
Hoaamm...
Bangun tidur memang paling plong rasanya kalau menguap sembari mengulet, itulah Bunga. Mata mengerjap beberapa kali baru tersadar kalau ia masih berada di ruang inap Arpina.
Tengok ke jam dinding. Masih jam setengah lima subuh. Tidak sengaja, mata Bunga yang buram itu mendapati seorang wanita asing yang berbaring di sofa sana.
"Siapa dia? Apa Dube menjelma menjadi seorang wanita? Ck, cantik sekali." Bunga mengiri dengan pikiran konyolnya. Saking penasarannya, Bunga sampai memajukan wajahnya agar bisa dengan jelas menatap wanita asing yang tertidur cantik.
"Bahh..."
Gedubrak...
"Aduh...!" Bunga mengelus sakit bokongnya. Refleks mundur, kesandung dan berujung jatuh terduduk ke lantai sebab wanita asing cantik ini mengejutkannya.
"Haha..." Pelangi tertawa kecil. "Maaf, sini aku bantu."
Bunga hanya mengamati tangan lentik halus Pelangi yang terulur mau membantunya.
"Kamu siapa?" Demi keramahan, Bunga menerima uluran tangan Pe. Setelahnya, ia masih mengamati Pelangi yang elegan. Dibandingkan dirinya, antara panci baru dan gosong.
"Aku Pelangi, Mamanya Arpina. Hai, salam kenal." Pe selalu ramah kepada orang yang menurutnya baik.
Oh, Mama Arpina toh. Cantik sih, tapi uda menyia-nyiakan Arpina dan berujung bocah yang masih tertidur itu kekurangan kasih sayang selama ini. Buktinya, Arpina ngebet mau punya Mama Tiri. Begitulah kesimpulan sepihak Bunga.
" Saya Bunga. Salam kenal dari calon Mama tiri Arpina." Dengan wajah bangga, Bunga mengaku ngaku di depan Pelangi yang notabenenya Pe sangat tau kalau gadis di depannya ini sangat menjauhi Dibi karena duda katanya. Pe tau semua dari curhatan anaknya selama ini.
"Ah, ngomong apa aku?" Bunga lanjut mendumel dalam hati. STUPID.
"Apa, apa?"
Njirrt. Astagfirullah, Bunga membekap mulutnya karena sudah membatin kotor. Ada Dibi yang sepertinya mendengar pernyataan yang cuma mengaku ngaku itu.
"Apa kamu bilang tadi?" Dibi menuntut lagi. Wajahnya yang habis dicuci masih menyisakan tetesan air.
"Anu, anu..."
"Itu loh, Kak Dibi. Katanya, Bunga adalah __hmmppt." Bar bar sekali gadis ini, mulut Pe langsung dibekap dengan kedipan sebagai kode 'Please, jangan ngomong' mungkin begitu.
"Sudah subuh kan ya. Maaf, mau nyari mushola. Permisi!" Kabur adalah jalan keluar. Cepat cepat, Bunga meninggalkan ruangan sebelum Dibi memberi sarapan anti mainstrem. Setelah sholat, Bunga jelas akan pulang.
"Hehehe, lucu dia. Pantas Arpina suka."
Dibi memutar mata malas mendengar pujian Pe sembari mantannya itu kembali berbaring tetapi kali ini, rebahan di sebelah Arpina.
***
"Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam...!"
Emak langsung tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Bunga.
"Gimana, gimana kabar Arpina?" Sembari buang bokong di sebelah duduknya Bunga, Emak bertanya antusias.
"Baik, Mak," jawabnya tidak semangat. Wajah belum mandi itu menangada ke langit-langit ruang tamu sembari melamun tentang mulut ngaku ngakunya ke Pelangi, kalau ia adalah calon mama tiri Arpina, sialnya dan yang ia sesalkan adalah Dibi mendengarnya. Malu nya itu loh, sampai ke pembuluh darah.
"Kapan pulang?"
"Nggak tau. Nanti nih, Mak, kalau Arpina atau Pak Dibi nyari Unga, bilang aja lagi nginep di rumah Farah. Pulangnya nggak tau gitu __"
__ADS_1
"Napa emang?" Emak memicing curiga.
"Karena __ karena..." Bunga mendadak berpikir keras. "Karena Unga mau konsen menyusun skripsi." Alasan tepat yang disetujui Emak Dahlia. Anaknya memang perlu konsentrasi agar cepat jadi sarjana. Tapi, kenapa harus berbohong ya?
'Selamat! untung Emak kalem pagi ini.' Bunga elus dada sembari ngacir ke kamar sebelum kecerewetan Emak kambuh dan berakhir menguliknya. Libur kuliah hari ini akan Bunga manfaatkan rebahan, baca novel, atau nonton drakor pakai Wi-Fi Dibi. Nikmatnya pejuang tanggal merah. Intinya, Bunga akan menghindari Dibi terlebih dahulu sampai pria itu melupakan mulut sok ngaku ngakunya. Malu pokoknya.
***
Tok tok...
Siapa sih yang bertamu di siang bolong begini? Ganggu Emak lagi siap siapin sari jamunya saja yang akan pergi ke kios.
Ceklek...
"Siapa ya?" Pria muda dengan celana levis bolong di lutut yang ada di depan Emak.
"Aduh, Ibu ini kan yang pernah terkena cipratan air kotor dari ban motorku," batin Delon. Namun berharap, wanita berumur di depannya ini tidak mengenalinya.
"Siang, Bu. Saya teman Bunga sekaligus tetangga baru di sini. Nama saya Delon."
"Ohhh..." Emak Dahlia manggut manggut sembari terus menatap wajah Delon yang tidak asing, tapi siapa? Entahlah.
"Bunga nya ada, Bu?"
Kata anaknya kan lagi sibuk nyusun skripsi, jadi jawabnya, "Nggak ada. Anak saya lagi keluar."
Tampang Delon kecewa. Tapi ya sudahlah, daripada dikenali oleh Emaknya Bunga, Delon pun izin pamit.
"Iya, tapi tunggu dulu, Cung. Apa kita sebelumnya pernah bertemu?"
Hais, ternyata sedari tadi Emaknya Bunga lupa lupa ingat padanya. Waktu itu, ia yang salah tapi ia pula yang ngomel, malah dirinya menyalahkan si Emak yang terlalu minggir jalannya. Alhasil, baju putih yang dikenakan Emak waktu itu kotor terkena air keruh sampai mengenai wajah Emak pula.
Tepat pintu tertutup oleh Emak, Bunga keluar kamar dengan mata bengkak habis nangis. Membuat atensi Emak tertuju ke Bunga.
"Kamu habis nangis? Kenapa? Ingat mantan kere?"
Emak nyinyir juga orangnya. Terus berjalan ke dapur mencari amunisi, Bunga menjawab, "Habis nonton drakor yang sad ending, Mak."
Wolaah... Fiksi kok ditangisi. Anaknya kerterlaluan bapernya. Plaakkk... "Nyamuk yang emak geplak di pipimu juga sad ending bin koit loh. Nangis sana."
Huawaa... Bunga memang menangis tapi sakit dan panas pipi nya yang digampar Emak. Dengan kesal yang tidak mungkin membalas tabokan ke pipi Emaknya, Bunga hanya melampiaskan memakan gorengan tahu isi cabe rawit setan buatan Emak. Pedas gilaaaa.
Emak membiarkan itu. Kembali sibuk menyiapkan dagangan jamunya.
Ting...
'Barusan aku ke rumah mu, tapi adanya Emak mu.'
"What?" Jerit Bunga setelah membaca chat Delon, berhasil membuat Emak terkejut.
"Kenapa lagi? Emak rasa, kamu itu kesurupan demit rumah sakit deh, Unga. Sini, Emak ruqiah atau paling tidak, sana wudhu dulu."
Biarkan Emak ngomel, tapi setelahnya, Bunga ingin bertanya serius.
"Emak, Delon ada cari Unga? Napa nggak manggil Unga sih?"
"Ah, Melon yang tadi?"
"Delon, Mak." Bunga meralat tegas. Beda satu huruf, maka makna sudah lain.
__ADS_1
Emak cuma cengir. Lalu kembali ke tampang datar. "Situ kan yang minta Emak bohong. Dosa tanggung sendiri."
Tidak bakalan kelar dan jelas kalau terus ngajak Emak beradu cangkem. Lebih baik, balas chat abang sayang.
"Iya. Tapi sekarang aku uda pulang."
Send.
Asyik asyik jos, di layar Abang Sayang lagi mengetik.
Buurrr...
"Emak, kok nyipratin air?" Wajah Bunga setengah basah.
"Emak kira lagi kesurupan benar. Emak ngeri lihat kamu cengar-cengir ndri."
Hah... Pindah ke kamar aja. Lenggak lenggok, Bunga baca kembali balasan chat dari Delon. 'Mau nonton sama aku, nggak?'
Serius nih? Gadis pada umumnya, pasti sangat senang dong diajak nonton sama doi. Bunga pun demikian, jingkrak jingkrak heboh seperti monyet habis diberi pisang.
Chat demi chat saling berbalas. Hingga sampai waktunya, Bunga sudah berpenampilan modis kece badai, wangi semerbak seperti namanya yang memabukkan bagi si kumbang ... Bunga.
"Eh, perawan mau ke mana?" tegur Emak.
Pikir dulu alasannya. Kalau jujur, takut Emak nggak izinin. Secarah, Emak kan pecinta calon mantu duda.
"Skripsinya bagaimana?" lanjut Emak. Membuat Bunga tidak enak hati karena tadi berbohong.
"Skripsi kan bukan hal mudah yang jadi dalam setengah hari, Emak. Cari judul aja bikin pusing kepala. Ini mau nyari referensi mana tau dapat." Maafin Bunga, Tuhan, uda bohongin Emak.
"Nanti pasti Unga ke kios seperti biasa. Unga pergi ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..." Terpaksa Emak izinin.
Bunga langsung ngacir ke arah depan rumah Delon. Cowok itu sudah stay di depan pagar bersama motornya. Tengok dulu ke arah rumah Arpina, mobil Dube belum ada, tandanya Arpina masih di rumah sakit. Aman lah.
"Hai, kamu makin cantik." Gombalan Delon bikin kepala Bunga terasa gede. Pipinya merona. Uhh... Rasanya dipuji gebetan tuh kayak coklat manisnya. "Ayo, naik!"
Dengan dada jedag jedug, Bunga beranjak naik. Tangannya gemetaran saat menyentuh bahu Delon sebagai tumpuan saat naik ke moge merah hitam itu.
"Siap?"
Melihat mobil Dibi di depan sana, Bunga menepuk pelan bahu Delon sembari berkata, "Ayo, cepat jalan."
Broomm...
Motor dan mobil yang ada Arpina di atasnya, berpapasan. Bocah itu jelas mengenali Bunga meski si Tante buang muka ke sisi jalan lain. Cemberut akut Arpina menyaksikannya. Dibi paling kesal kalau anaknya bersedih dan yang buat itu adalah Bunga. Awas saja tuh cewek.
Satu mobil lagi, motor Delon berpapasan, dan itu adalah kendaraan Pelangi bersama sang sopir. "Itu Bunga kan ya? Apa itu cowoknya?" Pelangi bergumam.
Sampai di pelataran rumah Dibi, Pe segera turun. Sudah ada Dibi yang menyambut.
"Pe, titip Arpina. Lagi ngambek di kamar. Aku pergi dulu."
"Ngambek kenapa?" Pertanyaan Pelangi hanya dijawab suara mesin motor Dibi. "Hem... Aneh. Baru sampai, pergi lagi. Inilah yang membuat ku tidak tenang Arpina di sini. Kasihan tidak ada yang jaga."
"Halo, Nendra. Hari ini patroli ketat. Semua pengendara motor yang melanggar lalu lintas, razia tanpa terkecuali."
"Siap, komandan."
__ADS_1
Dibi menyeringai. Tadi, Bunga tidak memakai helm. Dan pasti arah motor Delon tertuju ke titik anak buahnya yang ia telepon tadi. Bekerja sambil balas dendam ke Bunga karena sudah membuat Arpina badmood barusan adalah hal menyenangkan untuk Dibi.