan ditangkap oleh Dibi, akan tetapi pria lain yang memegang pinggangnya.
"Apa sih pegang pegang!" bentak Denisa keras.
Bunga dan Arpina kompak berhenti dan berbalik penasaran.
"Saya cuma membantu Anda mau jatuh tadi!"
"A__" Tidak jadi ngomel ngomel karena sadar di depannya ada Arpina dan Dibi yang memperhatikannya. Jangan sampai image-nya buruk.
"Terimakasih kalau begitu." Denisa merendahkan diri secerah terpaksa. Lalu mendahului tiga kepala di depannya beranjak. Dalam hati, ia terus berjanji akan membalas Bunga karena cewek itu sudah merusak rencananya ngedate bersama Dibi yang jarang sekali mau membuang buang waktu ngemall.
"Tante yang duluan. Pasti akan dapat boneka banyak untuk Arpina." Dengan bangga, Denisa memulai beraksi. "Sial, kok gagal terus sih. Padahal cuma capit doang," batin Denisa. Malu dong kalau gagal. Sampai percobaan beberapa kali, tetap saja gagal.
Arpina mulai tidak sabar. "Tante nggak bisa ya?"
"Bisa kok! Sabar ya." Denisa masih tidak mau menyerah. Lagi dan lagi, capitannya gagal menangkap boneka. Mulai emosi dirinya dengan cara memaki maki mesin 'tak berguna' katanya dalam hati.
"Mbak, saya tau kalau Mbak banyak duit beli koinnya. Tapi, kalau mau menguasai, lebih baik beli mesin capit sendiri lah. Lihatlah..."
Eh, buset. Ngantri di belakang. Denisa diomelin ibu ibu yang anaknya sudah merengek tidak sabar ingin bermain di tempat Denisa. Bunga dan Dibi kompak menahan senyum. Diam diam, mereka bertos pelan, keduanya kompak sekali melihat Denisa mati kutu.
"Ngantri tetap saja ngantri, Bu. Suka suka saya mau main berapa lama juga. Yang penting kan saya bayar."
Si Tante judes sekali. Aslinya keluar di depan Arpina dengar dan terlihat lah ekspresi Arpina yang melongo kaget dan takut ke Denisa.
Diam diam, Dibi menyikut Bunga dengan maksud kode, 'kita berhasil'. Tapi, karena sikut itu tidak punya mata, Dibi tidak sengaja menyentuh aset dada kanan Bunga. Kaget dong Bunganya dengan tangan refleks memeluk aset gunungnya. Matanya memicing sebal ke Dibi yang buang muka langsung karena takut diteriaki Bunga sebagai pria cabul di tengah tengah umum.
"Bapak__"
"Saya tidak sengaja." Dibi langsung berbisik menjelaskan dengan menekan kalimatnya.
__ADS_1
Malas membahasnya lagi karena membawa kata tidak sengaja, Bunga hanya mendengus.
"Memangnya dada saya sabun colek yang bisa dicolek colek," gerutunya dalam hati.