
Pagi datang.
Pagi ini Silvana berniat menemui Arden dan Dea di apartemen sang anak. Rasanya tetap ada yang mengganjal di hatinya jika hubungan ini terus seperti ini.
Terlebih Arneta dan Arsila kembali meninggalkan dia setelah peristiwa kemarin.
Jam 8 pagi, Silvana sudah berada di depan pintu apartemen. Tanpa mengulur waktu lagi dia segera menekan bell.
Hingga tak berselang lama kemudian pintu apartemen itu terbuka.
Deg! Silvana terkejut, sama terkejutnya dengan seseorang yang membuka pintu itu dan dia adalah Dea.
"Nyonya," ucap Dea, dia pun membuka pintu itu lebar-lebar dan mempersilahkan Silvana untuk masuk, sementara Silvana merasa ragu untuk masuk ke apartemen ini.
Dulu dia sudah bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di sini, tempat dimana Arden menyembunyikan wanita simpanannya. Tapi apa yang terjadi hari ini? Dia justru datang tanpa undangan.
Namun dengan langkah kakinya yang berat akhirnya Silvana masuk.
__ADS_1
"Dimana Arden?" tanya Silvana, dia berhenti di ruang tamu dan berbicara tanpa melihat Dea yang berada disampingnya.
Ego itu masih teramat besar untuk memulai semuanya dari awal.
"Arden sudah pergi ke kantor," jawan Dea apa adanya, kata Arden dia hanya pergi sebentar. Sebelum makan siang Arden pastikan sudah kembali.
Sesaat hanya ada Hening di antara mereka berdua, baik Silvana ataupun Dea sama-sama bingung mau mengatakan apa lebih dulu.
"Silahkan duduk Nyonya, saya akan siapkan minuman," ucap Dea akhirnya, bicara dengan sangat kaku dan begitu bingung.
Tidak sampai menunggu Silvana menjawab Dia pun sudah berniat untuk masuk ke dalam dapur, namun langkahnya yang baru dua langkah tiba-tiba terhenti saat mendengar Silvana akhirnya buka suara juga.
"Benar Nyonya, saya hamil," jawab Dea, saat mengatakan itu dia tidak menunduk, Dea katakan dengan jelas.
Sementara Silvana langsung menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut.
Dia memang ingin Arden segera menikah, sangat ingin anak laki-lakinya itu segera memberinya cucu dan sekarang saat semua itu terwujud Entah kenapa masih ada saja rasa yang tidak ikhlas di dalam hatinya.
__ADS_1
Karena akhirnya memang benar Dea lah menantunya.
Wanita yang sudah dia benci selama 2 tahun terakhir.
Ya Tuhan! batin Silvana, dia sampai tidak bisa berkata-kata.
Hening kembali tercipta diantara mereka berdua. Silvana yang merasa pusing pun memutuskan untuk duduk, sedangkan Dea langsung berlari ke dapur dan mengambil segelas air putih.
"Silahkan anda minum Nyonya," ucap Dea, saat memberikan minuman itu Dea bahkan berjongkok di hadapan Silvana, seolah menunjukkan jika hingga kini Silvana tetaplah majikannya, ibu dari bos nya. Tidak peduli meski kini Dea sudah menikah dengan Arden dan bahkan mengandung anaknya.
Sikap Dea itu makin membuat dada Silvana sesak, semakin membenci keadaan ini.
"Jam berapa Arden pulang?"
"Sebelum makan siang Arden akan pulang Nyonya."
"Berhenti memanggilku Nyonya, apa kamu ingin menunjukkan jika aku ini mertua yang jahat!" kesal Silvana. Hah entahlah! semua yang dilakukan oleh Dea selalu saja mampu membuatnya marah seperti ini.
__ADS_1
Dan Dea terdiam, dia tidak menunduk, namun menurunkan pandangannya.
"Berhenti memanggilku Nyonya, aku tidak ingin Arden semakin marah padaku. Jadi biasakan memanggil aku dengan sebutan Mama!"