
Pukul dua dini hari, obat yang membius Bunga sudah habis. Wanita itu terlihat melenguh pelan. Mata bergerak terbuka secara perlahan. Silaunya cahaya lampu membuatnya berkedip kedip sembari mengumpulkan nyawanya.
Seperkian detik, kepingan demi kepingan teringat penyebab dirinya terbaring di brangkar dengan tangan tertancap selang infus. Main skating. Jatuh, lalu kakinya....
"Aaarggh..." Bunga histeris keras. Mengejutkan Dibi yang sebenarnya baru terlelap beberapa menit yang lalu. Bunga berpikir kalau ia dibius tadi, pasti kakinya sudah diamputasi. Dan sekarang... Oh, Tuhan. Bunga tidak kuasa menyibak selimut yang menutupi jenjang kakinya.
"Akhirnya kamu sudah sadar!" seru Dibi yang sudah menunggu detik detik bangunnya Bunga. Berdiri di sisi brankar Bunga sembari memperhatikan ekspresi gadis ini yang sungguh ajaib menurutnya, dalam keadaan kurang fit pun, suaranya selalu menghebohkan.
"Kaki ku? pasti sudah___ Pak..." Bunga bersedih, tak kuasa mengatakan ke Dibi kalau ia sudah buntung. Fisiknya yang kurang lengkap akan menyusahkan Emaknya. Dikucilkan, dibully sama orang orang dan jodohnya? Makin ilfil mendekat. Bunga paranoid memikirkan semua nasib buruknya mulai detik itu juga.
"Apa ada yang sakit?" Dibi bertanya perhatian dan cemas. Ingin memeriksa kaki Bunga dengan cara menyibak selimut, akan tetapi dicegah oleh Bunga. "Kenapa?" Bingung Dibi jadinya. "Aku panggil Dokter atau suster ya."
"Jangan dipanggil! Mereka semua jahat!"
Ini gadis sableng lagi ngigo atau apa ya?
"Saya nggak mau, Pak. Nanti kaki satunya diamputasi lagi. Huawaa..." Bunga semakin histeris shock. Sekonyong-konyongnya, ia spontan bergerak memeluk perut sixpack Dibi untuk mencari ketenangan, mau meluk Emak tapi sandaran satu satunya itu tidak ada. Membuat pria tersebut mematung dengan jantung kembali tidak sehat, jedag jedug seperti ada musik remix milik tetangga berbunyi keras.
Seperkian detik, masih dalam posisi intim yang Bunga pun tidak sadari dalam kekalutannya. Sementara Dibi, membiarkan hal tersebut. Tunggu dulu, Dibi ingin mengingat ingat, kapan ia terakhir berpelukan dengan lawan jenis. Ah, sudah lama. Sewaktu salam perceraian damai dengan Mama Arpina yang waktu itu ia masih cinta cintanya dalam sesal kesalahannya sendiri.
"Nikmati ajalah," batin Dibi. Sebagai lelaki, ia tidaklah munafik. Nyaman dipeluk Bunga.
"Pak, kalau saya ketahuan ngemis atau ngamen di lampu lampu merah, jangan di tangkap ya? Atau, bilangin sama petugas Satpol PP kalau saya dirazia nantinya."
Apa maksudnya gadis ini? Pasti mulai ngaco lagi. Alis Dibi sampai mau menyatu saking pusingnya diajak Bunga berbicara ngaur.
"Kan saya nggak bisa lari, Pak."
Astaga... Jadi, si sableng berniat memanfaatkan kakinya yang dikira sudah buntung. Tapi, saat membayangkannya, Dibi jadi kasihan dan tidak tega juga. Masih muda nan imut, malah jadi pengemis buntung di lampu merah.
"Jangan berpikir yang tidak tidak, Bunga!" Tangan Dibi berangsur mengelus kepala Bunga yang masih bersembunyi hangat di bagian perutnya, dan sentuhan itulah yang membuat Bunga tersadar.
"Kok Bapak peluk peluk saya sih?!" Bunga memicing tajam tapi raut pipinya merona.
Fjskefjjsseia... Dibi jadi dongkol. Siapa yang meluk siapa, tetapi ia malah dibentak. Memang meresahkan gadis ini.
"Kalau masih berisik, saya panggil Dokter untuk memotong kaki mu!" Dibi ingin mengetuk jidat Bunga, tetapi berujung memencet hidung gadis itu karena Bunga ingin membeo membalas ucapannya. Gadis ini sangat membuat hari harinya berasa nano nano. Nyebelin sekaligus menggemaskan.
" Bapak, lepas! Nanti hidung saya nambah mancung banyak yang iri lagi." Suara Bunga seperti orang pilek. Penyiksaan orang sakit ini mah.
"Makanya jangan ribut terus. Aneh...!" Secepatnya, Dibi menyibak selimut. Biar gadis itu sadar dari kekalutannya yang berpikir ngeri kalau kakinya sudah buntung.
"Eh..."
Dibi berhasil membuat Bunga diam seribu bahasa. Tangan gadis itu terulur ingin memeriksa kakinya yang di lilit gips.
"Ini bukan kaki palsu kan, Pak?"
__ADS_1
Masih saja cerewet. Dibi duduk di sisi kaki Bunga yang bermasalah. Lalu berpura-pura ingin meninjunya.
"Eh eh eh, mau apa?"
"Kalau dijadikan samsak tinjuku, mungkin benar benar akan diamputasi. Mau nyoba?" Dibi menggoda. Perbuatannya itu membuat Bunga refleks menggerakkan kakinya dengan paksa. Alhasil, ia mengerang sakit.
"Saya hanya becanda, Bunga. Kamu ini! Jangan bergerak lagi. Saya bantu... Tahan ya. Oke, sip."
Adu-aduan Bunga saat Dibi membenarkan posisi kakinya.
"Kata Dokter, jangan kebanyakan bergerak dulu. Itu artinya, kamu tidak boleh beraktivitas!"
Gadis perawan itu tiba-tiba menekuk wajahnya dengan mulut yang biasanya cerewet, jadi membisu sedih.
"Kenapa lagi? Kan kamu sudah tau, kalau kakimu tidak amputasi." Dengan intens, Dibi memperhatikan wajah sedih Bunga.
"Emak uda tau belum, Pak?"
Oh, nyari Emaknya toh. "Uda. Tadi kemari, tapi saya suruh pulang lagi sama Arpina dan Denisa. Kasihan, nanti Emak mu kecapean," terang Dibi kian membuat Bunga galau.
"Loh, napa lagi mau mewek gitu?"
Bunga memberanikan diri menatap lekat wajah Dibi. "Saya sudah menyusahkan Bapak dan pasti membuat Emak kepikiran biaya."
"Jangan pikirkan itu. Terpenting kamu nurut sama peringatan Dokter. Cepat sembuh dan bayar hutang sama saya." Percayalah, bayar hutang yang dimaksud Dibi, lain dari pemikiran Bunga. Pria itu menyeringai saat Bunga manggut manggut lemah dengan helaan nafas kasar.
" Pusing lagi gara gara duit oh duit," batin Bunga galau.
"Saat kamu ingin dibius, kamu mengatakan seperti ini, 'Bapak kok tega sih, saya nyesal kagum sama Bapak yang jahat. Saya juga nyesal karena sudah menyukai Bapak.' Apa tuh maksudnya, eum?" Dibi membuka lebar lebar telinganya, tidak sabar akan jawaban Bunga.
"Hah...?" Mulut Bunga setengah terbuka. "Masa sih, saya bilang gitu? Bapak mungkin lagi mi-mimpi." Setelah mengelak dengan tampang gugup, Bunga langsung membuang muka. Ke arah manapun, asalkan tidak bersitatap dengan Dibi. Ia salah tingkah, dalam hatinya merutuki diri sendiri yang tidak sadar mengakui perasaannya secara spontan. Tapi, apa benar ia menyukai Dibi? Bunga pun masih bertanya tanya dan juga, ia pasti akan dimaki maki tolak, alih alih diterima cintanya. Mungkin ini adalah karma dirinya yang selalu menatap sebelah mata pria duda. Sial baginya karena terperosok jatuh ke dalam pesona pak Dube galak, tapi aslinya baik dan sayang anak.
Curi pandang ke samping, eh... "Pa-Pak, kok de-dekat amat sih. Ba-bapak mau apa?"
"Menurut mu, saya mau apa, eum?" Dibi kian memajukan kepalanya secara perlahan. Bunga ini telah ketahuan sedang mengelak. Sebelum Bunga bertanggung jawab akan pernyataannya yang telah berhasil membuat perasaan Dibi bercampur aduk, Dibi akan terus mengganggu Bunga sepanjang malam.
"Saya pukul, nih." Bunga mengancam dengan wajah kian gugup. Sial, kepalanya mentok ke belakang. Tidak menyangka, kalau Dibi mesum juga. Gayanya saja selalu dingin, ternyata kulkas jalan yang rusak.
"Ngaku, atau saya___" Dibi sengaja menjeda. Menghentikan pergerakan kepalanya yang sudah berjarak satu jengkal. Sebagai sentuhan mesra mesra menakutkan untuk Bunga, Dibi meniup wajah Bunga dan gadis itu refleks berkedip kedip.
Inilah dirinya kalau sudah diusuk dan ia terusik akan pernyataan Bunga yang menggangu hati dan otaknya, maka ia tidak akan melepaskan sasarannya dengan mudah.
"Bapak, saya kebelet!"
Eh, kebelet apa maksud Bunga? Kawin? Dibi jadi ngeri sembari memundurkan kepalanya. Sah saja belum, tapi Bunga begitu blak blakan. Kan, Dibi menggoda dengan cara agresif cuma ingin mendengar pengakuan jujur Bunga. Tak disangka tak terduga, Bunga lebih gila menurutnya. Kebelet katanya? O... M... G...
"Pak, saya kebelet!" rengek Bunga lagi. "Gara gara tiupan Bapak mengenai bulu halus saya."
__ADS_1
"Sinting!" sewot Dibi. Berdecak pinggang galak. "Kamu jadi cewek gatal amat sih!"
Bunga malah bingung. Kok si Bapak menghinanya dan mengatainya pula.
"Emang, kalau lagi kebelet dikira sinting dan gatal ya, Pak? Eh, iya sih. Ada yang gatal __"
Dibi mensergah gemas gemas sewot. "Nunggu sah dulu, Bungaaaaa!" saking dongkolnya, Dibi berseru menekan nama Bunga dengan jelas. Gadis itu berjengit kaget.
Bunga baru sadar dimari, saat mendengar kata sah yang tercuat dari mulut ngaur Dibi. Sialan, ternyata otak Dibi dan pemikirannya berbeda arah. Ibaratkan, Bunga mau ngalor, Dibi ingin ngidul, nggak akan bertemu. Kesal dirinya saat ia paham akan hinaan Dibi yang mengatainya gatal.
Bugh...
Dibi mendelik kaget mendapat lemparan bantal dari Bunga yang jatuh barusan mengenai wajahnya.
"Saya itu kebelet mau buang air kecil, Pak!" sewot Bunga. "Ngeras mulu otak Bapak dari tadi, ya?"
"A__" Dibi kehilangan kata kata. Planga plongo seperti orang bodoh. Astaga... Ternyata yang sinting adalah otaknya.
"Nyebelin banget sih kaki saya. Aduh, mana uda diujung lagi, ah." Bunga mengerutu sendiri dengan duduk gelisah menahan air kotoran tubuhnya. Gara gara kakinya yang sakit dan pasti bengkak itu, jadi menggangu ruang geraknya.
"Ayo, saya bantu!" Dibi berbaik hati. Tapi, Bunga yang malu menggeleng geleng. Tidak mungkin kan Dibi membantunya sampai ke hal hal yang intim.
"Ck, kamu mau ngompol, hah?"
Bunga menggeleng-gelengkan lagi kepalanya sembari bibirnya ia gigit gigit kecil. Di bawah sana semakin mendesak.
"Pak, beli pempes aja gih. Sama panggil suster." Kalau pakai pempes orang dewasa kan, Bunga enak tuh, tinggal wer wer tanpa ketahuan Dibi.
"Ini jam dini hari, Bunga. Aku mah ogah berkeliaran di rumah sakit. Angker bawaannya. Lagian, kamu itu bukan nenek nenek jompo. Jangan jorok jadi orang. Gadis gadis kok mau ngegondol pempes. Pokoknya, ayo! Saya bantu... Nggak boleh nolak. Lagian, saya nggak minta bayaran."
"Pak... Pak..."
Tak peduli dengan suara Bunga, Dibi main angkat tubuh itu begitu enteng.
"Besok beli pempes ya, Pak __ eh, iya iya." Bunga kicep dapat delikan horor. Pasrah saja. "Tapi, jangan ngintip ya, Pak. Dosa loh. Dan belum sah juga kata bapak tadi."
Biarkan Bunga terus mengoceh. Setelah selesai dari toilet, cewek ini akan ia intimidasi mengakui apa yang harus diakui Bunga. Titik...
"Jantung sialan..." Dibi hanya mengomeli dirinya dalam hati. Jedag jedug lagi jantungnya saat Bunga ia gendong seperti ini.
"Pak, kok Bapak ganteng sih?" Bunga jadi bersemangat menggoda Dibi karena si mulut galak tertutup rapat.
"Waktu Ibu Bapak ngidam, ngemilin apa, Pak__"
"Ngomong lagi, saya bungkam bibir mu dengan bibir saya, mau?"
"Mau..." Bunga hanya menjawab cepat tanpa dicerna. Saat langkah Dibi tepat di pintu toilet, Bunga baru sadar. Cepat cepat ia meralat, "Mau pipis maksud saya, Pak."
__ADS_1
"Dasar sableng...!"
Bunga tersenyum geli. Ia memang dikatai-katai, tetapi rasanya beda kalau Dibi yang mengatakannya.