
Silvana memasak makanan kesukaan Dea dan Arden. Sebelum Arden datang tadi Silvana sudah bertanya pada Dea Apa makanan kesukaan menantunya itu.
Ya, terima tidak terima kini nyatanya Dea memang sudah menjadi menantunya, bahkan sudah mengandung Cucunya juga.
Disaat Silvana tengah sibuk memasak di dapur, Dea menemani Arden untuk mengganti baju.
Sampai di kamar Arden langsung menatap lekat. Menatap dalam-dalam kedua mata sang istri, mencari adakah kesedihan di sana Setelah Dea bertemu dengan ibunya.
"Apa Mama mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu?" tanya Arden. raut wajahnya berubah serius sekali, bukannya merasa takut Dea malah merasa lucu dia pun terkekeh pelan.
Membuat Arden mengerutkan dahi, bingung.
"Sayang, kamu terlalu banyak punya pikiran buruk. Kenapa selalu mencurigai mama?"
"Karena aku belajar dari pengalaman."
"Tapi setiap orang bisa berubah termasuk mama."
"Mama?" ulang Arden dan Dea tersenyum.
Mendengar kata Mama keluar dari mulut Dea cukup membuat Arden tercengang, selama ini dia terus memaksa Dea untuk mengatakannya tapi istrinya tidak pernah mau. Tapi hari ini Dea mengatakannya langsung tanpa dia minta terlebih dahulu.
"Apa Mama mengancam mu untuk memanggilnya Mama."
"Astaga Tuan Arden!" kesal Dea, dia mencubit keras perut suaminya. Ingin semua pikiran buruk yang bersarang di kepala Arden hilang saat itu juga.
__ADS_1
"Aw! sakit De!"
"Kamu keterlaluan, orang tua kok di curigai terus."
"Kamu juga mencurigakan, tiba-tiba memanggil nyonya Silvana dengan sebutan Mama."
"Karena mama yang memintanya langsung."
"Benarkah? meminta dengan ancaman?"
"Tidak! cepat ganti baju mu!"
"Ambilkan."
"Ish!"
Selesai mengganti baju, Arden dan Dea kembali menghampiri Silvana. Sudah ada makanan yang tersaji di meja makan tapi Silvana pun masih sibuk berkutat.
Dea coba menghampiri Ibu mertuanya itu.
"Apa ada yang bisa ku bantu Ma?"
"Tidak ada, Kamu duduk saja bersama Arden."
"Tapi_"
__ADS_1
"Duduk," potong Silvana cepat, dia memang sudah memutuskan untuk menerima Dea. tapi untuk berinteraksi intim seperti ini Silvana masih merasa sulit.
Akhirnya Dea menurut, dia duduk bersama Arden dan menunggu Silvana menyelesaikan semua masakannya.
Hingga beberapa menit kemudian akhirnya pekerjaan Silvana selesai mereka bertiga duduk di meja makan yang sama.
Saat ini masih jam setengah 11 siang. Belum memasuki jam makan siang, tapi mereka semua sudah mulai makan.
Di mulut Arden masakan Dea terasa lebih enak daripada masakan ibunya ini. Dia tidak ingin tambah, namun Dea kembali memasukan lauk ke dalam piring nya.
Membuat Arden dengan terpaksa melahap itu semua.
Selesai makan bersama, mereka masih duduk disana. Semuanya diam sampai akhirnya Silvana lebih dulu buka suara.
"Ayo pindah ke rumah Mama, jangan tinggal di apartemen lagi," ucap Silvana.
Sebuah ucapan yang membuat Arden dan Dea sama-sama terkejut, karena diantara mereka berdua tidak ada yang berniat untuk pergi dari apartemen ini. Apalagi sampai harus tinggal bersama Silvana.
Arden dan Dea belum terpikirkan akan hal itu. Sungguh, mereka masih merasa nyaman disini. Masih ingin menghabiskan waktu bersama.
"Maaf Ma, untuk sekarang kami belum bisa," jawab Arden, sudah dia duga jika Silvana datang kemari pasti ada maksud. Tidak mungkin hanya datang-datang saja untuk menjenguk.
"Jangan begitu Ar, kalau kamu pergi kerja Dea sendirian di apartemen. Jadi lebih baik kalian tinggal bersama Mama, nanti Arneta dan Arsila juga akan pulang jika ada kalian disana."
"Aku tidak bisa Ma!"
__ADS_1
"Ar," desis Dea, dia menyentuh lengan suaminya agar tenang.
"Tentang itu, akan kami pikirkan dulu Ma," ucap Dea akhirnya. Membuat Silvana membuang nafasnya kasar.