Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 28# HT Pintas


__ADS_3

"Arpinaaaaaa!"


Bunga dan Arpina saling lirik setelah mendengar panggilan panjang Denisa dari toilet.


"Ngapa tuh, Tan?"


Bunga mengedikkan bahu tanda tak tahu ke Arpina. "Kita lihat yuk."


Kedua nya berjalan ke arah toilet.


"Piiiinn...!"


"Apa sih, Tan?" Jawab Arpina di depan pintu. Bunga hanya diam.


"Celana Tante basah. Boleh nggak pinjam kain apapun itu?" Tidak mungkin kan, Denisa jujur kalau celananya ternodai sari sari dari lubang belakangnya. Malu coeg. Dan tidak mungkin juga, ia memakai celana baunya. Jijik.


"Tunggu sebentar!" Arpina ngebirit pergi. Tinggal lah Bunga di depan toilet.


Kira kira ia harus apa ya buat mainin ego Denisa agar Arpina melihat wajah topeng palsu kebaikan Denisa? Kunciin? Ide buruk. Ada Arpina yang akan membantu dan nanti bisa Arpina menganggapnya jahat. Hem... Apa dong?


Kelamaan mikir, Arpina sudah kembali saja. Bunga hanya menghela nafas berat.


"Tanteeeee... Ini sarung Papa."


Sarung Dibi? Denisa semangat sekali mendengarnya. Tak apalah sarungnya duluan yang ia pakai, nanti lama lama orangnya yang melekat seperti perangko.


Buka pintu, kepala doang yang melongok keluar. Tercengir sebentar ke Arpina dan ke Bunga mendelik sinis, lalu secepatnya mengambil sarung yang Arpina sodorkan


Tutup pintu lagi. Pakai sarung seperti bapak bapak yang diikat kuat di pinggangnya. "Semoga, Dibi nggak lihat penampilan konyol ini," gumam Denisa sembari menatap geli penampilannya. Bisa bisa turun pamor lah kalau Dibi mendapati dirinya pakai sarung seperti laki habis sunat aja.


Ceklek...


Arpina dan Bunga menahan senyum lucu akan penampilan Denisa.


"Tante lucu ya?" Denisa mencoba humoris. Padahal dalam hati, ia ingin sekali menjewer telinga Arpina dan menendang bokong Bunga yang sudah menertawakannya.


"Pin, Tante pamit ya. Sebagai permintaan maaf tante tentang kue itu, besok bagaimana kalau Tante ajak jalan jalan ke Mall. Kita main seru seruan di timezone?"


Bunga berharap, Arpina menolak. Tapi namanya bocah, diiming imingin bermain di tempat seru, ya main angguk setuju saja, padahal belum tentu juga diberi izin sama Dibi.


Tidak mau Dibi melihatnya dengan keadaan bersarung, Denisa terpaksa angkat kaki. Sial baginya, saat di teras, Dibi taunya terlihat baru pulang. Malunya cok... Denisa ingin sembunyi tapi Dibi sudah melihatnya dengan tampang susah diartikan. Naik turun, menatapnya aneh.


"Malam, Pak." Senyum basa basi dulu sembari berjalan pelan. Lalu ... Lariii ... Gedubrak... Sarung bedebah! Pakai jatuh karena keserimpet sendiri. Sakit? Memang sakit, tapi malunya itu loh. Djdjjsdjdggkgkew.


Si raja tega Dibi, hanya menatap datar dari jauh. Lalu cuek masuk ke dalam rumah. Sebenarnya, bukan tidak mau nolongin. Mau kok. Masalahnya, kalau ia bersikap baik meski seuprit juga, takutnya disalah artikan oleh Denisa yaitu harapan.


"Tega amat sih dia. Nolongin atau basa basi nanyain sakit atau nggak? Huu... Untung suka!" Denisa menggerutu sembari beranjak ke arah pagar.


Harusnya, sebagai wanita cerdas ia paham artinya kalau Dibi tidak akan pernah luluh olehnya karena sudah terlihat betapa cueknya pria itu, tapi Denisa yang anti menyerah dan kepala batu, masih berniat meluluhkan Dibi, mau itu melalui Arpina kek atau langsung ke Dibinya langsung. Pantang menyerah!

__ADS_1


Sementara di dalam rumah. Arpina senyum senyum tidak jelas saat sang Papa berkacak pinggang galak di depan Bunga.


"Papa sama Tante Bunga mau tanding sumo, kan?" Arpina siap jadi penonton gulat. Lumayan, ada hiburan. Sementara Dibi dan Bunga kompak saja menatap Arpina. Entah apa yang membuat anaknya berpikir jauh ke sana?


"Bukan sumo, Pin. Tapi konser goyang ular." Bunga tersenyum lucu sendiri. Lalu sedikit mengikis jarak ke arah Duda beken ini. Lihatlah, meski wajahnya berminyak, tetap saja tampan di mata Bunga. Eh ... Muji barusan, batinnya.


"Pak, saya pamit ya. Nanti kita ngobrolnya lewat HT pintas. Assalamualaikum..."


Pasti Dibi tidak tahu jalan pintas yang dimaksud. Biarkan. Lucu juga tampang si Dube kalau lagi berpikir keras. "Bye, Pin. Tante Bunga yang harum semerbak ini, mau pulang dulu. Ingat kan ya, pesan Tante tentang soal Tante Denisa?"


Arpina mengangguk.


"Apa coba?"


Arpina menggeleng polos. Bunga cemberut. Bocah ini pintar atau bodoh sih?


"Tadi, ucapan assalamualaikum sudah tercuat. Tapi masih membeo." Dibi mengusir.


"Kan, belum ada yang jawab 'waalaikumsalam sayang eh salam." Karena sering bergaul dengan Dara dan Farah yang kadang mempelesetkan salam jadi sayang, Bunga pun tertular.


"Pin, uda belajar?" Dibi lebih dahulu mengusir halus anaknya. Arpina menggeleng. "Masuk kamar dan belajar, Nak." Dengan patuh, Arpina menurut.


Kabur ah... Bahaya kalau Arpina sudah tidak ada di antara mereka. Geser badan, langkah maju cepat. Eh, tertahan oleh Dibi yang menarik baju di bagian punggungnya sampai BH nya ikut tertarik tanpa disadari oleh Dibi. Nah, kan. Benar dugaannya kalau Dibi akan bebas ngegalakinnya kalau Arpina tidak ada.


" Pak, Pak, Pak..." Terpaksa Bunga mundur mundur tapi masih membelakangi Dibi karena pria itu belum melepaskan cengkeramannya di kainnya. "Memang, BH yang saya pakai, Bapak yang beliin waktu itu, tapi jangan dirusak juga kali, Pak."


" Udah lah, sono pulang." Dibi jadi sakit kepala. Gadis ini memang juara membuat emosinya naik turun sekaligus pintar membuatnya gemetaran. Mana jantungnya mendadak dag dig dug lagi, gara gara sempat narik BH kata Bunga. Besok Dibi akan berencana kontrol jantung saat jam istirahat. Bahaya kalau dibiarkan.


"Tadi ditarik tarik mundur. Sekarang diusir. Maunya Bapak__ iya, iya, saya pulang." Bunga jiper. Mulut ia katup saat Dibi memelotot penuh ancam sembari membuka kancing bagian atas. Mau apa tuh laki, jangan jangan...?


"Ihh... Masa mau minta dibelai belai dadanya?" Bunga bertanya tanya sendiri dalam langkah pulangnya. Malas lewat pagar yang menurutnya mutar mutar langkah, Bunga lebih memilih jalan pintas, yaitu berjalan ke samping. Hap... Berloncat naik ke pembatas tembok yang cuma setinggi dadanya yang pendek.


Breebeett... " Aduh, celana ku sobek. Ada yang lihat nggak ya__ Emak." Ada Emak lagi pegang sendal satu.


"Kamu itu kayak maling tau nggak!" Bugh...


"Emak durhaka nih, masa anak nya di tabok sendal sih." Bunga merengek. Tapi tunggu, kayak kayaknya ada yang memperhatikan. Tengok ke rumah Dibi lagi, eh benar. Si Dube terlihat menyibak gorden jendela. Itu tandanya, si Bapak tea melihatnya memanjat dan juga tau kalau celananya robek? Dahlah, biarin aja. Malunya kan uda seperti tembok. Emak lebih penting saat ini yang masih mengacungkan sendal jepit padanya. Senjata emak emak the power, memang sendal dari dulu juga.


"Unga, salah apa sih, Emak?" ucapnya lagi.


"Salah? Ampun deh, Unga. Kamu itu anak cewek. Tapi kelakuan naudzubillah. Lompat sana sini kayak monyet."


Bunga tercengir lega. Ia kira, Emak akan nuduh dirinya habis ngintipin Duda. Selamat.


"Emang, kamu dari mana? Habis ngapain di rumah orang?" selidik Emak. Sejurus, memicing ke rumah sebelah sembari menjinjit sedikit. Ada si Dube di balik jendela. Tapi, segera menutup gorden. Si Emak kecolongan, Bunga sudah berjalan ngendap endap ke pintu rumah tanpa menjawab pertanyaannya.


"Astaga, Ungaaaa!" Emak terpekik sembari melempar sendal.


Pleetak...

__ADS_1


Bokong montok Bunga kena senjata pemersatu emak emak. Gadis itu hanya meringis tanpa menghentikan langkahnya ke arah kamar.


Di dalam biliknya, ganti celana yang tadi robek selangkang*nnya terlebih dahulu. Buka jendela, lalu lempar kerikil hias yang ia ambil di pot bunga kaktus di meja belajarnya, ke arah kaca jendela Dibi.


Satu, dua sampai ke lima lemparan, Dibi mulai menyadari ada suara yang menggangu. Baju mana, baju? Malas buka lemari karena keburu penasaran akan suara lemparan yang kembali berdenting ke kaca jendela. Cukup pakai handuk yang melilit di pinggang karena Dibi tadi memang mau masuk ke dalam kamar mandi.


Ceklek...


Gleek...


Satu tegukan saliva tertelan susah saat mata Bunga disilaukan dada bidan Dibi. Boleh elus nggak sih? Keren banget si Dube.


"Lihatin apa?"


"Dada Bapak, eh handuk maksudnya." Sudah diralat, jawabannya selalu salah. Dibi melototinya. Untung ada jendela yang memisahkan mereka, Bunga yakin kalau Dibi itu mau menjitaknya lagi. "Maksudnya, ketampanan Bapak."


Dibi baper digombali Bunga, tapi gengsi mau tersenyum. Sementara di telinga Bunga seperti ada yang berbisik, 'Itu Duda loh, katanya maunya perjaka. Lupa?'


"Eh, iya juga." Bunga menyahut lirih akan suara hatinya. Lalu kembali berkata ke Dibi, "Ketampanan Bapak cuma dua puluh persen." Jangan sampai si Duda ada hati padanya karena gombalan recehnya tadi. Segera hempaskan. Dan lihat wajah Dibi, jadi jutek sekali.


Tidak ada yang benar kalau bersangkutan dengan Bunga, Dibi akhirnya mau mengalah dan berniat tutup jendela. Akan tetapi, Bunga menjerit, "Jangan ditutup Bapak, saya mau beri info tentang Mbak Denisa." Inilah yang dinamai Bunga sebagai HT pintas tadi yakni lewat jendela biar Arpina tidak mendengar obrolan mereka.


"Apa? Cepat katakan!" Suaranya jutek amat sih. Tapi masih terkesan seksi.


"Itu loh, Pak. Mbak Denisa janji sama Arpina, kalau dia mau ajak anak Bapak ke timezone. Terus, tadi sempat ancam aku untuk jangan ikut campur urusannya yaitu mau naklukin Bapak lewat Arpina." Tanpa ada dusta, Bunga jujur seratus persen. Saking jujurnya, Dibi mendengar nada Bunga itu seperti orang cemburu.


"Terus?"


"Ihh, Bapak! Kok nanya? Ya terusnya, jangan dikasih izin Arpinanya."


"Nggak mau. Biarin anak saya happy."


Bunga menyergit bingung. Apa yang sebenarnya yang ada di dalam otak Dibi.


"Bapak berubah pikiran? Bapak uda mulai suka dengan Mbak Denisa?" selidik Bunga.


"Kalau iya, kenapa?"


Eh... Kok jawabnya gitu. Tadi, katanya minta untuk misahkan Denisa dengan Arpina agar bocah itu tidak termakan kebohongan Denisa. Sekarang, malah timbal baliknya. Bunga jadi bingung dong.


"Besok siap siap saja, kita akan ikut bersama mereka." Lalu, jendela tertutup. Dibi nggak kuat dadanya jadi objek segar mata Bunga. Gadis itu, kudung kudungan tapi bar bar dan mesumnya nggak ketulungan.


"Kita?" lirih Bunga sembari menunjuk dadanya lalu ke arah jendela Dibi. "Kok kita sih?" Dahlahc, dari pada berpikir perkataan Dibi yang terdengar ambigu, lebih baik masuk kamar mandi, gosok gigi, cuci muka, tarik laptop lalu masukin kode Wi-Fi milik Dibi.


"Loh, kok username-nya tidak tersedia. Apa kodenya uda ganti? Yaakh, gagal nonton drakor dong." Bunga sewot tidak jelas sembari melirik jendela. Lempar lagi atau tidak?


"Ah, malu juga kalau numpang Wi-Fi terus." Lanjut tidur saja. Bayangin idola babang Korea tapi yang muncul malah wajah Dibi yang tidak pakai baju barusan.


"Masa mau tidur harus baca yasin alih alih doa sebelum tidur sesungguhnya." Dan malam itu, tidur Bunga gelisah tidak jelas. Dibi masih menghantuinya lewat mimpi.

__ADS_1


__ADS_2