
Gradaak....
"Loh, Mbak? Kok di dalam bagasi?" Delon terkejut hebat melihat Denisa meringkuk di lantai. Ia kira putri duyung kehabisan air.
" Kenapa lama sekali pulangnya?! " Dengan dongkol, Denisa bersungut sungut memarahi Delon yang pulangnya jam sebelas malam. Itu tandanya, ia terkurung di bagasi hampir empat jam. Gila!
"Tapi, kok bisa?" Delon masih penasaran. Motor segera ia masukkan ke bagasi lalu segera mengejar langkah Denisa yang sudah berjalan lemah, masuk ke dalam rumah. Kakaknya harus bercerita, atau sepanjang malam dia akan menggangunya.
Ceklek...
"Mbak, apa yang terjadi?!"
***
Buka pintu ruangan putih khas rumah sakit, Dibi sudah mendapati dua wanita berbeda umur di atas bed sama sama terpejam.
Deg...
Tunggu dulu! Arpina yang dipeluk Bunga dengan kepala anaknya itu berbantalkan lengan gadis yang tidurnya setengah mulut terbuka bin mangap, tapi kenapa jantungnya yang berdetak tidak karuan? Apakah ia terpana dengan sisi keibuan Bunga?
"Aneh." Dibi bergumam pelan merutuki dirinya. Sekarang, Dibi sudah paham, kenapa Arpina teramat suka dengan Bunga dengan alami sebab mungkin gadis itu memiliki sisi keibuan yang tulus meski masih muda juga.
Melihat selimut tidak terpasang, Dibi pun bergerak untuk memakaikan Arpina sekaligus untuk Bunga. Satu selimut berdua. Tanpa sengaja, mata Dibi menatap lamat lamat wajah polos Bunga. Cantik sih, tapi tidurnya ngeces. Jorok amat. Dibi ilfil dibuatnya. Dibi menyamakan tidur Arpina dan Bunga. Tuh kan, anaknya memang jelita, tidur pun terlihat indah seperti ... Ah, lupakan mantan istri yang sudah bahagia bersama Papa tiri anaknya.
Kembali lagi menyamakan tidur dua orang di depannya, mulut Arpina terkatup tidak seperti Bunga yang menganga. Untung ruangannya bebas dari nyamuk, bisa jadi mulutnya Bunga yang menganga itu dijadikan goa nyamuk. Iseng, Dibi mendekatkan wajahnya karena penasaran Bunga sedang bergumam entah apa?
"Love you to. Muaach..." Iihhh ... Untung atau rugi? Dibi dapat ciuman pipi oleh Bunga yang mengigo.
"Pasti dia mimpi jorok!" Dibi menjauh sembari mengelap pipinya yang ketempelan sedikit air liur gadis urakan itu.
"Ehem ... Curi cium nih yeee!"
Deg... Dibi tersentak. Suara di belakang punggungnya tidak mungkin Pelangi kan? Pergilah setan. Ia sudah mati matian membunuh perasaannya untuk Mama Arpina loh. Jangan membuatnya berhalusinasi.
"Kenapa kamu tidak mengabari ku, Kak Dibi, kalau Arpina masuk ke rumah sakit? Kalau aku tidak menelpon ke hape Arpina dan diangkat sama wanita yang namanya Emak Dahlia, aku mana tau Arpina masuk ke rumah sakit!"
__ADS_1
"Ah, Pe-Pelangi?" Sepertinya, Dibi tidak berhalusinasi. Pelangi ada di depannya saat ini dengan tampang susah dibaca.
"Jangan bilang, kamu menganggap ku setan?" tebak wanita yang cuma seorang diri di depan pintu itu.
Dengan konyol, Dibi mengangguk jujur. Pelangi memelotot, sejurus mendekat dan segera mencubit lengan Dibi.
"Aww..."
"Nah, kan sakit? itu tandanya aku bukan setan."
Oke, mode serius. Jangan sampai kedatangan Pelangi cuma mau mengambil Arpina.
"Kita bicara di luar. Biar tidak menggangu istirahat Arpina."
Wanita yang cuma datang bersama supir itu, tidak langsung menurut. Pe melihat secara dekat Arpina dan Bunga secara bergantian. Cantik, gumamnya memuji tampang polos Bunga.
"Arpina baik. Besok siang sudah boleh pulang."
Pelangi bernafas lega mendengar pertanyaan Dibi. Sebenarnya, kronologi Arpina masuk ke rumah sakit sudah ia dengar dari Emak Dahlia. Tapi, namanya juga orang tua, Pe tetap cemas dan harus melihat secara langsung kondisi anaknya meski tadi Emak mengatakan kalau tidak ada hal serius untuk dicemaskan.
"Kita memang perlu bicara serius, Kak Dibi. Ayo, cari tempat nyaman untuk mengobrol."
"Jangan bawa pergi Arpina, Pe!" Straight to the poin. Dibi takut akan hal itu.
Senyum tipis tersemat di bibir nude Pelangi. Dalam hati, ia berkata, 'Aku tidak seegois itu, Kak Dibi.'
"Belum genap satu bulan, Arpina ada bersama mu, Kak. Tapi ku rasa, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mu atau hal lainnya. Fine, Arpina celaka juga tidak sepenuhnya salah mu, tetapi sebagai wali anak yang dibawa umur, tetap saja kamu yang akan disalahkan atau dicap tidak becus dan lalai dalam pengawasan."
Sudah terkesan sangar dan tegas belum ya? Pe lanjut bergumam mempertanyakan sikapnya yang ia buat buat sok menakutkan untuk Dibi. Sebelum berangkat, Bintang - Mama Dibi itu memberi tugas untuk membuat Dibi tertekan, ke arah pasangan hidup. Dibi perlu didesak katanya. Pe yang sebenarnya juga kasihan melihat mantannya ngejemblo mulu, mau mau saja membantu Bintang dan Arpina dengan berpura-pura akan menarik Arpina kembali kepengawasannya.
"Pe, aku__aku ..." Dibi kehilangan kata kata karena semua kalimat Pe memang benar. Seorang laki-laki yang single dad sepertinya ini, tidak bisa dua puluh empat jam mengawasi Arpina. Piye toh?
"Arpina sering chat aku, kalau dia punya tetangga baik. Apa orangnya yang tadi kamu cium?"
Dibi langsung mendelik ke samping, menatap kesal ke Pe yang menaik turunkan alisnya untuk menggoda.
__ADS_1
"Dia yang cium pipi ku. Mungkin dia lagi mimpi jorok." Dibi menjelaskan sembari mengelus pipi bekas kecup nafs* Bunga.
Pe tersenyum geli dalam hati. Kembali ke tampang seriusnya lalu berkata, "Kenapa kak Dibi tidak mencari ibu tiri yang baik untuk Arpina saja. Supaya Arpina ada yang jaga kalau kak Dibi bekerja? Cewek tadi kayaknya cocok!"
"Aku nggak ada rencana mau nikah?"
"Karena gagal move on padaku?" Tanpa tedeng aling aling, Pe mengatakan gamblang.
Dibi gelagapan. Membuang muka tinggi tinggi ke langit berbintang.
"Jangan pede. Aku lebih nyaman seorang diri."
"Oh, berarti Arpina pun akan aku bawa pulang ke Jakarta. Kan maunya seorang diri."
"Pe!" Suara Dibi sedikit meninggi. "Kamu di sana sudah sempurna, ada Sky dan Guntur. Jangan tega padaku, Pe."
"Tidak, Kak. Aku tidak tega. Dan tanpa Arpina, kami tentu belum sempurna. Sky memang ada tapi Arpina pun harus ada. Kalau Kakak tidak memberi yang terbaik untuk anak kita, maka maaf...!"
Dibi mematung. Terbaik, terbaik dan terbaik? Itu tandanya, ia harus menikah dengan pilihan Arpina? Asem, Bunga orangnya? Dibi meringis dalam hati. Entah bagaimana hari harinya kalau setiap detik bersinggungan dengan gadis sableng itu. Pasti sakit kepala dibuatnya.
"Aku butuh waktu kalau soal pasangan hidup. Aku takut gagal dan berujung __"
"Menyakiti wanita mu lagi?" Pelangi menyambar. Dibi mengangguk jujur. Perceraian memang ada diantara mereka, tetapi persahabatan mereka terjalin apa adanya sedari orok.
Intinya, mantan suaminya ini trauma. Itulah yang Pe tangkap. Dengan persahabatan, Pe menyentuh punggung tangan Dibi yang mereka memang duduk bersebelahan di kursi taman itu.
"Sampai kapan kamu butuh waktu?"
Dibi menghela nafas berat. Ia hanya diam.
"Sampai Arpina tumbuh menjadi seorang gadis dewasa?" Pe tersenyum ejek. "Punya suami dan sampai kamu punya cucu?"
"Kamu jadi cerewet, Pe." Dibi mendengus kesal. Anehnya, mantannya kembali menertawakannya.
"Ku anggap kamu gagal move on padaku, Kak Dibi. Apa melotot? Memang nyatanya begitu." Pelangi semakin bersemangat memojokkan Dibi.
__ADS_1
"Ish, nyebelin!" Dibi berdiri dari kursi. "Nanti aku cari dua istri sekaligus! Atau perlu tiga biar kalian pada senang." Lalu pergi begitu saja meninggalkan Pelangi yang menahan tawa gelinya.
"Uda tua tapi gemar ambekan." Pelangi geleng geleng kepala.