Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 39 - Cincin


__ADS_3

Setelah puas mencumbuu tubuh wanitanya, Arden menghentikan aksi. Saat itu waktu sudah menunjukkan tengah malam, Arden menarik tubuh Dea untuk dipeluknya erat.


Dea yang sudah lelah pun memejamkan matanya, tidak peduli pada apa yang terjadi, dia tidur.


Dan Arden yang mendengar dengkuran halus dari Dea pun mengukir senyum tipis, ada ketenangan tersendiri yang dirasakan di dalam hati, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan selama 1 bulan terakhir.


Dengan tubuh polosnya itu, Arden bangkit. Memungut celananya sendiri yang tergeletak asal di atas lantai dan merogoh saku celana disisi kiri, mengambil sebuah kotak cincin kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.


Dengan bibirnya yang tersenyum Arden kembali menghampiri Dea.


Mengambil tangan kanan wanitanya dan menyematkan cincin itu di jari manis.


Terlihat cantik sekali. Arden sudah sangat menghafal ukuran jari Dea, jadi dia tidak merasa cemas akan hal itu.


"Mau memasang cincin ini saja kita harus jauh-jauh ke kota S," ucap Arden, dia bicara sendiri karena Dea sudah tertidur pulas.


Sementara Arden terus memandang wajah Dea hingga dia puas, hingga dia mengantuk dan akhirnya ikit tidur.


Pagi datang.

__ADS_1


Saat itu Arden bangun lebih dulu, sengaja memang untuk memastikan Dea tidak akan lagi pergi meninggalkan dia.


Cukup lama menunggu dan akhirnya Dea pun terbangun juga. Seketika tatapan keduanya saling bertemu dan terkunci.


Namun hanya sebentar karena dengan cepat Dea menurunkan pandangannya, tak kuasa untuk menatap dalam mata itu. Mata yang menatapnya menuntut penjelasan.


"Menurut mu siapa yang lebih sakit? orang yang meninggalkan atau orang yang ditinggalkan?" tanya Arden.


Sebuah pertanyaan yang membuat Dea langsung merasa sangat bersalah. Dea semakin menunduk, semakin takut.


"Maafkan aku Ar," cicit Dea, menjawab tanpa berani menatap.


"Maaf Ar, aku tau aku salah, jangan menyudutkanku terus," rengek Dea, dia memeluk Arden erat, bahkan berulang kali menciumi dada polos prianya. Ingin Arden tenang dan tidak kembali mengungkit.


"Aku pergi karena punya alasan tersendiri."


"Aku tahu, karena mama kan? bukankah kita sudah sepakat untuk menghadapinya bersama? Lalu kenapa kamu memilih kabur tanpa menjelaskan apapun padaku?"


"Aku bingung Ar, mana bisa aku memilih antara kamu dan keluargaku Kalian adalah dua orang yang paling penting."

__ADS_1


"Tapi itu tidak akan terjadi andai kau mengatakannya padaku."


"Ar, aku tidak mau kamu bertengkar dengan nyonya Silvana."


"Berhenti memanggil dia dengan sebutan Nyonya."


"Tapi memang ini statusku."


Hening, Arden sangat membenci perdebatan ini. Baginya tidak pernah ada perbedaan kasta, namun entah apa yang ada dalam pikiran Dea.


Arden ingin marah, namun masih coba dia tahan. Lantas Arden memilih bangun lebih dulu. Memunguti semua bajunya dan kembali memakai.


Sementara Dea yang melihat itu hanya terpaku, merasakan sesak dan hatinya tiba-tiba terasa kosong.


Dea ikut bangun, tapi masih duduk diatas ranjang dan menutup tubuh polosnya menggunakan selimut.


"Aku pergi," ucap Arden. Dia tidak bisa bicara dengan Dea dalam keadaan seperti ini. Arden merasa perjuangannya untuk datang sia-sia, karena Dea pun selalu memasang dinding pembatas untuknya.


Arden keluar dari kamar itu tanpa menunggu Dea menjawab. Dan selepas Arden pergi, Dea baru merasakan ada yang aneh di jari manis tangan kanannya.

__ADS_1


Cincin.


__ADS_2