
Meski sempat bangun di jam dua dini hari tadi dan berujung direcoki Dibi tentang perasaannya yang harus ia akui, Bunga yang mengelak setelah dari toilet dengan cara tidur, kini sudah terbangun lagi karena kebiasaan di jam subuh.
"Pengen mandi, sholat, tapi nggak mungkin juga minta tolong sama Pak Dibi," monolog Bunga sembari melirik ke arah sofa. Ada Dibi yang tidur menghadap langit langit dengan posisi kedua tangan bersedekap di dada. "Orang ganteng mah meski tidur juga tetap aja beken." Bunga memuji lirih. Pesona Dibi memang sudah membuatnya jatuh, tapi dia juga sadar diri. Dibi itu pria mapan dengan karir bagus. Tidak seperti dirinya yang cuma anak yatim dan miskin. Ia sadar, perasaannya memang ada, tetapi cukup ada tanpa berharap dibalas oleh Dibi. Orang berharap itu takutnya kecewa. Realita tak semanis ekspektasi. Bagai langit dan bumi perbedaan mereka. Itulah yang Bunga rasakan, ia merasa tidak pantas untuk pria sekelas Dibi. Sadar, sadar dan sadar. Bunga sampai menanam dalam otaknya untuk tidak halu bisa bersanding dengan pria yang mapan.
Mengingat dirinya hamba penuh dosa, Bunga tetap memilih menjalankan ibadahnya, dan melupakan rasa kagumnya ke Dibi. Tanpa bebersih terlebih dahulu, karena memang keadaannya mendesak. Copot selang infus dengan pelan, "Aww...sakit juga," desisnya pelan. Lanjut dia bertayamum dan untuk bukenanya. "Gimana ya?" Bunga menatap ke sekeliling ruangan. Tidak ada barang yang ia butuhkan. Masih belum menyerah dan tak habis akal, Bunga yang sudah melihat penampilannya yang sangat tertutup, cukup menurunkan ujung baju pasien yang berlengan panjang itu sampai kedua tangannya tidak terlihat. Bunga tersenyum, ukuran oversize memang selalu membantu.
Saat menjalankan ibadah, wajah Bunga yang bawaannya humoris itu tidak terlihat. Penuh keseriusan dan khusu' sekali. Dan Dibi yang sebenarnya sudah terbangun sebelum Bunga, sekarang menyaksikan Bunga sedang beribadah di atas brankar dengan cara duduk.
Seperti Bunga tadi yang terpesona melihat cara tidur Dibi, sekarang terbalik. Dibi lah yang diterpa akan rasa tersebut. Adem sekali melihat gadis itu melakukan kewajibannya meski dalam keadaan yang bisa dibilang kurang kondusif. Dibi kagum, sableng sableng tapi masih mengingat sang pencipta.
"Hoaaammm..."
Selesainya Bunga beraktivitas, Dibi berpura pura menguap lebar, layaknya orang yang baru sadar dari alam tidur. Menarik tubuhnya untuk duduk sembari mengucek ngucek mata.
"Selamat pagi, Pak..." Seru Bunga yang sedari tadi memperhatikan Dibi.
Pria itu melirik nya datar. Kebisaan, batin Bunga yang tidak suka dengan perangai Dibi yang kurang bersahabat. Inilah salah satu alasannya juga, kenapa Bunga tidak mau berharap lebih, sudah tau jawabannya yakni penolakan telak.
"Butuh bantuan ke toilet?"
Bunga langsung menampilkan wajah asemnya. "Bapak pasti berpikir aneh aneh ya? Nawarin saya, tetapi aslinya mencari kesempatan dalam kesempitan. Senang sekali menggendong saya. Ish..."
"Nuduh teruuus...!" Dibi malas meladeni tuduhan Bunga. Sembari berseru, ia beranjak ke arah kamar mandi, "Saya cuma nggak mau kamu ngompol." Lalu menghilang di balik pintu.
"Huu..." sorak Bunga. Beraninya saat orangnya tidak terlihat.
"Kamu sih, nyusahin jadi orang." Bunga lanjut mendumeli kakinya. Tidak mau berpangku tangan, Bunga ingin mencoba kekuatan kakinya yang kadar sakitnya itu seperti apa. Mumpung Dibi tidak melihat, Bunga mencoba menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit dengan sangat pelan. Ia merasakan sakit, tetapi Bunga itu anti menyerah. Ia tidak cengeng.
"Bergerak sedikit lagi, saya patahkan sekalian kaki mu!"
Eh, si galak ternyata sudah ada di depan pintu kamar mandi ruangan kelas satu itu. Wajahnya terlihat basah yang cuma sekadar cuci muka doang. Melangkah ke arahnya dengan tatapan seperti predator. Bunga mengedikkan bahu ngeri. Perangai Dibi tegas tegas seram.
__ADS_1
"Sumpek tau, Pak. Bayi saja berusaha berjalan, masa saya cuma duduk pasrah." Suara Bunga setengah merengek putus asa.
Dibi tidak jadi marah marah. Kasihan juga gadis orang yang selalu ia galakin. Melirik ke kursi roda, Dibi jadi punya ide.
"Ayo, kita hirup udara pagi di luar. Bagus juga buat kesehatan."
Bunga tersenyum simpul. Namun senyumnya luntur saat Dibi kembali menatapnya galak. Apalagi salahnya kali ini?
"Di mata saya ada emasnya ya, Pak. Hehhe... Maklum, belum cuci muka." Sedikit buang muka, Bunga segera mentoel kotoran matanya. Ia kira Dibi mendelik intens karena kejorokannya. Eh, nggak ada kok. Tapi... Hais, pantes saja Dibi melotot. Tangan bekas infus yang dipaksa lepas tadi, kini berdarah yang baru ia lihat. Kenapa ia tidak menyadarinya?
" Bandel amat sih!" Tangannya ditarik Dibi secara lembut untuk diperiksanya.
"Tadi nggak berdarah kok, Pak. Benar deh, nggak boong__"
"Jangan cerewet dan jangan banyak bergerak."
Oke, jadi patung saja. Membiarkan Dibi mengelap darah tersebut menggunakan tissue. Memang, tadi bekas infus itu tidak sengaja tertekan, dan mungkin tekanan tersebut lah yang memicu darahnya keluar.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Karena saya suka, Bapak." Bunga menjawab spontan. Mengakui perasaannya tanpa sadar lagi. Sejurus, ia gelagapan sendiri karena Dibi menyadarkan dirinya dengan memajukan wajahnya.
"Eh, Pak!"
"Katakan lagi apa yang kamu ungkapkan!" Dibi memaksa. "Kalau mengelak, kaki mu akan saya remas!"
"Ehh... Jauh jauh tangannya, Bapak!"
Dibi menulikan kupingnya. Ia malah menggoda Bunga dengan ujung jarinya sudah menyentuh gips kaki sakit Bunga. Dengan cara apapun, Bunga harus dibuatnya jujur. "Aku hitung sampai sepuluh. Siapkan jeritan sakit mu. Satu... Lima..."
"Eh, hitungan TK ngaur itu!"
__ADS_1
"Terserah saya! Mulut mulut saya. Sembilan..."
Rasanya, Bunga ingin sekali membekap mulut Dibi yang suka suka dalam bertindak terhadapnya. 'Ya Allah, engkau memang segalanya. Tapi, kenapa Engkau menggerakkan hati saya untuk jatuh cinta pada pria seperti pak Dibi? Karma menolak duda, jangan begitu juga caranya.' Bunga mengeluh dalam hatinya. Dengan menimbang nimbang jawabannya ke Dibi, antara mengaku dan berujung dikatai-katai atau diam seribu bahasa dan pasti tetap jadi bulan-bulanan Dibi. Sama saja ujungnya. Penyiksaan ini namanya.
"Tangan saya sudah gatal loh, nggak sabar menyentuh manja kaki bengkak mu. Dan saya pastikan, setelah diremas oleh tangan ku, Dokter akan memvonisnya untuk segera diamputasi. Mau seperti itu?"
Kalimat provokatif Dibi berhasil membuat Bunga jiper. Mulut gadis itu terbuka, lalu tertutup kembali agar tidak salah bicara lagi. Namun, saat Dibi kembali menghitung," Sepu__"
Suara Bunga yang membuat Dibi semalaman kepikiran terus, akhirnya terdengar jelas, "Saya menyukai Bapak. Puas!"
Bunga salah tingkah, malu dan takut sekaligus. Dengan begitu, ujung jilbabnya ia pakai menutupi seluruh wajahnya yang pasti berubah ubah warna antara merona dan pucat karena takut ditelan mentah mentah oleh makian penolakan Dibi.
Sedetik, sampai lima menit kalau tidak salah perkiraan waktu Bunga, tidak ada respon dari Dibi. Bunga sangat penasaran ekspresi Dibi saat ini. Berasap kah hidungnya yang siap mengerang murka atau bagaimana?
Intip dulu ah. Pelan tapi pasti, jilbab itu ia turunkan setengah saja, cepat cepat Bunga kembali menutup matanya menggunakan kain itu. Dibi masih ada di depannya seperti sedang tersenyum?
"Masa tersenyum?" batinnya kurang percaya pada penglihatannya yang mungkin lagi buram karena cuci muka setelah tidur pun belum.
Intip lagi. Eh, benar, Dibi tersenyum. Bahkan sangat manis yang Bunga lihat.
"Bapak kena sindrom skizofrenia kah?" Bunga bertanya setelah kembali menutup wajahnya. Malu nya itu seperti bocah sd yang sedang dijodoh jodohkan sesama teman sekelasnya.
"Yaak, saya memang kesurupan karena suka sama gadis sableng seperti mu."
"Hah...?" Jangan tanyakan ekspresi Bunga mendengar pernyataan hati Dibi. Tapi, kalau ingin tau pun, dia sekarang seperti kambing yang melongo.
Karmanya satu sama ternyata. Dibi kan pernah mengatakan amit amit menyukai orang sableng. Tapi sekarang...?
"Pak, coba gampar saya? Mimpi atau nyata?" Bunga kok kurang percaya akan ungkapan perasaan Dibi yang ternyata searah.
"Tamparnya pakai tangan kanan atau bibir saya?"
__ADS_1
Eaaa... Pilih mana nih? Bunga keder menjawabnya. Kalau tangan, pasti sakit. Tapi kalau pakai bibir, nanti dibilang murah meriah.