Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 47 - Kehilangan Kata-kata


__ADS_3

Leon melaporkan pada Arden jika Sam akan datang ke kota B, sepertinya Silvana sudah mengendus sesuatu yang tak beres.


Tidak ingin Dea dan keluarganya terkena masalah, akhirnya hari itu juga Arden mengajak Dea untuk pulang ke kota A.


Bagaimana pun mereka harus menghadap Silvana dan mengatakan tentang kebenaran ini, pernikahan ini dan juga tentang anak yang dikandung oleh Dea.


Dea menurut, kini dia benar-benar tidak lagi bisa kabur.


Pagi mereka pergi dan siang hari menjelang sore tiba di kota A. Tanpa mengulur waktu lagi mereka langsung menemui Silvana.


Dengan menggandeng erat tangan istrinya koni Arden berhadapan dengan sang ibu, setelah beberapa hari seperti main kucing-kucingan.


"Aku dan Dea sudah menikah," ucap Arden dengan suaranya yang dingin dan tanpa ada basa-basi. Mendengar ucapan itu Dea menyentuh lengan Arden, sebuah isyarat untuk suaminya bisa tenang. Dea bahkan tidak ingin pertemuan mereka ini terasa kaku seperti ini. Harusnya dia dan Arden lebih dulu meminta maaf.


Sementara Silvana yang mendengar penuturan sang anak pun sungguh terkejut, dia tidak menyangka Arden akan senekad ini.

__ADS_1


Bahkan tidak ada kata izin sedikitpun yang Arden katakan padanya tentang menikahi Dea.


Silvana tak bisa berkata apa-apa, hatinya terlalu sakit merasa tak dihargai oleh sang anak.


"Maaf Nyonya, bukan kami tidak ingin meminta izin. Tapi kami terlalu teburu-buru karena aku sudah hamil," terang Dea pula, melihat wajah Silvana yang syok membuatnya buka suara pula.


Namun dia masih saja otomatis memanggil Silvana dsngan sebutan Nyonya meski Arden terus mengatakan padanya untuk memanggil mama pula. Tapi entahlah, Dea tidak bisa melakukannya semudah itu. Apalagi Silvana belum mengizinkan.


"De, dia bukan majikan mu, tidak perlu memanggilnya nyonya," ucap Arden, rasanya sungguh tak suka mendengar ucapan Dea itu. Baginya disaat seperti ini mereka harus terlihat kuat didepan Silvana dan bukan lemah.


Dan Silvana membeku, mendengar Dea hamil makin membuatnya tak menentu. Karena yang terbesit di pikirannya pertama kali adalah, benarkah itu anaknya Arden?


"Apa benar bayi yang kandung itu anaknya Arden?" tanya Silvana langsung. Sebuah pertanyaan yang membuat kemarahan Arden langsung sampai di ubun-ubun.


"Cukup Ma! kami datang kesini bukan untuk meminta izin atau pun mendengar hinaan mama lagi. Aku hanya ingin mengatakan jika kami sudah menikah, setelahnya terserah mama mau bagaimana." balas Arden, dia kemudian menundukkan kepalanya kecil sebagai tanda pamit dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


Silvana terus memanggil namun Arddn tidak mau dengar, Dia terus menarik Dea hingga berhasil keluar rumah, masuk ke dalam mobil dan melaju.


Silvana yang mengajak hingga sampai ke depan pintu pun tidak mampu lagi menjangkaunya.


Arneta dan Arsila yang sedari tadi ada disana pun makin kecewa dengan pertanyaan sang ibu.


Bagaimana bisa pertanyaan jahat itu terlontar dari mulut ibunya. seorang ibu yang selama ini mereka kenal begitu baik, penyayang dan selalu mengajarkan banyak hal pada mereka.


"Ternyata mama sangat jahat, aku sangat kecewa," ucap Arneta lirih, menatap nanar ke arah ibunya.


"Abang Ar bahkan mengalami kehamilan simpatik, kak Dea yang hamil tapi abang yang morning sickness." terang Arsila pula, membuat Silvana mencelakakan mata.


"Kenapa mama tega sekali? bagaimana jika nanti aku diperlakukan seperti ini pula oleh ibu mertua ku?" tanya Arneta.


Dan Silvana kehilangan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2