Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 48 - Banyak Mengalah


__ADS_3

Mobil Arden sudah melaju pergi meninggalkan kediaman utama keluarga Harwell. Arden dan Dea saling mendiami sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Arden masih sangat geram atas pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya membuat dia tidak bisa mengontrol emosi.


Rasanya niat baik dia untuk memperbaiki hubungan hanya sia-sia karena nyatanya hingga kini Silvana tidak juga berubah.


Sementara Dea merasa jika Arden sudah keterlaluan. Pertanyaan Silvana memang terdengar menyakitkan namun jika dilihat dari sudut pandang Ibu mertuanya itu mungkin saja dia akan memikirkan hal yang sama.


Masa lalunya lah yang membuat Silvana berpikir seperti itu.


Dea ingin mereka bicara baik-baik bukan dengan bertengkar seperti ini lagi.


Hingga mobil itu tiba di apartemen Arden dan Dea masih juga saling diam. Bahkan tidak ada pergerakan dari salah satunya untuk turun lebih dulu mereka masih sama-sama duduk tenang di mobil.


"Tidak seharusnya kamu marah sampai seperti itu Ar, niat kita datang ke sana ingin bicara baik-baik Kan?"


"Kita bisa bicara baik jika sambutannya juga baik tapi nyatanya tidak kan? dan kenapa sampai sekarang kamu masih juga memanggil dia Nyonya Apa kamu tidak tahu itu menyakiti hatiku?"


"Tidak semudah itu bagiku Ar, apa lagi aku belum mendapatkan izin darinya langsung. Apa bagimu ini mudah untukku?"

__ADS_1


Hening.


Perdebatan itu menciptakan luka di hati masing-masing. Ada sesak yang sama-sama mereka rasakan dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Diam adalah keputusan yang Arden dan Dea ambil.


Hingga beberapa menit sunyi mengambil alih di antara mereka.


Arden dan Dea coba menenangkan diri, sampai akhirnya Arden lebih dulu buka suara untuk mengucapkan kata maaf.


"Maafkan aku De," ucap Arden lirih, diantara perasaannya yang tidak menentu dan selalu ingin marah dia masih mencoba untuk berpikir waras.


Saat ini Dea tengah hamil tidak seharusnya dia menekannya seperti ini.


Belum sempat Dea menjawab, Arden sudah lebih dulu mendekat dan menyentuh perut istrinya dengan lembut.


"Maafkan Daddy sayang, maaf daddy jadi suka marah-marah terus," ucap Arden, dia sangat sadar jika kini dia jadi pemarah. Padahal dulu dia lebih suka diam.


Dan mendapati Ardan yang juga meminta maaf kepada anaknya membuat hati Dea langsung lulus seketika.

__ADS_1


Saat itu juga bahkan bibirnya langsung mengukir senyum tipis, setelah sekitar 1 jam mukanya selalu masam.


Arden mencium perut Dea, dan wanita yang bibirnya tersenyum ini langsung mengelus kepala suaminya dengan sayang.


Bagaimanapun, Arden marah-marah seperti itu hanya karena ingin melindungi dia dan anaknya.


"Maafkan aku juga Ar," ucap Dea akhirnya.


Arden pun mendongak dan membuat tatapan mereka saling bertemu dan terkunci.


Dea membelai wajah suaminya, menyentuh lembut hingga hati Arden yang sedari tadi gundah langsung berubah jadi tenang.


"Maafkan aku De."


"Maafkan aku juga Ar."


"Aku janji akan lebih mengendalikan emosiku, dan tentang panggilan mama itu terserahmu, senyaman mu saja."


"Benarkah?"

__ADS_1


Arden mengangguk.


Dea yang merasa Arden banyak mengalah padanya pun jadi iba, dia ingin membalas suaminya dengan kecupan hangat. Jadi Dea mengangkat wajah suaminya, mendekat dan menjangkau bibir Arden.


__ADS_2