Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 38 - Tidak Perlu Menjelaskan


__ADS_3

Saran. Baca pas malem aja ya. banyak Saran eeyy 🤣


Sehabis makan malam Arden melihat ponselnya, melihat beberapa foto kiriman Linda tentang Dea.


Saat ini wanita itu tengah membeli nasi goreng di ujung gang, berjalan kaki seorang diri menuju gerobak nasi goreng itu.


Untunglah sepanjang jalan ada lampu penerangan, rumah-rumah juga padat jadi tidak berbahaya untuk Dea.


Kedua mata Arden memicing saat melihat sebuah foto Dea yang tersenyum pada penjual nasi goreng itu. Senyum manis yang harusnya hanya untuk dia.


Ada rasa tidak terima di sudut hati Arden yang membuatnya meronta-ronta.


Dan tidak puas melihat hanya dari ponsel, Arden akhirnya bangkit. Kakinya sudah tidak tahan untuk menghampiri.


Saat itu Arden pergi seorang diri, mengemudikan mobilnya menuju rumah kontrakan Dea.


Sampai disana Arden tidak langsung turun, masih berdiam diri di dalam mobil dan terus menatap lekat ke arah rumah itu. Lampu utama masih menyala, tanda Dea belum tidur.


"Kamu sangat menikmati hidupmu ya De? setelah meninggalkan aku sempat-sempatnya kamu tersenyum pada orang lain." kesal Arden. Dia tahu Dea pergi karena ibunya, tapi tidak seharusnya Dea kabur seperti ini. Mereka masih bisa membicarakan ini baik-baik.


Apalagi Dea tidak pergi seorang diri, dia pergi bersama anaknya di dalam perut Dea.

__ADS_1


Arden melihat jam di pergelangan tangan, saat itu waktu menunjukkan jam setengah 10 malam. Dia lantas memutuskan untuk turun dan menemui Dea.


Mengetuk pintu itu hingga akhirnya terbuka.


Deg! seketika Dea membeku saat melihat pria yang tak asing berdiri persis di hadapan pinturumahnya. Tubuhnya berdesir, bahkan bulu romanya pun mendadak berdiri.


Apalagi saat melihat tatapan Arden yang begitu dingin.


Lidah Dea kelu, dia tidak.bisa berkata-kata. Sementara Arden langsung masuk tanpa permisi dan mengunci pintu rumah itu rapat-rapat, lalu menarik kunci dan membuangnya asal.


Dea terperanjat kaget.


"Ar, bagaimana bisa_"


Bukan hanya kalah tenaga, namun tubuhnya juga menginginkan sentuhan ini.


Tangan Dea yang memukul dengan perlahan berhenti, ganti membelai punggung Arden dengan lembut. Dan saat itu juga ciuman Arden yang kasar berubah jadi menghanyutkan.


Arden mulai bergerak, dengan ciuman yang terus berpaut dia membawa Dea untuk menuju kamar. Mematikan semua lampu utama hingga yang tersisa lampu temaram.


Pelan-pelan Arden membaringkan Dea diatas ranjang. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa banyak kata keduanya melakukan penyatuan sempurna.

__ADS_1


"Ar, pelan-pelan."


"Aku tahu, aku tidak akan menyakiti anakku."


"Ar, kamu??"


Arden tidak menjawab lagi, dia membungkam mulut Dea dengan ciumannya. Menyalurkan semua hasrat dan rindu yang selama ini terpendam.


Dan Dea tidak tinggal diam, dia juga membalas. Menyentuh Arden dengan begitu lembut, dan mencengkramnya kuat ketika pelepasan itu tiba.


Di ruangan yang tadi penuh dengan desahaan kini jadi deru nafas yang saling memburu.


Arden membelai wajah wanita yang masih berada di bawah kungkungannya.


"Jadi aku harus memanggil mu siapa? Dea atau Sandra?"


Mendengar itu Dea mencebik, dia tahu Arden hanya meledeknya.


"Dan tentang rambut ini, bukankah aku harus menghukum mu?"


"Aku bisa jelaskan semuanya Ar."

__ADS_1


"Tidak perlu, yang mau aku dengar hanya suara desahaan mu."


__ADS_2