Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 36 - Dia Adalah Dea


__ADS_3

Arden menatap lekat-lekat foto seorang wanita di dalam ponselnya. Seketika jantungnya seperti tersengat, sepersekian detik seolah berhenti. Tangannya gemetar, terus menggeser semua foto kiriman Leon.


Dengan kedua mata yang terlihat cemas, Arden terus menatap layar ponselnya.


Di slide yang lain terlihat wanita itu berfoto dengan para rekan kerja, juga beberapa artis yang datang saat pertunjukkan musik.


Tawa itu benar-benar tawa milik wanita ku.


Sandra? Batin Arden penuh tanya, tampilannya memang terlihat berbeda, sekilas seperti bukan Dea. Namun dari beberapa sisi keduanya memiliki kemiripan, hanya rambutnya yang terlihat berbeda jelas.


Jika itu Dea, jelas dia memotong rambutnya. kurang ajaar, beraninya dia memotong rambut itu tanpa seizinku.


Tangan Arden bergerak cepat untuk menghubungi Leon dan sang asisten yang sudah menunggu di ujung sana langsung menjawab panggilan itu. Leon sudah siap menjalankan semua perintah sang tuan, termasuk menambah personil untuk membawa Dea pulang.


"Hentikan semua orang! jangan ada yang berani mendekati wanita itu! aku sendiri yang akan memastikannya!" titah Arden dengan suaranya yang menggebu.


"Baik Tuan," jawab Leon patuh.

__ADS_1


Setelahnya panggilannya itu terputus. Leon dengan segera menghentikan semua tim, kemudian bersiap untuk pergi ke kota S bersama sang Tuan.


Pagi itu juga, mereka berdua pergi ke Bandara. Akan lebih cepat sampai ke kota S jika menggunakan jalur udara.


Setibanya di kota S, Leon memimpin jalan. Leon pun sudah menyelidiki tentang Wanita bernama Sandra itu, Leon tahu dimana wanita itu tinggal.


"Tuan, itu adalah rumah kontrakannya," ucap Leon seraya menunjuk rumah kecil bercat putih, berjejer dengan rumah lain yang terlihat serupa. Rumah itu masih tertutup rapat.


Arden dan Leon mengawasi dari jarak aman, mobil mereka berada di seberang jalan. Arden tidak ingin terburu-buru, dia ingin memastikannya secara langsung. Dan andai itu memang Dea, Arden tidak ingin wanita itu takut. Tidak ingin Dea kembali menghindarinya.


Cukup lama mereka berdua disana, namun belum ada tanda-tanda rumah itu akan terbuka.


"Leon, carilah seseorang untuk mengetuk pintu rumah itu."


"Baik Tuan."


Leon turun dari mobil, membayar seseorang untuk mengetuk pintu rumah kontrakan itu dan pura-pura menanyakan sesuatu. Leon juga meminta orang itu untuk tutup mulut, jangan mengatakan jika ini permintaannya.

__ADS_1


Dan seorang wanita paruh baya itu pun menurut, dengan langkah pelan dia menghampiri rumah yang ditunjuk dan mengetuknya beberapa kali.


Tok tok tok


Tok tok tok


Dea yang baru terlelap pun kembali membuka mata, entah kenapa di jam 10 pagi menjelang siang ini dia mengantuk sekali, jadi dia memutuskan untuk tidur.


Namun ketika pintu rumahnya membuat dia terpaksa bangun, dengan muka bantalnya Dea membuka pintu itu, melihat seorang wanita paruh baya di depan sana.


"Maaf Bu, ada apa ya?" tanya Dea dengan ramah, dia membuka pintu rumahnya lebar lalu keluar.


Dea sungguh tidak sadar jika interaksinya diawasi oleh dua orang pria, Arden dan Leon terperangah ketika melihat wanita bernama Sandra itu, dia adalah Dea.


Arden mengepalkan tangannya kuat, namun masih menahan diri untuk tidak turun. Saat ini yang ada hanyalah kemarahan dan dia tidak ingin menemui Dea dalam keadaan seperti itu.


"Pergi," titah Arden dan Leon segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2