Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 46 - Hari Yang Indah


__ADS_3

Saran. Baca saat malam. 🤣


Ciuman lembut yang diberikan Arden terus membuai Dea, membuat wanita cantik ingin menggeliat menggerakan tubuhnya sebagai respon. Suara lenguhannya pun mulai terdengar merdu. Membuat Arden meremang dan meremat kuat dada istrinya.


"Ar, aku belum mandi," ucap Dea setelah berhasil melepaskan ciuman mereka. Dia pun ingin tampil sempurna dipenyatuan pertama mereka setelah menikah.


"Tunggu aku, tidak akan lama," ucap Dea lagi dengan suaranya yang sensual. Satu tangan nakalnya pun mengelus senjata yang sudah tegang di balik handuk suaminya.


"Dea!" geram Arden. Mau pergi tapi malah memancingnya lebih dalam.


Dea terkekeh, dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Semenjak hamil entah kenapa Dea malah senang sekali bercinta. Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika Arden terus menatapi tubuhnya yang polos dibawah kungkungan.


Disaat Dea mandi, Arden menghubungi Arneta.


Dipanggilan pertama telepon itu langsung terjawab.


Arneta menjawab dengan suaranya yang antusias.


"Abang!" pekiknya, bukan hanya ada 1 Suara, Arden mendengar ada dua suara.


Arneta dan Arsila terhubung dalam panggilannya ini.

__ADS_1


"Bagaimana? apa semuanya lancar?" suara Arsila.


Arden tersenyum, tanpa sadar dia mengangguk seolah kedua adiknya bisa melihat.


"Iya, sekarang kalian sudah punya kakak ipar."


"Kya!! keren sekali! sayang kami tidak bisa ikut," satu kalimat yang Arneta ucapkan mengandung 2 makna, 1 kebahagiaan dan 2 kesedihan.


"Tidak masalah, yang penting kan sudah punya kakak ipar."


Panggilan itu terus berlangsung sampai akhirnya Arden mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dia lalu memutus panggilan telepon dengan sang adik.


Menatap istrinya yang berjalan mendekat menggunakan handuk kimono berwarna putih. Rambutnya digulung ke atas, dibalut handuk kecil.


Dengan langkah penuh percaya diri Dea menghampiri, berdiri dihadapan suaminya dan Arden langsung memeluk pinggangnya.


"Aku menelpon Arneta dan Arsila," ucap Arden sebelum Dea bertanya.


Istrinya ini mengangguk kecil, mengangkat kedua tangannya dan menyentuh dada Arden yang masih terbuka.


Mereka sama-sama diam, saling menatap penuh minat. Tanpa banyak kata, Arden menarik tali pengikat di pinggang istrinya dan membuka handuk kimono itu.

__ADS_1


Membukanya perlahan hingga pundak dan dada istrinya terbuka. Pemandangan paling indah yang pernah dia lihat.


Bibir Dea pun sudah terbuka siap menyambut ciuman suaminya.


Dan tanpa basa basi lagi, pagutan itupun terjadi. Keduanya saling berciuman saling bertukar saliva, satu tangan Arden menahan pinggang Dea dan tangan lainnya mengelus sayang buah semangka. Elusan lembut yang perlahan jadi remasaan kasar.


Puas menyesal bibir istrinya, Arden pun turun menyesapi leher sang istri dan berakhir dan pucuk buah itu.


Sedangkan Dea langsung mendesah, membusungkan dadanya meminta lebih.


Keduanya terus saling memberi sentuhan, sampai akhirnya melakukan penyatuan.


Disaat malam hari mulai datang, keduanya baru menyelesaikan percintaan mereka.


Hari ini benar-benar hari yang indah, untuk pertama kalinya mereka melakukan penyatuan tanpa ada rasa yang mengganjal di hati. Kini Dea bisa mendesaah sebanyak yang dia mau karena Arden adalah suaminya.


Dan Arden pun begitu, dia bisa menikmati tubuh Dea tanpa perlu menahan diri lagi karena Dea adalah istrinya.


Selepas makan malam mereka bahkan mengulanginya lagi, diberbagai posisi yang membuat candu. Sesaat Dea bahkan lupa jika dia tengah hamil, justru Arden yang ingat.


"Sayang, cukup untuk hari ini," ucap Arden setelah pelepasannya.

__ADS_1


Sementara Dea hanya mengangguk, nafasnya masih belum stabil.


__ADS_2