
Sedang bertugas OTT langsung tentang kasus narkoba, tiba tiba dapat kabar dari Bi Muna kalau anaknya sakit dan dibawa ke puskesmas terdekat. Dibi tentu saja lupa daratan, kalang kabut pergi dari TKP menuju ke puskesmas yang dimaksud Bi Muna. Pekerjaan ia limpahkan oleh bawahannya dan tak peduli lagi akan di cap bekerja tidak profesional. Arpina adalah segalanya baginya, kelamahan dan kekuatannya sekaligus ada pada putrinya.
Parkir motor selesai dengan asal asalan. Dibi pun masuk ke koridor puskesmas yang terbilang kecil itu dengan jalan setengah berlari.
Dari kejauhan di sana, ia melihat Bunga duduk menunggu dengan kepala bersandar di pundak Emak Dahlia. Bi Muna mondar mandir di depan ruangan yang ia yakini Arpina ada di dalam.
"Arpina mana?" tandas Dibi tergesa gesa. Mata merah Bunga yang ternyata masih menangis tersuguhkan di penglihatan Dibi.
"Masih ditangani di da-dalam." Bunga menjawab dengan suara parau nan gagap. Ia masih shock ketakutan mendapati sakit Arpina yang sesak seperti akan kehilangan nafas. Tentu saja itu sangat mengerikan bagi Bunga.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Dibi beralih bertanya dingin ke Bi Muna.
Namun, Bunga lah yang menjawab sesuai apa yang terjadi oleh Arpina.
"What the fu*k!"
Bunga terjengit kaget. Dibi memang galak dan mulutnya itu pedas, tetapi kali ini pria itu mengumpat kasar dengan air muka merah padam.
"Arpina pasti makan dari olahan kacang kacangan." Dibi langsung bisa memprediksinya sesuai dengan gejala yang Arpina alami sebelumnya di tempo dulu. "Bi Muna, saya kan sering ngomong kepada mu, kalau jenis makanan apapun yang mengandung kacang kacangan, baik itu dosis rendah maupun tinggi dan juga kacang kacangannya langsung, TIDAK BOLEH ADA DI RUMAH!"
Bi Muna sampai memejamkan mata saking kuatnya bentakan Dibi.
"Nona Ar-Arpina nggak makan apa pun di rumah, Pak." Bi Muna yang tidak ingin disalahkan, memberanikan diri sesuai kenyataannya dan menceritakan tentang omongan Arpina yang ingin makan bersama Bunga katanya.
Lantas saja, wajah penuh tanya tertuju ke Bunga.
"Saya hanya memberi Arpina makan nasi, sayur dan ayam. Tapi katanya, ia juga habis minum susu__ Jangan jangan, Arpina minum susu kedelai yang ada di kulkas." Bunga mengusap wajahnya dengan sangat prustasi.
"Ma-maaf, aku lalai..." Penuh sesal Bunga mengatakan kesalahannya. Dibi mengerang murka dengan mata merah padam.
__ADS_1
"Ini soal nyawa, Bunga. Kamu kan sudah tau kalau Arpina sangat dipantang keras dengan begituan, tapi ini__ hah..." Dibi menahan omelannya yang bisa dibilang setengah lantang. "Dan kenapa pula kalian membawa anak saya ke puskesmas, hah? Kenapa tidak langsung ke rumah sakit?!" Dibi juga menyayangkan kesalahan Bunga yang kedua itu.
Tiga kepala di depannya itu tidak ada yang berani menyahut, mereka paham betul emosional Dibi yang menggebu gebu karena maklum dengan keadaan anaknya.
Bunga menunduk dalam dalam karena merasa dirinya salah yang lalai. Emak pun demikian, Bunga sudah pernah menjelaskan kalau Arpina dilarang mengonsumsi makanan tersebut, tetapi ia malah membeli dan menaruhnya di dalam kulkas. Itu adalah minuman favorit Bunga yang belum sempat anaknya minum. Emak tidak kepikiran kalau Arpina akan meminumnya.
Hening seketika, Dibi sibuk menelpon yang Bunga tidak tau, pria itu sedang mengobrol apa dan dengan siapa karena tidak terdengar olehnya.
"Pe, di sini juga ada rumah sakit loh."
"Nggak, Kak Dibi. Arpina sudah dua kali lalai dalam pengawasan mu dan kali ini, Arpina akan Pe tarik dulu. Setelahnya, kita bisa bicarakan nanti!"
Tut...
Niat hati ingin berbagi kabar dengan Pelangi karena bagaimanapun, mantannya itu harus tau keadaan anak mereka. Dibi takut kalau ada hal serius pada kondisi kesehatan Arpina, jadi memutuskan menghubungi Pelangi. Tapi nyatanya, Arpina disuruh di bawah ke Jakarta. Damn!
Ceklek...
"Kritis anak Ibu sudah lewat. Kami sudah memberi pertolongan pertama." Bunga dan semuanya bernafas lega. "Akan tetapi kami masih ragu akan kondisinya. Oleh sebab itu, pihak puskesmas akan merujuknya ke rumah sakit, Bu."
"Saya akan membawanya ke rumah sakit yang ada di Jakarta, Bu." Pernyataan Dibi membuat Bunga dan dua kepala lainnya, terkejut. "Tolong urus segalanya, dari ambulancs sampai peralatan medis yang dibutuhkan. Bisa dan tak berbahaya kan?"
Petugas itu mengangguk. "Bahaya atau tidaknya, lebih baik saya sarankan Bapak membawanya ke rumah sakit terdekat terlebih dahulu. Setelahnya, baru Bapak bicarakannya di sana. Alat medis puskesmas juga tidak terlalu lengkap."
Dibi memakai saran petugas wanita tersebut.
Selama menunggu Arpina disiapkan, Bunga mengambil kesempatan untuk berbicara ke Dibi.
"Mengapa Arpina harus dibalikkan ke Jakarta? Di sini juga bisa terkontrol!"
__ADS_1
Emak dan Bi Muna cukup jadi pendengar.
Tidak dijawab oleh Dibi, Bunga memaksakan kakinya yang masih sakit luar biasa untuk bangkit dari kursi tersebut. Berjalan pincang pincang ke arah Dibi yang memunggunginya. Ringisan sakit Bunga di tahan tahan, ia lebih penasaran akan keputusan Dibi.
"Jawab aku __"
"Anak saya lebih terjamin keselamatannya di sana. Banyak orang yang menjaga nya dengan benar!"
Bunga merasa tersindir hebat. Senyum getir tersemat untuk Dibi. Kalau menyangkut keselamatan dalam versi Dibi yang dimaksud, ia tidak bisa berkata kata lagi. Sedih sih, tetapi keputusan ada memang di tangan Dibi yang notabenenya adalah Papanya Arpina.
"Pak, ambulans dan semuanya sudah siap. Ayo berangkat."
Tanpa pamit undur diri di hadapan Bunga, Dibi bergegas melangkah dengan sangat tergesah gesah. Pincang pincang Bunga mengekor. Emak dan Bi Muna pun sama.
"Aga, saya mau ikut!" pinta Bunga berharap Dibi memberinya kesempatan untuk melihat keadaan Arpina setidaknya biar ia tenang meski hanya sampai di rumah sakit yang telah dirujukkan pihak puskesmas. Akan tetapi, Dibi terus menjauh. Perasaan Bunga terasa hancur saat itu juga karena Dibi tidak menganggap permintaannya.
"Pak...!" Kali ini, Bunga hanya bisa berteriak sebisanya tanpa bisa berjalan lagi karena sakit kakinya sudah diluar batas kemampuannya. Saking geramnya di abaikan, panggilan khususnya sudah berubah lagi. Tapi, Dibi yang cemas dengan keadaan Arpina sama sekali tidak mempedulikan sekitar. Ia tidak mendengar seruan demi seruan pilu Bunga.
" Sudahlah, Nak. Arpina pasti sembuh. Kita cukup doakan dari sini." Emak mengelus lembut punggung anaknya yang terduduk nangis tanpa isakan di lantai, cuma lelehan air mata yang beberapa kali Bunga usap dengan kasar.
"Kita pulang aja, Bunga. Ayo...!" sambung Bi Muna. "Pak Dibi lagi kalut dan cemas, jadi mungkin dia tidak mendengar panggilanmu," sambungnya menghibur Bunga.
"Emak, antar Unga kesana. Ayo, Mak." Bunga merengek sembari menggenggam tangan Emaknya. Ia masih berharap bisa bertemu Arpina barang sekali pun sebelum bocah nakal tapi ia sayangi itu pergi.
"Unga__"
"Emak, ayo lah...!"
"Nggak, Unga. Kita pulang!" Emak menegaskan. Ia kasihan pada Bunga. Tadi saja ia tidak tega saat Dibi melampiaskan kekesalannya ke anaknya.
__ADS_1
"Emak..."
"Jangan merengek."