
"Tamparnya pakai tangan kanan atau bibir saya?" Dibi kembali mengulang kalimatnya karena Bunga bagai patung dengan pose mulut setengah terbuka.
"Si-sini, Pak. Lebih mendekat lagi," seru Bunga mentitah.
Dibi menurut tanpa berlama-lama. Pasti Bunga memilih bibir, pikirnya demikian. Kan, cewek ini mesum parah. Namun, plaaakk... "Adu, kok kamu yang malah nampar saya sih?" Pipi Dibi sedikit panas. Tangan kanan Bunga meski halus tetapi ternyata lumayan bertenaga.
"Hehehe..." Bunga memamerkan gigi gigi putihnya tanpa salah dan dosa. Kembali berkata, "Itu pertanda saya atau Bapak nggak mimpi."
Dibi memutar mata malas. Suasana romantis sepertinya tidak akan tercipta kalau berhadapan dengan si sableng ini. Mau nyesal nembak, tapi perasaannya menggebu gebu untuk diungkapkan.
"Coba Bapak bilang cinta ke saya, biar saya yakin seratus persen."
Tuk...
Alih alih mendapat kalimat manis yang Bunga ingin dengar. Jidatnya kembali merasakan jitakan manja Dibi. Meski cuma berdenyut sedikit, tetap saja Bunga tidak suka bagian kepalanya di sentuh.
"Bapak cuma bohong. Iya, kan?" Bunga masih ragu. Pilihan Dibi yang katanya ingin memberinya bibir itu pasti cuma godaan. "Nggak lucu tau, Pak. PHP-in orang itu bisa dibilang pasal penipuan."
Sepertinya, ia harus membungkam mulut Bunga dengan kalimat penuh sindiran telak.
"Jadi, kamu menginginkan saya mengungkapkan cinta dengan contoh, main ke cafe, nyanyiin lagu romantis plus menyatakan kata I love U ke kamu?"
Bibir Bunga mencebik. Dibi ini menyindir dirinya yang terkena tipu rayuan manis Delon waktu itu. Dia malas merespon.
Dan Dibi kembali berceloteh. "Saya itu bukan pria abg yang cuma sekadar mengungkapkan cinta dengan kata kata. Saya sudah tua untuk semua itu."
"Mana, tuanya?" Refleks Bunga membolak balik pipi Dibi pelan. "Tampan begini!" katanya polos apa adanya. Dan pujian tersebut berhasil membuat hati Dibi merasakan kehangatan.
"Saya tidak mau pacaran, tapi langsung nikah!"
"Hah...?" Kembali Bunga melongo shock. "Ba-bapak nggak becanda kan?" gugup nya dengan suara terbata bata.
Cup...
Barulah Bunga mematung saat Dibi mengecup mesra keningnya. Seriusan nggak sih? Plaakkk... Kali ini, tamparan jatuh ke pipinya sendiri demi ingin meyakinkan dirinya kalau ia tidak lah mengalami delusi hebat.
"Sakit! Aaaa... Tapi saya senang dengarnya. Sini, Pak. Saya peluk sayang." Bunga histeris bahagia dengan tangan terbuka lebar siap dipeluk Dibi sebagai tanda jadiannya.
"Jangan murahan jadi cewek."
Yaak, disemprot galak ujung ujungnya.
"Tapi saya cuma jual murah ke Bapak doang loh." Bunga cengengesan. "Pokoknya sini peluk!"
"Nggak! Belum sah."
__ADS_1
Kalau orang yang merona itu, pasti pipinya yang terlihat pink pink kan. Beda halnya dengan Dibi yang daun kupingnya lah yang merah. Bunga yang menyadari itu, semakin bersemangat menggoda Dibi.
"Kalau belum peluk, itu tandanya belum resmi jadiannya, Pak. Kan, Bapak suka kalau bersentuhan dengan saya. Semalam gendong ke toilet, masa peluk aja alasannya belum sah. Hayoo sini, Sayang...!"
Oh, jadi, Bunga ingin menantangnya. Baiklah, dia jual, Dibi beli.
" Eeeh... "
Tuh kan, cuma di tes dengan cara ia memajukan wajahnya ke arah wajah Bunga, gadis itu uda jiper. Fixed, ia lagi dijahili.
"Bagi saya, kalau cuma sekedar peluk itu, hanya hal biasa, bagaimana kalau kita tukaran nafas?"
Ini sih, namanya anak busur berbalik arah menyerangnya. Bunga garuk garuk kepala yang tidak gatal sembari membuang muka ke samping.
"Saya kalau ciuman itu, tidak puas kalau cuma sekadar nempel. Minimal setengah jam lah, baru puas."
Alamak... Habis nafas ku dicurinya nanti, batin Bunga ngeri.
"Bapak jorok ih. Saya minta maaf deh." Cepat cepat Bunga mengakui keselahannya.
Dibi menyeringai. "Bagus sadar diri!" Wajahnya pun ia mundurkan dengan cara ingin berdiri tegak yang sedari tadi Dibi itu mencondongkan separuh tubuhnya ke arah Bunga. Namun sial, selimut milik Bunga yang sedari tadi teronggok jatuh di lantai sebelah kakinya yang sekarang ia bergerak melangkah menginjaknya dan membuatnya celaka, hampir terhuyung ke belakang karena terpeleset tetapi tangan refleks Bunga menolongnya dengan cara mencengkeram kaos bagian perut Dibi.
Hmmpp...
First kiss Bunga diambil Dibi. Tertegun dengan mata membola satu sama lain. Memang cuma sekedar menempel tanpa adanya pagutan. Namun, tempelan itu berhasil membuat jantung mereka saling berdetak kencang.
Ceklek...
"Aaa... Saya nggak lihat!" Emak menutup cepat mata Arpina menggunakan telapak tangannya. Ia pun demikian memejamkan matanya. Sementara Bunga yang kaget akan suara Emak, refleks mendorong dada Dibi agar jarak mereka berjauhan. Salah tingkah uih.
"Emak, ada apa sih? Awas tangannya! Arpina mau lihat juga." Arpina berusaha menyingkirkan tangan Emak. Namun lumayan susah.
"Tutup mata sebentar, Pin. Ada cicak nempel," kata Emak beralasan. Ia ingin mengintip dengan cara membuka satu matanya, tetapi diurungkan. Takut Dibi dan Bunga masih iya iya dan berujung menodai mata suci Arpina kalau kalau ia melepaskan tangannya. Awas saja kuping anaknya itu, akan ia jewer nanti kalau punya kesempatan berdua. Fine, Emak memang menyukai Dibi sebagai calon suami yang mungkin baik untuk anaknya, akan tetapi ia juga belum ridho anak gadisnya di icip icip tanpa ada cap sah. Dibi juga akan ia sidang tapi secara dewasa nanti.
"Ehem..." Dibi berdeham sebagai kode kalau keadaan sudah aman sentosa. Tampangnya kembali datar layaknya tidak pernah ada hal intim yang pernah terjadi barusan. Bunga memperhatikan itu. Sementara dirinya masih gugup setengah malu di depan Emaknya. Ingin sekali Bunga belajar pada Dibi, bagaimana caranya bersikap santai saat terciduk.
Mengerti kode deheman Dibi, Emak pun membuka mata. Aman sentosa untuk Arpina. Lepaskan telapak tangannya ke mata bocah itu, sembari Emak bersikap santai dan mencoba menahan diri untuk tidak segera menjewer Bunga.
"Cicaknya mana, Mak?" Arpina mempertanyakan alasan Emak. Mata Emak tertuju ke Dibi dan Bunga bergantian.
"Uda kabur, takut sama kita berdua."
"Oh..." Setelah menyahut singkat, Arpina menoleh ke Papanya. Melempar senyumannya sembari melangkah ke arah brankar Bunga.
"Tan, uda sehat?"
__ADS_1
"Kakinya masih sakit. Nggak boleh jalan dulu," terang Bunga canggung. Ia masih tidak enak hati ke Emaknya karena si Emak masih memasang tampang penuh ancaman seperti debt collector.
"Emak, saya meminta maaf soal barusan. Tadi ada insiden tak terduga dan menyebabkan hal yang seharusnya tidak dilihat Emak." Dibi angkat bicara. Ia memang tidak suka bertele tele. Menyadari air muka Emak yang aneh, membuat dirinya harus menjelaskannya. "Selain itu, ada hal penting juga yang Emak harus dengar."
"Apa tuh?"
Arpina yang tidak paham, cuma jadi pendengar saja. Bunga pun demikian, tidak berani ikut ikutan.
"Saya dan Bunga sudah resmi menjadi pasangan, Mak. Insyaallah, secepatnya saya akan menikahi Bunga__"
"Horeeeee..." Arpina tidak sabar sampai menyela Dibi. Ia bersorak bahagia mendengar Papanya akan mengubah status dudanya. "Boleh kan, Emak. Tante Bunga menjadi Mamaku?" Arpina mendongak ke wajah Emak yang begitu sadar mengangguk mantap. Arpina kembali bersorak melihat tanda setuju Emak Dahlia sembari tersenyum juga. Lupa sudah si Emak akan kemarahannya barusan. Ternyata Denisa tidak berbohong, batin Emak.
"Berarti, Arpina nanti akan punya adik kan, Pa? Kata teman sekolah ku yang namanya Gina, mama dan Papanya itu sering matikan lampu, terus paginya Mamanya itu ngasih kabar ada calon dedek bayi di perutnya. Ayo, Pa, Tan, matikan lampu sekarang supaya Arpina punya calon dedek bayi. "
Hufft... Dibi ingin sekali mengetuk kepala orang tua Gina Gina itu yang menjelaskan aneh aneh ke otak bocah yang masih dibilang polos.
" Kok kalian diam saja? Biar Arpina yang matikan lampu ya__"
Bunga dan Dibi serta Emak, saling bersitatap. Sejurus, Emak bertindak dengan cara menahan langkah Arpina.
"Papa dan Tante Bunga nggak boleh dulu bikin dedek sebelum ada pernikahan, Sayang. Paham kan maksud Emak?"
"Oh, gitu?" Arpina segera menoleh ke Papanya. "Ayo, Pa. Nikahin Tante yuk. Iya, kan Tante. Mau kan?"
"Hehhe... Pin, jangan sekarang ya." Bunga tercengir bodoh. "Kaki Tante masih sakit loh."
Iya juga.
"Tapi kan, cuma sekedar matikan lampu loh kata Gina."
Tidak mungkin kan, mereka itu menjelaskan ke Arpina soal adegan di baliknya mati lampu itu. Diberi pengertian dengan versi bocah pun, pasti belum juga akan paham. Adanya akan ngaur ngalor ngidul, seperti Gina yang salah artikan 'matikan lampu' lalu besoknya punya calon dedek bayi. Rumit sekali kalau berhadapan dengan bocah cerewet yang serba ingin tahu seperti Arpina.
Demi mengalihkan pembicaraan, Bunga merengek ingin ke toilet saja.
"Mak, bantuin!" rengek Bunga.
"Gendong?"
Bunga mengangguk ke Emak
"Mana kuat, Bungaaaa..." Emak lanjut menatap Dibi. Jangan bilang, Emak nya itu akan menyuruh Dibi.
"Ayo..." Tanpa diberi titah oleh Emak pun, Dibi sudah paham.
"Mulesnya nggak jadi, Pak." Bunga membuang muka ke Arpina. Bocah itu tertawa kecil lalu berkata, "Cieee, malu ya, Tan. Uda gede masih gendong." Goda Arpina mulai jahil.
__ADS_1