
Kerjain PR sudah. Belajar juga sudah. Tapi belum mengantuk. Arpina yang mengingat ajakan Denisa perilah ke Mall dan bermain ke timezone, berinisiatif untuk izin lebih awal ke Dibi.
Gedor sopan kamar Papanya. Ada seruan "Masuk" dari Dibi, Arpina pun membuka pintu.
"Tumben buka jendela, Pa?" Arpina nengok keluar, jangan bilang sang Papa habis intipin tante Bunga yang ketiduran dengan jendela seberang sana terbuka. Memang remang kamar si Tante, tapi Arpina tidak buta. Ia bisa melihat Bunga tidur dengan posisi tengkerup dengan wajah menghadap ke arah jendela persis.
"Mana ada? Papa habis buang kecoa. Sekalian, ada bulan. Jadi Papa liatin deh."
Bulan? Mana? Arpina ingin melihat. Tapi, kok nggak ada?
"Awas, Papa mau tutup. Nanti nyamuk pada masuk." Dibi menggeser paksa anaknya.
"Yeak, Arpina belum lihat bulannya loh, Pa," keluhnya. Dibi tetap menutup daun jendela tersebut.
"Sudah ketutup awan malam." Percaya sajalah ucapan sang Papa.
"Mau apa ke kamar Papa? Kok belum tidur? Ini sudah malam loh," lanjut Dibi mencecar.
Hampir lupa gara gara bulan yang entah ada atau hanya bulan wajah si Tante?
"Tadi, Tante Denisa kemari__"
"Terus?" Dibi sudah menebak dalam hati, kalau anaknya pasti mau izin ke Mall sesuai omongan Bunga tadi.
"Arpina boleh pergi bersamanya nggak?"
"Kemana?"
"Mall. Arpina bosan di rumah terus tau, Pa."
Dibi sadar diri, kalau ia jarang ada waktu untuk Arpina. Seharusnya, ia lebih banyak di rumah, tapi kerjaannya sebagai polisi harus profesional. Kasihan juga pada anaknya yang merengek sembari mengguncang lembut lengannya.
" Boleh, ya? Janji deh, Arpina nggak nakal." Arpina terus berupaya.
"Anak Papa tidak pernah nakal." Dasar Bunga yang sering ngatain anaknya, jadinya putrinya ini menjudge dirinya sendiri sebagai orang nakal. Huu... Dibi ingin menjitak kepala Bunga, tapi orang nya tidak ada di depannya.
Arpina tersenyum. Pasti Papanya akan mengizinkannya. "So?"
"Ya. Papa bolehin!"
Bocah itu langsung memeluk girang Papanya. "Papa memang pengertian. Papa juga boleh ikut kalau mau."
Dibi menyeringai. Saat ingin membuka suaranya. Arpina kembali berkata, "Tante Denisa juga baik loh, Pa."
Inilah yang Dibi tidak sukai, pasti mulai deh mak comblang mak comblang konyol anaknya ini.
"Bagaimana kalau Tante Denisa jadi kandidat calon ibu tiri Arpina? Kan, Tante Bunga nggak mau tuh __"
"Pin__" Untung Dibi masih punya otak untuk menahan emosinya ke Arpina, kalau tidak maka bentakan seram sudah didengar anak satu satunya.
"Papa nggak suka, Pin. Kalau kamu mulai lagi!"
Arpina cemberut. "Arpina kan cuma kasihan sama Papa."
"Kasihan?" Alis Dibi terangkat satu sembari menatap lekat mata Arpina.
"Hmm... Kasihan sama Papa. Kalau sakit, nggak ada yang urus. Nggak kayak Papa Guntur yang ada Mama." Begitu polos pikiran Arpina.
"Kan ada Arpina yang urus Papa. Mau kan?" Biarkan, Dibi sengaja menggoda anaknya. Tapi, sebenarnya Dibi terharu akan perhatian Arpina yang memikirkan masa tuanya. Memang betul, anak adalah bagian dari orang tua, tetapi akan pergi jikalau sudah menemukan tambatan hatinya saat dewasa kelak. Beda dengan pasangan setia yang tidak akan meninggalkan satu sama lain sampai maut memisahkan. Di saat duka dan suka, pasangan sejati ada di sisi, tetapi kalau sang anak...? Will go when happy picks up.
Arpina menggeleng. "Nggak mau, kan Arpina masih kecil, kalau Papa pingsan, Arpina mana kuat."
"Tinggal buang Papa saja ke got kalau pingsan."
"Papa!" rengek Arpina tidak suka mendengar candaan sang Papa. "Nggak lucu tau, Pa."
Dibi tersenyum lebar sembari mencubit pipi sang anak.
"Ish, pokok nya, Papa mau ya, Arpina comblangi sama Tante Denisa? Dia baik tau, Pa. Mau ya, ya, ya?"
__ADS_1
Hah... Hembusan nafas kasar terdengar dari Dibi. Mode datar terpatri. Anaknya tidak boleh terlalu ikut campur urusan orang dewasa, maka dari sekarang harus membicarakannya dengan serius dalam definisi pikiran bocah.
"Arpina sayang papa nggak?" Bocah itu mengangguk dua kali. "Kalau sayang, maka jangan lagi main mak comblang comblangan ya, Nak?"
Arpina terdiam dengan tampang kecewa. Dibi menyadari itu.
"Tapi, Papa janji akan cari sendiri Ibu sambung buat Arpina, tapi sesuai keinginan, Papa."
Air muka yang kecewa, sedikit terobati. Tapi, Arpina masih butuh keyakinan. "Benar, Pa? Papa nggak bohong, kan?"
Dibi mengangguk.
"Kalau bohong, nanti Arpina ngambek dan nggak mau bicara sama Papa loh."
"Papa janji." Entahlah, Dibi juga nggak yakin dalam hati.
"Hehehe.. Gitu dong." Kembali, Arpina memeluk Dibi. Di dalam dekapan itu, Arpina berkata, "Kalau bisa sih, taklukin Tante Bunga ya, Pa."
Uhuuuk...
Dibi terbatuk batuk mendengar nama si sableng. Ia kira, Arpina sudah tidak ada minat lagi akan nama Bunga. Ternyata...?
"Siapa, Pin?" Dibi takut salah dengar.
"Tante Denisa."
Eh, lain lagi.
"Kamu sakit, Nak?" Takutnya, anaknya itu punya kelainan.
Arpina cengengesan, lalu menepis punggung tangan sang Papa yang menempel di dahinya. "Mau itu tante Bunga atau Tante Denisa, atau juga Tante yang lain di luar sana, terserah Papa. Kata Oma Bintang, yang penting orangnya sayang sama Papa dan Arpina."
Baiklah... Melihat bola mata anaknya yang amat sangat mempercayainya, serta menaruh harapan besar padanya akan janjinya tadi, Dibi pun bertekad untuk membuka hatinya. Sekalian ingin membuktikan ke Pelangi - mantan istrinya itu kalau ia tidaklah gagal move on.
Tapi, siapa ya kira kira wanita itu? Dibi memejamkan matanya sejenak sembari mengelus elus kepala Arpina yang sudah rebahan di kasurnya dengan berbantalkan pahanya.
"Eh, kok wajah si sableng terlintas?" batin Dibi, ngeri. Bunga? Oh, adakah wanita yang sedikit waras? Memang, Bunga itu apa adanya. Tidak ada kemunafikan yang tertanam di otak itu cewek, sampai hal bersifat pribadi pun dibahas ceplas ceplos. Sederhana, bisa membuat suasana heboh meski membuat kepala sakit.
Arpina sudah pulas.
Dibi pun berhenti berpikir yang memusingkan menurut nya. Biarkan, waktu yang berbicara nanti.
***
Selesai jam kerja, bukan hanya Arpina yang izin, Denisa pun demikian.
Di dalam office, Denisa duduk tegak di depan meja kerja Dibi.
"Membawa anak saya? itu tandanya kewajibanmu menjaganya dari segala hal. Saya tidak mau nanti ada masalah yang merugikan saya apalagi ke Arpina," tandas Dibi memperingati Denisa. Keselamatan anaknya adalah hal utama.
"Saya paham maksud, Bapak." Denisa menjawab tanpa ingin melepaskan pandangannya dari wajah tampan atasannya ini.
"Hem... Saya izinkan. Dan nanti, saya akan menyusul."
Demi apa? Denisa tidak salah dengar kan? Oh, bahagianya bisa jalan bersama Dibi. Anggaplah ini momen indah atau ngedeta pertamanya. Aaarggh ... Ingin rasanya Denisa menjerit senang. Tapi tahan, cukup di dalam hati saja. Takutnya nanti dibilang pecicilan. Harus berkelas selalu di mata Dibi. Jangan kayak Bunga dong yang nggak ada kelas sama sekali. Bisa ilfil Dibi padanya.
"Saya pulang jemput Arpina ya, Pak. Dan saya tunggu kedatangan Bapak."
Dibi hanya mengangguk cuek dengan tampang datar seperti tembok. Padahal, Denisa sudah bersikap sesempurna mungkin. Baik dari pergerakan yang anggun anggun tegas apalagi wajahnya yang dibuat buat se-ayu mungkin. Tetap saja bagi Dibi itu hal biasa.
Setelah bayangan Denisa menghilang, Dibi segera men-chat Bunga, "Siap siap, aku jemput dalam beberapa menit."
***
Sampai di pelataran Bunga, Dibi dibuat kesal. Gadis sableng itu malah punya tamu yang tak lain adalah Delon. Meski duduk di kursi kayu teras rumah, Dibi tetap saja tidak suka. Entah kenapa itu? Dibi pun tidak tau.
"Kalau begitu, saya pamit ya, Bunga. Assalamualaikum...!" Delon berdiri dari kursi tak mempedulikan mata tajam Dibi. Merasa selesai urusannya dengan Bunga, maka ia pun pamit.
"Waalaikumsalam...!" Jawab Bunga. Tinggalah mereka berdua.
__ADS_1
"Ngapa tuh cowok ada di rumahmu? Lupa kalau dia yang pernah bikin kamu sakit hati dan nangis nangis di depan ku. Ujung ujungnya bikin saya tekor tiga piring batagor?"
Si Dube ngapa sewotnya seperti orang tua yang memarahi anaknya ya? Pakai bahas batagor lagi. Bunga kan malu ketahuan makannya sangat banyak.
"Ayo jawab!"
"Astaga, Bapak. Ini juga mau jawab. Situ yang__"
"Jangan bertele tele...!"
Salah lagi. Selalu salah deh kalau sama Dibi.
"Itu loh, Pak. Delon habis minta maaf atas kesalahannya yang juga terpaksa karena suruhan Mbak Denisa. Katanya dia diancam nggak akan dibiayai hidupnya kalau nggak nurut __"
"Terus?!"
Disela mulu.
"Saya maafin lah__"
"Kenapa di maafin?"
Disergah lagi. Pak Duda ini seperti pewarta gosip. Merepet terus mulutnya. Bunga jadi merasa kalau Dube kayak Emaknya.
"Orang minta maaf tulus ya harus dimaafkan lah, Pak. Saya kan bukan pendendam orang nya. Baik hati, cantik, soleha meski bar bar juga dan sedikit mesum. Kalau ada yang disalahkan itu, ya Mbak Denisa biang keroknya karena ide piciknya kan dari dia." Hah... Habis nafas Bunga karena berkata dengan sekali tarikan nafas biar Dibi tidak dapat celah memotong ucapannya.
" Terus? "
Terus terus mulu dari tadi.
" Terus apa lagi yang Bapak mau dengar?" Bunga mencoba bersabar.
" Terus, dia ngajak balikan nggak? Terus, kamu nerima nggak? Terus __"
"Nggak, Pak Dibiiiiiii." Entah salah lihat atau bagaimana? Bunga kok samar samar melihat ada senyum tipis di bibir Dibi. "Eh, tapi ngapa Bapak nanya nanya cerewet seperti Emak ya?"
"Ayo pergi!" Dibi mengalihkan pembicaraan.
"Pergi kemana?"
Tuk...
Dibi memang hobi menjitaknya. Bisa nongnong jidatnya lama lama.
"Jangan bilang kalau kamu lupa soal semalam? Dan chat ku beberapa menit yang lalu, baca nggak?"
Bunga tercengir bodoh. Ia memang lupa dan chat Dibi, sama sekali tidak ia baca karena sedari tadi sibuk mendengarkan kisah Delon yang mau tidak mau harus nurut segala perintah Denisa katanya, karena segala biaya hidupnya ditanggung penuh sama tuh si Mbak.
"Sudah saya tebak!"
"Jangan marah, Pak. Nanti kerutan di dahi nambah banyak." Kabur setelah menyinggung Dibi pria tua dengan memakai kalimat halus barusan.
"Apa iya, kerutan di wajah ku sudah muncul?" Dibi bertanya tanya di teras itu pada dirinya sendiri. Bunga sudah pergi siap siap di dalam sana, Dibi pun beranjak ke arah kaca spion motornya. Mengelus elus dahi, wajah dan area muka lainnya untuk mencari kerutan tua yang dimaksud Bunga barusan. Ah, nggak ada kok. Tetap tampan di dalam kaca sana.
"Saya siap, Pak."
Dibi memegang dadanya yang kaget karena Bunga tau taunya sudah berdiri di sampingnya dan malah terlihat di kaca wajah mereka berdua. Cepat sekali dandannya, tapi tetap cantik nggak make up... Eh, jangan muji, batin Dibi memperingatkan dirinya.
"Eum, ayo. Tapi, Emak mu mana? Uda izin belum?"
"Uda. Beres itu mah. Malah kata Emak, pulangnya bawa oleh oleh," ujar Bunga sembari naik ke boncengan.
"Minta apa, Emak?"
"Mantu katanya!" Bunga tertawa sendiri. Tapi ia memang tidak berbohong. Emak nya mengatakan hal demikian. Anak Emak sama saja.
Broomm...
Yaak, dada kegesek lagi. Dibi ini seperti sengaja memainkan gasnya naik turun, Bunga yang takut jatuh serta kaget, mau nggak mau peluk dari belakang.
__ADS_1
Di belakang sana, Bunga itu berpikir keras, Dibi mau ngapain nyusul Arpina dan Denisa dengan menyertakan dirinya yang harus ikut. Mau bertanya, Bunga lagi malas karena ujung ujungnya, Dibi itu selalu susah ditebak. Nanya ini, kadang jawab nya sesuka hati serta digalakin nanti. Yawislah, ikut aja. Nanti juga tau.