
"Emak pulang saja. Soal Bunga, percayakan padaku."
Karena Bunga tak kunjung sadar dari obat bius, Dibi yang kasihan pada Emak Dahlia yang sudah tua tapi harus capek capek menunggu di depan ruangan, akhirnya memberanikan diri menyuruh Emak pulang. Hari juga sudah malam, kasihan kan.
"Tapi, Pak Dibi... "
"Bunga akan lebih cemas kalau mengetahui Emak kelelahan. Ini sudah malam loh. Arpina juga kasihan, Mak." Emak Dahlia menoleh ke kursi panjang, bocah itu tertidur dengan paha Denisa yang berkorban. Sesemutan rasanya. Tapi, Wanita itu masih sabar demi tujuannya. "Emak temani Arpina di rumah, saya yang jaga Bunga di rumah sakit. Adil kan, Mak?" Dibi membujuk.
Mau nggak mau, Emak mengangguk setuju. Lelah memang rasanya karena tadi ia juga baru pulang dari kios jamunya.
"Biar saya anter pulang. Besok, saya juga bertugas pagi jadi tidak bisa menunggu Bunga sampai pagi." Denisa menimpali membujuk Emak. Tapi tetap ada tapinya yang cuma mau menyelamatkan diri dari kelelahan tidak berfaedah untuknya menunggu Bunga yang tidak penting. Sebenarnya, ada rasa tidak tega akan Dibi yang pasti berduaan dengan Bunga.
"Saya antar ke parkiran." Tidak tega membangunkan Arpina, Dibi pun meraup tubuh anaknya dari pangkuan Denisa. Lega rasanya paha Denisa yang terasa keram. Berdiri dan berjalan tertatih sedikit mencari perhatian Dibi. Namun bukan raja cuek namanya kalau begitu saja Dibi merasa luluh.
"Maaf ya, Mak. Saya tidak bisa menjaga Bunga meski ada di depan mata saya." Dibi mengakui hal tersebut. Harusnya sedari awal mengungkapkannya, tetapi ia sibuk di dalam ruangan menemani Bunga yang merengek sakit terus.
"Kecelakaan tidak ada yang tau kapan datangnya, Pak. Saya memakluminya." Emak memang murah hati yang sedia kala memaafkan orang yang mengakui kesalahannya. Bunga adalah penerus kemurahan hatinya. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Terimakasih, Mak. Saya janji akan menanggung perawatan Bunga."
Emak terharu mendengarnya. Sebenarnya, sedari tadi, biaya pula yang membuat kepala Emak berputar tujuh keliling. Alhamdulilah, ada Dibi yang membantu. Bukannya memanfaatkan atau menjadi penjilat, wong memang butuh bantuan, kenapa harus berpura-pura sok menolak atau meninggikan ego. Terima saja dengan doa murah rejeki baik, untuk Dibi terima sebagai timbal baliknya.
"Terimakasih, Pak Dibi. Kamu memang baik!"
Denisa yang jadi pendengar setia, mendengus kesal. Enggak Emaknya, enggak anaknya, selalu saja tidak memberi kesempatan untuknya berbicara meski sedikit bersama Dibi.
Naik ke kabin kemudi, Denisa masih saja dongkol. Mana si Emak duduk di belakang lagi dengan Arpina berada dipangkuannya yang masih ngebo. Dia pikir, ia adalah supir gitu. Menyebalkan.
"Hati hati bawa anak saya dan Emak Dahlia, Denisa. Ini perintah!"
"Siap, Pak." Denisa memberi suara tegas polwan serta hormat kesatuannya untuk Dibi lihat dari selah jendela mobil yang masih terbuka. Sejurus, tersenyum manis. Tapi Dibi malah melengos. Kampret lah. Braak... Sebagai pelampiasan, Denisa memukul setir mobilnya. Sialan, sakit pula tangannya akan ulah sembrononya sendiri.
"Ada masalah, Mbak?" tanya si Emak.
"Nggak!" Judes sekali Denisa ke Emak Dahlia. Ngapain juga bersikap baik lagi, kan Dibi sudah pergi.
Namun, mengingat pernyataan Dibi yang katanya Bunga adalah calon istri pria itu, Denisa pun ingin mengulik Emak saja. Benar apa nggak? Kan, nggak mungkin seorang Ibu tidak tahu hal penting dalam hidup anaknya.
Sabar. Bersikap baik dan bertanya lemah lembut untuk sesaat.
Tancap gas terlebih dahulu. Mencoba menguasai diri, Denisa mulai berbasa basi.
"Emak sama Pak Dibi, sudah bertetangga lama ya?"
"Eum, baik dan sopan sama orang tua." Emak menjawab apa adanya. Memang, Emak sering mendapati Bunga dan Dibi sering beradu mulut dengan alot, tetapi Emak sadar bahwasanya anaknya itulah yang punya sifat sembrono. Maklum saja Dibi sering kesal, wong anaknya itu adalah biangnya pembuat emosi. Emak aja kadang kadang dibuat sakit kepala. Sendal pun sering melayang ke bokong putrinya yang onar tetapi tetap saja, Emak selalu nomer satu menyayangi anaknya.
"Oh, gitu ya, Mak." Denisa manggut manggut sok asyik. "Tapi, apa benar, kalau Bunga adalah calon istri Pak Dibi?"
__ADS_1
Kalau ini, Emak tidak tahu. Wanita itu juga terkejut mendengarnya, namun ekspresinya tidak seheboh orang yang sedang menonton konser. "Benar enggak, Mak?" Denisa tidak sabaran mendengar pengakuan Emak. Semoga bukan dan semoga Dibi dan Bunga cuma ngibul sesuai perkataan hatinya yang ogah ogahan percaya dan belum ada niat menerima kekalahan.
Emak lebih dahulu berpikir. Kata orang, ucapan adalah doa. Dengan itu, sebelum menjawab pertanyaan Denisa, Emak bertanya balik, "Apa Pak Dibi dan Bunga yang mengakuinya?"
Bodohnya, Denisa mengangguk jujur.
Emak tersenyum lebar. Lalu berkata, "Doain saja sampai sah." Nanti, Emak akan mempertanyakan detailnya ke Bunga dan Dibi. Ah, senangnya kalau itu kenyataan.
Panas lah hati Denisa. "Nggak akan aku doakan yang baik baik," tuturnya kesal dalam hati.
Baiklah, karena restu orang tua itu penting, bagaimana kalau Denisa menjelek - jelekkan Dibi. Mana tau Emak berujung menantang keras hubungan Dibi dan Bunga yang terpaut umur lumayan jauh.
Ide bagus. Sebelum janur kuning melengkung, Dibi adalah milik negara yang sah sah saja untuk diperjuangkan meski seribu cara licik pun dilakukannya.
"Apa Bunga nggak rugi tuh, Mak? Masih muda loh dia. Sedangkan Pak Dibi sudah Duda dan punya anak satu lagi. Kasihan loh anak Emak." Semangat sekali Denisa menjelek jelekkan Dibi. Semoga, Arpina tidak terganggu tidurnya.
"Duda tapi triplets M begitu, wanita bodoh aja yang nolak. Emak aja kalau masih muda mah, pasti ngebet lah." Denisa memutar mata malas. Sudah tua tapi masih gatal, batinnya mencibir.
"Tau nggak arti dari Triplets M yang Emak maksud?" Denisa menggeleng tidak tahu. "Macho, Manly dan jelas Mapan adalah nomer satu."
Kampret lah, matre juga satu emak emak ini. Come on, Denisa. Ayo berpikir lagi. Hasutan mu harus berhasil, batin Denisa menggebu gebu. Biar perjalanan semakin lama, Denisa sampai mengemudikan mobilnya dengan pelan yang sebenarnya tinggal berbelok masuk ke dalam komplek.
Ah, Denisa punya ide sedikit ekstrim. Tapi, semoga Emak tidak bocor ke Dibi kalau ia telah menjelek jelekkan pria itu. Bahaya lah baginya. Bisa bisa, ia akan dimutasi ke kantor wilayah lain.
"Emak, saya punya rahasia sensitif tentang Pak Dibi."
"Apa tuh?" Emak penasaran dibuat Denisa membuat wanita yang berkemudi itu menyeringai.
Emak kian penasaran. Soal janji? Emak itu paling anti mengingkari. Dosa karena janji termasuk hutang. Tidak mau berjanji tetapi ia juga penasaran pakai maksimal. Bagaimana dong?
"Pakai janji segala ya?"
"Harus, kalau mau tau!"
"Kenapa begitu?"
Cerewet sekali emak emak gendut itu. Denisa ingin sekali mengomel, tetapi sabar. Orang yang mainnya kasar akan kalah telak.
"Karena bagaimanapun, saya adalah bawahan Pak Dibi di kantor. Takutnya, Emak ingkar janji dan berujung saya mendapatkan imbasnya."
Masuk akal juga alasan Denisa. Emak terpengaruh.
"Baiklah, Emak janji," kata Emak. Namun, tombol rekam di hape nya ia on-kan. Entah kenapa, Denisa ini terkesan ngebet sekali membicarakan Dibi. Akan hal itu, Emak sedikit bertanya tanya curiga dalam hatinya.
"Selama saya satu kantor dengan Pak Dibi, saya sering melihatnya keluar masuk hotel, Emak. Bukannya bekerja dengan baik malah 'main'. Kalau sendiri sih, nggak apa apa. Ini mah, sama cewek. Sebagai orang berpengalaman, Emak pasti tahu kan mereka lagi apa." Denisa menyeringai. Pasti orang tua itu akan berpikir lagi untuk menjadikan Dibi sebagai mantu.
"Apa nggak kasihan sama Bunga kalau nanti punya suami sering 'jajan', Emak?" Panas panas deh kuping mu, Emak. Denisa lanjut membatin jumawa.
__ADS_1
"Apa kamu punya bukti?"
"A__" Denisa kehilangan kata kata. Ia salah prediksi. Dalam tindakan, Emak selalu berhati-hati. Susah sekali dipengaruhi. Damn it!
"Punya bukti, nggak? Kalau punya atau saya melihat mata kepala saya langsung, baru saya percaya."
Dasar orang tua!
"Kalau nggak percaya, terserah Emak saja. Saya sih cuma memberitahukan!" Intonasi Denisa sudah terdengar judes.
"Mbak, kok terdengar sewot?"
"Jangan sok tau!"
Emak kian curiga. Kepribadian Denisa ini berubah ubah. Tadi berbicara dengan nada lembut, tetapi ujung ujungnya judes sekali tanpa ada sebab pasti.
"Cih, trik basi diberi ke Emak. Tua tua gini juga, pernah jadi orang muda dengan penuh pengalaman hidup dan persaingan dalam cinta. Situ terkesan cemburu. Apalagi di rumah sakit tadi, saya menangkap sikap mu penuh ketertarikan ke Pak Dibi." Emak membatin dengan hape ia perhatikan.
Sejurus, rekaman suara Denisa ia perdengarkan untuk wanita itu.
CKIIIIIT...
Denisa me-rem mendadak. Lalu menoleh ke belakang dengan tatapan sengit. "Apa apaan ini?"
"Hehehe... Uda sampai depan rumah. Terimakasih tumpangannya, Mbak. Arpina, bangun, Sayang. Uda sampai rumah nih. Emak nggak bisa gendong kamu."
Denisa kena mental. Saat ingin berusaha merebut hape Emak, Arpina sudah ada tanda tanda terbangun. Meski masih mengumpulkan nyawa, bocah itu tetap harus menganggapnya baik.
"Tenang saja, selama Mbak Denisa berperilaku baik, rekaman akan damai sentosa. Saya bukan orang kejam kok. Kecuali disenggol terlebih dahulu, maka balasannya adalah tendangan maut Renaldo."
Denisa menggemeletukkan giginya geram tertahan. Emak tersenyum santai. Lalu membuka pintu mobil sembari menggenggam tangan Arpina yang masih mengantuk.
" Assalamualaikum, Mbak!"
Emak berlalu santai dengan Arpina ia tuntun masuk ke rumahnya. Biarkan Arpina tidur di kamar Bunga sementara waktu.
"Aaaaarrggh.... Sial! Ujung ujungnya, aku yang terperangkap!" Denisa berang. Memukul mukul setirnya kesal. Ia tidak menyangka kalau orang kampungan seperti Emak itu punya otak encer. Bisa bisanya orang tua itu kepikiran merekam suaranya. Matilah dirinya kalau rekaman itu terdengar oleh Dibi.
"Pikir, Denisa! Hape itu harus kamu ambil!"
***
Sementara di rumah sakit, Dibi terus duduk di kursi dekat brankar Bunga. Gadis ini, tidak ada tanda tanda untuk bangun. Padahal, Dibi sudah tidak sabar mau mempertanyakan soal pernyataan Bunga yang katanya menyukainya.
" Bunga, bangun!" Dibi mentoel toel lengan Bunga menggunakan ujung jarinya. Seperti sabun colek saja kulit jenjang tangan yang dilapisi baju pasien panjang warna biru milik rumah sakit itu.
"Bunga, kamu tuh cewek iseng. Pasti, kamu hanya pura pura tidur. Bangun nggak? Atau saya cubit nih."
__ADS_1
Masih tidak ada respon. Sepertinya, Bunga masih terbius.
"Ini namanya harapan yang belum pasti. Menyiksa malam saya yang akan susah tidur, tau nggak!" Dibi menggerutu kesal sembari beranjak ke sofa panjang yang mirip kasur itu. Membolak balik tidurnya karena galau tidak sabar menunggu Bunga bangun.