Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 45# Kejutan Di Hari Wisuda


__ADS_3

Rangkaian acara demi acara wisudahan masih berlangsung yang sudah dimulai sejak tadi pagi. Ramainya keadaan di aula tempat wisuda itu, tidak dirasakan oleh hati Bunga yang malah hampa dan kosong. Pengaruh Dibi yang pergi benar-benar besar dalam hidupnya, padahal ia sudah berusaha menguasai diri untuk menciptakan suasana happy bersama dua sahabatnya serta ada Delon pun yang ada di sebelah kirinya.


"Unga..." Dara dan Delon kompak menyenggol di masing-masing lengan Bunga yang masih bergeming padahal nama Bunga Ayana tidak disangka sangka masuk di daftar deretan mahasiswa mahasiswi lulusan terbaik.


"A-apa?"


"Namamu dipanggil..." Seru Delon berbisik. Para mahasiswa lainnya yang dekat dengan barisan duduk Bunga, menatap ke arahnya. Membuat Bunga salah tingkah dan cepat cepat berdiri.


Aduh. Hampir lah Bunga terjerembab karena lupa sedang memakai rok pasangan kebayanya yang melilit sempit, malah langkahnya ia panjang panjangkan. Untung Delon sigap menahan lengannya. Kalau jatuh kan, tidak lucu rasanya. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu pasti sangat luar biasa. Apalagi banyak orang penting di atas panggung sana. Termasuk pengacara kondang pada masanya yang menjadi panutan Bunga, Meca Aprilian di sana yang hadir sebagai tamu kehormatan acara kelulusan bagi fakultas hukum di tahun ini.


"Selamat ya..." Tangan Bunga terasa bergetar saat ingin bersalaman dengan perempuan paruh baya yang Bunga kagumi namanya tadi. Tidak disangka, tidak diduga, beliau hadir dan bersentuhan kulit dengannya.


Ada hiburan tersendiri di hati Bunga yang sedang galau akan kedatangan Ibu Meca.


"Terimakasih, Bu. Saya adalah pengagum Ibu. Meski Anda sudah pensiun, tetapi saya sering mencari topik topik mengenai kejayaan Anda dulu. Semoga, saya bisa mengikuti jejak kesuksesan Ibu. Dan senang juga rasanya kalau Ibu mau jadi mentor saya."


Sedikit lancang sih, Bunga mencuri percakapan di antara penyerahan berkas penting oleh Ibu Meca.


"Benarkah? Kalau begitu, kita akan sering bertemu. Kalau mau saya mentori, kamu harus bersedia jadi cucu mantu saya."


Eh, si ibu pasti ngelantur karena efek umur atau jangan jangan kuping Bunga lah yang bermasalah? Bunga hanya tersenyum maklum menyikapi candaan si Ibu.


"Mama..."


Hah.. Benarkah mata Bunga tidak sedang delusi? Kok kepala Arpina muncul secara tiba-tiba dari kolong meja Ibu Meca dan spontan memanggilnya mama dengan suara sedikit pelan.


"Tidak, tidak, ini hanya halusinasi. Aku pasti dalam delusi," batin Bunga menepis penglihatannya ke Arpina. Lagian, apa hubungannya bocah itu dengan Ibu Meca sehingga Arpina diperbolehkan bermain main di atas panggung dan malah bersembunyi di kolong meja. Fixed, itu hanya khayalannya saja karena terlalu rindu dengan Arpina dan Dibi.


Tak ingin memperlakukan dirinya di atas panggung di depan para dosen, Pak Rektor serta semua orang yang hadir di gedung itu, Bunga bergegas turun dari panggung,


bukannya kembali duduk di kursinya, Bunga malah berjalan keluar gedung. Ia sudah tidak bersemangat menyelesaikan acara lagi.


Termenung, Bunga hanya duduk di kursi koridor. Ia menunggu Emaknya keluar dari aula karena Bunga yakin, Emaknya itu melihatnya keluar, dari kursi khusus para wali.


"Congratulition...!"

__ADS_1


Satu buket bunga mawar putih serta boneka lucu tiba tiba disodorkan oleh seseorang yang memakai sepatu mengkilap. Masih dalam pandangan menunduk, Bunga mencerna suara pemilik satu kata tersebut. Suara Dibi? Apakah sekarang ia berhalusinasi lagi? Rumah sakit jiwa ada di seberang jalan, bisa bisa Bunga akan menyerahkan dirinya secara suka rela kalau terus dihantui Dibi dan Arpina yang sialannya Bunga itu sebenarnya masih dalam perasaan bersalah ke Arpina akan kelalaiannya. Gimana ya kabar tuh bocah jahil?


"Tangan ku pegal! Kalau tidak mau maka saya buang saja. Mumpung tong sampah ada di belakang ku!"


Ocehan khas Dibi. Cepat cepat Bunga mendongak yang tadinya mengabaikan pria yang rindukan dikarenakan Bunga berpikir kalau selaksa rindunya sudah menjadikannya rada rada sinting.


" Pa-pak Dibi__"


Grebbb...


Bukan Bunga yang memeluk cepat, tapi Dibi. Tidak dipungkiri, ia juga sangat merindukan Bunga dan juga merasa bersalah karena sempat memarahi Bunga saat lalai menjaga anaknya. Mendengar cerita Arpina setelah anaknya itu sembuh, membuat perasaan salah Dibi kian menggunung. Tapi, hari dimana akan menemui Bunga, Dibi tiba-tiba mendapat misi dari petinggi. Alhasil, ia dan Bunga lost contact.


Dikata sableng, gadis yang sedang memukul mukul dadanya pelan di dalam rengkuhannya ini sangat mengganggu hari harinya selama menjalankan misi di luar negri.


"Bapak jahat, bapak pergi tanpa kabar! Seperti setan. Bapak jahat karena sudah berhasil menyiksa saya dengan kata selaksa rindu. Saya benci Bapak, tapi saya juga masih mencintai Bapak! Jadi, saya harus apa?"


Bunga mengeluarkan unek uneknya dengan masih terus memukul-mukul dada keras Dibi. Merasa puas karena Dibi pasrah pasrah saja dipukulin, Bunga akhirnya membalas pelukan Dibi karena terlalu rindu berat. Lap air mata dan ingus pun tak di pedulikan lagi, enak di baju batik Dibi. Dan seperti biasa, Dibi kali ini kalem sekali dijadikan bahan lap cairan Bunga. Duh, gadis ini sepertinya memang sangat sangat tersiksa. Air matanya pun berhasil melunturkan maskara nya.


" Maaf... " bisik Dibi tulus. Kali ini, Bunga lah yang memeluk nya sangat erat. Ia masih jengkel, tapi luluh juga dengan kalimat pelit 'maaf' Dibi.


"Lepas dulu, nanti dijelaskan."


"Nggak mau, jelaskan atau saya benar-benar merasa prustasi." Bunga kian mempererat lingkaran tangannya di pinggang Dibi. Telinganya mendengar nyata jantung Dibi berdetak kencang.


"Aku sibuk dalam misi, Bunga."


"Kan bisa chat malam atau pas lagi nongkrong di wc."


"Nggak ada wc, aku mengejar buronan masuk ke hutan dan sinyal juga susah. Tadi malam baru sampai ke tanah air. Tadi pagi juga saya baru tau acara wisuda ini berlangsung dari Oma Meca, Oma ku yang tadi memberi mu penghargaan khusus. Apa sudah puas dengan penjelasan ku?"


Berangsur Bunga merenggangkan pelukannya. Mendongak ke wajah Dibi dengan tatapan penuh tanya," Ibu Meca, Oma nya Bapak? Terus tadi yang di kolong meja, benar Arpina dong?"


Dibi mengangguk manis. Jangan tanyakan senyumnya? Lebar sekali karena puas membuat wajah Bunga terbengong bengong. Namun Sekonyong-konyongnya, Dibi memelotot karena baru menyadari Bunga sedari tadi terus memanggilnya Bapak alih alih Aga.


"Mama..."

__ADS_1


Dibi menelan kembali omelannya karena seruan Arpina yang sedari tadi ditahan terus oleh Mamanya untuk jangan menggangu, kini akhirnya lepas juga dan berlari ke arah mereka berdua.


Bunga menoleh ke asal suara. Alamak... Emak dan Arpina di sana bersama rombongan siapa? Ada Ibu Meca yang katanya adalah Omanya Dibi. Terus, tiga orang lainnya siapa? Orang tua Dibi mungkin? Dan pria tua yang lengannya dilendoti Ibu Meca, pasti Opa nya Dibi. Duh, Bunga kok tiba-tiba nervous ya, di datangi keluarga Dibi yang ternyata bukan kaleng kaleng membuat lututnya lemas seperti agar-agar jeli.


"Me-mereka siapa, Pin?" bisik Bunga yang sedang berpelukan kangen dengan Arpina. Dua bulan tidak bertemu dengan Arpina, Bunga jadi ingin mengunyel unyel dan mencium pipi bocah kecil itu.


"Keluarga Papa dan Arpina. Mau lamar Mama katanya. Tapi, lamar itu pertanda mau nikah kan ya? Terus Arpina punya adik baru, gitu kan?"


Mendengar celoteh Arpina, Bunga kian berkeringat nervous.


"Iya, kami mau melamarmu, Bunga. Mau kan sama anak Om?" Dirgan, Papa Dibi itu to the point.


"I-iya, Om. Mau!" Lalu gedubrak. Bunga pingsan akhirnya. Si Dube refleks sekali menangkap Bunga.


"Bunga, nggak lucu ah. Bangun atau sekarang juga saya nikahi kamu."


Magic sekali ancaman Dibi. Bunga sejenak membuka mata. Tapi melihat Emak dan keluarga Dibi yang sudah mengelilinginya, jadi pingsan lagi. Ia selalu gemetaran melihat Meca.


Alih alih pada cemas, keluarga Dibi malah tersenyum tipis. Bintang berceletuk, "Dibi, kayaknya Bunga memang mau dihalalkan sekarang deh. Bagaimana, Ibu Dahlia, setuju nggak? Resepsi soal gampang. Terpenting sah dulu. Tau sendiri, Dibi seperti nya sudah ngebet."


Wajah Dibi merona dibuat perkataan Mamanya.


"Surat surat pernikahan serahkan pada saya. Meski sudah pensiun jadi ahli hukum, anak bimbingan saya masih setia berbakti." Meca menimpali.


Emak yang dibuat tak bisa berkata apa-apa di antara keluarga Dibi yang terburu buru sekali. Olang kaya mah bebas, tapi berpikir lagi si Emak, daripada lama lama, yang ada anak nya sering dipeluk Dibi yang belum sah.


" Okelah, saya setuju saja. Orang tua seperti saya hanya berharap Nak Dibi menyayangi dan mencintai anak Emak yang selama ini Emak besarkan tanpa Bapak, dari Bunga duduk di bangku SD. Emak hanya menyarankan Nak Dibi menerima sifat konyol anak Emak yang memang sudah mendarah daging. Kalau pun Bunga gagal menjadi istri, Emak pinta jangan sakiti dia. Balikin ke Emak secara baik baik seperti Nak Dibi mengambilnya di sisi Emak. Seburuk buruk nya Bunga, Emak tetaplah orang tua nya yang selalu menerima kekurangannya."


Emak meneteskan air mata haru.


"Saya tidak akan berjanji, Mak. Tapi sebisa mungkin, saya akan membahagiakan anak, Emak__"


"Papa, kasihan tau. Mama hidungnya dihinggapi lalat," celetuk Arpina memotong perkataan serius Dibi. Lantas semua mata tertuju ke wajah terpejam Bunga yang kepala gadis itu sedang dipanggang bahu Dibi.


Huawaciii...

__ADS_1


Duh, gerimis bersin Bunga mengenai wajah keriput Meca. Bunga yang menyadari kesalahan fatalnya, jadi pingsan lagi.


__ADS_2