Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 62 - Canggung


__ADS_3

Pagi datang.


Saat itu Arden memutuskan untuk pergi sendiri ke apartemen mengambil beberapa barang penting. Sementara Dea tetap tinggal di rumah utama.


Arneta dan Arsila juga pergi ke apartemen mereka untuk mengambil buku mata kuliah. pindah-pindah untuk dibawa kembali ke rumah utama.


Kini hanya tinggal Dea dan Silvana, menciptakan suasana canggung diantara keduanya.


Dea sangat bingung bagaimana caranya memulai pembicaraan di antara mereka, mau bahas apa? tiba-tiba otaknya kosong.


Sementara Silvana bingung memilih kata-kata yang kira-kira tidak menyakiti hati menantu nya ini, takut-takut yang keluar dari mulutnya malah salah.


Akhirnya mereka berdua hanya saling diam.


Saat ini masih jam 8 pagi, Rasanya aneh jika harus kembali masuk ke dalam kamar.


"Em ... ma?"


"Apa?" sahut Silvana cepat, membuat Dea jadi kikuk.


"Em aku mau keliling-keliling rumah, apa boleh?" pamit Dea, dia tidak berani bersitatap dengan Silvana. Matanya seolah sibuk melihat ke sana ke sini padahal menghindar.

__ADS_1


"Iya, di belakang ada taman kalau kamu mau kesana juga," jawab Silvana, nada bicaranya masih terdengar ketus. Memang seperti itulah nada Silvana saat berbicara.


Dan Dea paham itu.


Dea mengangguk kecil, selepas Dea pergi silvana membuang nafasnya kasar.


"Astaga, kenapa aku jadi begini?" gumam Silvana, dia menyentuh dadanya sendiri yang bergemuruh merasa takut, takut salah ketika bicara dengan Dea.


Sedikit saja dia menyakiti wanita itu, Silvana sangat yakin jika Arden akan langsung memutuskan untuk pergi lagi dari rumah ini.


Kini Silvana harus sangat berhati-hati.


"Apa tadi bicaraku keras? Kenapa Dea tidak menjawab dan hanya mengangguk? Hais kenapa aku harus memikirkan hal seperti itu!" kesal Silvana, merasa sikapnya kali ini hanya buang-buang waktu saja.


Awalnya memang dia yang sangat kukuh ingin pindah ke rumah ini, tapi nyatanya kini Dea pun merasa gugup juga.


Ya ampun, semoga canggung ini tidak lama. Rasanya tidak nyaman sekali. Dea hanya berani membatin, takut jika bersuara Silvana akan mendengarnya.


Ingin menghilangkan Kecanggungan ini akhirnya Dea benar-benar keliling rumah, padahal awalnya itu hanya alasan Dea untuk memulai pembicaraan dengan Silvana.


Rumah ini sangat besar bagi Dea, bukan hanya ada taman di halaman belakang, namun juga ada kolam renang yang cukup luas.

__ADS_1


Senang melihat banyak air, Dea pun memutuskan untuk bermain disana. Menenggelamkan kedua kakinya dan dia duduk di pinggir kolam.


Bibir Dea tersenyum lebar.


Silvana yang diam-diam melihat itu hanya mampu geleng-geleng kepala, dalam hatinya masih saja ingin mengumpat, namun selalu dia tahan sekuat tenaga.


Selalu mencoba berpikir bahwa keluarganya akan utuh dengan kehadiran Dea.


Dan waktu berlalu.


Hari-hari canggung itu mulai terlewati.


Silvana akhirnya benar-benar terbiasa dengan kehadiran Dea. Dia juga mulai mengakui jika masakan Dea jauh lebih enak dari pada masakannya.


D usia kehamilan Dea yang memasuki 8 bulan, Silvana benar-benar sudah menerima sang menantu.


Bahkan Silvana mengenalkan Dea dengan semua teman-temannya dengan bangga, pada saat ada pertemuan sosialita.


Termasuk pada Layla, ibunya Mona. Mantan calon besannya.


Saat itu Layla memang tersenyum menyambut ramah, namun dalam hatinya tetap saja merasa kesal. Karena bukan anaknya yang dijadikan menantu di keluarga Harwell.

__ADS_1


Cih! batin Layla.


__ADS_2