
"Besok aku dan Dea akan pindah ke rumah ini," ucap Arden. beberapa menit setelah mereka semua selesai makan malam Arden mengutarakan itu.
Silvana tentu terperangah, sesaat Bahkan dia tidak percaya jika Arden mengucapkannya.
Benarkah hanya gara-gara buah alpukat ini anaknya kembali?
Silvana masih diam hingga kemudian Arneta buka suara.
"Kalau abang dan kak Dea kembali ke rumah ini, aku dan Arsila juga akan kembali," ucap Arneta, Arsila pun menganggukan kepalanya dengan antusias tanda setuju dengan keputusan sang saudara kembar.
Silvana makin terperangah, tiba-tiba saja hatinya merasa Haru. beberapa bulan terakhir dia sungguh merasa kesepian setelah anaknya pergi meninggalkan rumah.
Bukan hanya pergi mereka semua juga menghindar dan memberi jarak.
Tanpa sadar ada air mata yang mengalir di kedua sudut mata Silvana, menatap secara bergilir anak-anaknya dengan Tatapan yang entah, tak bisa dia gambarkan rasa bahagianya, sampai akhirnya tatapannya itu berhenti pada Dea.
Seseorang yang selama ini sudah dia benci dan kini menjadi menantunya.
Silvana sadar, semua keputusan yang Arden ambil tidak pernah lepas dari Dea, termasuk keputusan Arden untuk kembali ke rumah ini pastilah atas keinginan Dea pula.
Silvana ingin mengucapkan kata terima kasih pada Dea, namun ucapannya masih tertahan di ujung lidah.
Masih saja kelu untuk membuat hubungan di antara mereka jadi dekat.
__ADS_1
Akhirnya Silvana hanya diam, menghapus air matanya sendiri dan mendapatkan pelukan dari Arneta dan Arsila.
Makan malam yang diakhiri tangis Silvana sudah usai. Kini Arden mengajak Dea untuk masuk ke ruang kerjanya yang berada di rumah ini.
Ruang kerja yang dulu digunakan oleh ayahnya Arden.
Dari awal masuk ke ruangan ini Arden selalu melihat istrinya yang tersenyum, seolah bahagia sekali.
"Berhentilah tersenyum nanti lama-lama gigimu kering," ledek Arden, dia melirik istrinya sekilas yang sedang mengamati ruangan ini, sementara Arden memilih langsung duduk di kursi kerja.
"Senyum tidak boleh, nanti nangis salah lagi."
"Apa yang membuatmu bahagia seperti itu? Apa karena pembicaraan kita di meja makan tadi?"
Dan Arden malah terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Lucu-lucu menggemaskan.
"Ini foto mu saat kecil?" tanya Dea, dia mengambil 1 bingkai foto diatas lemari dan membawanya mendekat ke arah Arden.
"Yang Arneta mana yang Arsila mana? disini mereka tidak bisa dibedakan." tanya Dea lagi, bahkan belum sempat Arden menjawab pertanyaannya yang pertama.
Dan saat sudah sampai di dekat Arden, Dea langsung dulu di atas pangkuan suaminya itu. menunjukkan secara jelas foto yang dia bawa
"Yang ini Arneta, yang ini Arsila. Waktu kecil mereka memang tidak bisa dibedakan Tapi semakin dewasa mereka mulai menemukan jati diri masing-masing, Arneta lebih ke tomboy sementara Arsila feminim sekali."
__ADS_1
Dea mengangguk, paham.
"Kalau kamu waktu kecil terlihat polos sekali, kalau sekarang lebih ke mesyum," terang Dea pula, menjabarkan tetang suaminya sendiri.
"Iya, mesyum seperti ini," jawab Arden, satu tangannya langsung meremat salah satu buah semangka sang istri. Membuat Dea terkejut dan geli sekaligus.
"Tuh kan, mesyum banget."
"Tapi suka kan?"
"Terpaksa."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah terlanjur mengandung anakmu."
"Oh ya?" kesal Arden, dia lantas makin meremat dada istrinya, membuat Dea tertawa keras.
Tawa yang kemudian disusul pula oleh Arden.
Keduanya tertawa bersama tanpa sadar jika Silvana mendengar, dia berdiri di balik pintu ruang kerja ini. Urung masuk mengantarkan minuman untuk Arden dan memilih pergi.
Tidak ingin menganggu.
__ADS_1