
Menjelang malam Arden dan Dea sampai di rumah Silvana, tadi mereka sempat pulang dulu ke apartemen untuk mandi dan ganti baju.
Rasanya sudah tidak nyaman dengan tubuh mereka sendiri.
Sampai di rumah utama Arden dan Dea benar-benar disambut dengan tumpukan buah alpukat diatas meja di ruang tengah.
Ini lebih terlihat seperti bazar buah alpukat daripada menyajikan alpukat untuk menantu.
"Ha? banyak sekali," ucap Dea, mulutnya bahkan refleks menganga melihat tumpukan buah itu.
Silvana yang sedang berada di dapur pun langsung menuju ruang tengah dan melihat anak serta menantunya datang.
Bibirnya tersenyum, merasa bahagia ketika rencananya berhasil. Berkat buah Alpukat itu akhirnya Arden bersedia pulang bersama Dea.
"Kalian sudah datang, duduklah, mama akan ambilkan pisau buah," ucap Silvana antusias.
Dia bahkan Langsung kembali ke dapur tanpa menunggu Arden ataupun Dea menjawab, lalu kembali lagi ke ruang tengah dengan piring beserta pisau buah di dalamnya.
Menyerahkannya pada sang menantu.
"Kata Arneta dan Arsila, Dea mau bagi alpukat, ya sudah mama belikan," ucap Silvana, dia ikut duduk disana.
Arden mengambil satu yang sudah matang, banyak juga yang lainnya yang telihat masih hijau.
"Tapi tidak sebanyak ini juga Ma, bisa-bisa Dea mabuk buah alpukat." keluh Arden, namun Dea dengan segera mencubit tangan suaminya itu.
Bukannya mengucapkan kata terima kasih tapi Arden malah sempat-sempatnya mengeluh.
__ADS_1
"Terima kasih Ma," ucap Dea, dia tersenyum lebar sekali merasa sangat bahagia karena Silvana memperhatikan dia. Bahkan sudi mencarikan buah ini hingga sampai ke pasar.
Saat itu Dea memakan 2 buah dan perutnya sudah merasa kenyang.
"Kalian istirahat saja di kamar, nanti kita bertemu lagi saat makan malam."
"Tapi Ma_"
"Iya Ma," jawab Dea cepat, memotong ucapan sang suami yang pasti ingin menolak perintah Silvana.
Arden menatap tajam istrinya, tapi Dea malah membelai punggungnya lembut.
Silvana kembali ke dapur dan meninggalkan Arden Dea di ruang tengah.
"Bukannya kita sudah sepakat untuk makan malam di apartemen saja? kalau makan malam disini pasti mama minta kita untuk menginap."
"Pasti mama sengaja beli alpukat ini untuk memancing kita kesini De."
"Memangnya kita ikan? ayo ajak aku naik, aku mau lihat kamar mu."
Mendengar itu Arden terdiam sejenak, baru ingat jika dia belum mengajak Dea untuk masuk ke dalam kamarnya di rumah ini.
"Ayo jangan melamun."
"Baiklah," jawab Arden pasrah.
Mereka naik ke lantai 2.
__ADS_1
"Ini kamar Arneta dan Arsila."
"Emm iya."
"Kamar mama di bawah, itu ruang kerja ku kalau disini."
Dea mengangguk-angguk.
"Dan ini kamar kita."
"Kamar kamu."
"Kamar kita," terang Arden dengan genitnya. Membuat mereka terkekeh bersama.
Arden membuka pintu kamar itu lebar-lebar dan mempersilahkan istrinya masuk. Memeluk Dea dari belakang dan menyaksikan kamar ini bersama-sama.
"Bagaimana?" tanya Arden, dia menyandarkan dagunya di pundak Dea.
"Biasa saja, tidak ada yang berwarna merah muda."
"Aku kan pria De."
Dea terkekeh.
Lalu sedikit menjerit saat Arden tiba-tiba menggendongnya seperti pengantin baru, lalu membawanya ke atas ranjang. Berbaring disana dan Arden menindihnya.
"Mau mencoba ranjang ini?" tawar Arden dengan tatapan yang mesyum.
__ADS_1
Membuat Dea langsung terkekeh dan memukul dada suaminya banyak-banyak.