Mantan Simpanan

Mantan Simpanan
BAB 53 - Ikut Denganku


__ADS_3

Silvana pulang dari apartemen Arden dengan perasaan yang kecewa, seolah usahanya jauh-jauh datang ke sini dan memasak untuk anak menantunya tidak ada hasil.


Setelah semua kebaikan yang dilakukannya ternyata Arden dan Dea tetap tidak mau pindah ke rumahnya.


"Huh! aku harus banyak-banyak bersabar!" gerutunya.


Dia lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras, sementara Sam langsung mengemudikan mobilnya.


Sementara itu di apartemen.


Setelah kepergian Silvana, Arden dan Dea duduk di sofa ruang tamu, duduk berdampingan dan saling menempel.


"Aku tidak mau pindah," ucap Arden tidak terbantahkan, saat mengatakan itu suaranya dingin, menatap lurus kedepan dan tidak melihat Dea. Kedua tangannya pun terlipat di depan dada. Mode angkuh Arden mulai kambuh.


"Aku juga ragu sih, tapi ku rasa permintaan mama juga tidak ada salahnya."


"Pokoknya aku tidak mau pindah." Arden kukuh dengan keras kepalanya. Sifat yang menurun dari Silvana.


Dea mencebik, dia memilih diam. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini.


Mereka juga tidak dalam keadaan tergesa, jadi Dea memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat.


Perlahan, Dea menurunkan tangan suaminya yang bersedekap, kemudian memeluk lengan itu dengan lembut.

__ADS_1


"Ar."


"Hem."


"Jangan ham hem ham hem terus, sekarang ini aku Istri mu, bukan simpanan mu."


"Astaga, panjang sekali ucapan mu. Apa?" Arden mulai menatap Dea.


"Kamu mau dipanggil apa oleh anak kita nanti?" tanya Dea, bibir nya tersenyum saat mengatakan itu.


"Papa sajalah, kamu mau dipanggil apa."


"Ya sudah, berarti aku di panggil mama."


"Tidak ada, apapun boleh."


"Kalau begitu di panggil tante saja."


"AR!!" Dea mencebik dan Arden langsung menarik tubuhnya, mengangkat tubuh Dea hingga duduk diatas pangkuannya. Saat itu juga Arden mengecup bibir istrinya dengan lembut, kecupan yang berujung sebuah lumataan panjang.


Dea menikmatinya, juga membalas tak kalah dalam. Sampai dia merasakan tangan besar suaminya mulai meremaas dadanya nakal.


Jika sudah seperti ini bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Sebuah penyatuan dimanapun, kapanpun yang bisa mereka lakukan jika tinggal di apartemen. Tapi jika tinggal di rumah Silvana, belum tentu mereka bisa melakukan ini.


Desahaan Dea mulai terdengar teratur, itu karena Arden menghentakkanya dengan lembut. Tidak ingin menyakiti si buah hati namun tetap mendapatkan kenikmatan yang hakiki.


Di puncak permainan mereka, Arden dan Dea saling memeluk erat.


Keesokan harinya.


Pagi ini Arden harus pergi bekerja untuk menyelesaikan yang tertunda kemarin. Tapi pagi ini Arden kembali mual, membuatnya tak bisa jauh-jauh dari Dea.


Sementara Leon sudah menunggu tuannya itu untuk keluar dari dalam kamar.


Tapi hingga jam 8 lewat, Arden tetap tak nampak batang hidungnya.


"Ar, Leon sudah menunggu. Kalau tidak jadi pergi minta dia yang pergi saja," ucap Dea. Dia merasa tak enak hati pada asisten suaminya itu, sudah cukup lama Leon menunggu.


"Aku harus pergi De." Arden menjawab dengan suaranya yang lemah tak bertenaga. Matanya bahkan nampak sayu seolah sulit untuk terbuka, tadi dia sempat muntah 1 kali.


"Bagaimana bisa pergi jika kamu seperti ini Ar?"


"Bisa, asalkan kamu ikut denganku pergi ke kantor."


"Ha?"

__ADS_1


__ADS_2