Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 68 - Kata Perawat


__ADS_3

Saran. Baca saat malam.


"De, kamu siap?"


Dea mengangguk pasrah, dia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat. Dadanya sakit sekali, Asi ini menumpuk begitu saja.


Dan Arden segera menanggalkan baju sang istri, melepas pula pengait bra di punggung. Kata perawat tadi memberikan rangsangan pada dada akan membuatnya lebih cepat keluar. Juga diberi pijatan-pijatan lembut.


Arden pun menuryti saran perawat itu, sebelum anaknya menikmati kedua buah ini. Dia lebih dulu menikmatinya.


Dan Dea mengigit bibir bawahnya saat Arden mulai menguluum salah satu, sementara dadanya yang lain di remaas lembut oleh sang suami.


Sentuhan Arden membuat Dea menutup matanya, merasakan sensasi yang berbeda. Jika tadi hanya ada sakit, kini mulai terasa berdesir.


Bahkan mulutnya tanoa sadar melenguh, menikmati semua sentuhan Arden itu.


"Ar," panggil Dea lirih, satu panggilan yang membuat Arden makin bersemangat. Tapi dia tetap harus menahan diri, karena tidak ada penyatuan diantara mereka.


Puas menikmati sebelah kanan, kini Arden pindah ke sebelah kiri. Menyesapnya kuat hingga terasa ada air yang mengalir.


"Ar."


"De, asinya keluar."


"Pakai pompa, nanti Asi nya untuk anak kita."


Arden menurut, katanya asi pertama itu bagus untuk si jabang bayi. karena itulah dia tidak ingin memakannya sendiri.

__ADS_1


Disaat Dea memompa asi kirinya, Arden kembali melahap yang kanan.


"Ar geli."


"Aku lebih geli De, dada mu besar sekali."


"Ish."


Malam itu akhirnya Asi Dea mulai keluar dengan lancar, baby mereka bisa minum asi dari sumbernya langsung.


Sang anak memang belum diberi nama, Arden dan Dea masih bingung.


Pasalnya selama kehamilan mereka memang merahasiakan jenis kelamin. Meski dokter kandungan mereka tahu apa jenis kelaminnya, tapi Arden dan Dea tidak pernah bertanya.


Jam 10 malam.


Arden dan Dea mulai berbaring di atas ranjang. Mereka saling memeluk, juga sesekali saling kecil.


"Berapa lama puasa ku?"


"40 hari."


"Lama sekali." keluh Arden.


"Setelah 40 hari nanti kamu langsung suntik KB ya?" pinta Arden, dan Dea mengangguk. dokter Bella juga menyarankan seperti itu. Setelah 40 hari Dea diminta untuk kembali lagi datang ke rumah sakit untuk melakukan suntik KB.


"Iya Ar."

__ADS_1


"Jangan panggil Ar lagi, mulai sekarang panggil aku dengan sebutan papa, agar nanti anak kita mengikuti."


"Iya Paaa," jawab Dea dengan manja, membuat Arden sangat gemas.


Arden kemudian menahan tengkuk sang istri dan mencium dalam bibir istrinya itu, sedikit bangkit dan menindih tubuh Dea.


Sentuhan-sentuhan intim seperti ini bisa membuat ibu menyusui bahagia. Arden sudah banyak belajar tentang itu.


Tapi tangan nakalnya tidak pernah mau belajar, sudah tahu tidak boleh melakukannya. Tapi tangan itu tetap masuk menyelusup ke dalam baju sang istri dan meremaas buah milik sang anak.


Membuat Dea merasa basah di bagian inti.


"Ar."


"Kamu sangat menggoda."


Malam itu mereka berdua tidak tidur, karena tiap anaknya bangun mereka juga bangun. Dan saat anaknya tidur mereka bukan ikut tidur, malah asik saling memberi sentuhan.


Pagi-pagi keduanya tepar.


Silvana dan Maryam ibunya Dea hanya mampu geleng-geleng kepala.


Baru semalam anak dan menantunya itu sudah tak bertenaga.


Akhirnya disiasati untuk asi Dea di pompa saja, jadi siapapun bisa memberi Asi untuk anak mereka.


"Untung ada kita," ucap Silvana, dan Maryam pun tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2