Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
T A M A T


__ADS_3

"Sah...!"


Sah...


Sah...


Sah...


Bunga terus mengulang satu kata itu dalam hatinya. Meyakinkan dirinya kalau hari ini, ia sudah resmi menjadi istri Dibi.


Ya ampun, benar-benar kejutan yang Bunga alami di hari wisudanya. Pernikahan kilat yang saat ini Bunga alami terlalu ekstrim menurutnya. Bagaimana tidak, aula yang tadinya dipergunakan rangkaian acara wisudahan para mahasiswa, kini menjadi tempat saksi bisu pernikahannya pun dengan Dibi.


Lamaran terjadi tiga jam yang lalu, dan waktu sesingkat itu, keluarga besar Dibi yang berduit dan mempunyai kekuasaan di para bidangnya, berhasil mendatangkan Bapak penghulu dan saksi penting yang lumayan kondang di daerah Bunga itu, juga amunisi hajat didatangkan dari tiga tempat restoran berbeda, serta warung nasi padang di sebelah kampus pun jadi catring dadakan, supaya sat set sat set, biar para mahasiswa yang keluarga Dibi anggap adalah tamu istimewa Bunga di hari pentingnya, terjamu dengan baik.


Kalau ditanyakan, kenapa Dibi bebas memakai aula besar di kampus nya itu, ternyata usut punya usut, pak Rektor kampus adalah Eyang Arpina dari Pelangi - Mamanya katanya. Dia adalah Pak Radja Batara. Bunga tak mampu berkata kata lagi, melongo dibuat kenyataan yang ada.


"Selamat ya, Bunga. Untuk mu juga, Pak."


Selamat, selamat dan selamat dari para teman wisudaannya yang masih memakai toga seperti Bunga, terus tercuat untuk kedua mempelai. Baju pengantin Bunga unik di tahun ini, adalah toga.


Dara dan Farah girang sekaligus sedih. Tidak ada lagi teman sableng yang bebas untuk mereka ajak ngeghibain para cowok cowok idola Korea mereka. Adanya nanti, Dibi akan memarahi mereka. Dan untuk Delon, pria itu patah hati dibuat Bunga tanpa cewek itu sadari. Hem ... sepertinya ia mendapat karmanya secara tunai. Waktu itu kan Bunga yang sakit hati padanya, tapi sekarang ia merasakan itu. Baru juga ingin pedekate, Dibi datang dan langsung menghalalkan. Yawislah, bukan jodoh namanya. Tidak mungkin juga Delon mengatakan 'Kutunggu jandamu.' Rugi dong. Apalagi kalau Bunga jadi jandanya nanti kalau uda keriput? Keburu loyo lah anunya di bawa sana. Terima saja kekalahan.


Pasang muka ceriwis untuk Bunga, lalu memberi doa baik. Untuk Dibi, hem... Senyum dikit aja. Salim dan langsung turun bergabung dengan sesama tamu yang sedang rasmanan menikmati makanan enak enak.


Semua orang sudah memberi kata selamat. Dibi sebenarnya ingin mempertanyakan pada Bunga tentang foto yang Bi Muna kirim, melihat foto yang terkesan Delon merangkul istri nya, Dibi kebakaran jenggot, tapi melihat kekalahan Delon saat ini juga, ia pun memutuskan untuk tidak membesar besarkannya lagi.


"Kita ke sana, yuk," ajak Bunga. Tangannya itu digandeng terus oleh Dibi. Bucin rupanya si Dube ini


Emak terlihat di antara keluarga Dibi, sesekali mengusap air matanya. Arpina yang capek memberikan tissue, perhatian juga anak sambungnya itu ke Emaknya. Bunga makin sayang ke anak Dibi. Semoga nanti, kalau dia punya anak kandung, ia tetap bisa menjadi ibu yang adil untuk Arpina.


Emak dan Bunga kembali berpelukan.


"Kalau Emak nangis terus, Bunga jadi nggak rela tumbuh besar dan berujung dinikahi pria, Mak. Bunga mau jadi anak anak terus jadinya."


"Hustt... Diam, Emak hanya menangis haru, bukan sedih." Emak membalas bisikan Bunga. Merasa menjadi tontonan keluarga Dibi, Emak pun melepaskan pelukan mereka dan segera melempar senyum kikuk.


"Karena serba dadakan, tiket bulan madunya hanya ke Bali saja. Mau pesan tiket luar negeri, kata Emak, Bunga belum ada paspor dan visa. Ambillah!" Bintang, mertuanya itu menyodorkan sebuah amplop ke arah Bunga. Dibi mengangguk, kode untuk Bunga.


"Te-terimakasih, Nyonya." Bunga masih canggung rasanya berada di antara orang kaya. Namun dalam diamnya, Bunga merasa kagum pada keluarga Dibi yang rasa rasanya tidak mempunyai kesombongan. Mereka menerimanya dengan mudah sebagai menantu. Ingin rasanya Bunga bersujud syukur ke lantai, tapi takut dibilang lebay. Cukup jaga sikap aja dulu, biar nggak malu maluin.


"Jangan nyonya dong. Tapi panggil saya 'Mama.' Seperti Dibi." Bintang tersenyum. Anggun sekali, batin Bunga.


"Tunggu apalagi? Segera pergi, Dibi. Penerbangan ke Bali tinggal ada satu di hari ini. Nanti telat loh." Seru Dirgan.


Dibi menurut. Tanpa membawa bekal apapun, keduanya berjalan meninggalkan gedung.


Seperti ada yang terlupakan, Bunga menoleh ke belakang. Ah, Arpina kok terlupakan.


" Pin, ayo ikut kami!" ajak Bunga. Arpina tersenyum girang. Siap berlari, tapi seruan kompak, "JANGAN...!!!" Terdengar nyaring dengan Dirgan segera menggendong cucu nya yang kebingungan itu.


"Apa yang salah?" Bingung Bunga lirih.


"Opa, Arpina mau ikut. Kan diajak liburan." rengek Arpina tidak paham dengan wajah wajah penolakan orang dewasa di depannya.


"Nggak boleh, Pin."


"Mengapa, Eyang Meca juga melarang?"

__ADS_1


Gimana ya cara menyampaikan ke bocah itu tanpa mengotori pikiran sucinya.


"Karena Mama dan Papamu mau buat adik!" Alamak ... Emak Dahlia nyamplak amat. Buru buru Emak membekap mulutnya karena ditatap langsung oleh semuanya. Bunga yang mendengar hal tersebut, jadi merona. Ia juga baru sadar arti bulan madu adalah... Huawaaaa... Pasti sakit katanya. Dan... Iihh... Bunga bergidik ngeri ngeri membayangkan nasibnya dibawa tindihan Dibi.


"Ouh, ngomong dong kalau mau beli dedek dan menaruhnya di perut Mama dulu. Arpina nggak jadi ikut deh. Takut nyusahin Papa dan Mama. Dadah.... Pa, Ma. Hati hati dan cepat beli dedeknya ya."


Tapi ampuh juga keceplosan Emak Dahlia. Arpina tidak merengek dan murung lagi.


Dan akhirnya, Bunga dan Dibi pun berada di perjalanan menggunakan mobil pesanan online karena Dibi memaksa tidak ada yang boleh repot mengantar mereka ke bandara.


" Eh, kok kita berhentinya di hotel? Bunga menatap penuh tanya ke samping.


" Emangnya, kamu mau duduk capek di bandara sampai jam satu malam? "


Oalah, jadwal penerbangan mereka tengah malam toh. Sementara, sekarang baru jam lima sore.


Bunga hanya pasrah ngikut saja apa kata suami. Berkah ini.


Sampai di dalam kamar hotel. Dibi langsung saja buka kancing.


"Ba-bapak, mau apa?" Deg degan sekali Bunga.


"Bapak, bapak. Ganti ah." Di omelin lagi.


"Iya, Aga mau apa buka baju segala?"


Oh, ternyata Bunga berpikir ke anu anu, padahal ia kan cuma merenggangkan kemeja batik di tubuhnya. Goda ah.


"Menurut mu, aku mau apa, eum?"


Matilah dirinya. Duh, Dibi ini sat set sekali jadi pria. Main elus elus pipi. Tenggorokan Bunga jadi kering deh karena grogi sekali. 'Tenang, Unga. Tarik nafas, buang. Dia adalah suami mu sekarang. Dan kamu mencintainya. Jangan jadi seperti ayam kejebur got, imbangin dong.' Suara hati Bunga menjadi pil sakti untuknya.


Eh, ngapa reaksi Bunga cepat berubah. Malah jadi agresif dengan tangan isteri nya ini melingkar di leher.


"Ayo, tapi ajarin ya. Aku pemain baru loh. Main bolanya yang lembut. Terus, pakai hati masukin ke gawangnya." Meringis Bunga menyadari kalimat ambigunya yang terkesan nakal. Tapi kan, Dibi yang mulai. Dibi menjual, ia hanya membeli.


Dibi yang sekarang ketar ketir gemetaran. Bisikan Bunga tepat di kupingnya malah membuat adiknya on.


Serang sekarang aja lah. Eh, tapi belum mandi. Nanti kalau bau asem, Bunga nanti nggak nyaman.


"Aku gerah. Mau mandi!"


Bunga ingin tertawa melihat reaksi Dibi yang salah tingkah. Rebahan enak kayaknya di kasur empuk tersebut.


Baru juga tujuh menitan, Dibi sudah muncul dengan handuk melilit di pinggang. Terlena Bunga melihatnya. Jangan berkedip, keburu Dibi pakai baju dan nanti bisa rugi.


"Jangan ngeces begitu lihat otot ku. Kalau mau, pegang saja."


Ketahuan. Malu deh.


"Saya mau mandi, permisi." Bunga yang sekarang seperti orang bodoh. Salah tingkah sampai nabrak pintu yang masih tertutup rapat. Gara gara dada dan perut sixpack Dibi yang silau, berujung benjol kening Bunga.


Dibi tersenyum geli melihat hal tersebut.


Mumpung Bunga lagi mandi, Dibi lanjut olahraga ringan, supaya kuat tidak salah otot saat lagi banting banting manja Bunga di kasur.


"Satu dua, satu dua..." Hanya Dibi yang tau hitungan satu dua satu dua tanpa tiga yang saat ini sedang push up.

__ADS_1


Kok capek ya, tapi Bunga belum tanda tanda keluar dari kamar mandi.


Tungguinnya rebahan aja. Dibi sampai terpejam.


Ceklek...


"Selamat dari bela duren. Dia sudah tidur," batin Bunga yang sebenarnya masih ngeri melakukan wik wik. Di dalam kamar mandi tadi, ia itu lagi sibuk nanya ke Dara lewat chat.


'Gimana rasanya malam pertama, coba tanyain Emak mu, Dar?' sakit, jawabnya.


'Sakitnya seperti apa?' di gigit kerbau.


Kurang percaya sama Dara, iseng iseng Bunga juga chat Farah dengan pertanyaan yang sama. Satu sahabatnya itu mengatakan, 'Kata Ibu ku, enak. Tapi nanti nggak bisa jalan.'


Duh, kakinya kan baru sembuh beberapa minggu yang lalu. Masa nggak bisa jalan lagi sih.


Ah, bodo lah. Daripada pusing sendiri, lebih baik ikut bobo di sebelah Dibi dengan pergerakan pelan sekali. Ia cuma memakai bathrobe dengan handuk kecil melingkar di kepala sebagai ganti hijabnya yang tidak punya baju ganti.


Grebbb...


"Siap...?!" Sekonyong-konyongnya, Dibi berbalik dan langsung memeluknya. Bunga yang kaget hanya bisa mematung. Bodohnya, ia refleks mengangguk tadi karena kaget.


"Sakit nggak? Jangan kejam kejam sampai buat saya nggak bisa berjalan ya, Aga? Terus, awalnya saya harus apa? Harus buka mata atau merem aja biar nggak lihat ... 'itumu'." Bunga bingung harus memuaskan suaminya seperti apa, kan ini perdana pertamanya.


Dibi tersenyum tipis, lalu lanjut berkata, "Cukup kamu ekspresikan apa yang kamu rasakan. Selebihnya biar saya yang bekerja."


Bunga pasrah dalam perasaan campur aduk. Apalagi tangan Dibi mulai nakal dengan wajah semakin dekat ke bibirnya. Tutup mata ah ... Biar nggak serem dan ketahuan malunya.


Saling berpagut. Bunga tadinya diam bae. Tapi lama lama kok ada hasrat yang menuntun ya? Ia balas pagutan Dibi meski masih kaku. Terjadilah tragedi kasur yang awut awutan. Pegang sana sini, Bunga dibuat gila yang baru kali ini ada rasa aneh itu yang ia rasakan.


Saat intinya dimulai, jlebb...


"Aaarggh... Sakit... Perih!" jeritan itu hanya di dalam hati, karena Dibi tidak mau melepaskan bibirnya. Mungkin digigit kerbau yang dimaksud Mama Dara, seperti itu kah rasanya?


Eh, kok lama lama enak ya?


Dibi akhirnya jumawa saat suara manja Bunga mengalun indah tepat di telinganya.


"Aga... Enak...!" katanya nagih setelah pertempuran di ronde pertama selesai. Dibi tergelak.


"Nambah lagi nggak?" goda Dibi pura-pura bertanya karena sengaja ingin tahu sampai mana kapasitas dirinya memanjakan istri ceplas ceplosnya ini.


"Yuukkk..."


Tuh kan, Bunga memang nyaplak. Apa yang ada di otaknya, ceplos saja tanpa jaim jaim meski itu urusan ranjang.


Dan wik wik lanjut lagi.


Mana yang katanya digigit kerbau dan tidak bisa berjalan? Enak begini kok ditolak. Huu... Dara dan Farah pasti bohong deh, mereka itu pasti cuma jawab tanpa bertanya ke para Emaknya.


Tapi saat keesokan harinya yang di jam dini hari, Dibi dan Bunga memutuskan gagal penerbangan ke Bali karena nanggung enak enaknya, suara ringisin ... aww ... aww, terdengar dari mulut Bunga. Ia yang ingin ke kamar mandi, jadi risih berjalan dan berujung duduk ngenes di tepi kasur.


"Aww aww mulu, mau nambah lagi?" Dibi berkata tanpa membuka mata karena kelelahan. Semalam, ia dibuat kualahan oleh hasrat Bunga yang tinggi rupanya. Lagi dan lagi mintanya. Encok Dibi dibuatnya bergoyang di atas.


"Aga, kamu membuat ku susah berjalan__" Bugh...


Bunga malah ditarik masuk selimut lagi oleh Dibi.

__ADS_1


Lanjut bobo... dan...


End ajalah...


__ADS_2