Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 45 - Jangan Sedih


__ADS_3

Pagi ini Arden dan Dea akan mendaftarkan pernikahan mereka. Semua berkas sudah disiapkan oleh Leon, jadi bisa selesai lebih cepat.


Saat keduanya mengucapkan janji suci untuk terikat dalam pernikahan, Maryam, Rudi dan beberapa saudara Dea mendampingi sekaligus menjadi saksi.


Suasana haru tentu mendominasi, lalu diakhiri dengan senyum bahagia oleh semua orang.


Tepat jam 3 sore serangkaian acara suci itu selesai. Arden dan Dea diminta oleh para orang tua untuk beristirahat.


Kini sepasang pengantin baru ini masuk ke dalam kamar mereka, merasa canggung satu sama lain.


Dea tersenyum kikuk, entah kenapa jantungnya berdetak lebih keras.


"Kenapa wajahmu merah?"tanya Arden, dia melirik Dea dengan senyum mengoda, sementara kedua tangannya mulai sibuk melepaskan satu per satu kancing jas hitam nya.


"Jangan menatapku seperti Itu!"


"Kenapa?" senyum Arden makin lebar dan Dea langsung mengerucutkan bibir.


"Mau mandi sama-sama atau sendiri?"


"Sendiri saja!" jawab Dea ketus, tapi entah kenapa terlihat menggemaskan dimata Arden.

__ADS_1


Kini wanita menyebalkan itu sudah menjadi istrinya.


"Baiklah istriku." jawab Arden, setelahnya dia melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi.


Meninggalkan Dea yang pipinya semakin merona. Lengkap dengan jantungnya yang berdebar hebat.


Panggilan Istriku terasa lebih manis terdengar di telinganya.


Disaat Arden pergi, Dea pun segera mengganti bajunya. Namun niatnya itu urung saat mendengar suara ponsel bergetar, berasal dari jas milik Arden diatas kursi meja riasnya.


Dea mengambil ponsel itu dan melihat ada panggilan masuk dari Arneta.


Dea hanya terus melihat, tidak kuasa untuk menjawab. Meski Arneta dan Arsila bersikap baik padanya, namun tetap saja rasanya masih sangat canggung. Akhirnya telepon itu putus begitu saja, tanpa ada jawaban. Hanya menyisahkan sedikit rasa tak nyaman dihati Dea.


Dea menarik dan membuang nafasnya pelan, mencari ketenangan dan kebahagiaan yang tadi dia rasa. Hari ini adalah hari bahagia dan dia ingin menikmatinya.


"De, apa ada telepon?" tanya Arden, yang entah sejak kapan keluar dari kamar mandi, kini tiba-tiba pria ini berdiri persis disamping dea, lengkap dengan dadanya yang terbuka, setengah tubuhnya ditutup oleh lilitan handuk.


"Ya ampun Ar, kamu buat aku kaget," balas Dea, dia menyentuh dadanya yang terkejut.


Arden tersenyum, memeluk pinggang Dea dan mengambil ponselnya ditangan sang istri. Melihat ada satu panggilan tidak terjawab dari Arneta.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu angkat?"


Dea terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Arneta dan Arsila tahu kita menikah, Leon mengirimkan foto-foto kita," terang Arden dengan pelukannya yang semakin erat. Kini dia mendaratkan dagunya diatas pundak Dea.


Dan mendengar ucapan Arden itu cukup membuat Dea terkejut.


"Benarkah?" tanya Dea, sungguh dia tidak percaya. Apa benar Arneta dan Arsila tahu tentang pernikahan mereka.


"Tentu saja, mereka mendukung kita. Apa lagi aku juga mengatakan jika kamu pun sudah mengandung keponakan mereka."


Dea terperangah, antara malu, kesal pada Arden dan bahagia sekaligus.


"Dia pasti ingin mengucapkan selamat, malah tidak kamu angkat."


"Mana aku tahu, kamu tidak bilang tentang Arneta dan Arsila." sanggah Dea, lagi-lagi bibirnya mencebik.


Arden lalu memutar tubuh Dea dan membuat mereka saling berhadapan.


"Jangan sedih, tentang Mama kita akan membujuknya pelan-pelan," ucap Arden dan Dea mengangguk.

__ADS_1


Ciuman lembut Arden berikan pada bibir istrinya. Sentuhan yang sangat menenangkan.


__ADS_2