
Tentu saja Dea sangat terkejut dengan ajakan Arden itu.
Kantor Arden bukanlah tempat yang asing baginya, bahkan semua orang disana tahu dia pernah bekerja menjadi sekretaris Arden.
Pernah juga digosipkan menjadi wanita simpanan sang Tuan Muda, meski sebenarnya gosip itu adalah benar.
Kini rasanya Dea tidak akan sanggup kembali lagi ke perusahaan itu, apalagi dengan statusnya yang berbeda, bukan lagi menjadi karyawan tapi istrinya Arden.
Tidak, tidak. Dea menggelengkan kepala, tanda menolak ajakan suaminya.
Membuat Arden langsung mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir, kesal.
"Kenapa?" tanya Arden.
"Kenapa? tentu saja aku tidak enak hati Ar. Kamu tahu sendiri dulu seperti apa di kantor. Nanti aku hanya akan jadi bahan pembicaraan mereka."
"Aku sudah buat pengumuman, bahwa aku menikahi mu."
"Ha? kapan?!" tanya Dea dengan suaranya yang tinggi. Diantara rasa terkejut dan tidak percaya.
"Di hari pernikahan kita, Leon yang mengatur semuanya."
Dea terperangah.
"Jangan bohong!"
__ADS_1
"Tidak."
"Lalu bagaimana tanggapan mereka?"
"Memangnya mereka bisa apa? menolak? yang ada ku pecat."
Dea makin terperangah, kehabisan kata-kata untuk membantah ucapan suaminya lagi.
Pagi itu akhirnya Dea ikut pergi ke kantor. Awalnya Dea ingin menggunakan shal agar menutupi wajahnya. Tapi Arden menolak dengan keras.
Dia malah meminta Dea untuk berdandan yang sangat cantik. Juga menggunakan baju pilihannya, seksi dan elegan.
"Ini bukan hanya keinginanku, tapi juga anak kita," ucap Arden, dia tersenyum miring. Senyum yang dulu jika Dea lihat adalah senyum yang paling mengerikan.
Tapi kini Dea melihatnya jadi senyum yang sangat mesyum.
"Ayo," ajak Arden, dia menggandeng erat tangan istrinya. Menakutkan jemari satu sama lain.
Ke luar dari dalam kamar dan menemui Leon di ruang tamu. Lalu bergegas pergi ke perusahaan Harwell Life Assurance.
Saat sampai di depan lobby kantor, Dea lagi-lagi ragu untuk turun. Leon bahkan sampai turun duluan demi memberi waktu untuk tuan dan nyonya nya memiliki waktu berdua di dalam mobil sana.
"Jangan takut, angkat wajahmu. Perusahaan ini sekarang juga adalah milikmu De, karena kamu istriku, sedang mengandung anakku," ucap Arden yang ingin Dea jadi pemberani, bahkan bersikap bossy pun tak masalah bagi Arden.
Tapi Dea mencebik, tetap saja rasanya tak mudah.
__ADS_1
"Nanti orang-orang akan bilang jika aku menggoda mu."
"Kamu memang terlihat menggoda De, apa masalahnya?" tanya Arden, dia menarik pinggang Dea untuk mendekat.
"Ar!!"
"Aku sudah rindu kita melakukannya di kantor, ayo turun," rengek Arden dan Dea langsung memukul lengannya kuat, hingga terdengar bunyi Plak! yang sangat jelas.
"Ya ampun De, kenapa aku dipukul."
"Kamu mesyum."
"Makanya ayo turun. Aku akan selalu menggenggam tangan mu De." yakin Arden lagi.
Akhirnya mau tidak mau Dea turun Juga. Tidak mungkin juga dia berada di dalam mobil ini terus.
Sudah turun, Arden langsung menggandeng tangan Dea erat.
Mereka berdua jalan beriringan memasuki lobby dengan Leon yang mengikuti. Seketika kedatangan mereka mencuri perhatian semua karyawan yang ada disana.
Menatap dengan mata yang lebih lebar.
Arden memang sudah membuat pengumuman tentang pernikahannya dengan Dea, tapi tetap aja melihat ini secara langsung membuat mereka begitu antusias.
Ada yang ikut bahagia dan mendoakan, ada pula yang iri dan mulai menyalahkan Dea.
__ADS_1
Tapi tak peduli apapun itu, Arden tetap menggenggam tangan istrinya erat.