
Vote dulu baru baca, hemm.
Di kota A.
Sudah lewat 1 bulan semenjak Silvana meminta Sam untuk mencari Dea, namun hingga kini belum ada sedikitpun titik terang.
Silvana yang menunggu tentu saja merasa kesal, apalagi ketiga anak-anaknya semakin jauh untuk dia jangkau.
Arneta dan Arsila sudah seminggu ini tidak tinggal di rumah, kedua gadis itu memutuskan untuk tinggal di apartemen lain milik keluarga Harwell.
Silvana marah dan berniat mengurung kedua gadis itu, namun Arneta dan Arsila adalah dua gadis dewasa yang tidak mudah untuk dia kendalikan. Karena nyatanya kedua anaknya itu pun akhirnya tetap pergi.
Sementara Arden sama sekali tidak ingin menemui dia, bahkan Arden mengatakan jika Anggap saja aku sudah mati.
Astaga, saat mendengar itu rasanya Silvana ingin menangis. Namun belum sempat Dia bereaksi panggilan telepon Arden mati.
Dia tahu bahwa dia bersalah pada Dea, namun rasanya hukuman seperti ini begitu berat untuk dia terima.
"Sam!!" pekik Silvana, dia harus meminta penjelasan pada sang asisten, sebenarnya pencarian Dea sudah sampai mana.
Seseorang yang namanya yang dipanggil pun langsung berlari menuju ruang tengah menemui sang Nyonya.
__ADS_1
"Iya Nyonya."
"Sebenarnya sampai mana pencarian mu pada Dea, kenapa sampai sekarang tidak ketemu! Apa susahnya mencari wanita itu!" kesal Silvana.
"Maaf Nyonya, kami memang belum menemukan titik terang, kami masih menyisir kota T."
"Haish! lama sekali, apa Arden juga belum menemukannya?"
"Belum Nyonya, tim mereka malah berhenti untuk mencari."
Mendengar itu Silvana terdiam, mulai berpikir mungkinkah Arden sudah menyerah?
Dulu saat Sam menemui Leon, Leon memberikan data palsu pada asisten Silvana itu. Dia tidak memberikan data yang benar. Dan Arden pun mengetahui jika ibunya pun mencari keberadaan wanitanya.
Dan ada senyum kecil di bibir Silvana saat mengetahui sang anak memilih berhenti.
"Kenapa mereka berhenti mencari?" tanya Silvana dengan suaranya yang lebih lembut, karena hati nya mulai terasa tenang. Adalah hal baik jika Arden menyerah, Arden akan melupakan Dea dan hubungan mereka bisa jadi baik seperti dulu.
"Maaf Nyonya, untuk itu saya tidak tahu alasannya."
Silvana mengangguk kecil, dia mengangkat tangan kirinya dan membuat gerakan mengusir.
__ADS_1
Selepas Sam pergi, senyum Silvana semakin terkembang lebar.
Sementara itu di kota S.
Arden membeli sebuah rumah semudah membalikkan telapak tangan. Rumah yang cukup besar tidak begitu jauh dari kontrakan milik wanitanya.
Dia juga meminta Leon untuk mencari seorang pengawal wanita yang akan selalu mengawasi Dea.
Sudah Arden putuskan dia akan tinggal disini. Sebelum Dea pergi, Arden memang berencana untuk kerja mati-matian selama 1 bulan, lalu setelahnya dia bisa menghabiskan waktu bersama Dea dan mengurus pernikahan mereka.
Tapi ternyata semua tidak sesuai rencana, ternyata saat pekerjaannya senggang seperti ini mereka bukannya merencanakan pernikahan tapi malah main kabur-kaburan.
"Sudah Tuan, Linda akan menjadi penjaga bayangan untuk nona Dea."
Arden mengangguk.
"Anda tidak ingin menemui Nona Dea?"
"Nanti saja."
Leon mengangguk, setelahnya dia pergi dari ruangan kerja baru milik sang Tuan. Rumah yang Arden beli memiliki fasilitas lengkap. Bahkan Leon sudah mengisinya dengan pelayan pula.
__ADS_1
Saat ini waktu sudah sore bahkan nyaris menjelang malam, namun Arden masih juga belum menemui Dea.
Dia masih termenung, memikirkan bagaimana baiknya.