
Emak sudah pulang dari jual jamunya di pukul 9 malam. Alhamdulilah cepat habis. Lampu rumahnya masih gelap. Kenapa Bunga tidak menyalakannya? Membantunya berjualan di kios pun, tidak sama sekali datang. Tumben sekali anaknya jadi ratu pemalas.
"Bungaaaa!" Setelah lampu dinyalakan, Emak berteriak. Perasaannya langsung dirundung hal negatif. Apa iya anaknya belum pulang? Tidak biasanya.
Cek kamar, kosong. Ah, lupa! Kan tadi rumah masih dikunci waktu pertama kali masuk. Fixed, Bunga belum pulang.
Tut...
Nelpon pun yang ngomel ngomel operator karena sisa pulsa Emak satu perak doang.
Berujung, Emak mondar mandir di teras menunggu kepulangan Bunga sembari menghafalkan kalimat positif, "Bunga pasti baik baik aja." Padahal otaknya sudah kalut berpikir negatif kemana mana. Apalagi berita lagi marak mengabarkan penculikan anak sampai orang dewasa pun jadi target. Diambil organnya sampai mata mata pun dicongkel. Emak langsung nangis kejer membayangkan Bunga jadi korban penculikan.
Kamar Arpina yang ada di lantai dua dengan balkon langsung menghadap ke pelataran rumah Bunga, masih terbuka pintunya. Lantas penghuni di dalamnya mendengar samar samar orang menangis. Arpina kok merinding. Ada kuntilanak lagi nangis. Iihhh ... Arpina bergidik ngeri. Bulu kuduknya berdiri. Lagi belajar pun sudah tidak konsentrasi. Cepat cepat ia menutup buku paket dan berdiri dari meja belajarnya. Ngacir ke arah pintu balkon untuk berniat menutupnya. Tunggu sebentar... Kenapa kuntilanaknya mirip Emak di teras sana.
"Emak kapan matinya? Kok uda jadi kuntilanak nangis?" Untung Emak tidak mendengar pertanyaan super tega Arpina.
"E-emak!" ragu ragu Arpina memanggil dari atas balkon. Takut prediksi benar adanya kalau Emak dirasuki setan reog.
Emak menoleh ke atas sembari mengusap air matanya. "Pin, Tante Bunga belum pulang. Apa masih ada di rumahmu?"
Eh, mendengar pertanyaan Emak, Arpina yakin kalau si Emak tidak kesurupan. Cuma lagi cemas. Jadi berujung menangis.
"Nggak ada, Emak." Arpina menggeleng pelan. Lalu berbalik badan. Siap menuju rumah Emak.
Pulang sekolah, rumahnya memang sudah tidak ada siapa siapa. Papanya mengirim pesan kalau hari ini langsung bertugas karena sudah sembuh katanya. Sampai malam ini pun, Papanya itu belum pulang. Arpina sendiri menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar karena harus mengejar pelajaran yang tertinggal di sekolah barunya. Jadi tidak ada kesempatan untuk menggoda calon Mama tiri. Taunya... Si Emak kehilangan. Arpina kan ikut cemas dibuatnya.
"Telepon belum, Mak?" tanya Arpina sembari menarik narik tangan gempal si Emak menuju kursi teras yang kebetulan ada dua.
"Uda, Neng. Tapi yang angkat operator, nyinyirin pulsa Emak yang seperak doang."
Emak nggak modal. Arpina mendumel demikian sembari berlari lagi ke arah rumahnya. Naik lantai dua cuma mau ambil hapenya yang tertinggal. Turun tangga berlari kecil sampai di depan teras Emak, nafas Arpina memburu capek.
"Hah.. Ha... Mana __ ha... Nomer Tante Bunga?" Akhirnya, nomer Bunga ia dapatkan juga. Selama ini, ia sudah berusaha memintanya langsung ke Bunga, tetapi orang itu mengelak terus. Arpina juga tidak kepikiran meminta di Emak sebelum sebelumnya. Maklum, sifat manusiawi tidak sempurna, suka bodoh dan pikun meski masih kecil juga.
Tut...
Tut...
"Nyambung tapi nggak diangkat, Emak."
"Huawaa... Emak, hiks hiks, huawaa... Takut anak Emak lagi dieksekusi sama penculik organ."
__ADS_1
Arpina bingung harus bagaimana menenangkan Emak. Mau bilang 'nanti juga pulang', takut cuma php doang.
Garuk garuk kepala, Arpina berpikir keras. Ah, Papanya kan polisi. Jadi mungkin bisa membantunya.
"Diam dulu, Emak. Jangan berisik!" Arpina siap menelepon Papanya.
Sementara Emak menurut manis. Tapi air matanya masih berlomba lomba terjun bebas ke pipi. Tidak bisa membayangkan betapa hampa hidupnya kalau Bunga pun menyusul suaminya di alam lain. Sungguh, sebatang kara itu sangat mengerikan.
"Iya, Nak. Papa lagi di jalan, mau pulang. Apa kamu butuh sesuatu?" Dibi langsung membeo di seberang sana setelah motor ia tepikan.
"Pa, Tolongin Tante Bunga. Dia diculik."
"Masa? Siapa juga yang mau nyulik gadis sableng." Enteng sekali celetukan Dibi yang tidak percaya dengan laporan Arpina.
Huawaa...
Namun sejurus, Dibi mendadak serius manakala mendengar suara tangis Arpina tiba-tiba berpaduan dengan suara tangis Emak di seberang telepon.
"Hiks... Tante Bunga itu, baik sama Papa. Tadi pagi ngurusin Papa waktu sakit. Kalau nggak percaya, bukti akan ... Hiks, Arpina kirim. Hiks hiks... Pokoknya, Papa harus cari!" Arpina memang tidak menangis alay. Ia ketularan panik dan cemas dari perasaan kalut si Emak.
Tut...
Seperti magic, video itu berhasil menggerakkan hati batu Dibi untuk membantu Emak mencari anak sablengnya. Masalah pribadinya akan ia kesampingkan. Toh, ia adalah seorang polisi yang harus berbakti melayani masyarakat yang kesusahan.
"Kemana aku harus mencari gadis itu?" Dibi bermonolog di atas kendaraan bermotornya. Tanpa arah tujuan yang pasti, Dibi mengendarai kuda besinya dengan kecepatan pelan, sesekali memperhatikan trotoar yang digunakan pejalan kaki.
"Apa kampusnya masih ada aktivitas di jam segini?"
Ya, tidak ada salahnya, Dibi mencari Bunga di kampus gadis itu. Tidak diberi tahu juga, Dibi sudah hafal tempat ngampus Bunga. Itu karena Dibi sering melihat logo kampus almamater yang dikenakan Bunga.
Tancap gas, Dibi sedikit ugal ugalan mengendarai kuda besinya. Tetapi setelah lajunya itu dekat dengan halte, Dibi menghentikan kendaraannya saat mata jeli polisinya menangkap bau bau kejahatan akan terjadi. Entah siapa yang dikelilingi tiga preman tersebut. Terlihat dari kepala belakangnya, mangsa preman itu adalah seorang wanita berhijab.
"Hai, Cantik. Sendiri aja. Abang anter pulang yuk." Preman ingusan itu mulai menggoda korbannya.
"Atau mau jalan jalan, Cantik? Ayo, kami traktir."
"Ja-jangan macam macam kalian. Atau pacar saya yang polisi akan datang me-menangkap ka-kalian!"
"Hahaha... Ihh, takut...!" Abang preman mengejek. Tawa ketiganya terdengar.
"Sa-saya tidak berbohong. Pa-pacar saya adalah polisi. Namanya Pak Dibi."
__ADS_1
Dibi semakin mendekat tanpa disadari oleh orang-orang tersebut. Dan suara takut takut itu seperti milik Bunga. Dibi hafal sekali. Meski belum terlihat wajahnya, Dibi sudah yakin kalau gadis yang digodain oleh preman adalah gadis sableng itu.
" Tapi, kami tetap tidak takut, Cantik!"
"Kalau sama saya, takut tidak?!"
Empat kepala segera menoleh ke pemilik suara bariton. Dibi terlihat berkacak pinggang galak, dengan mata mengintimidasi lawan. Sejenak melirik Bunga yang tak berkedip menatapnya.
"Polisi, Nyuk. Ka-kabur!" Salah satu dari ketiganya menyadari seragam polisi Dibi yang dibalut jaket kulit di luarnya. Sepatu boot khusus kesatuannya masih melekat di kaki Dibi yang semakin membuat lawan ciut sebelum bertarung.
Balik badan dan kabur__
"Angkat tangan atau peluru bersarang satu persatu di paha kalian!" Dibi tidak main main. Pistol sudah mengacung ke arah mangsanya. Lantas, tiga preman berbadan kurus kurus itu mematung di tempat dengan tangan terangkat ke atas, pertanda mereka menyerah agar tidak tertembak.
Dibi menyeringai. Preman got sampah masyarakat ini memang harus diberi efek jera. Sekali tekan button darurat, kesatuannya sudah mendapat laporan darurat darinya.
"Maafkan, kami, Pak."
"Maaf nya simpan pada keluarga kalian nanti sampai hari lebaran. Kalian akan saya penjarakan." Ketiganya sudah di borgol, menyatu ke besi halte oleh kesigapan Dibi. Tinggal menunggu rekannya datang untuk membawa tiga sampah masyarakat itu.
Sejurus, mata elangnya mencuri pandang ke Bunga. Gadis itu berbalik dan berniat kabur. Tidak semudah itu. Secepatnya, Dibi menarik tas punggung Bunga sampai gadis itu mundur mundur menabrak tubuh bagian depan Dibi.
"Aduh..." Katanya pelan.
"Mau kabur kemana? Diam di tempat. Sembari menunggu mobil polisi datang menjemput preman itu, maka coba telepon pacar polisimu yang bernama 'Dibi' itu. Suruh kemari karena saya ingin berkenalan."
Huwaah.... Bunga ingin kejer saja. Ternyata kebohongannya yang cuma berniat menakuti preman tadi malah di dengar oleh Dibi.
"Anu, Pak. Tadi cuma anu."
"Anu, anu, apa?"
Galak amat. Mana Dibi masih mencekal tasnya lagi ah.
Pura pura pingsan saja kali ya, biar bebas barang sedikit waktu. Baiklah... Ayo pingsan.
Bugh...
"Eh, Bunga. Bangun atau saya taruh tubuh mu di tengah tengah jalan!" Ancam Dibi yang tau kalau Bunga cuma ngibul.
Diam saja. Anggap saja tidak terdengar. Pingsan masih berlanjut. Toh, Dibi tidak akan tega menaruhnya di jalan. Bunga yakin itu.
__ADS_1