
"Bagaimana pertemuannya? apa menyenangkan?" tanya Arden pada sang istri, saat itu Dea dan Silvana baru saja pulang dari acara pertemuan mereka.
Silvana mengajak Dea pulang lebih dulu karena tidak ingin menantunya merasa kelelahan.
Dan Dea mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami, bahwa pertemuannya tadi cukup menyenangkan untuk dia.
Dibangga-banggakan oleh Silvana tentu membuatnya merasa bahagia. Apalagi selama ini Dea selalu berfikir jika Silvana akan malu untuk memperkenalkan dia pada semua orang.
"Duduk di sini dulu biar ku pijat kakimu," ucap Arden, Dia menepuk tempat duduk yang kosong di sebelah kanannya, meminta Dea untuk duduk.
Mereka berada di ruang tengah.
Silvana yang ikut mendengar ucapan sang anak pun hanya tersenyum, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.
Saat ini masih jam setengah 3 sore, karena hari minggu jadi Arden ada di rumah.
Perlahan Arden mulai memijat kaki istrinya, membuat Dea merasa sangat nyaman.
"Ar, aku jadi ngantuk."
"Kalau begitu ayo ke kamar, aku pijat lagi disana."
Dea mengangguk.
Arden membantu istrinya bangkit, memapah Dea untuk pelan-pelan mulai menaiki anak tangga menuju lantai 2.
__ADS_1
"Nanti saat usia kehamilan mu 9 bulan kita pindah kamar di bawah ya?" tawar Arden.
"Iya sayang."
"Sekarang Kamu jadi lebih patuh?"
"Karena aku tidak punya tenaga untuk melawan," jawab Dea dengan terkekeh, kini mencubit suaminya saja rasanya membuat dia lelah.
"Tapi aku suka."
"Kenapa?"
"Kamu jadi tidak bisa kabur dariku."
"Ungkit saja terus."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan Dea langsung berbaring di atas ranjang, sementara Arden mengatur posisi untuk memijat kaki istrinya.
Pijatan lembut yang lama kelamaan membuat Dea akhirnya tertidur juga.
Dan melihat istrinya yang sudah terlelap Arden menghentikan pijatan itu, lalu menyelimuti tubuh Dea.
Arden menatap lekat wajah sang istri yang nampak begitu tenang, Jujur saja sebenarnya Arden merasa takut tiap mengingat hari kelahiran anaknya yang akan segera tiba.
Dia terus aja merasa gelisah membayangkan hal yang bukan bilang. takut terjadi sesuatu diantara Dea dan juga anaknya.
__ADS_1
Masih menatap istrinya lekat, tiba-tiba terdengar suara ponselnya bergetar di atas meja rias sang istri.
Ardan pun segera menggapai ponsel itu tidak ingin mengganggu tidur Dea. melihat ada panggilan masuk dari sang asisten, Leon.
Arden memutuskan untuk keluar dari dalam yang kamar dan menjawab panggilan itu.
"Ada apa Le?"
"Maaf Tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," jawab Leon, Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang Tuan, apalagi saat ini Arden tengah berkumpul bersama keluarganya.
Tapi berita ini sangat penting dan dia harus segera menyampaikannya kepada Arden.
"Katakan."
"Nona Mona menyebarkan beberapa foto masa lalu antara anda dan nyonya Dea, dia juga menyebar berita yang bukan-bukan." terang Leon.
Berita itu disebarkan oleh Mona kepada seluruh karyawan di perusahaan harwell.
Hingga akhirnya nama Dea dijadikan bahan pembicaraan. banyak juga di antara mereka yang mulai menggunjing nyonya muda itu.
Mendengar semua laporan Leon membuat Arden meradang.
Di saat dia tengah menunggu kelahiran sang anak, ada saja seseorang yang ingin menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
Apalagi menyerang Dea yang kondisinya masih lemah.
__ADS_1
Dalam hatinya Arden bersumpah akan membuat Mona lebih hancur daripada ini.