Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 32# Mengulik


__ADS_3

"Apa, Pa? Jadi, Tante Bunga akan jadi Mama ku?"


Dibi, Bunga serta Denisa kompak menoleh ke belakang, di mana ada kehadiran Arpina yang ternyata balik lagi. Wajah bocah itu terkesan kaget kaget bahagia dengan mata bergantian menatap Papanya dan Bunga. Senyumnya kian mengembang dan segera memeluk Bunga.


"Anu, Pin. Itu __" Bunga terjeda. Karena sudah pernah melihat mata kecewa Arpina waktu ia di tembak Delon yang cuma modus licik terselubung, ia pun memutuskan untuk diam saja. Tidak tega lagi membuat gadis kecil itu hampir menangis. Sejak saat kejadian di cafe, Bunga sadar kalau ia menyayangi Arpina meski tidak ada ikatan apapun. Nakalnya dan kejahilan Arpina kadang Bunga rindukan saat bocah itu memutuskan untuk menghindarinya dalam beberapa hari saja. Ya! Bunga mengakui itu dalam hati nya.


Untuk penjelasan, biarkan Dibi sendiri yang bertanggung jawab akan ucapan ngaurnya.


'Gimana nih, Pak?' Tidak ada suara yang keluar dari Bunga, tetapi Dibi sudah paham kepanikan Bunga. Dengan santai, Dibi tersenyum ke Arpina. Lalu berkata enteng, "Doakan saja, Sayang. Yuk, kita main skating." Arpina mengangguk angguk diiringi senyum lebarnya.


Denisa diabaikan lagi. Ibarat kata, ia sudah seperti obat nyamuk. Tangan wanita itu mengepal kuat kuat dengan tatapan penuh benci, iri, cemburu dan hal negatif lainnya berbaur jadi satu dalam hatinya untuk Bunga.


"Di dalam sana, saya tidak akan melepaskan mu, Bunga." Tekad Denisa dalam hati. Ia tidak langsung masuk ke arena ice skating tersebut. Entah mau apa, tapi wanita itu berbelok arah tanpa sepengetahuan Dibi dan Bunga.


Dengan gembira, Arpina langsung berseluncur di dalam arena tanpa takut menabrak pemain lainnya di lantai licin itu.


"Wow... Arpina hebat, Pak," puji Bunga. Lihatlah, Arpina berputar di tempat dengan kaki terangkat indah satu seperti pebalet.


"Mamanya mungkin yang ngajarin."


Refleks Bunga menarik tangannya dari genggaman Dibi karena ingin bertepuk tangan untuk memberi apresiasi nya ke Arpina, tapi eh... Hampir saja nyungsep karena memang Bunga belum bisa mengimbangi tubuhnya yang memakai sepatu skating. Daripada sepatu roda, skating ini lebih sulit bagi Bunga. Berdiri tegak pun sangat luar biasa susahnya.


Hap...


"Hati hati..."


So sweet, prikitiwww ... Dengan sigap, Dibi menahan kedua sisi pinggang ramping Bunga. Sempat saling pandang - pandangan dengan perasaan canggung masing-masing. Dibi yang gugup dalam posisi yang bisa dibilang intim tersebut, segera melepas tangannya yang kembali bergetar.


Kedubrak...


"Pak, kok dilepas? Kan jatuh!" Sakit bokong Bunga.


Sudut bibir Dibi tersenyum tipis melihat Bunga memanyunkan bibirnya sembari mengulurkan tangan untuk membantu Bunga berdiri. "Belajar skating memang sering jatuh jatuh. Ayo, saya ajarin cara berjalan yang benar, me-rem dan teknik lainnya."


Karena Bunga suka mencoba hal hal yang baru, dengan senang hati ia meraih uluran tangan Dibi.


"Jangan lepas! Jangan lepas, Pak." Bunga panik saat Dibi perlahan melepaskan satu tangannya. Bukannya terlepas, sekarang Bunga lah yang menggenggam jemari kuat kuat kedua tangan Dibi.


"Rileks aja!" Dibi berseluncur pelan ke belakang dengan Bunga ditariknya.


"Punggung Bapak nggak punya mata loh. Nanti nabrak orang bagaimana?"


Kecerewetan Bunga tak dihiraukan Dibi. Ia terus menggeret pelan Bunga yang sangat kaku karena masih takut takut jatuh.

__ADS_1


"Come on, Bunga. Jangan mau kalah sama tuh bocah. Dia nggak takut jatuh loh." Dibi memprovokasi.


Huu... Niat ngajarin nggak sih. Gerutu Bunga.


"Saya bisa. Coba lepas."


Dibi menurut sembari memberi instruksi ke Bunga cara memposisikan sepatu skating.


Gedubrak... Jatuh lagi.


Dibi tertawa kecil melihat Bunga ke duduk di lantai licin. Melihat tawa Dibi, Bunga malah terpana. Si galak ternyata bisa bersenang-senang. Bunga ikut menertawakan dirinya yang sangat bodoh dalam bermain.


"Tanteeeee.... Papaaaa!" Arpina berseru yang kebetulan berseluncur di dekat posisi jatuh Bunga. Gadis itu hanya membalas melambaikan tangan sejenak dan mencoba untuk berdiri, tetapi sepatu skating yang bawaannya baja, membuatnya kesusahan.


Dibi lagi yang membantu.


"Belajarnya di pinggiran saja."


Bunga hanya menurut. Setiap Dibi menggenggam tangannya, ada rasa aneh yang menghantam hangat jantungnya.


Dengan mata terus menatap Dibi, batin Bunga bergulat tanya di dalam sana, "Apakah mulut besar ku kualat? Tidak akan pernah menyukai seorang Duda tapi sekarang...? Come on, Bunga. Meski pun kamu suka, belum tentu dia membalas mu. Jangan baper, jangan baper, jangan baper."


Bunga memperingati dirinya sendiri agar sadar dari mimpinya. Jujur dalam hatinya, meski Dibi awal nya sangat meresahkan, galak dan dingin jadi orang, tetapi aslinya mah sangat baik terhadap orang yang sudah dicap nya dekat. Kalau tabiatnya memang buruk, Dibi tidak mungkin mengalah pada keinginan Arpina yang konyol. Namun, si Dube selalu sabar pada orang tersayangnya itu. Fixed, dia memang good looking and the perfeck man. Bunga harus mengakui itu.


"Saya di sini saja ya, Pak. Bapak boleh berseluncur." Bunga dan Dibi sudah sampai di pinggir arena. Adanya besi besi untuk berpegangan membuat Bunga sedikit bernafas normal karena terlepas tangannya dari genggaman Dibi. Jantungnya tiba-tiba bermasalah. Bahaya sekali buat kesehatan Bunga kalau terus bersentuhan meski cuma sekadar tangan doang.


Duh, boleh nggak sih Bunga berprasangka kalau Dibi itu perhatian padanya? Tapi, takutnya cuma perasaannya doang. Jadi, enyahkan. Jangan baper! Dua kata itu adalah mantra pengingat Bunga.


"Oh ya, Bunga." Baru kali ini, Bunga mendengar namanya disebut kalem oleh Dibi. Bunga jadi aneh mendengarnya. "Aku mau tanya!"


"Tanya apa saja boleh, Pak? Tapi jangan nanya nomer __eh, nggak jadi." Untung cepat sadar. Hampir saja Bunga mau mengatakan 'jangan tanyakan nomer dalama* segitiga biru saya.' Alhasil, air muka Dibi lah yang penasaran sekarang.


"Nomer apa maksudmu?"


"Togel, Pak."


Tuk...


Dapat ketuk manja lagi dahinya. Sabar. Dibi memang sesuka hati memegang area kepalanya yang sebenarnya sangat tidak disukai Bunga.


"Hobi banget ngejitak sih, Pak. Sesekali dikecup dong. Eh... Canda, Pak." Bunga segera meralat mulut tak berfilternya karena Dibi bergerak maju seolah-olah mau mengindahkan kalimat spontannya. Si Bapak lagi nafs* kali ya? batin Bunga.


Kecanggungan menyapa. Daripada diam diaman, Bunga menyibukkan belajar berjalan di lantai skating dengan tralis besi pegangannya.

__ADS_1


Dibi ternyata mengawasinya dari belakang.


"Pak, tentang calon istri yang di dengar Arpina, bagaimana tuh cara mengelaknya? Bapak cuma becanda kan? Ah, maksudnya Bapak cuma..." Tidak mau di dengar Denisa yang entah keberadaannya ada di mana, Bunga pun berhenti melangkah lalu sedikit berbisik ke Dibi dengan posisi sangat dekat," Cuma akting di depan Mbak Denisa, kan?" sambungnya.


"Kenapa kamu tidak mau punya jodoh Duda? Apa karena sudah gagal dalam pernikahan sehingga kesannya jadi buruk?" Alih alih menjawab, Dibi malah bertanya balik yang sedari awal memang kalimat tersebut ingin Dibi lontarkan. Ia ingin tau jawaban Bunga karena wanita itu kan selalu mengatakan penolakan terhadap duda duda mana pun.


Mode si Dube sangat serius serius penasaran yang Bunga tangkap. Pertanyaannya itu loh, mengusik hal pribadi Bunga. Tapi tenang, Bunga akan jujur demi memuaskan keinginan tahuan Dibi.


"Sebenarnya, Duda memang bukan hal hina bagi saya, Pak. Kesan saya juga bukan karena duda itu sudah gagal dalam berumah tangga sesuai kalimat Bapak tadi. Karena kegagalannya itu cuma 'masalalunya' bukan masa 'depannya.' Semua orang pasti ada kegagalannya dalam hidup, namun orang yang ingin maju, pasti tabiat kesalahannya tidak akan diulang bukan? " Dibi mengangguk.


"Cuma kan, saya atau kita semua yang ada di dunia ini mempunyai sifat manusiawi. Serba memilih dan juga tentu berhak memilih." Dibi setuju dengan kalimat kalimat masuk akal Bunga. Dan tumben wajah si sableng mendadak dua rius.


"Tapi kembali pada jodoh, bagaimana kalau jodoh mu duda? Akan lapang dada atau mau mati bunuh diri?" Biar tidak terlalu kentara sedang mengulik Bunga, Dibi sedikit memilih kata kata kasar. Demi janjinya ke Arpina, hari ini Dibi akan mulai membuka hatinya untuk siapapun kecuali Denisa yang sudah ketahuan busuknya.


Tukk...


Sekonyong-konyongnya, Bunga berhasil juga menjitak kepala Dibi dengan sedikit susah payah meraih tingginya Dibi. Pria itu hanya mendelik sembari memegang jidatnya. Memang tidak sakit, tapi cuma kaget. Bunga doang yang berani melakukannya. Memang langka gadis ini. Di mana wanita lain seperti Denisa yang suka nyari perhatian, Bunga malah nyari ribut padanya.


"Salah bapak sendiri!"


"Salah saya apa? Perasaan cuma nanya doang. Itu pun kalem loh." Dibi mengakui dalam diamnya, kalau cuma gadis ini yang bisa membuat perasaannya tumbuh bercampur aduk; kadang marah, kesal, jantungnya berdegub tidak jelas, cemburu melihat Bunga bersama Delon dan hal lainnya, yang selama berpisah dengan Pelangi, rasa itu sudah mati. Akan semua itu, apa dong namanya? Jelas itu cinta? Dibi bukan abg lagi yang harus mempertanyakannya dengan gamblang ke orang orang.


"Bapak salah karena pakai bawa bawa kata bunuh diri. Ngeri saya dengarnya loh, Pak__"


"Berarti akan lapang dada dong?" sergah Dibi bertanya tidak sabar.


"Jelas lah. Duda kan manusia, monyetnya itu perjaka yang dengan terang terangan membuat saya sakit hati __"


"Seperti Delon monyetnya?"


Duh, Denisa ada nggak ya? Bunga ingin mengiayakan tapi takut diamuk.


"Iya, Pak," jawab Bunga setengah berbisik dengan mata waspada ke sekeliling area. Alhamdulilah, si Mbak bermuka dua, batang hidungnya memang sudah tidak ada. Mungkin rencana mereka berdua berhasil, pikir Bunga lega.


Dibi tertawa kecil mendengar jawaban setengah takut takut Bunga. Lalu kembali menggoda gadis tersebut dengan berkata, "Kalau Delon monyet, saya apa?" Dibi berharap, Bunga menganggap dirinya sedikit spesial.


"Gorila...!"


"Hah...? Apa apa?" Mulai terlihat galaknya Pak Pol ini. Bunga segera meralat. "Maksud saya galak seperti gorila, hehe... Pis, Pak. Jangan marah."


Dari pada dijitak oleh Dibi lagi, Bunga lebih memilih menjauh dengan susah payah berselancar takut takut di arena skating itu.


Dari arah yang masih sedikit jauh, Denisa datang dengan penyamaran apik. Terus memacu kecepatan skatingnya yang berniat mencelakai Bunga. Pelajarannya adalah ingin membuat Bunga merasakan keseleo parah dengan dalih kecelakaan sesama skating.

__ADS_1


"Minimal satu bulan kaki mu akan digips, Bunga. Sukur sukur, patah tulang."


Dan... Bugh...


__ADS_2