
"Tante Denisa nggak bisa main. Biar Tante Bunga yang nyoba."
Awas saja kalau sudah sah menjadi anak tiri nya nanti, Denisa akan menjewer Arpina. Tapi sebelum sah, maka terima terima saja dahulu meski bocah itu menyepelekannya di depan Dibi. Terpaksa ia menggeser tubuhnya dari mesin mainan tersebut agar Bunga punya ruang.
"Oke, giliran tante Bunga ya. Bismillahirohmanirohim...!" Bunga mengusap usap dua kali bangga hidungnya, cemen cuma main begituan.
Mesin dalam kendali Bunga. Pertamanya gagal. Denisa girang dan berkata meremehkan, "Sama aja nggak bisa."
Bunga mah baik, tidak terbakar api meski disulut provokasi dari Denisa.
"Tenang, masih pemanasan." Satu kedipan tertuju ke Dibi. Goda dulu si Dube di depan mata Denisa biar wanita itu terbakar.
"Genit..." bisik Denisa geram. Anehnya, Bunga malah tersenyum alih alih sakit hati. Dibi sendiri masih stay cool. Kedip lagi, eh si Dube tersenyum tipis meski terlihat sesaat juga.
"Bunga, jangan uji kesabaran saya," Denisa berbisik geram lagi. Dan si gadis badass itu tetap cuek.
Hirauhkan Denisa dengan percobaan kedua bermain. Nah kan, nah, Denisa tidak percaya kalau Bunga berhasil mengeluarkan satu boneka untuk Arpina. Bocah itu jingkrak jingkrak sambil mengambil hasil perjuangan Bunga.
"Giliran Papa." Dibi ambil alih dan ingin segera membawa rombongannya pergi dari mesin itu karena anak si ibu yang sempat di judesin Denisa masih merengek terus di belakang sana. Dibi paling tidak bisa mendengar rengekan bocah. Kasihan.
Sekali coba, Dibi langsung berhasil. Boneka lucu itu ia berikan ke Arpina eh melenceng ke arah Denisa yang berdiri bersebelahan dengan Bunga.
Senang dong, melihat Dibi akan memberikannya boneka yang bisa dibilang khusus. Itulah yang Denisa rasakan. Saat ingin meraihnya, eh melenceng ke hadapan Bunga. Malu sekaligus hati Denisa potek.
"Ayo ambil!"
"Seriusan buat saya, Pak?" Bunga ragu dengan mata tertuju intens ke wajah Dibi.
"Eum..."
Singkat amat jawabnya. Niat ngasih nggak sih.
"Nggak mau kah? Ya udah, aku buang sa__"
"Maulah!" Bunga mengambil cepat boneka lumba lumba lembut berwarna pink itu daripada dibuang. Kan sayang. Deg... Tunggu, kenapa Dibi tersenyum manis sekali untuknya. Apakah cuma akting sesuai kesepakatan di depan Denisa? Oh, jantung ... dia itu duda, bisik Bunga dalam hati. Sesuai omongannya ke Emak waktu itu, ia akan naksir Duda kalau perjaka sudah jadi monyet semua. Bahaya, Bunga dibuat baper cuma karena senyum manis Dibi yang langka terlihat. Dan yang jadi sasarannya sekarang adalah boneka lumba lumba itu yang ia peluk gemas karena salah tingkah.
"Eheem ... ehem ... eheem..." Denisa sengaja berdeham beberapa kali sembari memegangi lehernya, beralasan serak. Sialan, sedari tadi ia kalah dari Bunga. Malah berani lagi tatap tapan lama bersama Dibi. Awas saja, kali ini ia tidak akan mengampuni Bunga yang sudah merusak hari baik nya menjadi buruk. Kalau ada kesempatan, Bunga akan ia balas.
__ADS_1
Sontak saja, Bunga dan Dibi kompak menoleh ke Denisa.
"Mbak Denisa mau juga boneka?" tanya Bunga. Ia tahu kalau Denisa pasti iri.
Mengangguk cepat. Denisa pikir kalau Dibi akan memberinya tapi Bunga kembali berkata santai, "Beli aja, Mbak."
Grrrrrrt... Rasanya, Denisa ingin menggigit Bunga yang mengejeknya. Huufft... Inhale exhale, sabar. Balas cantiknya nanti saja. Jangan sampai terlihat buruk di depan Dibi dan Arpina.
"Saya bukan anak kecil yang bermain boneka. Senjata adalah mainan saya." Bunga hanya mengangguk cuek saat Denisa bernada sombong yang memperingatinya kalau wanita ini adalah seorang polwan. Tapiiii... Bodo amat. Emang Bunga iri gitu? Nggak lah, rejeki dan takdir kan uda di atur.
"Pin, kamu mau main kemana lagi?" Bunga mengalihkan pembicaraan. Malas meladeni kesombongan Denisa.
Arpina yang sibuk mengusap usap boneka halus pemberian Bunga, menangada. Lalu berkata riang, "Ice skating!"
Mampus... Bunga mana bisa main itu. Masuk arena lantai licin es buatan aja tidak pernah, bagaimana mau jago main skiting - nya. Masuknya aja mahal.
"Pasti nggak bisa ya? Iyalah, kan kampungan," bisik Denisa menghina. Air muka Bunga yang pias dan kehilangan keceriaan itu sudah meyakinkan.
"Saya nggak ikut ya, Pak. Hehhe... Nggak bisa main skating." Bunga mengabaikan hinaan Denisa. Lebih baik jujur ke Dibi. "Saya tunggu di luar arena saja."
"Tapi, nanti nyusahin, Pin." Denisa menyela Dibi yang ingin bersuara.
"Kamu harus ikut." Dibi memaksa dengan cara menggandeng tangan Bunga dan Arpina di masing-masing tangannya.
Denisa? Kesal lagi dan cemburu lagi.
"Pak, benar loh. Saya nggak bisa berseluncur. Lihat orang makai sepatu skating yang kayak ada pisau bajanya itu aja, ngeri saya, Pak. Takut keseleo juga." Bunga terus merengek.
"Nanti saya ajarin. Dan ingat, kita sudah sepakat membuat Denisa cemburu. Paham!" Dibi sedikit berbisik tegas dan itu malah terlihat mesra di mata Denisa karena tidak mendengar apa yang dua orang itu bicarakan. Lagi lagi, wanita itu bertekad akan membuat Bunga kapok karena sudah berani macam-macam.
Sebelum menjawab, Bunga melirik wajah ceria Arpina yang ada di gandengan Dibi. Lalu melirik tangannya pun yang sama di genggam Dibi di bagian kiri.
"Eum, paham. Tapi, Pak, apa nggak berlebihan nih?" bisiknya ke Dibi tanpa menghentikan langkah menuju loket pendaftaran skating yang sudah banyak orang menunggu sesi selanjutnya di buka karena tiap dua jam sekali baru lah arena itu pergantian pengunjung. "Tangan Bapak keasyikan menggandeng saya."
"Kalau berciuman di depan umum, itu baru berlebihan," kata Dibi santai. "Tapi, kalau itu perlu di lakukan agar Denisa pergi jauh jauh dari kehidupan saya dan Arpina, maka saya pasti akan mau."
Hemm... Rasakan. Sakit sakit tuh kulitnya yang di cubit Bunga tanpa di lihat Denisa yang berjalan kesal di sisi Arpina.
__ADS_1
Dibi hanya mendelik.
" Berani cium, uumm... "Tinju terkepal untuk Dibi lihat. "Sono cium tembok, enak saja mau cium cium," dumel Bunga.
"Mana tau kamu mau merasakan ciuman seorang Duda. Uda pengalaman loh aku. Mau berapa menit? Satu jam atau dua jam? Saya bisa!" Lama lama bergaul dengan Bunga yang non filter ucapannya, sikap sableng Bunga tertular ke Dibi. Ia jadi suka menggoda Bunga demi mengimbangi gadis itu. Lihatlah, Bunga kehilangan kata kata. Mangap doang mendengar candaannya.
Karena sampai di loket pembelian tiket, Dibi tidak menggoda gadis itu yang tiba-tiba jadi pendiam. Segera ia melepaskan tangannya dari Arpina dan Bunga. Lama lama, menggandeng cewek sableng itu, tangan Dibi sebenarnya berkeringat dingin serta gugup sendiri. Entah kenapa juga. Apa benar, ia punya rasa ke Bunga? Dibi mempertanyakan hal tersebut dalam hatinya.
"Lihat saja nanti, Bunga. Kamu akan mendapat pelajaran tak terlupakan kali ini." Denisa membatin penuh sebal sembari menatap sinis Bunga yang sedang memakai sarung tangan wajib, yang memang harus dipakai untuk melakukan skating.
"Tante, ikatin sepatu skating ku dong. Harus kuat ya."
Baaahh... Kampret nih bocah. Gagal bermesraan dengan Papanya, Arpina malah seperti menjadikannya babu. "Baiklah..." Denisa menurut paksa dengan gigi beradu menahan murka. Hatinya kian berapi api melihat Dibi berjongkok di depan duduk Bunga untuk mengikat sepatu skating di kaki Bunga.
"Papa, Arpina duluan ya!" Dibi memberi isyarat oke ke Arpina yang sudah siap berseluncur di lantai licin nan dingin itu. Tinggalah mereka bertiga dengan orang asing di sekeliling mereka.
"Jangan lama lama, Pak. Nanti Arpina jatuh bagaimana?" Santai santai judes Denisa bersuara.
"Sebentar lagi dan tenang saja soal Arpina. Anak saya sudah terlatih."
Bunga hanya diam. Jujur dalam hati, sikap Dibi hari ini berhasil membuatnya dag dig dug baper. Meski ia sudah memperingati dirinya kalau Dibi itu Duda dan juga Dibi melakukan hal manis dan perhatian cuma karena kesepakatan membuat Denisa pergi jauh jauh dari hidup pribadi Dibi dan Arpina yang tak tulus itu.
" Saya memang cemas ke Arpina, tapi saya lebih cemas dengan calon istri saya yang belum berpengalaman sama sekali."
Deg...
"Calon istri?" Denisa dan Bunga mengulang dua kata Dibi yang tercuat mengejutkan.
Bagaimana tidak Bunga cengap cengap bengong? Lah, diperjalanan tadi tidak ada tuh kesepakatan memakai kata 'calon istri'. Demi kepentingannya, Dibi mengklaim dirinya seenak jidat. Awas saja nanti kalau Denisa tidak ada di depan mereka. Bunga mau memberanikan diri menjitak kepala Dibi.
"Hehehe... Bapak kalau becanda kelewatan deh." Denisa tertawa renyah. Titik kesabarannya mulai menipis.
"Semalam, sejak kepergian mu memakai sarung itu, kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Bahkan, saya sudah melamar Bunga meski belum resmi. Benar kan, Sayang?"
Huha ... huha ... Bunga harus jawab akting totalitas Dibi apa nih, iya atau tidak benar?
" Bunga?" Denisa menuntut jawaban Bunga. Jangan sampai gadis itu berkata iya. Kalau itu terjadi, tidak akan ada ampun untuk Bunga.
__ADS_1