
Emak kembali bercerita, tapi Denisa juga tidak mau paham keadaan. Dibentak Dibi pun tidak diambil hati. Toh, Duda ini akan berujung berterima kasih karena sudah mengamankan rumahnya dari maling kecil, begitu lah pikirannya dan angsung saja, Denisa mengatakan, "Tadi ada maling yang akan masuk ke rumah Pak Dibi!"
"Maling?" Tiga kepala di depan Denisa kompak mengulang. Apakah maling itu yang membawa Arpina pergi?
"Tapi semuanya beres, Pak. Malingnya cuma gadis kecil. Sudah saya kurung di bagasi rumah saya." Nada Denisa bangga maksimal. Beda dengan raut wajah tiga kepala di depannya yang melongo sembari berpikir keras.
Malingnya gadis kecil? Pernyataan Denisa mulai menganeh dan mencurigakan untuk Dibi dengar. Begitupun Bunga dan Emak. Selama ini, komplek itu sangat aman dari kriminal kecil apalagi besar. Mungkinkah iya ada maling? Bukan apa apa, Arpina itu anaknya iseng dan nakal. Yang tidak dilarang diperbuat oleh anak kecil lainnya, dia malah kadang melakukan hal nekat itu. Bisa saja, gadis kecil yang dimaksud Denisa adalah Arpina, bukan?
Emak, Bunga dan Dibi saling lirik satu sama lain. Kompak mereka berseru, "Apa itu Arpina!"
Denisa sampai terjungkit kaget dan kurang paham di sini. Siapa itu Arpina? Wanita tersebut hanya ikut berlari bingung mengikuti tiga orang yang sudah mendahuluinya ke arah rumahnya.
"Buka pintunya cepat, Denisa!" Dibi membentak bentak sang pemilik bagasi. Dibi berharap, di dalam sana bukanlah Arpina. Kasihan anaknya kalau sampai terjadi hal fatal karena kesusahan mendapatkan oksigen di ruang yang bisa dibilang cukup tertutup.
Dengan bingung, Denisa mengambil kunci di saku, masukan ke lubang dan ceklek, rolingdor itu pun terbuka dan terlihatlah sosok gadis kecil itu tergolek lemah di lantai. Bocah nakal itu bisa pingsan juga.
"ARPINA!" Dibi berteriak shock. Kakinya bergetar tiba-tiba. Tangan pun demikian. Alhasil, Bungalah yang lebih dahulu membopong tubuh Arpina.
"Pak Dibi, cepat bawa ke rumah sakit, Pak. Hayoo!"
Dibi yang khawatir dan cemas terhakiki pun sadar akan suara bergetar ketakutan Bunga. Matanya sempat melotot murka ke Denisa. Wanita itu yang tersadar telah melakukan kesalahan, hanya bisa menunduk dengan wajah pias.
"URUSAN KITA BELUM SELESAI!" Warning keras sudah terlontar ke Denisa, Dibi pun berlari cepat menuju rumahnya untuk mengeluarkan mobil yang selama ini menganggur di bagasi rumahnya.
"Emak di rumah aja ya dan tolong kunci rumah ku."
Jawaban Emak hanya mengangguk sembari mengambil kunci rumah yang Dibi berikan di sela sela jendela mobil.
Denisa? Wanita itu ingin ikut dengan dalih akan bertanggung jawab, tetapi dilarang keras oleh Dibi.
Dilihat Bunga sudah di dalam kabin belakang dengan Arpina dipangkuannya, Dibi pun tancap gas. Emosinya ia tahan tahan untuk Denisa nanti. Lebih utama adalah keselamatan anaknya.
***
"Duduk lah, Pak. Saya pusing melihat Bapak seperti setrikaan." Bunga memijit pangkal hidungnya di kursi tunggu. Pusing sendiri melihat Dibi mondar mandir tepat di depan duduknya.
"Saya tidak bisa tenang, Bunga. Anak saya sedang dalam masalah."
"Arpina akan baik baik saja, Pak. Percayalah! Anak Bapak kan kuat." Baru kali ini, Bunga berkata kalem nan tulus ke Dibi. Ia paham dengan keadaan untuk tidak memancing harimau mengaum lebih keras lagi.
Mencoba berpikir positif, Dibi pun akhirnya duduk di sebelah Bunga. Sembari menunggu Dokter memberi kabar, Bunga memainkan ponselnya. Men-chat ke Dara dan Farah kalau malam ini jangan ke rumah karena keadaan memang kurang kondusif..
"Apa Bapak tidak niat mengabari maaf... Mamanya Arpina?" Duh, salah ngomong nggak ya? Kok mata Dibi mendelik horor. Padahal, ia sudah sangat berhati hati bertanya.
"Saya tidak mau anak saya berujung dibawa ke Jakarta."
Bunga mengangguk paham. Mungkin Mamanya Arpina orangnya egois sehingga si Dube terkesan tidak mau kehilangan anaknya, asumsi sok tau Bunga semakin menjadi jadi saja di dalam sana seiring kian penasaran pada wanita yang melahirkan Arpina." Kok, aku malah kepo sih?" batinnya kemudian sembari menggeleng pelan untuk mengenyahkan presepsi buruknya.
Ceklek ... Seperkian menit duduk bersebelahan, rasa canggung Bunga dan Dibi buyar akan kedatangan Dokter perempuan yang baru selesai memeriksa Arpina.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"
"Jangan khawatir, Pak. Anak Bapak dan Ibu sudah siuman.
__ADS_1
Uhuk... Bunga batuk kecil mendengar pernyataan Dokter. Anak mereka katanya?
Dibi tidak banyak komentar. Sebelum melihat anaknya, perasaannya tidak bisa tenang barang sedetik pun. Meluruskan kekeliruan sang Dokter pun tidak ada semangatnya.
"Tidak ada hal serius untuk dicemaskan, Pak, karena kalian tepat waktu membawa Arpina ke rumah sakit. Memang sempat, tadi nafasnya lemah karena kekurangan oksigen."
Dibi bernafas lega. "Boleh saya masuk?"
"Tentu, Pak. Silakan!"
Dokter pergi ke arah lain. Dibi masuk ke ruangan. Bunga hanya mengintip lewat celah pintu yang terbuka sedikit. Ia tidak mau mengganggu privasi anak bapak itu.
"Maafin, Papa ya kurang ekstrak menjagamu ya, Nak." Arpina hanya diam dan menerima ujung kepalanya dielus sayang oleh Dibi.
"Pa, Tante Bunga kemana?"
Hah... Yang benar saja, dalam keadaan kurang tidak sehat pun, anaknya itu malah mencari Bunga. Dibi kok merasa cemburu. Posisi si sableng sangat berpengaruh sekali di kehidupan anaknya sekarang. Kok bisa? Apa sebabnya? Dibi cemberut dalam diamnya.
Karena mendengar dipertanyakan, Bunga pun muncul. " Hai, Arpina!" sapanya dengan lambaian dan senyum manis untuk Arpina. Khusus Arpina yang sakit, ia akan berbaik hati meski aslinya memang sudah baik hati tiada duanya sih.
Arpina menyambut senyum Bunga dengan baik sembari berusaha untuk duduk di brankar itu.
"Hati hati, nanti jarum infusnya copot." Dibi memperingati lembut. Bunga yang memperhatikan kelembutan Dibi ke Arpina sedari mengintip tadi, menjadi sedikit kagum pada sosok si Dube ini. Dalam diamnya berkata, "Ternyata tidak seburuk itu."
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Bunga prihatin.
"Sakit, Tan. Makanya, jadi Mamaku ya, biar ada yang jaga." Lagi kurang fit pun, Arpina tetap konsisten pada misinya.
"Arpina...!" Lembut lembut tegas suara Warning Dibi. Bunga garuk kepala sembari membatin, "Ya Allah, temukan segera jodoh perjaka padaku. Biar nggak mumet sama bocah ini."
Si bocah tersenyum diam diam.
"Mana ada aku galak?"
"Dih, nggak sadar diri."
Dibi dan Bunga mulai cekcok lagi. Arpina tepok jidat. Pura pura kesakitan, Arpina menjerit biar mereka berhenti.
"Kenapa, kenapa?" kompak keduanya panik. Sembari memperhatikan Arpina.
"Sakit perut, Pa, Tan."
Tapi kenapa kepala yang dipegang Arpina?
"Sejak kapan perut ada di jidat, Nak?"
Eh ... Ketahuan bohong. Cepat cepat, Arpina menurunkan tangannya ke perut sembari meringis tidak jelas dengan mata takut menatap sang Papa yang menyelidik. Bunga sih sudah tau kalau anak yang lagi kurang fit ini lagi ngibul. Entah besarnya jadi apa?
" Eh, Pin. Gimana ceritanya kamu bisa dikurung sama tetangga baru yang namanya ... Siapa, Pak, namanya?"
"Denisa?" Dibi menjawab kesal. Bukan ke Bunga tetapi kemarahan tertahan itu untuk Denisa. Kebetulan, Arpina sudah sadar dan Bunga pun bertanya mendahuluinya sebagai seorang Papa yang anaknya sudah mendapatkan tindakan kurang menyenangkan, ia memang harus mengetahui kronologinya secara detail.
"Jadi begini..." Arpina bercerita jujur tanpa dikurangi dan dilebihkan. Ia mengakui kesalahan pertamanya yang mengaku jahil pertanyaan Denisa sebagai maling. Bunga geleng-geleng mendengar kebohongan Arpina yang mengakibatkan dirinya celaka. Sementara Dibi, tetap tidak mentoleransi kesalahan Denisa. Fine, anaknya memang mengaku maling awalnya. Tapi pada akhirnya kan, Arpina pun menceritakan sesungguhnya kalau dia adalah anaknya. Tapi, Denisa tetap kasar dan kekeuh menghukum anaknya dengan cara kejam.
__ADS_1
"Nak, Papa ada urusan dulu ya. Nanti Papa akan kembali."
Menoleh ke wajah Dibi yang sedang izin ke Arpina, Bunga kok yang merinding melihat betapa kecutnya Dibi untuk disaksikan.
"Duh, Mbaknya Delon akan diapakan ya?" batin Bunga yang menebak Dibi pergi untuk bertemu Denisa. Wajah pria itu menegang nan memerah.
"Permisi...!"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Denisa panjang umur. Wanita itu berdiri di tengah-tengah gawang pintu dengan wajah tertunduk ke lantai.
"Bunga, nitip Arpina. Tolong jaga dengan baik."
Graadaaak... Kursi tunggal yang diduduki Dibi terpanting karena berdiri kasar. Arpina yang kaget, refleks memeluk perut Bunga. Bersembunyi takut, karena sadar kalau sang Papa lagi marah besar. Bunga membalas pelukan itu dengan mata tak lepas dari punggung Dibi yang semakin dekat ke posisi Denisa.
"Ikut saya!"
"Pak, Pak, saya bisa jelasin __"
Tidak peduli, Dibi terus menarik kasar tangan Denisa keluar ruangan. Menelusuri koridor rumah sakit. Membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Tancap gas membawa Denisa yang wanita itu pun tidak tahu akan dibawa ke manalah dirinya.
"Pak, saya minta maaf atas perbuatan yang sebenarnya saya tidak ketahui kalau Arpina adalah anak Bapak."
Menurut cerita Arpina, anaknya itu sudah berusaha menjelaskan kalau dia adalah anaknya, namun Denisa tetap bersikukuh mendorong anak masuk ke garasi. Jadi, ngapain juga harus mendengarkan Denisa?
" Saya tidak tau kalau dia anak, Pak Dibi. Saya__"
"Jadi, kalau anak orang lain kamu tetap akan menghukumnya di dalam ruangan gelap yang kurang oksigen? Yang benar saja, itu sama saja kamu mengisolasi anak saya!" Dibi marah marah sembari terus mengemudi ugal ugalan.
Denisa tidak tau harus membela dirinya seperti apa? Ah, sial. Niat pencitraan menolong rumah Dibi dari maling yang cuma salah paham, dirinya malah buntung. Bocah itu adalah biang keroknya. Denisa menggerutu dalam hati.
"Saya mau dibawa kemana, Pak?"
"Isolasi buatan mu sendiri!"
Denisa ketakutan. Itu tandanya, Dibi pun akan mengurung dirinya seperti Arpina? Dengan wajah memelas, Denisa terus memohon tetapi Dibi menulikan telinganya.
"Pak, ini bukan kesalahan saya seutuhnya, Pak. Anak Bapak pun salah awalnya karena mengakui dirinya maling__"
"Tapi anak saya juga sudah menjelaskannya. Namun kamu tetap tuli."
Setiap pembelaan Denisa, Dibi langsung mematahkannya.
Sampailah mobil Dibi di depan rumah Denisa. Keluar dan secepatnya menarik Denisa sampai di depan garasi. Dibukanya rolingdor itu, tanpa melepaskan cekalan kuatnya di tangan Denisa agar tidak kabur.
Bagus! Bagasi itu hanya memiliki satu pintu yaitu hanya pintu rolingdor doang tanpa ada pintu alternatif yang menyambung masuk rumah.
"Berapa jam kamu mengurung anak saya?"
Tidak ada jawaban, Dibi pun segera mendorong kasar Denisa masuk ke ruangan itu. Begitulah cerita Arpina, didorong. So, satu sama.
"Saya tidak bermain hukum negara karena saya mengakui awal kejahilan mulut anak saya, Denisa. Nikmati apa yang sudah anak saya rasakan. Dan semoga, setelah ini kamu tidak ada niatan mengganggu saya lagi dengan tingkah sok perhatian dan genit mu di kantor dan tempat lainnya. Saya tidak suka! Ingat itu!"
Dar dor dar dor...
__ADS_1
Seperti Arpina tadi, kali ini Denisa yang gedor gedor sembari minta dibukain pintunya. Denisa cuma berharap, Delon tidak keluyuran sampai tengah malam seperti biasanya, tersiksalah dirinya kalau sang adik tidak cepat datang menolongnya.
"Aaarggh... Tidak ada signal!"