Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 41# Di Rumah


__ADS_3

Akhirnya pulang rumah juga. Tiga hari di rumah sakit membuat Bunga sumpek. Kangen suasana rumah dan pastinya kangen Emak juga.


"Papa...!"


"Mama...!"


Mama? Arpina uda curi star lagi saja manggilnya dengan sapaan itu.


Bocah itu berlari dari teras saat pintu mobil dibuka oleh Dibi. Emak menyusul dari belakang dengan tergopoh gopoh sembari melerai Arpina untuk jangan berlarian.


"Eh, hati hati, Nak. Nanti kaki gajahnya kesenggol atau keinjak loh."


Tega amat pacar galaknya itu ngatain kakinya seperti gajah.


Arpina nggak jadi meluk karena larangan keras Dibi.


"Sini, Tante juga kangen. Kita pelukan gemas."


Sepertinya, Dibi akan mulai belajar menghadapi kekompakan konyol anak serta calon istrinya mulai dari sekarang. Biar nanti nanti kalau mereka sudah sah tinggal satu rumah, ke sablengan Bunga yang mungkin tertular ke Arpina, tidak membuatnya kaget kaget amat.


Lihatlah, sudah dilarang barusan, Bunga dan Arpina malah berpelukan. Dibi was was saat kaki Arpina yang kadang pecicilan itu berada di dekat kaki Bunga. Gerak maju sedikit, remuk tuh kaki.


"Sudah, sudah pelukannya. Ayo, masuk!" Seru Dibi. Anaknya menurut.


"Ayo, Ma. Arpina bantu."


Mama lagi. Yawislah, sekarepnya bocah itu saja. Bunga sudah pasrah jadi Mama mama di usianya yang masih tergolong muda.


Sekarang, Dibi seperti anak tiri. Di tinggal sendiri di belakang. Sementara Emak dan Arpina, berjalan di kedua sisi Bunga beranjak masuk ke dalam rumah dengan bantuan satu tongkat kruk yang menyangga sampai ketiak. Pincang pincang cara jalan Bunga.


"Arpina di rumah nggak repotin Emak, kan?" tanya Dibi. Semuanya sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Bunga.


"Nggak dong, Pa. Iya kan, Emak?"


Emak Dahlia menjawab, "Iya." sembari mengangkat jempolnya.


"Cuma, Arpina sempat berantakin kamar Mama."


Mata Bunga segera mendelik ke Arpina dengan cepat. Jangan jangan bocah tengil ini membuka buka laptopnya?


"Arpina nemu foto Papa yang sedang garuk garuk bokong sambil siram tanaman."


Asem nih, bocah. Bongkar aib Bunga. Hampir copot mata Dibi menatapnya. Emak nya malah tersenyum senyum nggak jelas.


"Benar kah, Pin?" Dibi memancing. Ia masih ingin tau, penemuan Arpina yang lainnya. Mana tau ada lagi yang lebih parah. Muka masuk tergolong tampan, mengapa pula Bunga lebih suka memotret pose yang jelek sekali. Dasar!


"Iya, Pa. Meski cuma punggung Papa doang, Arpina hafal kok kalau itu Papa. Iya kan, Ma. Itu Papa kan?"


"Bukan!" Bunga mengelak cepat dengan mata takut menatap Dibi.


"Ah, masa. Nanti deh, Arpina ambil."


Eh, nambah jadi jadi tuh bocah. Salahnya sendiri sih yang mengelak. Duh, untung ada Emak. Kalau tidak, mungkin kepalanya sudah diketuk ketuk Dibi sampai benjol.


"Pin, nggak boleh buka barang orang sesuka hati loh." Dibi melerai. Ia percaya sama omongan Arpina.


"Nggak kok, Pa. Arpina uda minta izin sama Mama lewat chat."


Tiga kepala langsung menatap Bunga. Gadis itu berpikir sejenak, mengingat ingat kapan bocah itu meminta izinnya?


"Pakai saja apa yang kamu mau. Tissue, pen, buku dan lainnya." Ah, sial. Arpina salah artikan chatnya itu.


"Hehehe... Iya. Saya yang salah." Lebih baik mengaku saja. Toh, Dibi sudah mendengar nya. "Saya ambil foto saat itu, karena situ tidak sengaja nyiram saya. Dan fotonya sih niatnya mau saya gunakan usir cicak di kamar."


Hahaa...


Emak dan Arpina ngakak mendengar foto Dibi buat anti bala cicak.


Hufft... Sabar. Dibi hanya menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Terus, di laptop Mama juga banyak foto cowok cowok mulus loh, Pa."


Pasti Arpina membahas idolanya yang berasal dari Korea. Cerewet sekali bocah ini.


"Itu artis korea, Pin." Bunga segera menjelaskan. Mata Dibi sudah memancarkan peperangan. Arpina maaaahh... Bunga sampai merengek di dalam hati.


"Hapus belum, Nak?" Meski lembut pertanyaan Dibi ke Arpina, Bunga yakin kok, aslinya si Papa tea lagi misuh misuh jengkel padanya, cemburu dia. Tapi, Bunga suka lihatnya. Itu tandanya Dibi benar-benar cinta padanya.


"Nggak, Pa. Nanti Mama kehilangan. Iya, kan, Ma."


"Iy__ Nggak lah. Nanti tak hapus. Sisanya akan hanya ada foto Papamu di galeri. Kalau perlu, foto Papamu yang sedang garuk garuk itu ku jadikan wallpaper."


Dibi memberi plototan galak lagi. Tapi Bunga malah tertawa mengikuti Arpina dan Emak.


"Assalamualaikum...!"


Atensi ke empat orang tersebut, segera tertuju ke arah pintu yang sudah terbuka. Ada Denisa di sana.


"Waalaikumsalam. Masuk, Mbak." Seru Bunga sangat welcome.


Dengan pandangan tertunduk ke lantai, Denisa mengikis jarak pelan.


Sekonyong-konyongnya, Denisa berlutut di depan duduk Bunga. Membuat gadis itu berjengit kaget.


"Mbak, bangun atuh. Jangan kayak gitu."


Dibi, Emak dan Arpina hanya jadi penonton apa yang Denisa lakukan.


Drama sekali, batin Dibi yang sebenarnya muak.


"Maafin aku, Bunga."


"Kan sudah dimaafin, Mbak." Bunga mendelik kode ke Dibi agar mau membantu dirinya untuk ngomong ke Denisa. Tetapi pacar galaknya itu malah mengedikkan bahu acuh tak acuh.


Emak pun demikian. Sementara Arpina, mana ngarti bocah itu.


"Tolong bujuk Delon, Bunga. Dia pergi dari rumah dan tak mau pulang."


"Bukan begitu, Pak Dibi. Delon susah sekali dihubunginya. Ia tidak mau menerima panggilan telepon saya dan sama sekali tak merespon chatku. Sejak awal kepergiannya dari rumah, Delon tidak masuk kuliah. Saya putus asa mencarinya. Saya berharap, Bunga mau membantu saya," tutur Denisa memohon. Ia sudah lapang dada kalah dari Bunga yang berhasil mendapatkan perhatian Dibi, tetapi rasanya ia tidak rela kalau Delon pun pergi karena keegoisannya.


" Boleh ya, saya bantu Mbak Denisa?" Biar merasa dihargai, Bunga lebih dahulu minta izin kekasih galaknya. Jangan sampai salah paham.


"Terserah."


"Yang ikhlas, Papa...!" Nah loh, Arpina kecil kecil juga tau kalau Dibi tidak ridho. Bunga tersenyum diam diam. Kena mental kekasihnya itu kalau disenggol oleh Arpina.


"Iya, Papa ikhlas."


Mendengar suara lembut Dibi meski terpaksa kedengerannya, Bunga pun segera mengeluarkan hapenya. Sambil menunggu respon Delon, Bunga bertutur ke Denisa agar mau bangkit dari lantai. Menyuruhnya duduk di sisi kirinya yang kosong. Denisa menurut, dengan canggung ia menaruh bokong nya di sofa. Sejenak curi pandang ke Dibi dengan takut takut, pria yang berhadapan dengan Bunga itu, tumben tumbenan air mukanya bisa dibaca, seperti orang cemburu. Sekarang, Denisa sadar seratus persen, kalau cinta memang tidak bisa dipaksa. Ia sudah sadar dan lapang dada menerima kekalahannya.


"Halo..."


Kenapa lah hati Dibi terasa panas. Delon itu sepertinya mengistimewakan Bunga. Lihatlah, giliran Bunga yang nelpon, langsung direspon oleh pria itu. Sedangkan sama kakaknya, diabaikan, katanya. Dan sekonyong-konyongnya, Dibi menarik hape Bunga sebelum gadis itu merespon Delon.


Bunga terkejut akan pergerakan cepat Dibi, Emak dan Denisa pun demikian. Tetapi, mereka cuma bisa diam.


"Iya, halo."


Delon mengangkat sebelah alisnya. Mengapa suara Dibi? Apa ia salah simpan kontak?


"Halo, dengar kan?" Dibi sedikit menegaskan suaranya.


"I-iya... Saya dengar, Pak?"


"Kakak mu sakit, kamu pulang urus dia. Jangan sampai nyesal dan jadi adik durhaka."


Tut...


Mulut empat orang di depan Dibi, hanya bisa melongo mendengar kebohongan Dibi tentang kesehatan Denisa yang baik baik saja.

__ADS_1


Merasa di tatap aneh dan menyelidik oleh empat wanita yang berbeda umur tersebut. Dibi membuka suara santai dan tanpa dosa, "Apa yang salah? Itu adalah cara jitu agar Delon pulang. Kalau dia masih peduli pada mu, Denisa."


Denisa hanya bisa mengangguk pasrah saja.


"Tunggu apa lagi...!" sambung Dibi. Denisa tidak paham maksudnya. Masih bergeming di sofa.


"Ck, sana pulang. Siapkan diri mu untuk menyambut kepulangan Delon. Kamu kan jago nya drama."


Pasrah lagi di sindir keras.


"Permisi..." pamit Denisa dengan perasaan kacau.


"Maafin ya, Mbak. Tau sendiri mulut atasan mu, Mbak. Pedas kayak cabe level tinggi." Bunga yang selalu merasa tidak enak hati. Kasihan melihat wajah tak berdaya Denisa. Dengan berani, Bunga kembali melototi Dibi saat kekasih galaknya itu tidak terima di katain punya mulut pedas.


" Nggak apa kok, Pak Dibi tidak ada salahnya. Tapi saya janji, akan jadi pribadi yang baik. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... Biar Emak antar keluar. Kamu memang terlihat pucat." Denisa akhirnya punya kesempatan bicara empat mata dengan Emak.


"Emak, soal rekaman itu, sebenarnya cuma fitnah doang. Tapi, kalau Emak mau memberitahukannya ke Pak Dibi, nggak apa kok. Saya akan terima sanksinya." Besar hati Denisa mengakui satu demi satu kesalahannya.


"Uda, yang penting hati kamu sudah mulai tulus untuk berubah. Ada kalanya sesuatu itu disembunyikan. Emak tidak akan membongkarnya."


Denisa malu lagi akan kejahatannya yang dibalas kebaikan. Ia tersenyum miris menertawakan pribadinya yang buruk.


Emak melakukannya agar permasalahan selesai. Tulus atau tidaknya Denisa, itu bukan urusan Emak lagi. Terpenting, Denisa tidak menyenggol kehidupan tenang anaknya lagi, maka Emak pun tidak akan berbuat nekat.


Sementara di dalam rumah, Arpina yang minta izin ke toilet membuat Dibi mempunyai kesempatan berduaan dengan Bunga.


" Hehehe... "Bunga tercengir bodoh. Ia tahu, kalau Dibi lagi menahan sakit kepala kekesalan kepadanya.


"Buruan ambil hape mu dan foto saya sekarang juga. Ingat, yang bagus. Jangan bokong yang di foto."


Alamakk... Si Dube belum end membahas soal itu. Baiklah, biar kekasih galak nya itu tidak emosian terus, Bunga selalu punya cara untuk mengademkannya.


"Sini, duduk dekat saya, Pak ... eh Aga ku, cinta ku, Sayang ku."


"Jijik saya dengarnya."


Bunga malah tertawa kecil. Meski selalu judes, Dibi tetap menggemaskan dan nurut juga. Sudah duduk di dekatnya.


"Mau apa__"


Cekrek...


"Eehh..." Dibi terkejut saat Bunga mencubit manja ujung hidungnya sembari selfie berdua.


"Senyum manis dong..."


Cekrek lagi... Senyuman Dibi terlihat kaku.


Dan pose berikut nya, Dibi hanya melirik penuh arti Bunga yang pipi gadis itu dikembungkan konyol. Lucu juga meski sableng. Dibi jadi tersenyum alami dan tepat itu, Bunga memfotonya seorang diri.


"Ini lah yang aku cari. Bila perlu, semua profil ku pakai foto ini biar nggak diambekin lagi. Tampan juga meski galak."


Di puji tapi ujung ujungnya di hempaskan juga. Sabar aja menghadapi pacar yang sableng ceplos ceplos.


"Eum, asal jangan buat nakutin nyamuk atau serangga lainnya."


"Nggak kok. Aku akan menaruhnya di hati saya."


"A__" Meski gomabalan Bunga itu receh, tetapi mampu membuat Dibi kehilangan kata kata. Ia berujung tersenyum sembari mensentil manja kening Bunga yang lanjut menggodanya dengan kedipan lucu.


"Ehem... Emak numpang lewat ya." Ada Emak yang memberi kode kode peringatan kalau keduanya itu masih haram berpegangan.


"Sana gih, pulang. Punya rumah juga, masih asyik duduk di sofa jelek Emak. " Bunga tiba-tiba mengusir Dibi karena salah tingkah di beri delikan peringatan Emak.


"Iya!" Jawab Dibi sedikit ketus. "Tapi, saya bertamu belum di beri minum loh, Mak."


"Ah, iya.... Lupa, loh emak. Tunggu ya, jangan pulang dulu. Abaikan usiran kurang ajar anak Emak." Wanita itu masuk dapur. Ternyata ada Arpina yang lagi asyik ngemil pisang goreng di meja makan.

__ADS_1


"Iih, ternyata orang dingin dan datar itu bisa modus juga toh," sindir Bunga. Dibi tersenyum tipis lalu beralasan, "Kalau Arpina minta pulang, baru saya akan pulang. Toh, di rumah itu sepi."


__ADS_2