Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 44# Lost Contact


__ADS_3

"Bi, uda ada kabar belum dari Pak Dibi?"


Dari pembatas tembok rumah, Bunga bertanya kepada Bi Muna yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah Dibi. Wanita paruh baya itu menggeleng seperti biasanya.


Sudah dua bulan berlalu saat Arpina pergi, Dibi pun bagaikan setan yang di telan bumi. Tidak ada kabar, tidak ada kepastian dan semuanya lost contact. Dibi berhasil meng-ghosting-nya yang cuma sekali mengiriminya chat singkat, 'Saya akan pulang, tapi nanti. Jaga diri baik baik.' Setelah pesan itu, Dibi tidak bisa dihubungi lagi, baik sosmed-nya, apalagi nomer pribadinya.


Bunga jelas sedih, hubungannya digantung oleh Dibi. Bi Muna saja yang bekerja menjaga rumah Dibi, gajinya cuma ditransfer tiap pertanggal satu oleh orang tua Dibi katanya yang bernama Pak Dirgan.


Sempat dapat kabar dari Delon berdasarkan cerita Denisa, kalau di kantor kepolisian pimpinannya sudah diganti, bukan Dibi lagi. Dan pernah dapat info lagi dari Denisa langsung, kalau Dibi ditugaskan keluar negeri dalam beberapa bulan, ada misi tertentu katanya.


Namun mengingat kata kata dua sahabatnya, kalau pasti Dibi itu hanya mempermainkannya. "Coba pikir, kenapa dia lost contact begitu? Meski LDR-an juga, harus ada kepastian, Bunga. Fixed, dia tidak serius."


Galau perasaan Bunga yang ia pikir pikir, Dara dan Farah ada benarnya juga. Ia merasa dipermainkan oleh Dibi. Demi kewarasaannya yang pernah down akibat merasa digantung asmaranya, selama dua minggu bersedih, Bunga memutuskan untuk bangkit dan memilih menyibukkan diri untuk konsen menjalankan skripsi hingga saatnya hari ini adalah hari istimewanya, yaitu proses wisudanya.


"Uda make up cantik begini, kok malah sedih sih, Unga?" Bunga terjengit kaget, tiba tiba sudah ada Emak berdiri di sampingnya. Penampilan Emak kali ini berkebaya hijau tua, senada dengan kebaya Bunga yang dilapisi baju toga.

__ADS_1


"Unga masih ingat Arpina dan Pak Dibi, Mak." Katanya jujur dengan nada putus asa. Harusnya ia gembira hari ini, tetapi di sisi lain rasa sedihnya juga tidak bisa mengalahkan keadaan di hari istimewanya.


"Kalau jodoh, pasti akan bertemu, Nak."


"Bukan, Mak. Pak Dibi memang harus berpikir sepuluh kali kalau ingin mempersunting Unga yang jauh dari kata layak untuknya. Dia tampan dan kaya, bisa bebas memilih jodoh yang berkelas." Hancur perasaan Bunga meski dia sendiri yang mengatakan hal tersebut.


"Emak selalu mendukung keputusan mu, Unga. Tapi, Emak tidak setuju kalau kamu memandang terlalu rendah dirimu, meski dibilang kita miskin harta, tapi hati mu sudah Emak tanamkan dengan sikap sikap yang baik. Paham...?!"


Bunga mengangguk. Ingin rasanya menangis sembari memeluk kuat kuat Emaknya, akan tetapi ia harus memikirkan penampilan wajahnya. Jangan sampai maskaranya luntur dan mengakibatkan meleleh hitam hitam ke pipinya. Tidak lucu rasanya kalau akan diwisuda tapi wajahnya mirip setan.


"Terimakasih ya, Bi. Kalau ada kabar dari Arpina atau pak Dibi, tolong beritahu aku, ya?" Meski kecewa dengan sikap Dibi yang menggantung hubungan mereka, Bunga sebenernya masih menaruh harapan untuk pria itu. Sudut hatinya mengatakan kalau Dibi pasti kembali. Tapi, kenyataan dan hasutan semua orang-orang terdekatnya menyuruh dirinya untuk berhenti berharap.


"Bunga, barang kami aja, yuk..." Denisa sengaja memundurkan mobilnya sampai di depan pagar rumah Bunga. Delon pun ada di sebelah kemudi Denisa. Sama halnya dengan Bunga, pria tersebut juga memakai toga.


"Kan nggak mungkin naik motor juga," sambung Delon membujuk.

__ADS_1


Bunga dan Emak saling pandang sejenak lalu Bunga pun berkata, "Terimakasih, Mbak, tapi kami nggak enak merepotkan," seru Bunga menolak halus.


Delon terlihat turun dari mobil. Memutari bagian belakang mobil dan langsung saja membuka pintu. "Ayo naik, kayak sama siapa aja. Kita kan tetangga dan tujuannya sama. Jadi nggak ada yang merasa direpotkan. Ayo, Mak, naik. Nanti kebayanya rusak kalau naik motor." Delon memaksa. Menuntut Emak dengan lembut naik ke mobil, dengan begitu pasti Bunga akan naik sendirinya kalau induknya sudah duduk manis di belakang.


Tapi tunggu, duh... Kok Bunga terlihat berbeda hari ini. Wajahnya yang manis diberi polesan make up, jadi terkesan imut. Dibi balik nggak ya? Delon ingin bersungguh-sungguh meluluhkan hati Bunga, tentunya bukan drama lagi seperti tempo dulu, karena kakaknya sekarang sudah mempunyai kekasih dari kepolisian juga.


"Ayo, kamu juga naik."


Cekrek...


Pose bagus sekali yang diambil Bi Muna dari kejauhan. Delon terkesan merangkul padahal kenyataannya cuma sedikit memaksa Bunga untuk naik ke mobil.


"Kalau Pak Dibi lihat ini, pulang nggak ya?" Bi Muna menyeringai. Tapi sedetik kemudian, ia menepuk keningnya merasa bodoh karena akan ia kirim kemana foto yang bisa memanas-manasi Dibi itu? Kan, semua akses kontak Dibi mati semua.


Send...

__ADS_1


Terkirim atau tidaknya, yang penting Bi Muna sudah berusaha membantu Bunga. Kalau majikannya itu memang tidak mau kehilangan Bunga, pasti tidak akan membiarkan Bunga diambil pria lain dong, itulah pikiran Bi Muna.


__ADS_2