Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 25# Kita Putus!


__ADS_3

Sepanjang malam, Bunga berusaha untuk tidur tetapi susah gara gara terngiang ngiang terus akan kejadian kemarin. Alhasil, matanya pagi hari ini sebelas dua belas dengan mata panda yang lingkarannya menghitam.


"Habis pakai celak kira kira napa, Unga. Itu sampai membekas begitu. Jelek amat Emak lihatnya kayak kuntilanak kurang tidur," beo Emak Dahlia yang belum tau apa apa.


Bunga masih diam seribu bahasa sembari menghempaskan bokongnya ke meja makan. Menarik bubur kacang yang masih setengah ngebul di mangkok putih itu.


" Ngapa cemberut bae? Uda mandi belum sih? Kucel amat?"


Apa semengerikan itu ya wajahnya? Ambil kaca di dalam tas, lihat penampakan. "Hem, jelek!" katanya mencela diri sendiri. Emaknya betul, kelopak dan pinggir matanya membengkak. Biar mengecoh sedikit, Bunga pun menancap bedak setipis mungkin. Diperlengkap dengan lip blam nude di bibir.


"Nah, itu lebih segar." Emak tersenyum. Tangannya sibuk menyiapkan rantang imut berwarna pink yang baru terisi bubur kacang hijau. "Tolong antar ke Arpina ya, Unga. Dia paling suka masakan Emak loh."


"Tapi, Mak___"


"Emak mules. Aduh, nggak kuat." Emak Dahlia tidak berbohong. Panggilan alam sudah diujung tanduk.


Terpaksa, Bunga pun menurut demi menghargai niat baik Emaknya.


"Sudahlah, yang kemarin memang seharusnya terjadi. Aku tidak salah. Titik!" Bunga meyakinkan dirinya dan berniat cuek.


Dengan membawa bubur kacang hijau yang masih hangat itu, Bunga memberanikan mengetuk pintu rumah Dibi. Belum dibuka, Denisa pun datang dengan maksud yang sama yaitu membawa sarapan namun isi rantangnya berbeda.


"Mbak," sapa Bunga ramah. Apalagi, Wanita tersebut adalah kakak dari kekasihnya meski keramahannya itu dibalas tatapan sinis sinis halus oleh Denisa.


"Kamu ngapain di sini?"


"Kata Delon, kamu sekarang kekasihnya, ya?"


"Selamat ya."


Denisa terus membeo, tidak memberi Bunga kesempatan untuk menjawab pertanyaan awalnya. Memberi ucapan selamat pun, Denisa cuma setengah setengah hati. Senyum si Mbak polwan pun terasa dibuat buat. Hem ... atau, hanya perasaan Bunga saja?


Ceklek...


Kedua wanita itu langsung memusatkan atensi ke arah pintu yang terbuka. Ada Dibi, berdiri datar di depan mereka.


"Ada apa?" Dingin co suara si Bapak polisi. Tatapan matanya pun menjleb ke arah Bunga. Sejurus, menatap Denisa tak kalah tajam. Tapi, bukan ibu polwan namanya kalau kicep dengan tantangan.


"Pagi, Pak. Saya kemari cuma mau berbagi masakan yang khusus saya buat. Sebagai tetangga baik, tolong diterima ya." Denisa tersenyum santai tak peduli dengan tampang dingin Dibi.


"Kamu?" Dibi bertanya ke Bunga. Tumben sekali si sableng itu datang ke rumahnya. Bukannya, selama ini Bunga kan ogah ogahan.


"Emak nyuruh saya antar ini."

__ADS_1


Tidak banyak omong, Dibi mengambil kotak tersebut dari Bunga dan Denisa bergantian. Ia masih punya perasaan menghargai niat baik orang.


"Tunggu di sini masing-masing."


Nggak disuruh masuk nih? Denisa berharap demikian. Tapi, brakk.. Pintu di tutup oleh Dibi.


"Kamu sih, datang juga. Jadi, saya tidak dipersilahkan masuk." Tanpa ba bi bu, Denisa menyalahkan Bunga.


Sabar. Sama calon kakak ipar harus bertingkah baik. Diam dan terima saja dulu.


"Kamu jangan dekat dekat dengan gebetan saya ya. Kan kamu, uda punya Delon. Kalau dia tau, kamu mencoba mengambil hati pria lain, Delon bisa marah loh."


Kalau lawannya bukan kakak Delon, mulut Bunga mana mau sabar.


"Saya kemari tidak ada maksud tertentu."


"Apa iya? Awas kalau khianati adik saya. Hum..." Denisa mengancam dengan cara memamerkan tinjunya. Dalam hatinya, menyeringai devil.


"Nyebelin...!" Bunga mendumel dalam hati.


Kendati kemudian, pintu kembali terbuka tetapi bukan Dibi melainkan Bi Muna, masing-masing tangannya membawa wadah makanan Bunga dan Denisa.


Bunga tersenyum ke Bi Muna karena wanita yang seumuran Emaknya itu memang ramah padanya. Sementara Denisa, ia memamerkan wajah tidak bersahabat secara terang terangan.


"Lagi sarapan, Bu. Maaf, ini kotak makannya punya siapa yang ini?"


Serobot... Denisa menariknya sedikit kencang. Eh, ada isinya. Bunga pun meraih kotak miliknya. Kosong plong. Itu tandanya, Dibi mengambil isinya. Tapi, saat Denisa membuka kotak miliknya di depan mata Bunga, ada bubur kacang hijau masakan Emak di sana.


Dengan hati kecewa, Bunga secepat kilat meninggalkan teras rumah Dibi. Dube tidak menghargai usaha Emaknya. "Dasar pria angkuh. Nyebelin!" omelnya di sepanjang jalan.


"Bagaimana, pemberian Emak uda di makan Arpina?" tanya Emak. Bunga yang tidak ingin Emaknya tersinggung, hanya mengangguk berat hati.


"Unga berangkat ya, Mak. Bawa motor, boleh?"


"Boleh dong, kan hari ini Emak libur dagang jamu." Satu kali seminggu, Emak memang ambil libur.


Bunga pun pamit ke kampus. Tadi, Delon memang mengatakan lebih awal kalau mereka tidak bisa berangkat bersama dengan alasan Delon ada perlu sama temannya. Dibi? Jelas sudah tidak ada urusan anter jemput dirinya karena Arpina pun seakan-akan cuek. Itulah pikirnya. Soal uang Dibi yang pernah ia pakai buat bayar kuliah, Bunga ada rencana kok menggantinya. Miskin miskin juga, ia tau diri.


Jadilah, Bunga berangkat sendiri. Saat motor maticnya melewati rumah Dibi, moge pria itu pun keluar dari pagar dengan Arpina yang berada di belakang boncengan.


Tiingg...


Klakson panjang Dibi, membuat Bunga menoleh. Bunga tersenyum ke Arpina, tapi bocah itu tidak membalas senyumnya. Namun, sejurus kemudian, bocah itu memeletkan lidahnya sampai motor Dibi sudah sedikit jauh ke depan, Arpina masih saja menoleh sedikit ke belakang tetap setia lidah songong itu.

__ADS_1


Bukannya sewot seperti biasanya, senyum Bunga malah mengembang. Arpina sepertinya tidak marah lagi padanya karena sudah memperlihatkan wajah jahilnya. Mungkin?


***


Saat Bunga berjalan di koridor kampus, tatapan para mahasiswa seakan-akan memperhatikannya lain dari pada hari hari sebelumnya. Ada apa gerangan? Tuh kan, setiap orang yang berpapasan atau yang ia lewati, menatapnya aneh.


"Bungaaaa!" Kebiasaan, dua sahabatnya menyapanya seperti tarzan.


Dalam rangkulan Dara, cewek itu berkata, "Kami sudah menonton aksi Delon nembak kamu di cafe loh. Wow, romantis. Kamu serta Delon, jadi trending topik di kampus kita."


Hah... Mulut Bunga ternganga. Pantas saja para mahasiswa menatapnya aneh. Tapi, kok bisa ada videonya? Bunga harus cari Delon dan mempertanyakannya.


"Nanti siang, kami minta pajak traktirannya, ya." Alis Farah naik turun menggoda. Bunga yang tidak konsen, hanya mengangguk saja. Sejurus, ia beralasan minta izin ke toilet padahal niat hati cuma mau nyari Delon yang biasanya nongkrong bersama teman-temannya di sebelah gedung aula.


Sampai di tempat, benar saja ada Delon dan tiga teman prianya yang sedang asyik mengobrol sehingga kehadirannya di belakang sana tidak di sadari oleh mereka semua termasuk Delon yang mengungkapkan pernyataan pahit untuk Bunga dengar.


Saat salah satu temen Delon berkata, "Aku kira, selama ini kamu naksir Putri, fakultas Sastra itu, Bro. Taunya tembakan asmara jatuh ke Bunga."


Tawa kecil mengema dari empat orang itu.


"Iya, kok bisa, Lon. Kan kamu sering curhat ke kita kita yang sedang pedekate ke Putri. Apa Putri nolak kamu, terus Bunga jadi pelampiasan?"


"Kalian cerewet sekali. Intinya sih, Bunga aku jadikan pacar karena cuma misi dari Mbak Denisa. Mbak ku itu suka sama Duda samping rumah, ceritanya Bunga dicap calon ibu tiri sama tuh anak Duda. Mbak Denisa yang ngebet sama Bapaknya, maksa aku untuk ngegaet Bunga. Dengan begitu, Bunga atau bocah badung itu berjauhan dan Mbak ku bisa mengambil kesempatan emas itu. Tapi, nggak apa sih. Hitung hitung aku senang senang, meski nggak cinta juga tapi kan lumayan bisa grep* - grep* Bunga. Kalau diperhatikan, Bunga lebih cantik dari Putri."


Mendengar pernyataan Delon, hati Bunga potek sekaligus lega. Meski hati mengatakan 'sakitnya tuh di sini' setidaknya, dirinya masih jauh dari kata dilecehkan dengan kata lain dari Delon barusan adalah digrep* grep* katanya.


Damn! Marah, kesal, dongkol dan ingin murka? Oh, jelas saja semua itu yang telah Bunga rasakan. Dan apa yang ia lakukan? Lihatlah gadis bar - bar ini kalau sedang beraksi.


Kebetulan atau pak OB kasihan padanya, secara tidak langsung, ada ember berisi air bekas pe-lan yang warnanya sudah kotor, Bunga angkat. Berjalan cepat ke arah Delon. Lalu ... Byuuurrr... Maam tuh ember yang sengaja Bunga tahan di kepala Delon membuat sang Empu kepala gelagapan. Tambahannya, Bunga sengaja mengeprak ujung ember yang masih di atas kepala Delon sehingga kuping pria itu berdengung maksimal.


Jelas teman-temannya dan Delon terkejut hebat pakai maksimal. Masih pagi, uda mandi dua kali.


Dengan kesal dan kuat, Delon berhasil membanting embar. Teman-temannya cukup jadi penonton.


"SIAPA SIH__ Bu-Bunga?"


"KITA PUTUS!" kata Bunga lantang tanpa sesal sama sekali. Bunga malah belum puas memberi pelajaran ke Delon.


Sekali lagi, ember yang terjatuh ke bawa, Bunga ambil. Lalu dengan lancang membidik ke arah wajah Delon, untung pria itu sigap menepisnya.


"Bunga, Bunga, aku bisa jelasin!"


Bunga yang sudah berjalan, berbalik lagi mendengar usaha sia sia Delon yang masih mematung di tempat dengan keadaan basah kuyup. Gadis berhijab tapi bar bar punya, mengangkat jari tengahnya fuc* ke Delon. Lanjut membuat pergerakan menggorok lehernya sebagai peringatan ke Delon untuk tidak macam-macam atau mendekati lagi dirinya hanya karena misi banci Denisa.

__ADS_1


__ADS_2