Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 23# Ditembak Panah Asmara


__ADS_3

Sudahlah, meski acara berduaannya Bunga dan Delon diganggu oleh the devil yang tak tau diri seperti Dibi ini, Bunga berusaha menghibur sedikit dirinya dengan cara menikmati film horor yang disuguhkan di depan layar lebar sana. Sayang dilewatkan juga, karena memang film ini lagi tenar diperbincangkan banyak orang. Kurang up to date kalau Bunga tidak mengikuti global perfilm-an.


Cukup menguji nyali film horor yang dipertontonkan itu. Saat wajah hantunya muncul tiba-tiba memenuhi layar berukuran lebar tersebut dengan mata bersinar horor, "Argh..." Bunga dan beberapa orang kompak menjerit refleks tertahan. Seramnya nggak ketulungan, seramya Dibi kalah. Batin Bunga membedakan antara pria itu dan hantunya.


Delon cemberut. Mengumpat 'Sial' dalam hati untuk Dibi. Lihatlah, harusnya Bunga menyembunyikan wajahnya yang takut itu ke dalam dadanya, bukan ke dada Dibi. Itulah kenapa Delon mengajak Bunga menonton film horor alih alih nonton yang romantis, ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Kan lumayan grep* sedikit juga. Dasar duda tua nggak tau diri. Huu... Sayangnya, Delon hanya berani memaki dalam hati.


"Ehm..." Dibi berdeham pelan untuk menyadarkan Bunga yang berhasil membuat tubuhnya menegang dan jantungnya terasa dag dig dug ser. Namun, Bunga yang masih takut takut penasaran akan isi filmnya, tidak menyadari dehaman peringatan Dibi. Terlalu nyaman bersandar di dada keras Dibi sembari menoleh takut takut ke layar. Intip film, sembunyi lagi di dada Dibi, Bunga melakukan aksi konyol seperti hal tersebut dalam beberapa kali tanpa sadar posisi intim itu. Anehnya, Dibi tidak lagi melarang, kasihan juga anak gadis orang, takutnya mati mendadak karena ketakutan setan fiksi.


Delon yang melihat itu, semakin cemberut akut. Kesempatan enaknya direbut Dibi. Kampret lah.


Drrrt...


Kekesalan Delon buyar saat hapenya bergetar tanda ada rington.


"Gimana, sukses?" baca Delon di chat oleh Denisa.


"Sukses apanya, pria yang Mbak taksir ada di tengah-tengah kami. Gangguin rencana!"


"Hah...maksudnya, Dibi ada bersama kalian?"


"IYA! LAGI PELUK PELUKAN."


Bah... Denisa terbakar hati membaca chat kapital Delon. Sial, adiknya sudah rela berkorban dengan cara menyuruh Delon menjadikan Bunga kekasih, tapi Dibi menjadi pengacaunya secara langsung. Tidak bisa dibiarkan. Mendekati Dibi terasa susah, bagaimana kalau ia berusaha mendapatkan hati Arpina. Ide bagus. Nanti akan Denisa coba.


"Pokoknya, Bunga harus kamu jerat, Delon. Mbak tidak mau tau. JANGAN CEMEN! masa naklukin cewek sekelas Bunga tidak bisa? Mbak lihat lihat lewat jendela tadi, Bunga itu sangat antusias loh diajak jalan sama kamu. Mungkin dia sebenarnya ada naksir kamu. Manfaatkan itu! MENGERTI KAN? awas kalau gagal, Mbak nggak mau kasih uang lagi."


Delon hanya me-read tanpa niat membalas chat Denisa yang mengandung ejekan. Baiklah, kali ini Delon tidak akan mengalah dengan Dibi lagi. Bahaya juga kalau Kakaknya menghentikan biaya hidupnya yang memang sang kakak itu lah yang sekarang menjadi wali tunggalnya.


"Dada ku nyaman?" tanya Dibi, ejek.


"Hah...?" bisikkan Dibi tepat di kupingnya membuat Bunga tersadar akan posisinya yang sangat dekat pakai banget.


Cepat cepat, Bunga menegakkan duduknya. Wajahnya merona malu, syukurnya tidak terlihat oleh Dibi karena lampu bioskop memang remang.


"Dada saya nggak gratis."


Apa maksudnya tuh? Bunga pura pura tuli.

__ADS_1


"Setelah nonton, kamu pulangnya sama saya."


"Nggak bisa gitu. Kami masih ada acara setelah ini." Delon menyela dengan cara ikut berbisik bisik. Di ruangan itu memang dilarang mengobrol sesuka hati.


"Bodo amat..." Dibi menjawab cuek ke Delon. Kembali ia berbisik ke Bunga, "Atau kalau membangkang, maka saya minta uang bayar kuliah kamu dibalikkan." Bisikan Dibi kali ini, hanya Bunga yang mendengarnya karena Dibi masih tau arti privasi.


Bunga menoleh cemberut dengan tampang tak berdaya. Auto kicep Bunga nya kalau sudah membahas uang. Secara, ia kan cuma anak Emak yang tukang penjual jamu kiosan. Penghasilan pas pasan dan untuk membayar kuliah pun kadang masih kepepet.


Film sudah hambar ditonton oleh Bunga karena kepikiran ancaman Dibi yang meminta uangnya kembali. Uang dari mana coba?


"Apa lirik lirik?"


Tau aja si Dube lagi diberi tatapan sinis secara diam diam. Tapi, Bunga kembali memfokuskan secara paksa untuk menonton horor di depannya sampai film sampai ending


Semua penghuni ruangan itu pun keluar seperti berlomba lomba antri sembako. Bunga sendiri ingin lenyap seketika sampai rumah. Lemas dan letih. Harinya bersama Delon benar-benar hancur karena Dibi.


Eh... Bunga terkesiap. Delon mengambil kesempatan kelengahan Dibi yang sedang membaca chat. Tiba tiba ia menarik Bunga sangat cepat dan masuk ke kerumunan orang orang, membuat Dibi kehilangan jejak.


"Delon, kita mau kemana?" Bunga ragu, antara ikut atau menemui Dibi saja yang di belakang sana celingak celinguk pasti mencarinya.


"Ke tempat yang sweet. Pasti kamu suka karena kita cuma berdua tanpa Dibi."


"Dasar gadis sableng. Tuli kali ya. Padahal uda diancam juga." Dibi mendumel. Bunga sangat pembangkang menurutnya. Malas memutari Mall, Dibi pun memutuskan untuk pulang karena Arpina sudah terlalu lama ia tinggal di saat Pelangi ada di rumahnya, takutnya Arpina malah dibawa pergi sama mantan istrinya itu tanpa persetujuannya.


***


Delon membawa Bunga ke sebuah cafe yang cukup terkenal dengan pengunjung lumayan ramai.


Pria itu bernafas lega karena Dibi kali ini tidak akan mengganggu rencananya. Dengan senyum manis, ia menarik kursi untuk Bunga duduki. Lanjut ia pun menghempaskan pinggulnya dan segera memesan makanan untuk mereka berdua.


"Mau pesan apa, My sweety?"


So cute sapaan Delon padanya. Bunga segera menatap Delon tepat di netra coklat pria berjaket denim di depannya itu. Apakah Delon punya rasa padanya sampai panggilannya terdengar romantis?


Perasaan Bunga melambung indah meyakini Delon punya rasa padanya.


"Menunya samain saja." Bunga menjawab gugup. Salah tingkah diberi tatapan intens terus dari Delon.

__ADS_1


Sang waiters pun mencatat pesanan Delon. Setelahnya pergi. Sejurus, Delon berdiri dari kursi.


"Mau kemana?" tanya Bunga. Jangan bilang Delon akan meninggalkannya di cafe itu sendirian.


"Lihat saja nanti." Dip dip. Kedipan maut Bunga dapatkan dari Delon. Karena Bunga ada rasa, jelas itu sudah mampu membuat hati Bunga terasa bersalto salto ria.


Apa yang dilakukan Delon sampai harus naik ke panggung yang terdapat ada pemain band cafe di atas sana. Pakai bisik bisik segala lagi sama pemusik piano itu.


Jangan jangan...?


Tuh kan benar, Delon mau nyanyi dan katanya akan dipersembahkan untuk wanita yang berhijab di pojok sana. Lantas, Bunga menutup malu malu wajahnya saat semua mata pelanggan mencuri pandang ke arahnya. Pipi Bunga merona pink saat Delon melantungkan lagu yang berjudul 'love you still'.


Oh my good... Bunga shock tapi senang saat Delon mengatakan cinta untuknya di sela sela musik romantis yang masih mengalun indah. Mimpi nggak sih seperti tempo hari itu? Eh, nggak dong. Secara paha yang ia cubit diam diam di bawa meja sana terasa sakit. Sampai, Delon pun berada di depannya dengan senyum manis menatapnya.


Terima...


Terima...


Terima...


Koor dari pengunjung bersorak berirama memojokkan Bunga untuk menerima katanya.


Karena Bunga memang ada rasa, jelas Bunga menerimanya dengan anggukan malu malu tapi mau.


Tepuk tangan meriah menyambut. Perasaan Bunga bercampur aduk. Bahagia jelas saja, sangaaaaat bahagia malahan sampai Bunga kehilangan kata kata. Tidak ia sangka sangka Delon menembaknya dengan cara lumayan berani di depan umum yang sangat meyakinkan Bunga kalau Delon pasti bersungguh-sungguh padanya. Hati Bunga melambung jauh ke langit.


Tanpa Bunga sadari, Arpina, Pelangi dan Guntur - Papa tirinya yang baru sampai beberapa jam yang lalu, telah berada di cafe yang sama. Menyaksikan sedari tadi aksi Delon yang menggombali Bunga habis habisan.


Tadi, Arpina memaksa makan diluar karena katanya bosan memakan masakan rumah. Arpina yang manja karena baru sembuh dan sering uring uringan, terpaksa keinginannya dikabulkan Pelangi dan Guntur. Alhasil, pandangan kecewa ke arah Bunga yang sudah digiring ke panggung oleh Delon, tertuju sengit ke pasangan kekasih yang baru jadian itu.


"Pin, Pin, mau kemana, Nak? Jangan!" Pelangi menggeleng tegas sembari menahan tangan Arpina yang mungkin akan berbuat ulah.


"Biarkan, Ma. Biarkan Arpina berbuat apa saja yang penting tau artinya tanggung jawab. Paham kan, Pin, kata kata Papa?" Cara didik Guntur ke anak kandung maupun anak tirinya adalah kebebasan dengan catatan 'segala perbuatan maka harus diiringi rasa tanggung jawab.' Sedari dini, Guntur sudah menanamkan dasar rasa tanggung jawab ke anak anaknya.


"Paham, Pa." Arpina menjawab lirih sembari mengangguk ke Guntur. Pe pun tidak bisa menahan anaknya karena mendapat pembelaan dari suaminya.


Langkah bocah yang perasaannya sedang kecewa itu pun, beranjak ke arah depan panggung. Di mana, Delon masih bernyanyi untuk Bunga yang berdiri salting di sisi Delon.

__ADS_1


Deg...


"Ar-Arpina?" Bunga tiba-tiba tidak enak hati saat menyadari tatapan Arpina terpancar sedih nan berkaca kaca memandangnya.


__ADS_2