Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 40# Sadar


__ADS_3

Di waktu yang sama saat pernyataan Delon tercuat tentang Denisa, Dibi pun kebetulan sudah mengantongi bukti dalang kecelakaan Bunga yang terekam sempurna oleh cctv yang terdapat di arena skating. Terkejutnya Dibi saat cctv lainnya memperlihatkan Denisa membuka masker penyamaranya. Dibi menyayangkan sikap tolol Denisa sebagai polisi wanita yang seharusnya melindungi masyarakat, malah sebaliknya demi kepentingan pribadi.


"Terimakasih atas kerja samanya, Pak. Saya permisi." Dibi menyalami tangan manajer mall sembari berdiri dari depan komputer. Salinan rekaman kejahatan Denisa, sudah di save Dibi dengan baik.


Tidak buang buang waktu, Dibi balik lagi ke kantor. Ia sudah tidak sabar mengintimidasi Denisa. Motor kesayangannya ia pacu sedikit ngebut di jalanan yang lancar jaya tanpa ada kemacetan.


"Siang, Pak!" Sapaan tegas diiringi hormat kesatuan, menyambut kedatangan Dibi dari bawahannya.


"Siang! Apa Bripda Denisa ada di tempat?"


"Lapor. Ada Pak!"


"Tolong suruh ke ruangan saya!"


"Siap, laksanakan!" Briptu bertag name Eko D itu langsung menjalankan perintah.


Dengan langkah panjang, Dibi pun masuk ke ruangannya. Mengirim video kejahatan Denisa ke dalam laptopnya agar nanti wanita itu bisa leluasa melihat aksi kejahatan berencana yang dia lakukan terhadap Bunga.


Selang beberapa menit, ketukan pintu berirama terdengar. Dibi berseru, "Masuk." Setelahnya, terbukalah pintu itu memperlihatkan sosok wanita berpakain polisi rapi. Menutup pintu dan segera mendekati meja kebesaran Dibi.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Denisa tersenyum manis. Mencari perhatian Dibi.


"Duduk lah, saya ingin berbincang bincang dengan mu. Tidak keberatan kan?" Layaknya tidak ada yang terjadi apa apa nada Dibi itu. Sangat sangat mengecoh Denisa. Perasaan wanita itu melambung jauh ke langit.


Dengan anggun, Denisa pun duduk di depan meja Dibi. Tak henti hentinya dia menatap wajah Dibi secara terang terangan untuk menunjukkan tanda ketertarikannya.


"Mau bicara tentang apa ya, Pak? Pribadi atau pekerjaan?"


"Mau Anda, bagaimana?" Dibi balik bertanya. Sengaja membuat Denisa berpikir.


"Terserah, Pak. Saya sih, betah betah saja ngobrol bersama Pak Dibi." Senyum manis lagi untuk menghipnotis Dibi.


"Oke!" Dibi berdiri dari kursinya. Berputar dan berhenti di belakang kursi Denisa. Wanita itu dibuat bingung akan sikap Dibi yang tidak seperti biasa, kepala polisi ini membiarkan dirinya berlama lama di dalam ruangan khusus miliknya. Senang sih, tetapi di sudut hatinya yang lain, ada rasa cemas juga. Takut Emak Dahlia sudah bocor atau jangan jangan...?


"Mau menonton film bersama ku?"


"Mau, Pak. Sangat mau!" Denisa menjawab cepat. Rasa cemasnya menguap mendengar ajakan Dibi. Pertanda baik kah untuknya? Ah, senangnya.


"Tapi nggak apa kan, kita nontonnya di ruangan saya saja, pakai laptop." Tanpa menunggu jawaban Denisa, Dibi langsung memutar laptopnya untuk ke hadapan mata Denisa.

__ADS_1


Rekaman arena skating pun on untuk ditonton Denisa. Wajah wanita itu tiba-tiba pias, layaknya aliran darahnya tersumbat seketika.


Dibi menyeringai. "Apa ada sesuatu istimewa yang Anda tangkap, Bripda Denisa?!"


"Pa-pak__" Lidah Denisa keluh terasa. Kata katanya tertelan kembali dengan dahi diterpa keringat dingin begitu saja.


Drrrt...


Dibi yang ingin mengintimidasinya lebih lanjut, terganggu akan deringan ponselnya tergeletak di atas meja tepat di sisi laptop yang masih menyuguhkan kecurangan Denisa.


Ada nama SABLENG di sana. Takut Bunga membutuhkan sesuatu, Dibi pun lebih dahulu menerima telepon tersebut.


"Halo..."


"Saya uda nelpon tiga puluh kali loh. Kenapa baru diangkat?"


Dibi sedikit menjauhkan benda itu dari sisi kupingnya, dari pada sakit mendengar suara Bunga yang seperti berteriak di seberang sana. Jujur, Dibi tidak tahu Bunga sampai berulang kali meneleponnya.


"Apa ada yang penting?"


Dengan cepat, Bunga pun menceritakan tentang Denisa. Dibi mendengarkan tanpa menyela Bunga. Ia tidak menyangka kalau Delon ternyata mempunyai sifat baik yang berani membongkar kejahatan sang kakak sendiri. Bukan kah di luar sana, kebanyakan orang itu melindungi dan membela keluarganya meski tau betul letak kesalahannya? Dibi ingin memberi tepukan apresiasi ke Delon jadinya.


Dengan sengaja, Dibi menyalakan pengeras suara teleponnya. Lalu meletakkan hape itu di atas meja. Biarkan Denisa mendengar langsung alasan Bunga.


"Aga, nggak boleh jahat sama orang loh!"


"Tugas saya memberantas penjahat, bukan saya yang jahat. Kamu nya yang terlalu baik!" Dibi menasehati Bunga sembari menatap tajam Denisa. Wanita itu menunduk dalam dalam dengan tangan diremat sendiri. Takut rupanya.


"Iya, tau. Tapi, kasus Mbak Denisa, jangan di bawah ke hukum ya. Kasihan tau, Aga. Saya sudah memaafkannya tanpa meminta maaf pun."


Andai Dibi di dekat Bunga, sudah ia getok lagi kepala gadis itu. Pemaaf sih boleh saja, tapi jangan terlalu over juga kali. Dibi cemas, suatu saat nanti, wanitanya itu dimanfaatkan kebaikannya oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab.


" Mbak Denisa melakukannya karena cemburu, Aga. Dia berbuat itu semerta merta menginginkan mu. Berilah kesempatan sekali lagi, kasihan kalau harus dipermalukan di dunia kepolisian. Sebelum kesalahannya kali ini, cobalah ingat ingat lagi prestasinya yang lalu. Meski caranya salah yang ingin mencelakai ku, tetapi aku yakin kok, Mbak Denisa itu baik dan cuma terpaksa demi kepuasan hatinya. Halo... Aga masih di sana kan?"


Hiks hiks...


Di atas pembaringannya di brankar itu, Bunga terkejut mendengar samar samar isak tangis seseorang.


" Aga, kamu nangis? Kok cengeng jadi pria? "

__ADS_1


" Bukan__"


"Ya Allah, Aga. Kamu nyubitin anak orang?"


Dibi gemas sekali dibuat Bunga. Uda main mutusin penjelasannya, malah menuduhnya nakal pada anak orang. Galak galak juga, Dibi itu paling suka dengan adanya anak kecil.


"Ma-maaf..." Suara Denisa sangat lirih dan hampir tidak jelas karena isak tangis rasa salahnya. Sikap renda hati Bunga yang pemaaf, berhasil membuka matanya lebar lebar, kalau kelakuannya memang sangat memalukan. Gadis yang ia jahatin itu memang benar, ia ingin mendapatkan kepuasan hati sebagai wanita. Dulu, ia sering disakiti oleh mantan mantannya, sampai berujung membuatnya ambisius dalam cinta yang ingin mencapai kesempurnaan. Tapi, apa yang ia dapatkan? Semu belaka. Tidak ada yang sempurna dalam perjalanan cinta. Ia malah menaruh dirinya di pinggir jurang kehancuran.


"Sa-saya menyesal, Bunga. Ma-af...hiks... Hiks... "


Eh, seriusan nih, itu suara Denisa? Bunga baru baru sadar kalau sedari tadi, Denisa ada di dekat Dibi. Alih alih cemburu, Bunga malah cemas pada Denisa. Secara, pacarnya itu kan galak, takutnya Denisa uda dihukum secara brutal oleh Dibi. Ihh, seram sekali yang berada di pikiran Bunga.


"Saya maafin, Mbak. Jangan nangis ya. Coba katakan, apakah Ag__ Pak Dibi mencubitmu, Mbak?"


Sabar, terserah lah Bunga mau berkata apa. Dibi hanya mendengus kesal. Belum juga mengintimidasi Denisa, tetapi sudah dituduh. Untuk cinta, kalau tidak...?


"Duh, jangan nangis lagi, Mbak!"


Bukannya berhenti, tangis Denisa kian menjadi jadi. Bahkan, wajahnya ia sembunyikan di atas meja dengan lipatan tangan sebagai tumpuannya. Ia malu mengangkat dagunya tinggi tinggi di depan mata Dibi.


"Aga, jangan galak__"


"Istirahat yang banyak."


Tut...tut...


"Yeak, dimatiin!" Bunga menatap nanar teleponnya. Sesuai perintah Dibi, Bunga pun mengistirahatkan tubuhnya yang memang sudah mengantuk efek obat yang ia barusan konsumsi.


"Apa yang membuat mu menangis? Merasa bersalah atau sekadar pura-pura semata?"


"Hukum saya, Pak. Saya menerimanya dengan lapang dada." Denisa masih terisak. Memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk menatap tegas sang atasan.


Dibi yang melihat netra Denisa yang sepertinya bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya, sejenak berpikir untuk mempertimbangkan keputusannya, hukuman apa yang harus Denisa dapatkan?


"Pulang lah, Denisa. Saya beri izin beberapa hari untuk merenungkan segala kesalahan mu. Percayalah, rasa sesal itu sangat tidak berguna dikemudian hari. Saya tidak memberi sanksi berat pada mu karena saya menghargai sikap baik Bunga. Belajar lah padanya, Bunga sudah kamu permainkan hatinya dengan cara menjadikan Delon sebagai pion mu dan kamu juga sudah melukai kakinya, tapi dengar sendiri, dia memaafkan mu sebelum kamu meminta maaf. Coba bayangkan, jika kamu berada di posisinya? Apakah kamu akan berbesar hati? Apakah kamu terima di lukai secara fisik dan mental, seperti kamu yang lakukan? Coba pikirkan lagi, kalau sikap jahat mu itu, membuat nyawanya melayang? Apa kamu tidak memikirkan Emak Dahlia yang akan ditinggal sebatang kara?


Semakin menangis sesal lah Denisa mendengar omelan demi omelan telak Dibi.


"Ma-maaf... Maaf!"

__ADS_1


__ADS_2