Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 44 - Semuanya Akan Baik-baik Saja


__ADS_3

Selesai sarapan dan mandi, Arden meminta Dea untuk merias wajahnya seperti Sandra. Sebuah permintaan yang membuat Dea mengerucutkan bibirnya.


Karena saat ini Dea merasa Arden sedang meledek dia.


"Tidak mau, aku mau seperti ini saja," tolak Dea dengan kesal. Dia juga melipat kedua tangannya di depan dada.


"Siapa suruh memotong rambut jadi sependek ini, pokoknya selama rambut mu masih pendek saat keluar rumah kamu harus seperti Sandra," tuntut Arden. Sebenarnya ini bukanlah hukuman, hanya caranya untuk terus mengecoh Silvana yang terus mengawasi dia.


Bibir Dea semakin mengerucut, namun akhirnya dia tetap menuruti keinginan Arden. Dengan pergerakan kedua tangan yang kasar tidak ikhlas, Dea merias wajahnya sendiri hingga berubah jadi Sandra.


Dan melihat itu Arden tersenyum lebar, Kini dia sudah bisa merasa aman. Meski Sam melaporkan kepada Silvana tetapi mereka tidak akan menyangka jika wanita ini adalah Dea.


"Ayo pergi," ajak Arden.


Jam 8 pagi itu mereka langsung menuju bandara, Leon juga ikut bersama mereka.


Menempuh perjalanan selamanya 1 jam dan akhirnya tiba di kota B.

__ADS_1


Dari bandara mereka masih harus menempuh perjalanan darat selama 2 jam untuk sampai ke rumah Dea.


Rumah yang baru saja selesai di renovasi dengan toko kecil disisi kanan rumah itu.


Mobil Arden berhenti tepat di halaman rumah Dea, suara deru mesin mobil itu pun menarik perhatian kedua orang tua Dea. Mereka berdua keluar dan melihat sang anak turun dari dalam mobil.


"De!" Panggil Maryam, sang ibu. Sementara Rudi ayah Dea pun tersenyum lebar melihat kedatangan sang anak.


Dea sudah menghapus riasan tebalnya, dia turun kemudian disusul oleh Arden dan Leon.


Pertemuan pertama kali itu terjadi dengan begitu hangat, saat duduk di ruang tengah bahkan Arden langsung mengatakan tujuannya datang kemari, yaitu untuk meminta izin menikahi Dea.


Rudi dan Maryam tentu terkejut, namun seketika itu juga mereka merasakan rasa bahagia. Selama ini Dea sudah bekerja keras untuk keluarganya, sudah tiba saatnya Dea memikirkan hidupnya sendiri. Menikah dan memiliki keluarga.


Niatan baik Arden itu disambut baik oleh Rudi dan Maryam.


Malam tiba.

__ADS_1


Arden dan Leon pun menginap di rumah Dea.


Sehabis makan malam Arden dan Leon diajak oleh Rudi untuk duduk di luar, menikmati sepinya kampung ini dan hembusan angin malam.


"Ar, bolehkah Papa bertanya sesuatu padamu."


"Apa Pa, katakan saja."


"Saya permisi, saya akan istirahat lebih dulu," Leon menginterupsi pembicaraan kedua pria ini, merasa jika Rudi dan Arden akan mulai bicara serius. Tidak ingin mengganggu keduanya, karena itulah ia memutuskan untuk pergi.


Arden mengangguk, Rudi pun sama. Leon dengan segera pergi.


"Apa Pa, katakan padaku," ucap Arden lagi, melanjutkan pembicaraan di antara mereka yang sempat terpotong.


"Apa mama mu setuju dengan pernikahan Ini?" tanya Rudi, bertanya dengan suaranya yang pelan. Dia sangat sadar perbedaan di antara mereka begitu mencolok, terbesit ketakutan di dalam hatinya bahwa Dea tidak akan diterima di keluarga Arden.


"Papa percayalah padaku, apapun yang terjadi, aku akan selalu bertanggung jawab pada Dea." jawab Arden, dia memang tidak membawa jelas pertanyaan Rudi, namun meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2