Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 19# Tidak ber-BPOM nan Halal


__ADS_3

Anak sakit memang kesannya pasti manja. Rengek ini dan itu harus dituruti. Tapi, Bunga dan Dibi tidak bisa menuruti keinginan mustahil Arpina. Kalau minta seblak atau kerupuk melarat sih, nggak apa. Lah, ini, Arpina menyuruh mereka tidur bersama sama di bed brankar. Bayangkan! O... Em... Ji... Meski ada Arpina di tengah tengah juga, Bunga jelas tidak mau.


Bodo amatlah Arpina ngambek dan cemberut dengan tampang mau nangis sekarang.


"Sekarang tidur, Arpina. Ini sudah malam." Warning Dibi. "Dan kamu, Bunga. Bisa pulang naik taksi kan?"


Diusir. Tapi itu lebih baik daripada Arpina berulah lagi.


"Pin, cepat sembuh ya__"


"Kenapa sih, nggak tidur sama Arpina aja." Arpina masih berupaya. Ia tidak rela ditinggal Bunga. Entah kenapa juga. Intinya, hati Arpina itu sudah nyaman kalau dekat Bunga, nyamannya seperti dekat dengan Mama Pelangi yang jauh di ibu kota.


"Arpina, tidak boleh begitu. Dia perlu istirahat juga." Dibi pusing dibuat Arpina. Anaknya menekuk lagi wajahnya.


"Tante Bunga dan Papa nggak sayang, Arpina." Kali ini, manjanya Arpina bukan dibuat buat atau sekedar ingin mendekatkan dua orang dewasa di depannya ini, melainkan memang lagi mencari kenyamanan yang biasanya Pelangi dan Papa Gunturnya ciptakan. Dulu, kalau ia sakit maka malamnya pasti ditemani tidur kedua orang tuanya itu. Sementara, Mama Pelangi dan Papa Gunturnya kan tidak ada. Apa, mereka tau kalau Arpina sedang dirawat di rumah sakit? Arpina baru memikirkan demikian.


"Pa, aku ingin Mama."


Duh, ngenes sekali rengekan Arpina yang Bunga dengar. Kakinya tiba-tiba berat untuk melangkah. Alih alih pulang cepat, Bunga malah menghempaskan bokongnya lagi ke kursi dekat brankar Arpina. Adakah yang jual hati tega? Ingin rasanya, Bunga bertega ria saja, tetapi ia kan punya hati baik dan selembut bokong bayi meski casingnya bar bar dan sableng abis.


Sementara Dibi, pria itu mendadak keluh. Kehilangan kata kata. Bukan tidak mau mengabari Mama kandungan Arpina, cuma Dibi takut kalau ia dicap orang tua yang tidak bisa menjaga anak dan ujung ujungnya Arpina ditarik kembali dari pengawasannya.


"Pin, ini kan uda malam, masa iya Mamamu malam malam berkendara kemari. Kasihan tau." Bunga membujuk lembut. Iba juga pada Dibi yang mulut bon cabe level 30 nya tidak berlaku di depan Arpina.


"Makanya, Tante mau ya bobo sama Arpina di sini? Please...!"


"Boleh sih, tapi syaratnya Papa mu tidak boleh tidur di atas bed juga."


"Kenapa? Kan, Arpina lagi butuh dipeluk kiri kanan."


Kiri kanan ndasmu. Astagfirullah, mulut bar barnya kembali kambuh. Dosa lagi deh karena mengumpat terus.


"Belum halal loh, Pin."


Dibi memberi peluang untuk Bunga menjelaskan ke Arpina. Ingin tau juga, apakah gadis berhijab tapi bar bar ini cerdas atau bodoh.


"Halal? Oh, belum ada label BPOM nya, ya, Tan? Seperti snack itu loh."


Tepok jidat. Bunga melirik naas ke Dibi. Yang dilirik ketahuan mesem meski tipis sekali. Asem deh ah, gimana coba jelasinnya ke Arpina.

__ADS_1


"Iya, pokoknya haram untuk di makan."


"Kan, Tante memang manusia. Nggak boleh dimakan."


Salah lagi.


"Pak, jelasin. Diam bae." Bunga menyerah.


"Halal yang dimaksudnya tadi adalah belum menikah. Cewek dan cowok yang belum nikah disebut haram untuk tidur bersama."


"Kenapa, Pa?" Arpina masih cerewet dan ingin tahu lebih detail.


Bersekolah di basis Internasional sewaktu di Jakarta, memang pelajaran yang berbau regelius tidak diutamakan karena banyaknya siswa dan siswi yang memiliki perbedaan keyakinan. Kedepannya, Dibi punya rencana untuk menyuruh Arpina ikut mengaji sama Emak Dahlia.


"Haram karena dok-dok dan dompet koin belum ada BPOM nan halalnya untuk disatukan atau dimasukkan." Bunga berceletuk gemas. Tidur aja banyak dramanya Arpina badung ini. Kan capek, mau bobo ngorok lepas.


"Dok-dok dan dompet koin? Apa itu?" Hayo loh, Arpina kepo lagi akan bahasa ambigu Bunga. Dibi aja bingung, apa itu dok-dok? dompet koin sih, Dibi tau. Ada ada aja si sableng ini. Dibi yang gemas, refleks menjitak jidat Bunga.


"Ish..." Bunga berdesis sembari mengelus jidatnya dengan mata memicing sebal ke Dibi. Dikata, jidatnya tembok kali ya.


"Sakit? Biarin, lagian berceletuk kok nggak jelas. Arpina kan makin bingung. Coba jelasin yang benar, jangan pakai dok-dok dan dompet koin itu. Apa maksudnya coba?"


"Ya iyalah, kan saya bukan alien seperti mu."


Asem. Dikatai katai pula. Bunga jadi merasa bodoh, kenapa ya ia masih bertahan di tempat tersebut? Kan nggak ada urus juga.


"Benar, Bapak tidak tau?"


"Iya, Bunga!!!" Inhale exhale, sabar.


Duh, masa iya, Bunga harus menunjuk aset wanitanya yaitu dompet koin dan aset dok-dok adalah aset laki laki Dibi. Malu dong.


"Auh, ah. Gelap juga otak ku." Bunga mengelak santai.


"Situ punya otak? Heran sama fakultas yang menerima mahasiswi seperti mu."


Hina teruuuuss. Untung hati Bunga bukan terbuat dari kertas tapi baja jadi tahan baper bin sakit hati.


Bunga hanya memutar mata malas lalu segera mengubah topik. "Intinya ya, Pin. Selain tidak halal, bednya nggak muat ditiduri bertiga. Lihat noh, tubuh Papamu kan seperti gajah."

__ADS_1


"Eh, siapa gajah?" Dibi meradang disamakan binatang. Atlit begitu disamakan gajah. Jelas Dibi tidak terima.


"Situ!" Jawaban enteng Bunga menyulut mulut pedas Dibi.


"Andai kamu semut, gajah ini sudah menginjak injakmu."


Ribut lagi. Mata Arpina berputar, kadang ke Papanya dan Bunga yang bersungut sungut siap membalas mulut nyinyir Papanya.


"Bapak nggak tau ya kalau semut pernah mengalahkan gajah?"


"Itu cuma dongeng."


"Coba bacakan dongengnya." Menyela, Arpina jadi kepo dan antusias lagi.


Dibi dan Bunga saling lirik. Kalau sudah adu mulut, mereka melupakan keadaan sekitar. Di depan anak kecil, tidak sadar betapa kekanak kanakannya mereka. Begitulah otak mereka berkata.


"Sini, Tan. Rebahan dekat ku."


Bunga yang sebenarnya capek seharian ini, pun menurut manis. Enak sekali rebahannya. "Eh, Bapak nggak mau dengar dongeng cinderallah kejebak duda gitu?" Sempat sempatnya Bunga menggoda Dibi yang hendak keluar ruangan tanpa izin mau kemana. Masa iya, dia lagi yang menjaga Arpina? Haloha, dia pun butuh istirahat tau.


Di dekat pintu itu, Dibi memutar mata malas. Si sableng selalu memancing emosinya." Saya mau beli kopi, kamu mau?"


Ditawarin, jelas maulah. Famali nolak rejeki.


"Sekalian baso ya, Pak." Ngelunjak pula.


"Arpina juga mau baso__iya, iya, nggak deh." Arpina kicep mendapat delikan warning dari Dibi. Orang sakit dilarang makan aneh aneh kecuali masakan rumah sakit. Arpina cukup tau itu.


"Tenang, nanti Tante Bunga bagi bagi. Bisa diurus tanpa sepengetahuan Papamu," bisik Bunga sesat. Arpina tersenyum manis mendengarnya.


Setelah Dibi pergi, Bunga pun mulai berdongeng. Bukan cinderalla, bukan pula kisah semut dan gajah melainkan menceritakan idolanya yaitu oppa oppa korea. Sengaja, biar Arpina yang tidak paham merasa bosan dan alhasil, tidur pulas.


"Akhirnya tidur juga. Pulang ah."


Hati hati, Bunga bergerak dari sisi Arpina. Eh, apa yang nyangkut? Alamak ... sebelum tidur, Arpina iseng mengikat helai rambutnya ke ujung pasminah putihnya yang ia kenakan. Kapan anak badung ini melakukannya? Arpina kan jadi bangung lagi.


" Jangan pergi, Tan."


"Hehehe... Nggak, kok. Yuk, bobo lagi. Tante juga ngantuk."

__ADS_1


__ADS_2