
Jam 4 dini hari.
Dea terbangun, dia merasakan perutnya yang terasa nyeri. Dia mulai mengingat hari, menerka-nerka saat ini sudah tanggal berapa.
23 april.
Astaga, bukankah sekarang perkiraan lahirnya.
"Aduh." Dea menyentuh perutnya yang kembali merasakan sakit. Dia ingin meminta pertolongan Arden, namun saat melihat kesamping ternyata suaminya itu sudah tidak ada di sampingnya.
"Ar," panggil Dea, suaranya sudah terdengar seperti merintih. antara ingin memanggil dengan keras dan menahan sakitnya di bagian perut.
"Astaga De!" cemas Arden, dia membuka pintu kamar dan melihat sang istri yang sudah terduduk di atas ranjang dengan wajahnya yang terlihat pucat.
Sejak semalam Ardan tidak bisa tidur, dia baru saja dari dapur untuk mengambil air hangat.
Dengan tergesa Arden menghampiri, langsung mendekap istrinya erat.
"Ar, perutku sakit."
"Kita ke rumah sakit sekarang." putus Arden.
Setelahnya semua berjalan seperti begitu cepat. Arden, Silvana dan kedua adiknya membawa Dea ke rumah sakit.
Kedua orang tua Dea juga sudah berada di sini dan mereka pun ikut pergi ke rumah sakit pula.
__ADS_1
Bersama-sama menuju Rumah Sakit Royal Dude.
Tidak ada suara cemas yang terdengar di tengah keluarga itu, yang ada hanyalah rintihan Dea yang merasa kesakitan.
Hingga waktu berlalu dan 5 jam Dea mengalami sakit, sampai akhirnya bayi mungil itu terlahir dengan sempurna.
Di saat dia merasa sangat lelah, tiba-tiba Arden memeluknya dengan derai air mata.
"De, Aku sangat mencintaimu," lirih Arden. tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan selain kata cinta.
Arden melihat secara langsung proses persalinan itu terjadi. Tiap kali Dea menjerit ketika kepala bayi mereka hendak keluar.
Arden tidak bisa berkata-kata lagi, Dea adalah segalanya bagi dia.
"Ar," panggil Dea lirih, Arden memeluk dia terlalu erat, hingga membuatnya sedikit sulit untuk bernafas.
Kini bayi perempuan mereka sudah berada di tangan para orang tua, sementara Arden masih sibuk memeluk istrinya.
"Maaf sayang, aku sangat mencintai mu."
"Aku juga mencintai mu Ar."
Arden lantas mengecup sekilas bibir sang istri.
Dan suasa kembali tegang saat Dea harus menjalani proses jahit menjahit, untuk melahirkan bayi perempuannya, Dea mendapatkan 5 jahitan.
__ADS_1
Jam 11 siang.
Dea sudah dipindah di ruang perawatan, sedari tadi dia belum menggendong sang anak.
Bayi mungil itu tertidur pulas di dalam box bayi, saat bangun para orang tua yang menenangkannya.
Asi Dea juga belum keluar, kata perawatnya masih tersumbat. Harus belajar di pompa dulu agar jalan Asi nya terbuka. Atau meminta suaminya untuk menyusu terlebih dulu.
Mendengar itu Arden hanya senyum-senyum, sementara Dea mencebik.
Sore hari Dea sudah boleh pulang, tidak perlu menginap karena kondisi anak dan ibu dalam keadaan baik- baik saja.
Para orang tua juga setuju pulang, merasa lebih leluasa untuk mengurus Dea dan anaknya ketika berada di rumah.
"Ar, dadaku sakit sekali, rasanya mau pecah." keluh Dea.
Arden lantas menyentuh dada istrinya yang terlihat semakin membesar, dan saat disentuh terasa keras.
"Astaga De, ini besar sekali. Apa sakit?"
"Iya." jawab Dea sambil merengek.
Silvana yang ada disana geleng-geleng kepala, kata Dea kalau pakai pompa asi sakit.
"Kalian turuti saja saran perawat tadi, mama akan bawa cucu mama keluar," ucap Silvana, setelahnya dia keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Dan Arden langsung menelan ludahnya dengan kasar.