
Jam 11 siang Arden kembali ke ruangannya, dia langsung disambut dengan raut wajah cemberut sang istri.
"De, kenapa wajah mu seperti itu? padahal aku pusing mau dipeluk," ucap Arden, dia meletakkan tas kerjanya di meja dan menghampiri sang istri yang duduk di sofa.
Di meja sofa ada beberapa makanan yang habis di makan oleh istrinya ini.
"Katakan, kenapa wajahmu seperti ini?" tanya Arden lagi, karena Dea malah semakin cemberut.
"Memangnya tidak ada seleksi untuk penerimaan Sekretaris mu?"
Arden mengeryit bingung.
"Pakaian Amanda terlalu seksi, itu tidak sopan."
Arden makin mengerutkan dahi, selama ini dia tidak pernah memperhatikan Sekretarisnya. Apalagi tentang baju nya.
Yang selalu berhubungan dengan sekretarisnya selama ini adalah Leon.
"Siapa namanya? Amanda? bukannya Tiara?" tanya Arden yang sungguh tidak tahu, semenjak Dea pergi dia jadi acuh dengan semua itu. Semua pekerjaan hanya dia serahkan pada Leon dan beberapa devisi.
Selama ini dia sibuk mencari Dea dan menikahi wanita ini.
"Tiara itu siapa lagi?"
"Sepertinya nama Sekretaris ku Tiara."
"Ish!" kesal Dea saat melihat wajah suaminya yang bingung. Mengisyaratkan jika Arden benar-benar tidak tahu dengan Amanda.
"Namanya Amanda!" ucap Dea akhirnya, bicara dengan nada kesal.
"Dia menggunakan baju seksi?"
"Iya!"
__ADS_1
"Sudah kamu tegur?"
"Sudah!"
"Marahi saja Leon, selama ini yang berhubungan dengan sekretaris itu adalah dia. Sementara aku sibuk memikirkan kamu."
Dea mencebik, ucapan Arden mengandung banyak godaan.
"Gombal."
"Kamu sudah makan?"
Dea mengangguk.
"Sudah kenyang?"
Dea mengangguk lagi.
"Sekarang aku yang lapar."
"Tapi aku mau makan yang lain, bukan makan itu." Arden menunjuk makanan di meja dengan bibirnya yang mengerucut.
"Trus mau makan apa?"
"Ini," jawab Arden, dia menyentuh dada istrinya lembut. Membuat Dea langsung merinding seketika.
"Arrr!!" kesal Dea, suaminya ini jadi mesyum sekali.
Dan Arden terkekeh, namun dia tetap melanjutkan niat. Membuka kancing baju sang istri dan mulai mengeluarkan isinya, tanpa melepas pengait bra dibelakang sana.
"Aku seperti sedang menyusui," ucap Dea sambil menahan geli dan nikmat, tapi Arden tidak peduli, dia terus menyesap kedua buah itu hingga berhasil membuat tubuh atas istrinya polos.
Siang itu Arden hanya menyusu, karena dia dan Dea sudah sepakat untuk tidak melakukan ini dulu. Pulang dari sini mereka akan melakukan pemeriksaan kandungan.
__ADS_1
Sedari kemarin mereka belum sempat menemui dokter.
"Ar, cukup. Nanti malah aku yang tidak tahan," ucap Dea, dia mendorong pelan dada suaminya hingga susuannya terlepas. Meninggalkan pucuk yang nampak begitu basah.
"Berarti lain kali kamu harus ikut aku ke kantor lagi," jawab Arden, dia masih belum puas bermain disini.
Dan Dea terkekeh, tapi dia mengangguk.
"Lain kali aku akan datang sendiri kesini untuk mengunjungi mu."
"Benarkah?"
Dea mengangguk.
Arden pun mulai memasangkan kembali baju sang istri, mencium lagi bibir Dea dan sedikit memainkan lidah.
"De."
"Apa?"
"Kamu ingin pindah ke rumah mama?"
"Tentu saja, mama juga kasihan kalau tinggal sendiri."
"Tapi jangan sekarang, aku masih ingin kita berdua."
"Jadi kapan?"
"Setelah anak kita lahir."
"Masih lama, kenapa tidak saat aku hamil tua?"
"Saat kamu hamil tua kita harus sering buat jalan lahir, aku tidak mau ada yang menganggu."
__ADS_1
"Ish!"