Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 43 - Tidak Meminta Persetujuanmu


__ADS_3

Tengah malam Leon terpaksa mengetuk pintu kamar sang tuan.


Saat itu Dea sudah tidur, sementara Arden masih terjaga. Dia kemudian membuka pintu dan melihat sang asisten.


"Ada apa?"


"Maaf Tuan, salah satu anak buah kita melihat Sam ada di kota ini." Leon pun menunjukkan beberapa foto di ponselnya sebagai bukti.


Sam ada di kota S, itu artinya Silvana pun mulai mengendus keberadaan Dea.


"Hari ini urus semua pengunduran diri Dea dari kafe itu. Setelahnya kita kembali ke kota A."


"Baik Tuan."


Leon pergi dan Arden kembali menutup pintu kamarnya. Tentang Silvana, Arden sudah putuskan untuk memikirkannya nanti. Kini yang terpenting adalah Dea dan anaknya. Arden tidak ingin Dea masih tetap bekerja di saat dia sedang mengandung. Juga tidak ingin anaknya lahir tanpa status yang jelas.


Untuk itu Dea dan dia harus segera menikah.


Arden duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajah Dea yang terlelap, pundaknya terbuka selepas percintaan mereka tadi.


Puas memandangi, Arden pun ikut tidur.


Pagi datang.

__ADS_1


Disebuah hotel, Sam menghubungi Silvana. Dia hendak melaporkan pencariannya di kota S.


"Tuan Arden ada disini, dia menemui seorang wanita yang mirip dengan Dea, tapi saya belum bisa memastikannya. Karena Leon selalu menghalangi langkah saya nyonya." Terang Sam.


Di ujung sana Silvana mengerutkan dahi, bertanya-tanya sebenarnya siapa yang Arden temui?


"Bekerjalah dengan benar! perhatikan wanita itu baik-baik! aku tidak mau Arden kembali mengulangi kesalahannya! setelah Dea dia menemukan wanita jalaang lainnya!" jawab Silvana yang kekesalannya mulai terpancing.


Dia bahkan langsung memutus sambungan telepon itu tanpa menunggu Sam menjawab.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 6 pagi Dea membuka mata, tapi dia tidak melihat Arden disana. Dea lantas bangun dan duduk diatas ranjang itu, menatap aneh pada koper kecil disamping lemari.


"Punya siapa itu?" gumamnya, dea lalu melirik jam, merasa sudah saatnya bersiap untuk pergi bekerja.


Melihat itu Dea tersenyum.


"Biasanya aku mual melihat makanan seperti ini, tapi kali ini tidak," ucap Arden, dia meletakkan makanan itu diatas nakas.


"kenapa?"


"Mungkin karena ada kamu."

__ADS_1


"Iss!"


"De," panggil Arden dengan raut wajahnya yang berubah datar.


Dea sangat tahu, jika sudah seperti ini Arden pasti akan bicara serius.


"Iya, kenapa?" tanya Dea, dua tangannya menahan selimut untuk menutup tubuhnya yang polos.


"Leon sudah mengurus pengunduran dirimu dari cafe itu."


kedua mata Dea membola.


"Aku juga sudsh memesan tiket pulang untuk kita, ke rumah kedua orang tua mu."


Dea makin terkejut.


"Surat-surat pernikahan kita juga sudah aku urus. Kita hanya perlu mendaftarkan pernikahan kita dan pengucapan janji suci. Setelahnya kita menjadi suami dan istri."


Dea tidak mampu menjawab, seolah tiba-tiba dia kehilangan semua kosa kata.


"Kali ini aku tidak meminta persetujuan mu. Mau tidak mau samua itu akan terjadi."


Dea menelan ludahnya kasar, bukan tidak mau. Dia hanya masih merasa takut.

__ADS_1


"Koper itu milikmu, semua baju mu di kontrakan sudah ku ambil. Sekarang sebaiknya kita sarapan."


Dea hanya menurut, dia bahkan membuka mulutnya saat Arden menyuapi.


__ADS_2